A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 31: Tiba di Rawa Kabut


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Total ada tiga orang yang menderita luka dalam, yaitu Ratu Warna Mekararum, Alma Fatara dan Genggam Sekam. Perjalanan berlangsung lambat, karena Genggam Sekam yang terluka parah mengendarai kuda. Posisinya tengkurap sambil memeluk leher kudanya.


Di sebuah pertigaan jalan, mereka bertemu dengan seorang petani yang membawa pedati kerbau. Kepada petani itu rombongan Alma menanyakan jalan ke arah Rawa Kabut. Dari petunjuk petani tersebut, rombongan pergi ke sebuah lembah kecil di barat Gunung Alasan.


Setelah melewati lembah itu barulah mereka akan memasuki Rawa Kabut.


Rawa Kabut adalah kawasan berhutan dengan pohon-pohon air yang tumbuh jarang-jarang. Tidak ada tanah, tetapi hamparan air yang terkadang tertutupi oleh tanaman eceng gondok.


Rombongan Alma berhenti di pinggiran rawa. Jalan mereka jelas buntu, tidak ada jalan darat untuk meneruskan perjalanan.


Namun, mereka bisa melihat di kejauhan dalam hutan rawa itu, ada sebuah rumah panggung yang berdiri di atas air. Mereka menduga bahwa itulah rumah Ki Ramu Empedu.


“Bagaimana ini, Alma?” tanya Garam Sakti.


“Tidak ada perahu,” jawab Alma.


“Kang Garam, Kang Debur, bisakah kalian membuat rakit?” tanya Alma.


“Bisa,” jawab Garam Sakti.


Debur Angkara dan Garam Sakti segera bergerak untuk membuat rakit. Mereka harus mengumpulkan batang-batang kayu yang seukuran. Golok Setia milik Debur Angkara sangat membantu dalam memotong dahan-dahan pohon yang cocok untuk dibuat rakit.


“Ki Ramu Empeduuu!” teriak Alma Fatara mengandung tenaga dalam.


Suara Alma menggema di dalam hutan rawa dan sampai ke rumah panggung di dalam hutan.


Pada saat itu, penghuni rumah panggung yang mendengar panggilan Alma Fatara sedang mengulek halus percampuran bawang putih dan bawang merah. Ia sempat berhenti mengulek dan menengok ke arah dinding papan rumahnya.


Lelaki tua berambut gondrong itu mengenakan pakaian warna cokelat. Saat ini dia sedang berada di dapur. Di langit-langit rumah itu banyak kantung-kantung kain digantung. Aroma rempah dan ramuan-ramuan obat tercium tajam dengan berbagai bau.


Di rumah itu, ada beberapa rak kayu besar yang berisi jenis-jenis obat dengan berbagai aromanya. Di dapur ada empat tunggku tanah liat. Dua di antaranya sedang menyala memasak rebusan sesuatu. Di ruang dapur itu juga ada dipan papan yang cukup lebar. Terlihat di situ ada satu bantal saja.


Rumah tersebut memiliki dua kamar yang berdampingan. Pintunya hanya ditutupi oleh tirai kain warna hijau.


“Ki Ramu Empeduuu!” kembali terdengar teriakan Alma, tetapi kakek itu bergeming. Ia tetap fokus mengerjakan pekerjaannya mengulek.


Akhirnya Alma hempaskan napas lapang dada. Ia pergi naik bak pedati.


Ning Ana dan Ayu Wicara turut membantu Debur Angkara dan Garam Sakti dalam membuat rakit.


“Seharusnya ada perahu. Mungkin perahunya sedang ada di rumah itu,” kata Alma. “Kita tunggu sebentar, mungkin Ki Ramu Empedu sedang buang air. Hahaha!”


“Kenapa kau tidak bekukan saja airnya seperti yang kau lakukan ketika melawan nenek kembar di sungai?” tanya Warna Mekararum.

__ADS_1


“Tapi, apakah tidak apa-apa?” tanya Alma ragu. “Aku ragu, Nek. Aku khawatir seperti Ning Ana tidak kuat menahan dinginnya.”


“Yang tidak sakit tidak perlu ikut ke sana,” kata Warna Mekararum.


“Baik, Nek,” ucap Alma patuh.


Sess! Bresk!


Alma lalu berkelebat kembali ke tepi rawa dan langsung melesatkan Bola Hitam ke air rawa. Bola Hitam menghantam permukaan air lalu melesat balik ke tangan Alma seperti yoyo.


Tiba-tiba air rawa itu mengeras sekeras es, yang kemudian merembet setengah kecepatan kilat. Maka terciptalah lahan es yang cukup luas, meski tidak semua air rawa dibekukan. Hawa dingin langsung mempengaruhi tempat itu.


