
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Alma Fatara buru-buru bangun dan bergerak maju di atas pedati yang berlari kencang. Ia cepat menggunakan Benang Darah Dewa untuk meraih tali kekang kuda yang jatuh terjuntai ke depan.
Dengan mudahnya Alma Fatara mendapatkan tali kekang menggunakan Benang Darah Dewa. Setelahnya, Alma menarik kencang tali kekang, membuat kedua kuda mengerem dan kembali tenang.
Alma Fatara cepat melihat ke belakang. Namun, ia tidak melihat siapa-siapa. Ia tidak melihat keberadaan seorang pun sahabatnya.
“Almaaa!”
Tiba-tiba Alma mendengar namanya dipanggil, tetapi dia tidak melihat keberadaan seorang pun di jalanan.
“Di sungai!”
Kembali terdengar teriakan milik Garam Sakti. Alma cepat melihat ke air sungai. Ia langsung melihat Garam Sakti yang terus berjuang untuk stabil di dalam arus yang kencang. Sebagai orang laut, Garam Sakti termasuk yang pandai berenang.
Alma Fatara cepat berkelebat lalu mendarat di pinggir sungai, kemudian dia berlari cepat sepanjang tanah tepian sungai guna mengejar posisi Garam Sakti. Sambil berlari seperti itu, Alma mengerahkan Benang Darah Dewa cukup panjang.
Tidak berapa lama, Garam Sakti tiba-tiba berhenti hanyut, seolah-olah tubuhnya tersangkut oleh sesuatu. Itu karena Benang Darah Dewa sudah melilit pinggangnya sekaligus tubuh Ning Ana.
Secara perlahan, tubuh besar itu tertarik ke arah pinggir. Ternyata butuh tenaga besar untuk menarik dua tubuh tersebut. Seiring itu, muncul darah mengalir dari celah bibir Alma.
“Alma! Kau terluka!” sebut Garam Sakti terkejut. Ia yang sudah keluar dari arus tengah yang kuat, cepat berenang ke tepi.
Buru-buru Ning Ana ia naikkan ke tanah.
“Uhhuk uhhuk!” batuk air Ning Ana. Tubuh dan pakaiannya kuyup.
Garam Sakti buru-buru naik dan menghampiri Alma Fatara.
“Alma, lukamu pasti parah,” kata Garam Sakti sambil menyentuh lengan Alma yang berlutut satu kaki.
Alma segera bangun sambil menyeka darah pada bibirnya. Darah pada wajahnya juga sudah ia lap dengan kain jubahnya.
Alma tersenyum manis kepada Garam Sakti. Lalu katanya, “Aku hanya luka ringan, Kakang. Tidak apa-apa.”
“Kau yakin, Alma?” tanya Garam Sakti begitu cemas, karena baru kali ini Alma menderita luka serius.
“Iya, tidak apa-apa. Aku hanya perlu memulihkan tenaga nanti,” tandas Alma. Lalu tanyanya kepada Ning Ana, “Apakah kau terluka, Ana?”
“Sepertinya aku pusing berat, Kak Alma. Aku kemasukan air. Aku pikir, Kakang Garam membawaku bunuh diri bersama karena terlalu cintanya kepada aku,” jawab Ning Ana dengan suara gemetar, sambil mengerenyit karena merasakan lemas.
“Hahaha!” tawa Alma. “Maksudmu, karena terlalu cintanya, Kakang Garam tidak mau kalau kau kelak dimiliki orang lain?”
“Kak Alma memang cerdas,” puji Ning Ana, masih tetap mengerenyit.
__ADS_1
Barulah Ning Ana tertawa kecil saat Garam Sakti mengangkatnya seperti orang sakit. Ia dibawa lalu didudukkan di tempat sais. Alma pun segera naik ke bak pedati.
“Mana yang lainnya?” tanya Alma.
“Aku sempat melihat sekilas, Debur Angkara dan Ayu pergi dengan cepat. Mungkin mereka mengejar kuda yang kabur,” jawab Garam Sakti yang sudah duduk di tempatnya biasa sebagai sais.
“Garam Sakti, tidak usah menunggu yang lain, kita harus cepat tiba di Desa Rawabening. Alma butuh memulihkan diri. Kita tidak tahu siapa lagi yang akan datang untuk merebut Bola Hitam,” kata Warna Mekararum.
“Baik, Nek,” ucap Garam Sakti patuh. Ia lalu menggebah kedua kudanya agar berjalan agak kencang.
“Apakah tadi gara-gara aku yang membuat kakek setan itu terlalu marah?” tanya Ning Ana dengan suara yang masih gemetar, entah apakah karena menggigil sebab basah atau karena dampak dari adu kesaktian tadi.
“Tidak, tanpa kau membuatnya marah, dia pun pasti akan melakukannya karena dia menginginkan kita semua mati,” kata Alma Fatara.
“Baru kali ini aku melihat kesaktian yang begitu hebat tadi. Tidak sia-sia aku ikut berpetualang,” kata Ning Ana. “Sepertinya aku memang harus memiliki kesaktian sepertimu, Kak Alma.”
“Kang Garam akan mengajarimu dengan setia,” kata Alma.
“Aku memang maunya Kang Garam yang mengajariku. Aku tidak mau jika Kak Alma yang mengajarkan, apa serunya,” kata Ning Ana.
“Hahaha!” tawa Alma. “Sepertinya aku butuh tenaga.”
Alma lalu mengambil buah pisang kuning dari sisirnya. Ada beberapa buah di pedati itu, oleh-oleh dari Desa Bungitan.
“Kau bisa rasakan sendiri betapa berbahayanya perjalanan ini, Ana,” kata Alma.
“Memang benar kata Nenek Warna,” kata Alma.
