
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
“Untuk membangkitkan tenaga sakti cadangan itu, kau cukup lemaskan semua saraf, otot dan persendianmu sampai setenang mungkin seperti orang tidur pulas. Pikiranmu, aliran napasmu, juga harus tenang. Buat setenang mungkin. Pikiranmu hanya untuk mendorong bangkitnya tenaga sakti cadangan itu. Hilangkan pikiran yang lain, hilangkan,” kata Rereng Busa kepada Dendeng Pamungkas yang duduk bersila di atas sebongkah batu besar di belakang perguruan.
“Baik, Guru,” ucap Dendeng Pamungkas.
“Cara ini bisa lebih mudah dalam kondisi berbaring, karena otot pinggang dan punggung tidak memiliki beban,” tambah Rereng Busa. “Tapi, untuk saat ini coba cara duduk terlebih dulu.”
Dendeng Pamungkas yang masih dalam kondisi tidak berdaya, tidak bisa bergerak dan membuka mata, teringat akan latihan yang pernah diajarkan oleh gurunya beberapa tahun lalu. Hanya, ilmu itu tidak pernah dilatih karena dia memang tidak pernah mengalami kondisi yang seperti saat ini.
“Gelis kekasihku yang teramat cantik, aku ingin melakukan sesuatu, ….”
“Melakukan apa, Kakang?” tanya Gelis Sibening memotong perkataan kekasihnya. Ia masih dalam kondisi yang sama, yaitu terikat menyatu dengan tiang balok kayu ruangan.
“Aku ingin membangkitkan tenaga sakti cadanganku. Aku minta kau jangan memanggilku sampai aku bisa terbangun,” kata Dendeng Pamungkas.
“Baik, Kakang,” kata Gelis Sibening.
Maka diamlah Gelis Sibening. Ia hanya memandangi tubuh kekasihnya yang masih dalam posisi tengkurap di lantai tanah itu.
Mulailah Dendeng Pamungkas mengatur kondisi tubuh dan pikirannya. Pemuda berpakaian kuning itu benar-benar mengosongkan daya dalam tubuhnya, seperti raga yang ditinggal nyawa. Gerakan samar pada tubuh yang menunjukkan sirkulasi napasnya, naik turun secara lembut dan teratur.
Selain napas yang bekerja menuntut keikhlasan, pikiran Dendeng pun bekerja hanya fokus kepada tenaga sakti cadangan yang pada hakekatnya dimiliki oleh setiap manusia. Melalui metode sugesti, ia berusaha memancing munculnya tenaga itu. Selama karirnya sebagai pendekar, ia hanya sekali pernah memancing tenaga itu.
Suasana begitu hening di dalam ruangan yang mirip gudang tersebut, seolah tidak ada kehidupan. Membutuhkan waktu bagi Dendeng Pamungkas untuk kemudian bisa merasakan ada tenaga yang muncul dari pusarnya.
Dalam pikiran Dendeng Pamungkas, sugesti terus ia gencarkan. Rasa gembiranya timbul saat ia merasakan mulai ada energi kecil yang muncul, tetapi ia segera tepis agar bisa lebih tenang dan fokus.
Serss!
Hingga setelah setengah jam berusaha, barulah kekuatan sakti cadangan muncul secara besar dan mengalir ke seluruh pelosok tubuh Dendeng Pamungkas. Kini ia merasakan dirinya telah bertenaga lagi.
Jari tangan adalah anggota tubuh Dendeng Pamungkas yang pertama bergerak. Gelis yang melihat gerakan itu jadi terbelalak gembira.
Selanjutnya, kedua siku Dendeng Pamungkas yang bergerak menekuk ke atas, menjadikan kedua telapak tangannya sebagai topangan yang kemudian mendorong bahunya untuk naik mengangkat kepala.
“Kakang Dendeng!” ucap Gelis Sibening senang.
“Aghrr!” erang Dendeng Pamungkas berusaha bangkit. Kini kedua tangannya sudah menopang tubuhnya dengan lurus dan kepalanya terangkat dengan wajah mengerenyit, seolah siap push-up.
Meski kini ia memiliki tenaga, tetapi rasa lemah dan sakit pada tubuhnya masih ada. Dengan gerakan perlahan, Dendeng Pamungkas mencoba bangkit berdiri. Dan itu berhasil, meski kedua kakinya terlihat gemetar.
__ADS_1
Ia berdiri menatap Gelis Sibening yang sejak tadi tidak bisa dilihatnya, hanya bisa mendengar suaranya.
“Gelis sayangku!” sebut Dendeng Pamungkas sambil berjalan terhuyung mendekati gadis cantiknya.
“Kakang, hati-hati!” kata Gelis Sibening yang masih menyimpan rasa khawatir karena kekasihnya itu masih sempoyongan.
“Maafkan aku, Sayangku!” ucap Dendeng Pamungkas sambil berlutut memeluk kekasihnya.
“Lebih baik kau makan dulu, Kakang. Mungkin bisa menambah tenagamu,” bisik Gelis Sibening di sisi kepala si pemuda.
“Tidak, kau yang harus makan, Sayang. Kau juga pasti lemah,” bisik Dendeng Pamungkas.
“Aku tidak apa-apa. Kakang lebih butuh tenaga. Kondisi kita masih lemah. Mungkin saja kita akan bertemu dengan Ninggat jika kita kabur,” tandas Gelis Sibening.
“Baiklah,” ucap Dendeng Pamungkas setelah melepaskan pelukannya. Ia membenarkan perkataan kekasihnya. Ia lebih membutuhkan tenaga dibandingkan Gelis Sibening yang memang tidak memiliki kemampuan ilmu beladiri.
