A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 30: Dua Jagoan Hutan Kendil


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Orang pertama adalah seorang lelaki gagah berbadan besar dan berotot besar pula. Sebanding dengan Garam Sakti. Usianya sudah empat puluh tahun kebih tujuh hari dengan rambut gondrong diikat memakai sebatang rumput hijau. Ia membawa dua pisau seperti pisau komando yang diselipkan pada kedua lengan kekarnya. Ia mengenakan baju hitam tanpa kancing, seolah memang bermaksud pamer dada twopack dan perut sixpack. Lelaki itu bernama Jabrang alias Jagoan Hutan Kendil.


Orang kedua adalah seorang pemuda berusia tiga puluh tahun lebih sebelas hari, berwajah agak ganteng berhias brewok. Rambutnya gondrong sebahu saja, tidak lebih. Perawakannya biasa saja, tetapi tetap berotot keras. Ia mengenakan baju dalaman putih, tapi dilapisi kemeja tanpa kancing warna hitam. Ia berbekal senjata kapak pendek bermata dua, seperti senjata kapak sakti pendekar tetangga, tapi yang ini gagangnya berbentuk kepala bebek. Ia bernama Barong Gula alias Jagonya Hutan Kendil.


Keduanya dikenal dengan nama Dua Jagoan Hutan Kendil. Mereka memasuki Desa Turusikil.


Di saat Ki Rampe Ulon sedang dipukuli beramai-ramai di petakan sawah yang hanya berisi air dan lumpur, Dua Jagoan Hutan Kendil menghampiri anak buah Ki Rampe Ulon yang hanya diam saat pimpinannya dihakimi warga desa.


“Di mana Rampe Ulon?” tanya Jabrang dingin.


“Di sana!” jawab anak buah Ki Rampe Ulon sambil menunjuk ke arah bawah, di sawah sana.


Keduanya lalu berjalan turun menuju sawah.


“Akkh …!” jerit Ki Rampe Ulon lebih tinggi saat batok kepalanya dihantam balok kayu milik seorang ibu desa.


“Rampe Ulon!” teriak Barong Gula memanggil.


Alma Fatara, Garam Sakti, dan warga yang sedang mengamuk, jadi menengok dan melihat siapa yang memanggil orang yang sedang mereka hakimi.


Melihat Ki Rampe Ulon tumbang ke lumpur dengan kepala bersimbah darah, kedua orang yang baru datang itu diam saja.


Sementara warga segera bubar dengan membawa ketakutannya. Mereka meninggalkan Ki Rampe Ulon yang tidak bergerak itu sendirian.


“Mana Rampe Ulon, Anak Cantik?” tanya Jabrang kepada Alma seraya tersenyum.


Mendapat pertanyaan, Alma tidak langsung menjawab. Ia justru menengok ke belakang, jika-jika dua orang itu bertanya kepada bukan dirinya.


“Iya kau, kau yang cantik!” tunjuk Jabrang.


“Hahaha!” Alma langsung tertawa setelah pasti bahwa dialah yang disebut “Anak Cantik”. “Kakang tahu saja bahwa aku cantik.”


“Hahaha!” tawa Barong Gula pula.


“Mana Rampe Ulon?” tanya Jabrang lagi.


“Tuh!” tunjuk Alma.


Dua Jagoan Hutan Kendil memang tidak tahu bahwa lelaki yang tergeletak di lumpur itu adalah Ki Rampe Ulon, orang yang mereka cari. Lumuran lumpur yang merata membuat Ki Rampe Ulon sulit untuk dikenali.


“Apa yang kalian lakukan kepada sahabat kami?!” bentak Jabrang karena terkejut.


“Menghukumnya,” jawab Alma sambil tersenyum.


“Apa kesalahan sahabat kami?” tanya Jabrang lagi.

__ADS_1


“Satu, membunuh. Dua, merampok. Tiga, memperkosa. Empat, menyiksa. Lima, main api seperti ini,” jawab Alma, lalu terakhir menusukkan keris pusaka di tangannya.


Zess! Bress!


“Heh!” teriak Jabrang sambil sigap melompat mundur jauh, naik ke tanah tinggi. Ia sangat terkejut diserang segaris sinar hijau dari keris. Lalu teriaknya gusar, “Itu Keris Petir Api! Jangan sembarangan!”


“Hahahak!” tawa Alma. Lalu balas teriaknya, “Kalian berdua mau apa, hah?!”


“Wuih! Galak juga!” ucap Jabrang terkejut melihat kegarangan Alma. Lalu teriaknya kepada Alma yang ada di tempat yang lebih rendah, “Kami adalah sahabat Rampe Ulon. Jika kalian membunuh Rampe Ulon, maka jangan harap bisa hidup lebih lama!”


“Sudah aku katakan, aku menghukumnya. Apakah kau mau melawan hukum Dewi Gigi?” kata Alma.


“Siapa itu Dewi Gigi?” tanya Jabrang.


“Dewi yang punya gigi. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa.


“Kurang ajar kau, Bocah Cilik!” maki Jabrang.


Zess! Bress!


Alma kembali menusukkan keris di tangannya. Segaris sinar hijau melesat cepat menyerang Jabrang di sisi atas.