Ternyata, untuk sampai di Desa Rawabening, butuh waktu hingga menjelang magrib. Beruntung, selama perjalanan hingga sampai ke Desa Rawabening, mereka tidak bertemu pendekar tua sakti yang bisa merasakan aura Bola Hitam. Mereka hanya berpapasan dengan beberapa pendekar muda tanpa terjadi konflik apa pun. Alma sempat menanyakan letak Desa Rawabening.
Ternyata Desa Rawabening dibelah oleh jalan dan Sungai Ngulur. Jadi desa itu terbagi dua dan dihubungkan oleh dua jembatan bambu. Uniknya, seperti jalan raya di Ibu Kota negeri masa depan, satu jembatan berlaku satu arah, tidak boleh berlaku dua arah. Jadi tidak ada namanya orang menyeberang saling berpapasan.
Karena di desa itu ada penginapan dan termasuk desa yang kerap jadi lintasan perjalanan banyak orang asing, Warna Mekararum memutuskan tidak usah lapor ke kepala desa setempat.
Ternyata, di desa itu ada banyak murid-murid Perguruan Pisau Merah. Hal itu terlihat dari kehadiran para pendekar berseragam merah-merah dan bersenjatakan pisau-pisau warna merah.
Di penginapan, mereka menyewa dua kamar, satu untuk Garam Sakti dan satu lagi untuk ketiga wanita itu. Ning Ana awalnya mau satu kamar dengan Garam Sakti, tetapi ia diseret oleh Alma.
Di kamar, Alma melakukan upaya meringankan luka dalamnya. Sementara Ning Ana harus mencari pakaian ganti, dan itu ia dapatkan dari pelayan penginapan.
Malam itu mereka berempat benar-benar beristirahat. Efek bentrokan ilmu Pukulan Bandar Emas dengan kesaktian Ketua Dua Perguruan Pisau Merah sangat berpengaruh pada tubuh mereka. Seperti Garam Sakti, dia sangat cepat terlelap karena tubuhnya mengalami kelelahan.
Demikian pula dengan ketiga wanita beda generasi itu.
Mereka semua tidak tahu bahwa pada malam itu ada pergerakan di Desa Rawabening.
__ADS_1
Barulah pada pagi hari ada ketukan di pintu kamar.
Tok tok tok!
“Siapa?” tanya Alma yang bangun lebih dulu.
“Aku pelayan penginapan, Pendekar,” jawab seorang pelayan lelaki dengan suara yang bergetar, membuat Alma jadi curiga.
“Kau sendiri atau dengan orang lain?” tanya Alma lagi.
“Sendiri, Pendekar,” jawab pelayan itu lagi. Suaranya jelas bergetar seperti orang ketakutan.
Alma lalu beranjak ke pintu dan membukanya. Percakapan itu membuat Warna Mekararum terbangun.
Di depan pintu memang hanya ada seorang pelayan penginapan. Wajahnya terlihat pucat ketakutan.
“Ada apa, Kang?” tanya Alma seraya tersenyum manis. “Kau ketakutan.”
“Apakah Nisanak Pendekar yang membunuh Ketua Perguruan Pisau Merah?” tanya palayan itu.
“Apa?” kejut Alma. “Aku memang kemarin bentrok dengan Ketua Dua Perguruan Pisau Merah. Tapi aku tidak tahu jika dia terbunuh.”
“Kami harap Nisanak Pendekar sudi keluar. Orang-orang Perguruan Pisau Merah sudah mengepung penginapan ini dan meminta Nisanak Pendekar keluar menemui mereka,” kata si pelayan.
“Baik, tapi ambilkan air untukku, kecantikanku jadi berkurang karena aku baru bangun tidur,” kata Alma sambil tersenyum.
“Baik, Nisanak,” ucap pelayan itu. Ia pun bergegas pergi. Permintaan Alma harus menjadi prioritas agar tidak terjadi hal-hal buruk.
Alma Fatara segera masuk kembali ke kamar. Alma pergi ke jendela dan mengintip dari lubang yang ada. Agak terkejut Alma, di luar sekeliling penginapan telah ada pagar betis oleh orang-orang berseragam merah-merah.
“Kita dikepung, Nek. Ternyata Ketua Perguruan Pisau Merah kemarin tewas, pelayan tadi yang mengatakannya,” kata Alma kepada Warna Mekararum.
Alma lalu membangunkan Ning Ana.
“Pergi bangunkan Kang Garam untuk menjaga Nenek Warna. Katakan kepada Kang Garam, apa pun yang terjadi di luar nanti, jangan pernah keluar sebelum aku yang mendatangi kalian!” perintah Alma kepada Ning Ana.
Pada saat yang sama, pelayan datang membawa baskom tanah liat yang berisi air. Alma langsung mencuci wajahnya dan menyekanya dengan kain yang dibawa oleh pelayan.
“Hati-hati, Alma!” pesan Warna Mekararum.
“Iya, Nek,” sahut Alma lalu melangkah pergi ke luar dan menuju pintu utama penginapan.
Ketika Alma berbelok, barulah dia bisa melihat langsung ke luar penginapan. Terlihat banyak orang berseragam merah-merah berdiri menciptakan kerumuman tanpa mengindahkan prokes jaga jarak.
Alma Fatara dengan mantap berjalan menuju pintu. Hingga tiba di depan pintu, barulah ia berhenti menatap tanpa gentar puluhan orang yang berkerumun di depan penginapan. Bukan hanya di situ, para lelaki berseragam merah juga membentuk pagar betis mengelilingi bangunan kayu itu.
__ADS_1
Semua orang berpakaian merah menatap tajam kepada Alma, tatapan-tatapan itu menyimpan dendam plus kekaguman. Sementara jauh di belakang orang-orang itu, warga menonton dari jarak yang aman. (RH)