A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Kamsil 9: Hancurnya Benteng Bukit


__ADS_3

*Kampung Siluman (Kamsil)*


 


Mereka semua yang berdiri di atas tebing itu melongok ke bawah guna melihat tubuh Alma yang melompat tiba-tiba. Ketinggian tebing yang menciutkan nyali itu, membuat tidak seorang pun warga Kampung Siluman punya sejarah pernah melompat ke laut. Bahkan Debur Angkara dan Garam Sakti sebagai jagoan kampung laut tidak berani melompat, bisa-bisa nyawanya lebih dulu melayang sebelum sampai ke air.


“Lihat!” tunjuk Garam Sakti terkejut.


Mereka semua bisa melihat jelas, Alma yang berpakaian serba hitam berenang di air seperti seekor ikan. Tubuhnya bisa meluncur secepat ikan berenang. Sesekali ia menyelam lalu melompat keluar dari air seperti ikan lumba-lumba.


“Hahaha! Aku sudah pernah melihat Alma berenang seperti ikan. Ki Magar dan Garam pasti belum pernah melihatnya,” kata Debur Angkara.


“Alma itu sebenarnya manusia atau ikan?” tanya Lilia Seharum.


“Alma itu manusia berkemampuan ikan. Bayinya saja ditemukan terapung di laut, tidak ada yang tahu siapa orangtuanya. Mungkin dia benar-benar anak ikan,” kata Debur Angkara.


“Lalu bagaimana?” tanya Ayu Wicara.


“Lebih baik kita kembali untuk beristirahat. Besok kita akan berperang, butuh tenaga penuh,” kata Magar Kepang.


“Bagaimana dengan Alma?” tanya Rempah Putih.


“Dia akan pulang sendiri, Ki. Dia itu anak gadis yang sangat nakal, tidak perlu dikhawatirkan,” kata Debur Angkara, orang yang paling mengenal karakter seorang Alma Fatara.


Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke pusat Kampung Siluman.


Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara diantar ke tempat peristirahatannya masing-masing. Ketika mereka kembali di kala senja mulai turun, aktivitas kampung itu terlihat sudah seperti kampung, ada kegiatan dari warganya.


Sementara itu, Lingkar Dalam dan rekan-rekan sekampungnya terus mengawasi pasukan Kerajaan Ringkik yang masih berkumpul jauh di bawah sana. Terlihat pasukan musuh juga sedang beristirahat.


Entah apa yang Senopati Gulung Sedayu tunggu. Jika menunggu pasukan bantuan, jelas jumlah pasukannya saat ini lebih dari cukup.


Hingga akhirnya sang surya tenggelam di sisi barat dan alam pun mulai meremang menuju gelap.


Sementara itu, Alma Fatara sudah selesai berenang ria.


Alma Fatara terlihat bergerak perlahan memanjat tebing batu. Dengan menggunakan Benang Darah Dewa yang ajaib, ia bisa dengan mudah memanjat tebing. Tidak hanya bisa mengikat di tonjolan batu tebing, tetapi benang itu juga bisa menancap di batu.


Dengan pakaian yang basah kuyup, Alma akhirnya sampai di puncak tebing dan langsung berkelebat turun ke kampung.


Alma Fatara berjalan sambil tersenyum-senyum kepada warga yang memandanginya. Sebagai kampung yang memiliki sumber daya alam berupa sumur mata air minyak, obor bambu bertebaran di mana-mana, sehingga kampung itu cukup terterangi. Di tempat itu tidak ada pohon yang tumbuh, tetapi nyaris semua bangunan berbahan bambu hijau.


Ketika berada di benteng, Alma tidak melihat keberadaan tumbuhan bambu. Hal itu menunjukkan bahwa warga harus pergi jauh untuk mendapatkan bambu.


Ketika malam tiba, benteng bukit sengaja tidak diberi penerangan. Sementara di bawah sana terlihat seperti kota mini yang penuh dengan obor penerang. Jauh di belakang, ada sebuah lingkungan tenda yang dibangun untuk para prajurit tertentu, terutama bagi Senopati Gulung Sedayu.


Malam itu berlalu dengan tenang sampai tengah malam.


“Lingkar Dalam, bangun!” kata seorang penjaga benteng sambil mengguncangkan bahu Lingkar Dalam yang sedang dapat giliran tidur.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Lingkar Dalam yang terkejut sambil terbangun, padahal sukmanya belum berkumpul semua di dalam raga.


“Ada pergerakan di garis depan pasukan musuh!” kata teman Lingkar Dalam yang bernama Ranggis.


Lingkar Dalam yang pandangan dan pikirannya sudah menyatu, memandang serius ke arah bawah. Di basis pasukan musuh memang terlihat terang oleh banyaknya obor yang dipasang. Namun, cahaya tidak menjangkau daerah kaki bukit tempat pasukan tadi siang berbaris.


Lingkar Dalam dan Ranggis bisa melihat samar-samar ada pergerakan di kaki bukit yang gelap. Namun, itu tidak begitu jelas.


“Sepertinya musuh memasang sesuatu di garis depan,” kata Lingkar Dalam.


