A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 1: Alma-Debur Ditangkap


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


Prajurit Kadipaten Balongan menggantung sebuah rangkaian bilah bambu yang dirajut di batang pohon, yang tumbuh di sisi barat pasar. Sisi barat bisa disebut sebagai sisi depannya pasar, karena menghadap ke arah jalan utama Ibu Kota Kadipaten Balongan.


Setelah dua prajurit pergi meninggalkan apa yang digantungnya, warga yang ada di sekitar tempat itu segera mengerumuni pohon, terutapa pada sisi tempat digantungnya papan pengumuman. Meski terbuat dari bilah bambu, kita sebut saja itu papan.


Meski papan pengumuman itu hanya digantung, tidak dipaku, tidak ada seorang pun yang berani menyentuhnya, apalagi sampai mengambilnya. Aturan di Kadipaten Balongan, hanya prajurit yang ditugasnya boleh memasang, menyentuh hingga mengambil papan pengumuman. Jika ada orang selain prajurit yang menyentuhnya, maka akan ditangkap dan dipenjara.


Itulah kenapa yang namanya papan pengumuman selalu aman dari tangan-tangan jahil.


Papan pengumuman itu hanya teruntuk bagi orang yang melek huruf, tidak berlaku bagi mereka yang hanya melek gambar. Papan pengumuman itu mengumumkan dua belas nama lelaki yang lolos seleksi sebagai Petarung Panah. Mereka akan bertanding besok pagi di alun-alun Ibu Kota Balongan. Jadi, Kadipaten Balongan memiliki ibu kota yang namanya sama, yaitu Balongan.


“Lihat! Bandeng Prakas ikut pertandingan!” seru seorang warga sambil menunjuk.


“Tapi kenapa dia ikut? Bukankah dia selama ini tidak pernah ikut?” tanya pemuda lain.


“Keahlian panah Bandeng Prakas sudah tidak diragukan lagi. Dia pasti akan bersaing ketat melawan putra Adipati. Karena hadiah utama adalah anak gadis Kepal Kepeng, pertandingan pasti akan berlangsung seru,” kata pemuda yang lain sedikit memberi analisa. “Tentunya kalian belum mendengar bahwa Bandeng Prakas dan Arya Mungkara sama-sama menyukai putri Kepal Kepeng.”


“Ah, yang benar?”


“Iya. Sepuluh serius.”


“Eh eh eh lihat!” kata pemuda lainnya. “Ada nama Pendekar Mata Ular!”


“Aku baru kali ini mendengar nama itu. Namanya juga mengerikan.”


“Aku rasa dia itu pendekar dunia persilatan.”


“Jika lihat nama-namanya, pertandingan besok pasti sangat seru. Ada Ujang Barendo putra juragan jengkol, ada Balingga putra juragan ikan. Eh, kakak adik putra Bendahara Kadipaten juga ikut. Kok bisa? Terus, ini nama siapa? Derajat Jiwa.”


“Mungkin itu pemuda dari kadipaten tetangga.”


Seperti itulah perbincangan warga menyikapi pengumuman tersebut.


Pada saat itu, tibalah satu pedati kuda yang dikawal oleh tiga orang berkuda. Mereka berhenti karena penasaran melihat kerumunan di depan pasar Ibu Kota.


“Kang Debur, coba lihat, apa yang orang-orang itu lihat!” perintah Alma kepada Debur Angkara.


Debur Angkara lalu turun dari kudanya. Ia pergi ke belakang kerumunan. Tubuhnya yang cukup tinggi sebenarnya sudah bisa melihat apa yang ada digantung di batang pohon.


“Minggir! Minggir!” teriak Debur Angkara sambil menarik bahu orang di depannya agar memberi jalan kepadanya untuk lebih ke depan. Mungkin bagi Debur Angkara, kurang afdol jika tidak melihat dari dekat.


Karena orang yang menarik bahu mereka dan menggeser tubuh mereka adalah lelaki besar berotot serta bergolok, warga itupun memberi akses dan ruang kepada sang jagoan. Debur Angkara menatap serius papan pengumuman itu. Namun, seseriusnya Debur Angkara melototi papan pengumuman, tetap saja dia tidak mengerti, karena sesungguhnya Pendekar Desa Iwaklelet itu buta aksara.


