A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 27: Pusaka yang Kembali


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Alma Fatara dan rombongan akhirnya diterima langsung oleh Ketua Satu Perguruan Pisau Merah, Dato Jari Sambilan. Warna Mekararum turut masuk dan didudukkan di sebuah kursi. Sementara Ning Ana diwanti-wanti agar tidak berbicara dalam pertemuan tersebut.


“Apa? Ratu Kerajaan Jintamani?” ucap ulang Dato Jari Sambilan terkejut, saat Alma Fatara memperkenalkan siapa sebenarnya Warna Mekararum.


Buru-buru Dato Jari Sambilan menjura hormat kepada Ratu Warna Mekararum.


“Hormat sembah hamba, Gusti Ratu!” ucap Dato Jari Sambilan.


“Bangunlah, Guru. Saat ini aku bukan seorang ratu. Aku tidak lain hanyalah seorang pesakitan yang hampir mati,” kata Warna Mekararum.


“Tapi kenapa Gusti Ratu sampai seperti ini?” tanya Dato Jari Sambilan setelah ia duduk bersila kembali di tempatnya.


“Tahta itu sangat menggiurkan bagi orang yang tamak. Akan selalu ada orang tamak di sekitar tahta,” jawab Warna Mekararum. “Alma dan rekan-rekannya adalah orang yang ikhlas hati menempuh perjalanan berbahaya demi menyelamatkan aku.”


“Apakah tidak berbahaya jika Gusti Ratu membuka diri kepada diriku?” tanya Dato Jari Sambilan.


“Meskipun di sekitar Kakek ada orang-orang yang tidak baik, tetapi aku yakin Kakek adalah orang yang baik. Apalagi aku akan berbuat jasa kepada Kakek. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa pendek.


“Bagaimana kau tahu bahwa ada orang-orang tidak baik di sekitarku?” tanya Dato Jari Sambilan.


“Sebab aku berurusan dengan mereka. Seperti Ketua Dua. Aku yakin, jika dia sampai memiliki Bola Hitam, dia mungkin punya niat menjadi Ketua Satu. Termasuk Adipaksa dan temannya. Meski Kakek sudah tidak menyalahkanku terkait kematian Ketua Dua, tapi dia masih menghasut murid-murid yang lain untuk menyerang kami. Termasuk orang yang bernama Ulung Gegap. Demi berusaha mendapatkan Pisau Bunuh Diri, dia mengorbankan sejumlah murid perguruan. Sampai akhirnya dia tewas sendiri di tangan Empat Bunga Pesona,” tutur Alma Fatara.


“Ya ya ya, aku sudah mendapat laporan tentang Ulung Gegap dan bagaimana murid-muridku bisa mati disembelih,” kata Dato Jari Sambilan.


“Aku ingin bertanya, Kek. Apakah Pisau Bunuh Diri adalah milik Perguruan Pisau Merah?” tanya Alma.


“Benar. Pisau Bunuh Diri sudah setahun hilang dari perguruan ini. Namun, belakangan ini pisau itu terdengar sedang diperebutkan,” kata Dato Jari Sambilan.


“Lalu siapa Pendekar Tinju Pusaka yang disebut-sebut sebagai pemilik Pisau Bunuh Diri?” tanya Alma lagi.


“Pendekar Tinju Pusaka awalnya adalah murid utama Perguruan Pisau Merah yang bernama Rigibuto. Tiba-tiba dia menghilang dan Pisau Bunuh Diri juga hilang dari perguruan. Kami baru tahu belakangan bahwa Pendekar Tinju Pusaka adalah Rigibuto,” jelas Dato Jari Sambilan. “Ulung Gegap pernah hampir mati karena menjadi korban Pisau Bunuh Diri saat menghadapi Pengemis Batok Bolong. Aku jelaskan kepadanya bahwa pusaka itu adalah milik perguruan ini. Ulung Gegap kemudian bergabung dengan perguruan. Karena dia pernah berurusan dengan Pisau Bunuh Diri, maka dia aku tugaskan untuk merebut kembali pisau itu.”

__ADS_1


“Awalnya aku tidak mau turut campur tentang masalah Pisau Bunuh Diri. Namun, karena pisau ini sangat berbahaya untuk membunuh orang, maka aku memutuskan turun tangan untuk merebutnya dari Empat Bunga Pesona dan mengamankannya. Jadi, karena kami sudah tahu siapa pemilik sah Pisau Bunuh Diri ….”


Alma memutus kata-katanya sendiri. Ia merogoh belakang pinggangnya dan mengeluarkan Pisau Bunuh Diri.


Pisau Bunuh Diri seperti pisau biasa dengan warna alami warna logam. Hanya, gagangnya terbuat dari logam yang lebih ringan. Kedua mata sisinya tidak begitu tajam, lebih terkesan tumpul. Pada bagian kedua sisi bilahnya, ada ukiran yang sama dan lebih terkesan sebagai ukiran hiasan.