Namun, Jabrang gesit melompat menghindar, membuat serangan sinar hijau hanya membakar tanah. Dalam lompatan menghindarnya, ternyata Jabrang langsung menerjang ke arah Alma Fatara.


Dak dak!


“Kang Garam!” panggil Alma sambil melempar keris di tangannya ke belakang, tepatnya kepada Garam Sakti.


Garam Sakti sigap menangkap gagang keris itu. Sementara Alma merangsek maju menyerang Jabrang dengan penuh ambisi, membuat Jabrang cukup terkejut.


“Barong Gula!” teriak Jabrang memanggil bantuan.


Barong Gula cepat berkelebat, lalu turun ke tanah sekali hanya untuk bertolak menuju ke posisi Garam Sakti.


“Mati kau!” teriak Garam Sakti sambil menusukkan keris di tangannya seperti apa yang dilakukan oleh Alma.


Bak! Bucrak!


Garam Sakti terkejut, karena keris pusaka di tangannya tidak mengeluarkan sinar hijau panjang. Akibatnya, terjangan kaki Barong Gula mendarat keras di dada Garam Sakti. Lelaki bertubuh besar itu langsung terlempar ke dalam petak sawah. Namun, keris itu masih tergenggam kuat di tangannya.


Semakin berlumpur Garam Sakti.


Sementara Alma melompat bersalto cepat lalu kakinya mengapak ke kepala Jabrang.  Kali ini Alma masuk ke tahap serius, karena ia sadar bahwa lawannya kali ini lebih digdaya dibanding Ki Rampe Ulon.


Dak!


Jabrang mengamankan kepalanya dengan menangkis tungkai kaki Alma menggunakan silangan tangan besarnya. Demikian kuatnya tenaga tendangan Alma, hingga membuat Jabrang yang begitu kokoh jatuh terlutut satu kaki. Masih untung jatuhnya sebatas di jalan setapak itu.

__ADS_1


Sret!


Menyadari ketangkasan si wanita belia nan cantik jelita itu, Jabrang tidak mau bertindak setengah-setengah. Ia cabut dua pisau tebalnya.


Alma Fatara cepat berlari naik ke tanah tinggi. Jabrang mengejar dengan pisau siap ditikamkan seperti pembunuh berantai.


Alma berlari naik lalu melompat bersalto ke belakang melewati atas kepala Jabrang, sementara kedua kakinya menendang tengkuk lelaki bertubuh berotot besar itu.


Dak!


“Kurang ajar!” maki Jabrang saat kepalanya terkena tendangan keras, memaksa wajahnya tersungkur ke tanah yang menanjak.


Jabrang kian murka. Ia cepat bangkit lalu melesatkan pisau tebalnya.


Set! Teb!


Pisau itu melesat dan menancap dalam di dekat kaki Alma. Untung saja Alma lebih cepat menggeser kakinya.


“Heaat!” teriak Jabrang sambil melompat dari tanah tinggi kepada Alma yang berdiri di pinggir petak sawah, sambil ayunkan tangan kirinya yang memegang pisau tebal.


Wuss!


“Aaak!” jerit Jabrang dengan tubuh terlempar jauh meninggalkan kawasan sawah, saat angin Sedot Tiup milik Alma menghempasnya dari arah bawah.


Alma langsung berkelebat memburu Jabrang.


Wuzz!


Tahu-tahu seberkas sinar merah melesat menyambut kedatangan Alma. Cekatan Alma mengelak dengan melempar sedikit laju tubuhnya ke samping lalu balas main sinar-sinaran.


Sess! Wuzz! Bluar!                                          


Alma Fatara melesatkan sinar emas menyilaukan seperti juragan emas. Jabrang cepat balas dengan sinar merah seperti tadi. Kedua sinar ilmu bertemu di pertengahan jarak. Hasilnya, Alma terdorong hilang kendali nyaris jatuh terduduk di pinggir petak sawah.


Sementara Jabrang terlompat lalu jatuh terjengkang. Tulang ekornya yang menghantam tanah terlebih dahulu, membuat pinggangnya langsung melengkung ke atas lantaran kesakitan.


“Kuat sekalikh!” ucap Jabrang sambil mengerang kesakitan, rongga mulutnya penuh oleh darah.


Setelah menaklukkan kekuatan ilmu lawan dengan Pukulan Bandar Emas, Alma lalu melompat naik ke tanah tinggi.


“Aak! A-apa yang kau laku … kaaan!” teriak Jabrang menjerit kesakitan sambil berusaha memegangi lilitan yang tahu-tahu sudah menjerat lehernya. Wajahnya memerah dengan urat-urat bertonjolan jelas. Sepasang matanya pun memerah.


“Menyerah atau tidak, Kang?” tanya Alma sambil menarik Benang Darah Dewa-nya.


“Iya, iya, aku me-menyeeerah!” teriak Jabrang dalam kondisi mau kehabisan napas dan lehernya bahkan sudah berdarah karena teriris oleh Benang Darah Dewa.


Alma segera meloloskan Benang Darah Dewa-nya, membuat Jabrang langsung bisa bernapas. Buru-buru Jabrang menarik napas sebanyak-banyaknya dan membekap lehernya yang berdarah. (RH)

__ADS_1


__ADS_2