
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
Sekitar enam puluh prajurit Kademangan Dulangwesi sudah membentuk barisan tiga lapis di depan pagar Perguruan Jari Hitam. Mereka dalam kondisi siap tempur dengan tombak siap tusuk dan tameng terpasang di depan badan.
Di belakang barisan itu ada sebuah kereta kuda berbilik yang didampingi oleh seorang pendekar berkuda. Si pendekar berkuda adalah Dengkul Geni.
Pasukan itu terhalang untuk maju oleh barisan puluhan murid Perguruan Jari Hitam. Sejumlah murid senior perguruan berdiri paling depan, berhadapan langsung dengan para prajurit. Mereka dipimpin oleh Giling Saga.
Ada beberapa orang yang tidak masuk dalam barisan, mereka berkumpul menonton dari gerbang perguruan. Orang-orang itu adalah Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, Ayu Wicara, dan Gibas Madar.
Sementara itu, Ketua Perguruan Jari Hitam Rereng Busa mengamati situasi dari atas menara bambunya.
Alma Fatara tidak terlihat. Ia memilih menjaga Demang Baremowo dalam situasi yang tidak bisa dianggap biasa saja itu. Karena sebelumnya Demang Baremowo menjadi terget bunuh, tiba-tiba Alma berpikir untuk menjaga sang demang.
Jika skenario yang mereka harapkan tidak terjadi, yaitu perkara di depan perguruan bisa selesai, maka terpaksa Demang Baremowo harus dibawa keluar untuk meredakan ketegangan.
“Giling Saga! Lepaskan Demang dan Gelis Sibening!” seru Dengkul Geni yang menjadi juru bicara bagi Nyi Bungkir yang ada di dalam bilik kereta.
Terkejutlah Giling Saga dan para murid senior perguruan mendengar tuntutan yang sekaligus menuduh.
“Nyi Bungkir! Siapa yang menyampaikan laporan salah kepadamu. Memang benar Demang Baremowo ada di perguruan ini, tapi kami tidak menangkapnya atau menculiknya. Kami membawa Demang untuk mengobatinya. Dan aku tegaskan, di sini tidak ada Gelis Sibening!” seru Giling Saga kepada Nyi Bungkir yang tidak dilihatnya langsung, tetapi ia yakin bahwa wanita sakti itu ada di dalam keretanya.
“Kau pikir kami akan percaya. Jika benar Demang tidak kalian tawan, seharusnya Demang bisa keluar setelah mendengar kami datang!” kata Dengkul Geni lagi.
“Demang Baremowo kondisinya terluka parah, butuh istirahat. Lebih baik Nyi Bungkir masuk dan menemuinya,” kata Giling Saga.
“Kau pikir Nyi Bungkir akan bodoh untuk masuk ke dalam perangkap licik kalian? Cepat bebaskan Demang dan Gelis Sibening!”
“Benar-benar tidak tahu berterima kasih. Ayo maju jika memang mau bertarung!” teriak Rinai Serintik gusar bukan main mendengar sikap Dengkul Geni. Entah keras kepala atau karena faktor kebodohan.
Ubun-ubun Dengkul Geni serasa mengebulkan asap kemarahan mendengar tantangan Rinai Serintik. Namun, ia masih punya satu tuduhan untuk menyudutkan orang-orang Perguruan Jari Hitam. Karenanya, ia masih bisa menahan emosi yang sudah matang sejak tadi.
“Jika benar bukan kalian yang menculik Gelis Sibening, sekarang juga, suruh Dendeng Pamungkas keluar!” seru Dengkul Geni.
Tuntutan Dengkul Geni itu membuat Giling Saga dan rekan-rekannya terdiam, jelas mereka tidak bisa menjawab. Sebab, faktanya Dendeng Pamungkas tidak ada di perguruan dan juga belum ditemukan saat dicari.
Akhirnya Giling Saga menjawab juga.
“Dendeng Pamungkas sejak kemarin siang tidak pernah pulang ke perguruan. Kami sudah mencarinya dan belum kami temukan.”
“Hah! Itu buktinya bahwa Dendeng Pamungkas yang telah menculik Gelis Sibening!” tukas Dengkul Geni. “Jika kalian tidak bisa membuat Demang atau Dendeng Pamungkas, atau Gelis Sibening keluar, maka kami akan memeriksa perguruan ini dengan paksa!”
__ADS_1
“Lancang!” bentak Rinai Serintik dan Nining Pelangi bersamaan.
“Jika kalian memaksa melewati pintu gerbang Perguruan Jari Hitam, maka jangan salahkan jika kami bertindak tegas!” seru Giling Saga akhirnya, habis pula kesabarannya.
“Prajurit! Geledah perguruan ini, bebaskan Gusti Demang Baremowo!” teriak Dengkul Geni memberi perintah.
“Masuuuk!” teriak para prajurit beramai-ramai sambil berlari menuju pintu gerbang perguruan. Mereka bergerak tanpa formasi khusus seperti pasukan sedang berperang, tetapi lebih seperti sekedar hendak masuk beramai-ramai.
“Jangan biarkan satu pun prajurit masuk! Hadang dan pukul mundur!” teriak Giling Saga.
Maka puluhan murid perguruan pun serentak bergerak maju. Ada yang berlari menyonsong serangan massal para prajurit, ada pula yang langsung berkelebat di udara lalu menerjang tameng-tameng para prajurit.
Pertarungan massal pun terjadi dengan ramai.
“Seraaang!” teriak Gibas Madar sekencang-kencangnya, penuh tekad juang, sambil berlari kencang sendirian bergabung dengan saudara-saudara seperguruannya.
Bdugk!