Terkejutlah rekan-rekan Alma. Mereka seketika langsung memeluk tubuh mereka sendiri. Genggam Sekam yang baru kali ini melihat kehebatan Bola Hitam, hanya bisa terperangah. Ia memeluk kudanya semakin erat.


“Kakang Debur! Bantu naikkan Nenek ke kuda! Yang lainnya beristirahatlah agak jauh dari rawa agar tidak kedinginan!” teriak Alma memberi arahan.


“Aku mau ikut, Kak Alma!” teriak Ning Ana.


“Tidak usah, terlalu dingin. Nanti kau membeku!” sahut Alma.


Ning Ana tidak menyahut lagi selain merengut.


Belum lagi Debur Angkara pergi mengangkat tubuh Warna Mekararum, ia sudah menggigil karena tidak pakai baju.


“Hehehe!” Debur Angkara hanya cengengesan.


Setelah Warna Mekararum dinaikkan ke punggung kuda milik Ayu Wicara, Alma lalu menuntun kuda maju turun menginjak bidang es memasuki rawa.


“Kang Debur tuntun kuda Kakang Genggam!” perintah Alma.


Sambil menahan hawa dingin yang menusuk, Debur Angkara patuh. Kedua kuda yang mereka bawa pun hanya bisa patuh. Debur Angkara benar-benar harus menahan dingin yang menusuk tulang kakinya ketika berjalan di atas bidang es, demikian pula Alma selaku yang membuat es.


Napas mereka dan napas kuda terlihat berasap ketika diembuskan. Warna Mekararum dan Genggam Sekam yang dalam kondisi terluka parah, hanya bisa pasrah menggigil.


Setibanya di ujung lahan es, Alma Fatara kembali melempar Bola Hitam untuk menciptakan bidang es lanjutan. Alma melakukan tiga kali penciptaan tanah es untuk sampai ke rumah panggung.


Hawa dingin yang ekstrem itu membuat pemilik rumah tengah rawa juga terusik. Ia memutuskan untuk ke luar guna melihat apa yang terjadi.


Sekeluarnya di teras rumah, kakek yang ternyata bertubuh jangkung itu terkejut melihat hamparan es yang menutupi air rawa.


“Alma?” ucap si kakek lirih saat mengenali wanita cantik berjubah hitam yang bibirnya bengkak.


“Eh, Kakek Jangkung Jamur!” pekik Alma Fatara ketika melihat orang yang muncul di teras rumah.


Alma dan rombongan berhenti di depan rumah. Di bawah rumah, terlihat ada sebuah sampan kecil yang mungkin hanya muat dinaiki oleh tiga orang. Perahu itu juga terjebak dalam lapisan es tebal.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan, Alma?” tanya si kakek punya rumah yang adalah Jangkung Jamur, kakek yang pernah hanyut di Sungai Ngulur.


“Hahaha! Aku membekukan air rawa agar bisa sampai ke sini,” jawab Alma yang didahului dengan tawa pendeknya.


“Hahaha! Kenapa kau jadi selucu itu?” tanya Jangkung Jamur saat melihat gigi Alma yang ompong.


“Apanya yang lucu, Kek?” tanya Alma.


“Gigimu.”


“Pengemis Batok Bolong menghancurkan gigiku,” jawab Alma.


“Lalu apa yang kau lakukan kepada pengemis kurang ajar itu?” tanya Jangkung Jamur.


“Aku membunuhnya.”


“Hah! Bisa?”


“Dengan mengorbankan gigiku.”


“Hahaha!” tawa Jangkung Jamur.


“Kakek Jangkung sedang apa di sini?” tanya Alma.


“Ini rumahku, ya aku ada di sini!” jawab Jangkung Jamur agak sewot.


“Jadi ini bukan rumah Ki Ramu Empedu?” tanya Alma dengan wajah agak kecewa.


“Itu julukanku!” sentak Jangkung Jamur.


“Oh,” desah Alma baru tahu.


“Kalian bertiga terluka parah. Tapi kau, Alma … bukankah kau punya Bola Hitam? Pemilik Bola Hitam itu bisa mengobati dirinya sendiri,” ujar Jangkung Jamur.


“Hah!” kejut Alma. “Tapi bagaimana caranya, Kek?”


“Tanyakan kepada Raja Tanpa Tahta!”


“Hahaha!” Alma hanya tertawa yang kembali memperlihatkan gigi ompongnya. Bagaimana mungkin dia bertanya kepada orang yang sudah mati?


“Untung kau pernah menolongku, Alma. Jika tidak, aku tidak akan mau mengobati orang yang tidak aku kenal,” kata Jangkung Jamur.


“Tapi sekarang kau mengenalku, Kek,” kata Alma.


“Iya. Bawa naik mereka!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2