
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
“Jangakhr!” teriak Gibas Madar cepat.
Namun sayang, lehernya langsung terjerat pada tali karena tubuhnya jatuh menggantung setelah prajurit menarik tali pengikat kaki. Tarikan itu membuat kedua kaki Gibas Madar tidak berpijak lagi.
Tubuh Gibas Madar langsung mengejang dengan mata melotot dan lidah terjulur lurus ke luar. Alma yang melihat pemuda itu kejang dan lidahnya menjulur, jadi kerenyitkan wajah. Uniknya, Gibas Madar tidak pakai acara kelojotan lagi, langsung kejang dan diam menggantung.
Melihat Alma Fatara mengerenyit, Dengkul Geni jadi tertawa. Sementara Nyi Bungkir hanya tersenyum tipis.
“Hahaha! Kau jadi tidak penasaran lagi, bukan? Kau sudah melihat seperti apa lidah orang digantung!” kata Dengkul Geni.
Nyi Bungkir lalu melangkah pergi menuju kereta kudanya yang terparkir di pinggir jalan. Dengkul Geni dan para prajuri kedemangan segera mengikuti meninggalkan pohon itu. Alma masih berdiri mendongak memandangi mayat di atas.
“Hei, Alma! Buat apa kau menungguinya, dia tidak akan berbuah mangga! Hahaha!” kata Dengkul Geni seraya naik ke punggung kudanya.
“Hahaha!” tawa para prajurit menertawakan Alma.
Seraya tersenyum kuda, Alma lalu berbalik dan pergi ke arah rombongannya.
Rombongan Nyi Bungkir yang dikawal oleh Dengkul Geni dan belasan prajurit yang berlari, segera meninggalkan jalan besar yang ada di sisi selatan Kadipaten Dulangwesi.
Ketika rombongan Nyonya Demang itu melewati rombongan Alma, Dengkul Geni mencoba melihat siapa orang yang terbaring di dalam pedati beratap. Dengkul Geni melihat keberadaan seorang wanita tua yang memejamkan mata di atas bak pedati. Itu sebagai bukti bahwa Alma tidak berdusta.
“Maju sedikit!” perintah Alma kepada rombongannya.
Rombongan Alma pun mulai berjalan, agar terlihat bahwa mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Namun, ketika rombongan Nyi Bungkir sudah menghilang di ujung jalan, tiba-tiba Alma cepat melompat dari atas pedati dan berkelebat ke bawah pohon tempat Gibas Madar digantung.
Set!
Alma melesatkan satu tenaga dalam tajam yang memutus tali penggantung leher Gibas Madar. Namun anehnya, ketika tali yang menggantung leher putus, tubuh mayat Gibas Madar masih menggantung tanpa terlihat ada tali yang menggantungnya. Jadi mayat itu seperti sedang melayang di bawah pohon.
Tuk tuk tuk!
Alma lalu meloncat dan mendaratkan beberapa tusukan pada bagian tubuh mayat.
“Haaap!” pekik mayat itu tiba-tiba sambil menarik udara sebanyak-banyaknya.
Tiba-tiba Gibas Madar bergerak dan hidup kembali. Tubuhnya sudah tidak kejang. Namun anehnya, tubuhnya masih melayang di udara bawah pohon.
__ADS_1
Debur Angkara dan Magar Kepang sudah tiba pula di bawah pohon. Keduanya keheranan.
“Tangkap, Kang Debur!” kata Alma.
Alma lalu menggapai sesuatu pada celana Gibas Madar dan menariknya. Alma tidak bermaksud memeloroti celana pemuda itu, tetapi dia menarik seutas benang agak tebal berwarna merah. Benang itu tidak lain adalah senjata pusaka Alma yang bernama Benang Darah Dewa.
Rupanya, benang itu mengikat tubuh Gibas Madar dan menggantungnya di pohon. Dengan ditariknya benang itu ke dalam lengan jubah Alma, maka tubuh Gibas Madar jatuh ke bawah. Debur Angkara sigap menangkapnya.
“Bagaimana bisa kau menyelamatkannya, Alma?” tanya Magar Kepang yang tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Hahaha!” tawa Alma karena Magar Kepang bingung melihat apa yang terjadi. Ia lalu menjelaskan dengan rinci. “Saat aku datang ke sini, aku melepas senjata benangku yang tidak mereka lihat. Benangku mengikat tubuh dia juga. Jadi selain tali itu yang menggantung tubuhnya, benangku juga menggantungnya. Ketika kakinya ditarik, benangku menotok tubuhnya sehingga kejang. Lehernya memang tercekik tali, sampai lidahnya menjulur, tetapi tidak sampai cekikan terkuat karena yang benar-benar menggantung tubuhnya adalah benangku. Jadi puncaknya adalah, benangku yang menggantung tubuhnya, bukan tali itu. Makanya dia tidak meronta ketika tergantung, karena langsung ditotok oleh benangku. Apakah kalian mengerti?”
