A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Kamsil 2: Aura Bola Hitam


__ADS_3

*Kampung Siluman (Kamsil)*


 


“Hahahak! Kau suaminya si ratu bajak laut itu!” tunjuk Alma kepada pemuda tampan berpakaian hitam.


Terkejut si pemuda, Panglima Rangga Udamaya, terutama kedua orang tua yang duduk di dalam bilik kereta nan mewah.


“Pangeran Sugang Laksama, Pendekar Pedang Jurig! Hahaha!” kata Alma Fatara begitu gembira.


“Sialan! Rupanya kau murid Wiwi Kunai, si bocah yang nakalnya keterlaluan itu!” kata pemuda tampan yang memang Pangeran Sugang Laksama adanya, alias Pendekar Pedang Dedemit.


“Hahaha! Sekarang aku tidak nakal, Pangeran. Sekarang aku sudah besar dan cantik. Hahaha!” kata Alma sambil tertawa-tawa, seakan melupakan perdebatannya tadi dengan Rangga Udamaya.


“Kenapa aku merasakan keberadaan Bola Hitam milik mendiang adikku ada di sini?” ucap lelaki berwajah putih bersih yang adalah Raja Manggala Pasa. Ia berkata kepada istrinya, Ratu Kelingking Senja.


Sang ratu tampil dalam balutan pakaian warna putih bersih berhias pernak-pernik berwarna emas. Ia tidak menyembunyikan rambut putihnya yang sudah memberi tanda akan ketuaannya.


“Pantas, aku tiba-tiba merasakan aura pusaka Bola Hitam,” kata Sugang Laksama.


“Hahaha!” tawa Alma santai.


“Siapa namamu? Aku lupa,” tanya Sugang Laksama.


“Ah, Pangeran Kepiting, melupakan namaku. Seharusnya kau tidak boleh melupakan namaku. Sebab gara-gara aku, kau bisa menikah dengan Ratu Kepiting,” kata Alma.


“Eh, aku tidak pernah menikah dengan Ratu Kepiting!” hardik Sugang Laksama.


“Hah! Bukankah waktu itu kalian mesra sekali waktu mengejar-ngejarku?” kejut Alma.


“Jangan bahas masalah itu di depan mertuaku, Alam!” hardik Sugang Laksama.


“Hahahak!” tawa Alma lagi karena disebut “Alam”. “Namaku Alma Fatara, Pangeran!”


Rasa penasaran dengan adanya aura Bola Hitam membuat Raja Manggala Pasa tidak bisa berdiam diri saja di dalam bilik kereta. Ia memutuskan untuk keluar.


Keluarnya Raja Manggala Pasa dari dalam bilik kereta membuat perdebatan Alma dan Sugang Laksama terhenti. Para prajurit serentak bergerak turun semua dari kudanya. Sugang Laksama dan Rangga Udamaya juga segera turun dari kudanya.


Sementara Alma Fatara dan Garam Sakti tetap duduk di pedati.

__ADS_1


Melihat yang lainnya berturunan, Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara jadi ikut turun. Mereka bisa menebak siapa lelaki bertubuh agak gemuk itu adanya.


“Ayahanda!” sebut Sugang Laksama.


Raja Manggala Pasa langsung memandang kepada Alma yang juga memandangnya. Sementara Warna Mekararum memilih duduk menunduk, seolah ingin menyembunyikan wajahnya dari orang-orang kerajaan itu.


“Siapa dia, Sugang?” tanya Raja Manggala Pasa.


“Namanya Alma Fatara, murid Wiwi Kunai si Pemancing Roh, Ayahanda,” jawab Sugang Laksama.


“Apakah Bola Hitam ada padanya?” tanya sang raja.


“Benar, Ayahanda.”


“Serahkan Bola Hitam itu kepadaku, Alma!” pinta Raja Manggala Pasa. “Ini demi keselamatanmu.”


“Tidak bisa, Paman …!”


“Lancang!” hardik Rangga Udamaya kepada Alma. “Sebut Gusti Prabu!”


“Hahaha! Maaf, Gusti Prabu. Bola Hitam sudah menjadi milikku!” tandas Alma Fatara.


“Aku sudah tahu, Gusti Prabu. Tapi Bola Hitam tetap menjadi milikku. Jika ingin merebutnya, aku siap bertarung!” tandas Alma Fatara.


“Kau sangat lancang, Nisanak. Kau sedikit pun tidak menaruh hormat kepada Gusti Prabu. Lancangnya kau bicara kepada Gusti Prabu dari atas pedati!” bentak Rangga Udamaya.


“Maafkan aku, Gusti Prabu. Aku tidak wajib hormat kepadamu. Pertama, aku bukan rakyatmu. Kedua, aku tidak pernah diajari cara bicara kepada seorang raja. Hahaha! Jadi aku sedikit pun tidak bermaksud lancang!” tandas Alma membela diri.