“Benar. Tadi aku melihat kedatangan pasukan tambahan,” kata Ranggis.


Keduanya terus memerhatikan, hingga ketika tiba-tiba ….


“Hah! Bola api!” sebut Lingkar Dalam terkejut.


“Mereka memiliki alat pelontar seperti kita!” kata Ranggis.


“Bunyikan peringatan!” perintah Lingkar Dalam panik.


Ranggis cepat berlari di dalam gelap ke satu tempat seperti menara pendek, tetapi tetap tinggi.


Foot foot foot …!


Ranggis cepat meniup sebuah terompet dengan keras, bernada pendek-pendek lalu panjang menggema.


Para prajurit kampung yang tidur di sekitar benteng, langsung berbangunan dengan terkejut, seperti mayat-mayat yang dibangunkan dari dalam kubur.


“Serangan dataaang!” teriak Lingkar Dalam saat melihat sebola api terbang di langit malam menuju ke arah benteng.


Wuss! Boam!


Satu ledakan keras yang mengguncang benteng dan bukit batu itu terjadi, mengejutkan semua penghuni benteng dan kampung. Bola api itu menghantam dinding batu tidak jauh di bawah benteng.


Ledakan itu seketika membuat panik warga Kampung Siluman. Setelah berbangunan seperti sedang terjadi kiamat, kaum wanita dan anak-anak segera meninggalkan rumah-rumah mereka dengan membawa obor. Mereka segera menuju ke gua perlindungan.


“Semuanya bersiaaap!” teriak Lingkar Dalam.


Mulailah para prajurit kampung menyalakan api obor untuk mempermudah pergerakan. Mereka berlarian menuju ke pagar benteng.


Wuus! Boam!


“Aakk!”


Satu bola api kembali dilontarkan dari kaki bukit naik ke atas. Bola api itu naik dan meledakhancurkan satu bagian pagar benteng, yang di sana ada orang.


Dua orang prajurit Kampung Siluman ikut terpental oleh ledakan bola api yang semodel milik mereka. Kedua orang itu jatuh terkapar dan tidak bergerak lagi.


“Jalankan alat pelontar!” teriak Lingkar Dalam.

__ADS_1


Para lelaki Kampung Siluman itu segera bergerak untuk mengoperasikan dua alat manjanik yang mereka miliki.


Jleg! Bres! Dak!


Bola kayu besar mereka pasang di kedua alat manjanik itu. Bola disiram minyak lalu dibakar. Palu besar langsung diayunkan memukul pasak pengungci.


Wuss wuss!


Dua bola api terbang dari benteng menuju ke bawah.


Boam! Boam!


Kurang akuratnya ukuran jarak tembak, membuat bola api mereka jatuh dan meledak di dua titik tanah kosong. Namun, hal itu membuat mereka yang berdiri di pagar benteng jadi terkejut. Cahaya ledakan membuat mereka bisa melihat sederet alat pelontar telah ada di bawah sana.


“Bahaya!” pekik Lingkar Dalam yang menyadari gelagat kondisi berbahaya.


Blep blep blep!


Tiba-tiba di bawah sana menyala bola api sebanyak sepuluh buah. Bola-bola api sudah terpasang di sepuluh alat manjanik. Kondisi di bawah sana terlihat terang dengan menyalanya sepuluh bola api yang siap ditembakkan.


“Semuanya munduuur!” teriak Lingkar Dalam begitu keras, lalu ia cepat berkelebat menjauhi pagar benteng.


Mendengar perintah itu, semua rekan-rekannya ikut berlarian menjauhi benteng.


Wuss wuss wuss …!


Tiba-tiba langit menjadi terang dengan melesatterbangnya sepuluh bola api.


Boam boam boam …!


Sepuluh bola api itu meledakkan dirinya dengan menghantam sepuluh titik di benteng bukit yang sudah terkunci oleh jarak tembak.


Beberapa bola api menghancurkan pagar batu benteng bukit.


Bluarr!


Satu bola api berhasil mengenai kumpulan gentong berisi minyak, menimbulkan ledakan dahsyat yang menghancurkan dan membakar. Bagian ujung pipa saluran minyak juga hancur berpatahan. Beruntung saat itu minyak di pipa bambu tersebut tidak sedang mengalir. Namun, kerusakan itu membuat pipa tersebut tidak bisa digunakan untuk sementara.


Benteng bukit itu benar-benar dibuat hancur dalam satu gelombang serangan. Ledakan beruntun itu mengguncang bukit dan Kampung Siluman, membuat warga semakin panik.


Masih beruntung karena tidak ada korban jiwa.


Panglima Kampung dan Kepala Kampung Siluman segera mendatangi Lingkar Dalam dan rekan-rekannya yang mundur dari benteng.


“Apa yang terjadi?!” tanya Kirak Sebaya setengah berteriak.


“Pasukan musuh tiba-tiba memiliki sepuluh alat pelontar seperti milik kita!” jawab Lingkar Dalam.


“Apa?!” kejut Kirak Sebaya dan Rempah Putih.

__ADS_1


Alma Fatara dan keempat rekannya datang berlari dan bergabung bersama mereka. (RH)


__ADS_2