Karena kesal tidak mengerti, Debur Angkara lalu maju dan meraih papan pengumuman tersebut. Dengan mudah Debur Angkara mencopotnya dari sembulan kayu pada batang pohon. Terkejutlah semua warga melihat hal itu.


“Eeeh! Jangan diambil, Kisanak!” teriak salah seorang warga mencegah.

__ADS_1


“Iya, jangan diambil!” teriak yang lain pula.


“Itu melanggar aturan, Kisanak!” seru warga lain.


“Heh! Aku hanya pinjam sebentar!” bentak Debur Angkara kepada orang-orang tersebut, sementara tangannya memegang papan pengumuman yang terdiri dari rangkaian bilah bambu, yang ada tulisannya dan daftar dua belas nama orang.


“Tapi, itu …” kata seorang warga lagi, tapi terputus karena Debur Angkara sudah mendelik kepadanya sambil tangan kiri memegang satu gagang goloknya.


Debur Angkara lalu pergi menghampiri pedati untuk menyerahkan papan pengumuman itu. Namun, baru saja tangan Debur Angkara mengulur kepada Alma, tiba-tiba ….


“Berhenti!” teriak satu suara lelaki yang begitu keras dan mengejutkan hati.


Alma jadi batal menerima papan pengumuman itu. Mereka semua sontak beralih memandang kepada sumber suara. Mereka melihat ada dua orang prajurit berseragam merah gelap berlari datang mendekat, lalu berhenti di samping kuda pedati. Kedua prajurit itu langsung hunus pedang.


“Kalian telah melanggar hukum, harus ditangkap!” seru si prajurit yang punya nyali besar, sebab mereka tidak gentar melihat keberadaan Debur Angkara dan Garam Sakti yang berbadan penuh benjolan otot.


“Hei! Kami melarang hukum apa?!” teriak Ayu Wicara tidak terima tuduhan prajurit itu.


“Bukan melarang hukum, tapi kalian melanggar hukum!” tandas si prajurit.


Pliu pliu pliu …!


Tiba-tiba prajurit satunya meniup pluit bambu yang menimbulkan suara melengking mendayu-dayu.


Tiupan itu ternyata adalah tanda panggilan bantuan. Terbukti, dari beberapa arah, bermunculan para prajurit yang berlarian ke arah tempat itu. Mereka hanya bersenjata pedang, tidak berbekal tameng atau tombak.


“Sepertinya kita telah melakukan pelanggaran yang tidak kita tahu, Alma,” kata Warna Mekararum yang bisa melihat situasi. Kini dia bisa duduk bersandar, berbeda sebelum ia diobati di Perguruan Jari Hitam.


“Iya, Nek. Menurut Nenek, sikap kita bagaimana?” tanya Alma.


“Jika kita salah, ya salah. Jangan berusaha membuat benar kesalahan kita. Jika kita memang melanggar hukum, maka kita harus terima hukumannya,” ujar Warna Mekararum lemah.


“Baik, Nek. Aku akan perjelas dulu pelanggaran apa yang kita lakukan,” kata Alma.


“Menyerahlah kalian!” perintah prajurit tadi.


Kini ada sekitar dua puluh prajurit berpedang yang mengepung rombongan Alma.


“Terangkan dulu apa pelanggaran yang kami lakukan!” seru Alma.


“Lelaki itu telah mengambil papan pengumuman dari tempatnya. Dia harus ditangkap dan dipenjara!” seru prajurit itu lagi.


Terkesiap Debur Angkara mendengar hal itu. Sontak ia naik pitam.


“Hei, Prajurit! Aku hanya mengambil sebentar untuk menunjukkannya kepada pemimpinku. Nanti aku letakkan lagi di tempatnya! Aku golok kau nanti!” kata Debur Angkara gusar.


Dari sisi belakang para prajurit muncul seekor kuda berpenunggang punggawa prajurit. Melihat kemunculan junjungan mereka, para prajurit segera memberi jalan agar tampil di depan.