Dendeng Pamungkas lalu bergerak melepas ikatan tali pada kedua tangan dan kaki Gelis Sibening. Seolah belum puas, Gelis balas memeluk Dendeng Pamungkas dengan erat setelah ia terbebas. Ia bahkan mengecup sekali pipi kanan si pemuda.
“Kita harus bergegas,” kata Dendeng Pamungkas dengan napas yang sedikit memburu karena terbawa was-was.
Pemuda itu segera meraih wadah yang berisi makanan. Ia tidak khawatir ada racun pada makanan tersebut, karena makanan itu diperuntukkan kepada Gelis Sibening. Faktor memang lapar membuat Dendeng Pamungkas makan dengan tergesa-gesa.
“Oh Dewa!” ucap Dendeng Pamungkas terkejut, membuat Gelis juga terkejut.
“Ada apa, Kakang?” tanya Gelis Sibening.
“Maafkan aku, Sayangku. Semua makanannya aku habiskan tanpa ingat memberimu sedikit pun!” kata Dendeng Pamungkas dengan mimik wajah merasa bersalah.
“Hihihi!” tawa Gelis Sibening. “Kakang yang lebih penting.”
“Ayo, kita harus pergi. Aku sudah tidak gemetar lagi!”
Keduanya segera melangkah pergi menuju pintu yang tertutup rapat. Gelis Sibening memegangi lengan kanan Dendeng Pamungkas, persis seperti sepasang kekasih.
Setibanya di pintu, Dendeng mencoba menarik dan mendorong daun pintu. Ternyata dikunci dari luar.
Dendeng Pamungkas menyalurkan tenaga dalamnya ke tangan kiri.
Bakr!
Satu pukulan saja pada tulang pintu, memaksa kuncian luar pintu patah dan rusak. Pintu pun terhempas, lepas pula dari engselnya.
__ADS_1
Suara ribut itu mengejutkan dua orang lelaki yang sedang santai duduk di bawah pohon jambu yang mandul, sambil menikmati kopi senja yang diletakkan di tanah kering. Kedua orang itu adalah centeng yang ditugaskan berjaga.
Melihat kemunculan Dendeng Pamungkas dan Gelis, kedua centeng segera bangkit dari duduknya dan loloskan golok dari sarung, maksudnya sarung goloknya.
“Jangan kabur, kalian!” teriak salah satu centeng sambil berlari ke arah Dendeng Pamungkas dan Gelis Sibening.
Sang gadis jadi panik dan refleks menjauh dari Dendeng Pamungkas yang langsung bersiap.
Tak tak! Bugk!
Dengan gerakan tangan kosong yang cepat, sambil mengelaki tusukan pedang yang datang, Dendeng Pamungkas menghajar tangan si centeng pertama sehingga golok terlepas dan jatuh. Disusul satu tinju profesional menghantam sisi dagu si centeng. Dagu itu terhentak seolah lepas dari engselnya. Si centeng pertama pun ambruk KO.
“Hiaat!” pekik centeng kedua yang sudah tiba dengan bacokan-bacokan asal tebas, agar serangannya terkesan lebih berkualitas.
Buk! Dak!
Namun, Dendeng Pamungkas jelas bukanlah lawan bagi si centeng. Mudah bagi Dendeng mengelaki serangan itu. Tahu-tahu satu tinjunya sudah menusuk masuk ke perut si centeng, membuat bapak-bapak itu terbungkuk mengeden. Terhitung dua detik kemudian, Dendeng Pamungkas memberinya satu tendangan mengibas pada wajahnya, memaksanya terbanting tidak berkutik.
Setelah kedua centeng penjaga sudah terkapar, Dendeng Pamungkas segera meraih tangan kanan Gelis Sibening dan menariknya agar ikut.
Seet!
Namun, tiba-tiba dari arah samping kanan, ada sebatang bambu sepanjang setengah depa melesat di udara seperti peluru kendali, mengincar Dendeng Pamungkas yang berlari kecil bersama kekasihnya.
Dak!
Dendeng Pamungkas yang terkejut, cepat mengibaskan tendangannya menghantam badan bambu, sehingga benda itu terpental hilang kendali ke arah lain.
Selanjutnya, sesosok tubuh berpakaian biru terang berkelebat di udara dan mendarat tidak jauh dari Dendeng dan Gelis. Pemuda berpakaian bagus tersebut tidak lain adalah pemuda yang beberapa waktu lalu mengantarkan makanan untuk Gelis.
“Ninggat! Kau benar-benar jahat sehingga menculik adikmu sendiri!” kecam Dendeng Pamungkas sambil menunjuk wajah pemuda bernama Ninggat itu.
“Aku hanya menculiknya dan menyekapnya, tidak melukainya, apalagi membunuhnya. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian kabur, itu akan merusak rencanaku,” kata Ninggat santai, berusaha menunjukkan bahwa ia lebih tidak bermasalah dengan situasi itu.
“Berarti kita harus bartarung, Ninggat!” tandas Dendeng Sibening.
“Tidak masalah!” kata Ninggat.
“Kakang Ninggat! Ayah akan menghukummu karena telah berbuat seperti ini!” seru Gelis Sibening.
“Diamlah kau, Gelis. Aku tidak suka kau berhubungan dengan pemuda tangan jorok ini!” kata Ninggat dengan tatapan fokus kepada wajah Dendeng Pamungkas yang sudah memasang kuda-kuda. (RH)
__ADS_1