A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 27: Menyiksa Tawanan


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Setelah melihat kondisi warga yang berada di bawah perlindungan Sandung Wicara, Alma Fatara dan Magar Kepang kembali menemui Warna Mekararum untuk meminta arahan.


“Kalian harus membaca peta kekuatan musuh lebih dulu. Setelah mengetahui jumlah lawan, kalian juga harus mengetahui tingkat ilmu kanuragan orang-orangnya Ki Rampe Ulon, jangan sampai Debur dan Garam jadi korban sia-sia,” kata Warna Mekararum.


“Benar itu!” sahut Garam Sakti sambil menunjuk Alma.


“Hahaha!” Alma hanya tertawa pendek. Lalu tanyanya kepada Sandung Wicara, “Apakah kau pernah melihat kesaktian Ki Rampe Ulon?”


“Tidak. Tetapi kata warga yang lain, Ki Rampe Ulon sakti karena memiliki keris sakit,” jawab Sandung Wicara.


“Keris sakti maksudnya!” ralat Baling Wong.


“Ketua! Ketua! Ketua Sandung!” teriak seorang lelaki dari kejauhan, sepanik orang yang takut ditinggal bus pariwisata.


“Ada apa, Meteng?” tanya Sandung Wicara.


“Aku melihat tiga anak buah Ki Rampe Ulon sedang menuju ke sungai!” lapor pemuda desa kurus yang disebut bernama Meteng.


“Biarkan saja toh, memang mau buat apa? Bisa-bisa kita yang ditancap kalau pergi ke sungai juga,” kata Sandung Wicara.


“Bisa-bisa kita yang ditangkap, bukan ditancap,” ralat Baling Wong.


“Salah ya?” tanya Sandung Wicara lugu.


“Kang Debur, Kang Garam, coba lihat sana, apakah bisa ditancap atau tidak! Eh salah, ditangkap maksudnya. Hahaha!” perintah Alma Fatara plus berkelakar.


“Baik!” sahut Garam Sakti.


“Meteng, tunjukkan jalan ke nirwana!” perintah Debur Angkara.


“Hahaha!” tawa Alma mendengar perkataan Debur Angkara yang punya gaya.


“Aku ikat!” seru Sandung Wicara sambil menarik tangan Baling Wong agar ikut juga.


“Hahaha!” tawa Alma lagi seorang diri.


Debur Angkara dan Garam Sakti memimpin Sandung Wicara, Baling Wong, Meteng, dan Jengkis yang bertubuh besar tapi penakut.


Setibanya di dekat sungai, mereka bergerak mengendap-endap.


“Aw! Jangan, Kakang! Hiks hiks! Jangan lakukan! Aku sedang datang matahari!” terdengar suara wanita yang menangis dan menjerit-jerit.


Suara wanita itu membuat Debur Angkara dan kawan-kawan jadi tegang atas bawah. Pelan-pelan mereka menyibak rambut di depan mata dan ilalang di depan mereka guna melihat ke bawah sungai.


Mereka melihat tiga orang lelaki sedang mengerumuni seorang wanita yang tinggal berkemben warna hitam, kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Mereka sedang bermain drama pelecehan di pinggir sungai yang berbatu-batu.


“Hahaha! Tidak peduli! Mau datang bulang kek, mau datang matahari kek, atau mau datang tamu kek, ini tiga raja mau datang!” kata salah seorang dari ketiga lelaki berseragam hitam-hitam itu, mengundang gelak tawa dua rekannya yang lain.


“Benar, Kakang! Jika menunggu dari Ki Rampe Ulon, sampai mati pun kita tidak akan dapat gadis, dapatnya selalu nenek-nenek bau sirih!” kata rekannya yang berhidung pesek.


Breet!


“Aaak!”


“Huahaha!”


Lelaki berkumis tipis main tarik kain kemben si wanita muda, membuatnya menjerit histeris tanpa bisa berbuat apa-apa, karena kedua tangannya dipegang kuat oleh dua lelaki lainnya.