Namun, baru saja dia masuk, satu dorongan tameng prajurit membuatnya terjengkang. Ketika ada tombak datang hendak menusuknya, Nining Pelangi datang menghajar prajurit pemilik tombak.
Sementara itu, Debur Angkara, Garam Sakti dan Ayu Wicara saling pandang, seolah meminta kesepakatan di antara mereka.
“Seraaang!” teriak Magar Kepang kencang sambil menunjuk ke arah pertempuran.
“Setaaan! Hahaha!” teriak Debur Angkara dan Garam Sakti bersamaan mengikuti teriakan Ayu Wicara, lalu berlari sambil tertawa-tawa.
Sementara itu Magar Kepang tertawa-tawa tetap berdiri di tempatnya.
Debur Angkara mencabut dua golok saktinya. Ini kesempatan baginya untuk menjajal kehebatan Dua Golok Setia. Dan ternyata dua golok biru gelap itu mantap. Tombak-tombak yang ditebas oleh dua golok Debur Angkara jadi berbuntungan.
Dalam waktu singkat, para prajurit dibuat kewalahan menghadapi perlawanan murid-murid perguruan. Tameng-tameng para prajurit tidak berguna banyak menghadapi jari-jari hitam murid-murid senior perguruan. Tameng-tameng berbahan kayu itu bisa dibuat bolong.
Ketika Dengkul Geni berkelebat masuk ke dalam pertempuran, Giling Saga segera datang berlari menghadang. Pertarungan berkelas langsung terjadi di antara keduanya.
Di atas menara, Rereng Busa hanya menarik napas panjang dan geleng kepala tiga kali. Ia ingin turun tangan, tetapi ia urungkan saat melihat kedatangan tiga orang.
Ketiga orang itu adalah Brata Ala, Kulung dan Dendeng Pamungkas yang kedua tangannya sudah dalam balutan kain. Ketiganya terkejut melihat pertempuran yang terjadi.
“Hentikan! Hentikan!” teriak Brata Ala keras sambil berkelebat meninggalkan Dendeng Pamungkas dan Kulung.
Teriakan keras itu terdengar oleh semua pihak yang bertempur. Mereka seketika menghentikan pertarungan. Sambil tetap bersiaga, mereka menengok ke sumber suara.
__ADS_1
“Kita diadu dombaaa!” teriak Dendeng Pamungkas yang datang berlari dengan terhuyung-huyung.
Melihat kedatangan Dendeng Pamungkas dalam kondisi yang tidak bagus, terkejut Giling Saga dan orang-orang perguruan.
“Munduuur!” teriak Giling Saga.
Mendengar Giling Saga memerintahkan murid-murid Perguruan Jari Hitam mundur, Dengkul Geni pun melakukan hal yang sama.
“Munduuur!” teriak Dengkul Geni.
Kedua belah pihak bergerak mundur dan berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Sejumlah prajurit dan murid perguruan sudah ada yang terluka fisik dan berdarah-darah. Beruntung, belum ada yang tergeletak meregang nyawa.
“Dendeng Pamungkas! Di mana kau sembunyikan Gelis Sibening?” teriak Dengkul Geni cepat dengan mata melotot memerah.
“Aku tidak menyembunyikan Gelis Sibening. Justru aku dan Gelis Sibening sama-sama disekap oleh Ninggat!” jawab Dendeng Pamungkas.
Terkejutlah Dengkul Geni dan Nyi Bungkir di dalam bilik kereta kuda. Namun, Dengkul Geni tetap tidak mau percaya.
“Kau jangan mengadu domba kami, Dendeng!” tuding Dengkul Genit.
“Jika aku yang punya anak buah sebebal Otak Dengkul itu, sudah aku cemplungkan ke dalam sumur!” desis Rinai Serintik kepada Nining Pelangi karena terlalu kesalnya kepada Dengkul Geni.
“Benar yang dikatakan Dendeng!” seru Kulung pula kepada pihak Nyi Bungkir.
“Kami menemukan Dendeng dan Gelis Sibening yang sedang di bawa ancaman Ninggat. Tapi sebelum aku membunuh Ninggat, Gelis Sibening mencegahku!” tandas Brata Ala.
“Lihatlah, kedua tangan Dendeng Pamungkas hancur oleh Ninggat. Dialah yang menculik Gelis Sibening tadi malam!” kata Kulung lagi.
Mereka semua mendadak terdiam ketika dari tirai kereta kuda yang ada di belakang sais tersingkap. Nyi Bungkir menyeruak keluar membungkuk lalu berdiri anggun di sisi sais. Sempat terlihat pemandangan dua bukit nan indah sekilas ketika Nyi Bungkir membungkuk keluar.
Nyi Bungkir dengan berwibawa memandang situasi itu sejenak.
“Lalu di mana Gelis Sibening?” tanya Nyi Bungkir akhirnya.
“Gelis Sibening bersama Ninggat yang kondisinya kritis,” jawab Dendeng Pamungkas. “Tengah malam tadi, aku memergoki Ninggat di jalan Kademangan sedang membawa tubuh Gelis Sibening. Tapi aku dibokong oleh seorang teman Ninggat. Jadi kami berdua disekap di sebuah rumah selama sehari ini.”
“Jadi kau menuduh Nyi Kenanga adalah dalang penculikan Gelis Sibening dan orang yang mau membunuh Demang?” terka Nyi Bungkir.
“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa Ninggat yang menculik Gelis Sibening!” tandas Dendeng Pamungkas.
“Aku ingin bertemu dengan suamiku!” kata Nyi Bungkir kepada Giling Saga.
__ADS_1
Bluar!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ledakan dahsyat yang sumbernya berasal jauh di dalam perguruan. Ledakan itu juga mengejutkan Rereng Busa yang ada di menara. (RH)