“Aku tidak bermaksud merebut Bola Hitam, tapi aku khawatir itu jsutru akan membahayakanmu. Banyak orang sakti yang tahu tentang Bola Hitam itu dan ingin memilikinya,” ujar Raja Manggala Pasa.


“Terima kasih atas perhatianmu, Gusti Prabu. Guruku telah membiarkan aku membawa pusaka ini, jadi kalian tidak perlu cemas. Hahaha!” kata Alma. “Apakah Gusti Prabu tidak khawatir akan terlambat menolong Pangeran Derajat Jiwa hanya karena Bola Hitam?”


Terkejutlah Raja Manggala Pasa, Sugang Laksama dan Rangga Udamaya mendengar perkataan Alma Fatara yang mengingatkan mereka.


“Kita lanjutkan perjalanan!” perintah Raja Manggala Pasa.


“Tapi, Ayahanda!” ucap Sugang Laksama berat.


“Nyawa adikmu lebih penting dibandingkan Bola Hitam. Yang terpenting adalah kita sudah tahu di tangan siapa Bola Hitam berada!” tandas sang raja. Ia lalu masuk kembali ke dalam bilik kereta.

__ADS_1


Pangeran Sugang Laksama dan sang panglima segera naik ke kudanya. Para prajurit segera mengikuti naik ke punggung kudanya masing-masing.


“Menepilah, Kang Garam!” perintah Alma Fatara.


Garam Sakti segera menyempurnakan dalam menepikan pedati.


“Siapa wanita tua yang bersamamu, Alma?” tanya Sugang Laksama.


“Ratu Kerajaan Jintamani. Hahaha!” jawab Alma apa adanya lalu tertawa.


“Dasar anak nakal!” rutuk Sugang Laksama. Ia lalu menggebah kudanya yang diikuti oleh sang panglima dan sais kereta.


Alma Fatara hanya tertawa disebut “anak nakal”. Ia jadi ingat masa kecilnya, masa-masa ketika ia benar-benar nakal. Seiring ia semakin dewasa dan mendapat pendidikan dari kedua gurunya, pengetahuan dan sifat Alma semakin matang.


Akhirnya, rombongan Raja Manggala Pasa melanjutkan perjalanan. Seperti semula, kecepatan lari kuda mereka cepat karena memang berpacu dengan waktu. Rombongan itu telah membawa Tabib Kerajaan dan stafnya untuk menangani luka berat Pangeran Derajat Jiwa di ibu kota Kadipatern Balongan.


“Aku tidak habis pikir, kenapa Wiwi Kunai membiarkan muridnya yang semuda itu membawa-bawa Bola Hitam,” ucap Raja Manggala Pasa kepada istrinya.


“Mungkin karena anak itu memang istimewa sehingga dia dipercaya memegang pusaka Bola Hitam. Wiwi Kunai adalah adik terakhir Raja Tanpa Tahta, tentunya dia memiliki pertimbangan matang untuk melepas gadis itu dengan Bola Hitam di tangannya,” kata Ratu Kelingking Senja.


“Tapi anak itu benar-benar tidak memiliki tata krama. Sepertinya dia begitu akrab dengan Sugang Laksama,” kata sang raja.


“Anak itu tadi menyinggung tentang bajak laut dan Ratu Kepiting?” tanya sang istri.


“Mungkin terkait ketika Sugang Laksama diculik oleh kelompok bajak laut beberapa tahun lalu,” duga Raja Manggala Pasa.


“Jika gadis itu murid Wiwi Kunai, berarti Panglima Ragum Mangkuawan adalah paman gurunya,” tambah Kelingking Senja.


Alma dan rekan-rekannya kembali berkumpul. Ketika mereka berjalan maju, mereka kembali berhenti. Sebab, mereka bingung harus berbelok ke arah mana, kanan atau ke kiri.


“Rombongan kerajaan datang dari arah kanan, berarti letak kerajaan ada di arah kanan. Kita ambil ke kiri,” kata Alma memutuskan.


Rombongan itu pun akhirnya berbelok ke kiri, tepatnya ke arah barat.


Setelah berjalan agak jauh, rombongan itu akhirnya menemukan seorang petani yang sedang memikul beberapa buah kelapa yang masih menyatu dengan tangkainya.


“Ki, kami ingin tahu arah menuju Gunung Alasan,” ujar Alma kepada lelaki separuh baya bertubuh agak kurus.


“Oh Gunung Alasan. Setahuku, Gunung Alasan ada di arah utara, Nisanak. Ikuti saja jalan ini ke arah barat, nanti akan bertemu jalan yang salah satunya menuju utara,” jawab petani itu.

__ADS_1


“Terima kasih, Ki,” ucap Alma. (RH)


__ADS_2