__ADS_1


“Kisanak, Nisanak! Lelaki itu telah melanggar aturan Kadipaten Balongan. Menyentuh papan pengumuman akan dihukum penjara satu purnama. Mengambil papan pengumuman akan dipenjara tiga purnama. Dan merusak papan pengumuman akan dipenjara lima purnama. Sedangkan memusnahkan papan pengumuman akan dipenjara satu tahun lamanya!” seru lelaki berkumis tebal dan bertelanjang dada di atas kuda, membacakan larangan mengenai papan pengumuman.


“Oh begitu. Paman, jadi Kang Debur ini harus dipenjara tiga purnama, ya?” tanya Alma guna memastikan.


“Benar. Tapi jika dia tidak melakukan perlawanan saat ditangkap. Jika dia melawan, maka hukumannya akan lebih berat. Jika melawan prajurit tambah satu purnama penjara, melukai prajurit tambah tiga purnama penjara, melumpuhkan prajurit tambah satu tahun penjara, dan membunuh prajurit tambah lima tahun penjara!” jelas prajurit di atas kuda.


Semakin gundahlah Debur Angkara mendengar ancaman penjara tersebut. Ia jadi menelan ludah dengan kasar.


“Paman, siapa namamu?” tanya Alma.


“Aku Komandan Keamanan Ibu Kota. Namaku Gendas Pati!” jawab prajurit itu jumawa.


“Aku yang memerintahkan Kakang Debur untuk mengambil papan pengumuman ini. Jadi, bisakah hanya aku yang kalian tangkap?” tanya Alma, membuat Warna Mekararum dan sekelompoknya terkejut, terkhusus Debur Angkara.


“Tidak bisa! Saksi menyaksikan dan bukti membuktikan bahwa hanya dialah pelanggar hukum itu, dengan ancaman penjara selama tiga purnama!” tegas Komandan Gendas Pati.


“Berikan papan itu, Kang Debur!” pinta Alma kepada Debur yang berdiri di sisi pedati.


Debur yang lugu pun memberikan papan pengumuman tersebut kepada Alma, membuat Warna Mekararum dan Magar Kepang terbeliak lagi.


“Paman Gendas Pati, papan pengumuman ini sekarang ada di tanganku. Berarti kau harus menangkap aku juga!” kata Alma dengan tenang.


“Benar!” sahut Gendas Pati.


“Hei, Debur! Kenapa kau berikan papan pengumuman itu kepada Alma?!” hardik Magar Kepang.


“Karena Alma minta, jadi aku berikan,” jawab Debur Angkara apa adanya, dengan ekpresi wajah yang bingung.


“Hahaha! Eh, tidak usah diperdebatkan, Paman,” kata Alma kepada Magar Kepang yang didahului dengan tertawa, menunjukkan bahwa penahanannya bukanlah hal yang menyusahkan. “Sebentar, aku mau lihat dulu isi papan pengumuman ini.”


Alma Fatara lalu melihat apa yang tertera pada papan pengumuman.


“Wah, sepertinya acara pertandingan yang menarik, Nek,” kata Alma kepada Warna Mekararum. Ia lalu memberikan kembali papan pengumuman itu kepada Debur Angkara. “Kembalikan ke tempatnya, Kang Debur!”


Debur Angkara menurut. Warna wajahnya tidak sekaku tadi. Ikut sertanya Alma akan dipenjara, membuatnya lebih merasa nyaman dan tenang. Jangankan dipenjara, jatuh ke jurang saja, asalkan bersama Alma, serasa kesulitan bukanlah suatu penderitaan.


Debur Angkara lalu pergi kembali menggantung papan pengumuman itu di batang pohon, tempat semestinya si papan berada.


“Ayu Wicara, dampingi Nenek Warna. Kalian semua dengarkan arahan Nenek Warna. Aku dan Kang Debur tidak akan lama menginap di penjara!” kata Alma mengatur urusan kelompoknya.


“Baik, Alma!” jawab Magar Kepang dan Garam Sakti bersamaan.


“Baik, Amal!” jawab Ayu Wicara.


Alma lalu turun dari pedati untuk meyerahkan diri.


“Ayo, Kang Debur, kita pergi merasakan penjara! Hahaha!” ajak Alma lalu tertawa kecil.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Debur Angkara sumbang. (RH)


__ADS_2