Dato Jari Sambilan hanya manggut-manggut ketika melihat pisau yang sudah sekitar satu tahun tidak pernah dilihatnya lagi, sejak pusaka itu hilang dari ruang pusaka.


“Pusaka ini aku kembalikan kepada Kakek sebagai pemilik sahnya,” ujar Alma, lalu beringsut maju dan menyerahkan dengan mengulurkan kedua tangannya.


“Terima kasih, Alma. Kau sangat berjasa telah membantu perguruan ini memiliki kembali pusakanya,” ucap Dato Jari Sambilan setelah menerima pisau tersebut.


Dato Jari Sambilan menatap lekat-lekat pusaka yang ada di tangannya itu. Lalu ia kembali beralih kepada Alma.


“Aku penasaran, kenapa kau tidak tertarik untuk memilikinya?” tanya Dato Jari Sambilan.


“Hahaha! Aku sudah sudah memiliki dua senjata yang jauh lebih hebat dari Pisau Bunuh Diri, Kek,” jawab Alma.


“Kalau Kakek tidak mau menerimanya, aku dengan senang hati akan menerimanya!” celetuk Ning Ana tiba-tiba.


“Hahaha!” tawa Dato Jari Sambilan. Lalu katanya, “Pisau ini sangat berbahaya, tidak boleh digunakan hanya untuk bermain.”


“Hahaha!” tawa Alma.


Ning Ana berontak dengan kuat untuk melepaskan tangan Ayu Wicara dari mulutnya.


“Tapi kalau aku minta makan, boleh ya, Kek?” kata Ning Ana.


“Oh, tentu boleh. Hahaha!” jawab Dato Jari Sambilan.


“Kalau itu aku setuju,” kata Alma pula.


“Kalian yang melarangku bicara, jangan ikut makan!” tandas Ning Ana.

__ADS_1


“Jika kita tidak boleh makan, biarkan dia makan, kita lanjutkan perjalanan!” balas Alma Fatara.


“Eh, jangan begitu, Kak Alma,” kata Ning Ana merengut.


“Kalau tidak mau ditinggal, jangan banyak tingkah,” kata Debur Angkara.


“Seharusnya kau itu mengubur kambing di rumah, bukan malah ikut jalan-jalan!” omel Ayu Wicara juga, mendukung Debur Angkara.


“Kambingku tidak mati, untuk apa dikubur,” bantah Ning Ana.


“Maksud Ayu itu mengurus kambing,” ralat Debur Angkara.


“Ning Ana, bukankah kau penasaran seperti apa suasana perguruan ini? Pergilah bersama Kang Garam untuk melihat-lihat,” kata Alma yang membuat Ning Ana bingung, sebab ia merasa tidak pernah mengatakan “penasaran”.


“Ayo, Ning Ana!” ajak Garam Sakti yang paham maksud dari Alma.


“Sudigatra, pandu mereka untuk melihat-lihat perguruan kita!” perintah Dato Jari Sambilan kepada muridnya yang duduk di sisi belakangnya.


“Baik, Guru!” ucap Sudigatra. Lalu katanya kepada para tamunya, “Silakan ikut aku!”


Maka Garam Sakti bangkit dan menarik tangan Ning Ana agar ikut dengan Sudigatra.


“Aku ikut,” kata Debur Angkara lalu buru-buru bangkit dan menyusul.


“Wah, bahaya Kacang Dengkur, jika dibiarkan sendiri, bisa-bisa mencari kudis (gadis) lain,” kata Ayu Wicara lalu segera menyusul Debur Angkara.


“Hahaha!” tawa Alma seorang diri mendengar kata-kata Ayu Wicara. Lalu katanya kepada Dato Jari Sambilan, “Anak kecil itu tidak mengerti tata krama. Meski aku juga tidak mengerti tata krama, tapi aku masih lumayan.”


“Ya ya ya, tidak apa-apa,” kata Dato Jari Sambilan seraya tersenyum. “Jika Gusti Ratu suatu saat nanti memerlukan bantuan dari Perguruan Pisau Merah, berkirimlah surat. Aku usahakan akan segera mengirim bantuan.”


“Terima kasih, Guru,” ucap Warna Mekararum.


“Apakah Rawa Kabut masih jauh dari perguruan ini, Kek?” tanya Alma.

__ADS_1


“Setengah hari perjalanan, maka kalian akan sampai,” jawab Dato Jari Sambilan. “Sebenarnya di sini ada tabib, tetapi aku merasa Gusti Ratu tidak bisa dia obati. Memang Ki Ramu Empedu yang bisa menyembuhkan Gusti Ratu.” (RH)


__ADS_2