Magar Kepang dan Debur Angkara menjawab dengan gelengan.
“Hahaha!” Alma justru tertawa. “Aku sudah menjelaskan sejelas kalian melihat telapak tangan kalian, tetapi kalian tetap tidak mengerti. Pokoknya, aku menyelamatkan dirinya menggunakan benangku.”
“Terima kasih, Nisanak. Terima kasih, Kisanak!” ucap Gibas Madar, setelah pernapasannya kembali normal.
“Siapa namamu?” tanya Alma.
“Gibas Madar.”
“Kenapa kau digantung?” tanya Magar Kepang penasaran.
“Siapa Gelis Sibening?” tanya Debur Angkara.
“Putri Demang Baremowo. Wanita tadi adalah istri mudanya Demang,” jawab Gibas Madar lagi.
“Kenapa mereka menuduhmu?” tanya Magar Kepang.
“Karena tadi malam ada yang melihatku lewat di depan rumah Demang. Padahal aku hanya lewat. Demang Baremowo memang membenci orang-orang Perguruan Jari Hitam,” jawab Gibas Madar.
“Oh, jadi kau orang perguruan!” ucap Magar Kepang.
“Iya. Tapi, aku ini murid yang paling payah di Perguruan Jari Hitam,” ucap Gibas Madar lemah karena kecewa.
“Mungkin gadis itu tidak diculik, tetapi pergi diam-diam ke suatu tempat, atau pergi kabur bersama kekasihnya,” terka Magar Kepang berspekulasi.
“Ah iya! Dendeng Pamungkas pasti tahu keberadaan Gelis Sibening,” kata Gibas Madar, seolah ada bohlam lampu menyala di atas ubun-ubunnya.
“Siapa lagi itu Dendeng Pamungkas?” tanya Alma Fatara.
__ADS_1
“Murid kesayangan Perguruan Jari Hitam. Dia diam-diam menjalin ikatan rumput dengan Gelis Sibening. Tiap malam bertukar syair-syair cinta,” kata Gibas Madar.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Alma.
“Aku yang selalu disuruh mengantar syair-syair di antara mereka,” jawab Gibas Madar.
“Hahaha!” tawa Alma. Lalu katanya, “Baiklah, Kakang Gibas. Kami harus melanjutkan perjalanan. Berhati-hatilah, jangan sampai kau digantung lagi. Jika sampai kau diganggu lagi, panggilah Dewi Gigi. Hahaha!”
“Iya iya iya!” ucap Gibas Madar manggut-manggut, menanggapi serius pesan Alma. “Tapi, apakah kalian tidak bermaksud mampir ke Perguruan Jari Hitam?”
“Terima kasih. Sampaikan salam rindu Ayu Wicara kepada orang terganteng di perguruanmu. Dan sampaikan salam kenal Alma Fatara kepada Ketua Perguruan Jari Hitam. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa medium.
“Baik!” ucap Gibas Madar penuh semangat. Ia begitu bahagia bisa diselamatkan dan kenal dengan pendekar wanita cantik lagi sakti seperti Alma Fatara.
Alma Fatara lalu melangkah pergi menuju pedatinya. Demikian pula dengan Magar Kepang dan Debur Angkara, mereka pergi ke kudanya.
Alma dan rekan-rekan melanjutkan perjalanan. Alma Fatara masih sempat melambaikan tangan tanda perpisahan kepada Gibas Madar.
“Kau benar-benar cerdik, Alma!” puji Warna Mekararum.
“Hahaha! Jikapun seandainya dia salah, rasanya terlalu kejam jika sampai dihukum gantung seperti itu. Ternyata di dunia ini banyak juga orang kejam yang tidak punya rasa keorangan,” kata Alma yang didahului dengan tawa khasnya.
“Rasa kemanusiaan,” ralat Warna Mekararum.
“Hahaha! Yaitu maksudku!” tawa Alma tambah keras.
Si nenek hanya tersenyum tipis melihat tingkah Alma.
“Sama seperti kedua orangtuamu yang membuangmu ke laut,” kata Warna Mekararum.
Alma jadi terdiam. Keningnya berkerut memikirkan kedua orangtuanya, yang ia sendiri tidak bisa bayangkan ilustrasinya.
“Apakah ibuku sejahat itu, Nek?” tanya Alma serius.
“Lebih jahat. Sejahat-jahatnya penjahat, pasti masih memiliki sekeping rasa sayang kepada anak-anaknya,” kata Warna Mekararum.
Alma terdiam. Di dalam hati ia membenarkan wanita tua itu.
“Ah, semuanya belum bisa dinilai dengan jelas, sebelum kedua orangtuaku berbicara lagsung kepadaku, aku tidak akan mendengarkan penilaian seorang pun!” tandas Alma.
“Lalu kenapa tadi kau bertanya kepadaku!” sentak Warna Mekararum kesal kepada Alma.
__ADS_1
“Hahaha …!” Tawa Alma kembali meledak. (RH)