Namun, beruntung si wanita karena di balik kain kembennya masih ada selapis kemben warna putih.

__ADS_1


Betapa gusarnya Debur Angkara, Garam Sakti dan rekan kampungnya. Debur Angkara keluar dari balik ilalang dengan wajah marah.


“Hoi!” teriak Debur Angkara melotot sambil menunjuk dengan ujung goloknya yang sudah terhunus.


Teriakan Debur Angkara mengejutkan ketiga lelaki berseragam hitam dan si wanita yang hendak diperkosa.


Lelaki berkumis tipis yang tadi merobek kemben si gadis cepat ambil goloknya yang ia letakkan di atas batu besar.


Jleg! Bdak!


Namun, belum lagi lelaki berkumis tipis mencabut goloknya, tiba-tiba sosok besar Garam Sakti sudah mendarat sambil menyambar kepalanya. Dengan tangan besarnya, Garam Sakti mencengkeram batok kepala penjahat itu dan membenturkannya ke batu besar setinggi pinggang. Langsung pecah kepala itu.


Melihat kemunculan lelaki bertubuh besar dengan otot-otot bertumpuk menyeramkan, kedua lelaki berseragam hitam cepat melepas tangan si wanita, lalu buru-buru balik badan untuk melarikan diri.


“Eit, mau ke mana?” seru Sandung Wicara dan anak buahnya muncul menghadang di darat.


Bak!


Satu terjangan tiba-tiba menjengkangkan lelaki berhidung pesek. Orang yang menyerang adalah Debur Angkara. Sementa Sandung Wicara hanya berani menggertak.


Lelaki hidung pesek dan rekannya yang berambut keriting cepat cabut golok. Mereka adalah jagoannya Ki Rampe Ulon, tidak perlu takut.


Ternyata kemampuan ilmu beladiri kedua lelaki berseragam hitam itu, tidak lebih tangguh dari para prajurit yang pernah Debur Angkara hadapi di Pulau Seribis. Makanya, dengan mudah Debur Angkara membuat keduanya jatuh tersungkur setelah mendapat hantaman gagang golok.


Debur Angkara tidak memilih membunuh keduanya karena perintah Alma adalah menangkap, bukan membunuh.


“Cari tali, ikat!” perintah Debur Angkara kepada Sandung Wicara dan anak buahnya.


Sandung Wicara dan anak buahnya segera sibuk mencari tali.


“Terima kasih, Tuan Pendekar! Hiks hiks hiks!” ucap wanita desa itu sambil menangis lalu memeluk pinggang Garam Sakti dan menempelkan wajahnya di dada besar lelaki itu.


Sementara itu, Sandung Wicara datang dengan membawa tali kulit kayu.


“Tidak usah menangis, Nisanak. Dunia masih luas,” kata Garam Sakti menenangkan si wanita, sambil mendorong pelan bahu si wanita agar melepas pelukannya. Ia malu dilihati oleh Debur Angkara yang ia anggap lebih senior.


“Yang aku butuhkan seorang penolong, bukan dunia yang luas. Hiks hiks hiks!” kata wanita itu sambil mencoba meredakan tangisnya.


Sadar akan kondisinya, gadis desa itu lalu buru-buru mengambil kain kemben luarnya untuk ia kenakan kembali melapisi kemben dalamnya.


“Jarani!” panggil Sandung Wicara sambil datang menghampiri si gadis yang bernama Jarani. “Kau tidak apa-apa, Nak?”


“Tidak, Ki Sandung,” jawab Jarani yang juga mengenal Sandung Wicara dan anak buahnya, maklum sama-sama berasal dari desa yang sama. “Ayahku mati dibunuh, Ki! Haaa!”


Jarani kembali menangis, tapi kali ini dia meraung sebagai ungkapan betapa berat derita hatinya. Namun, bukan Sandung Wicara yang ia peluk, tetapi lagi-lagi Garam Sakti.


“Ayo, bawa!” perintah Debur Angkara kepada anak buah Sandung Wicara.


Maka kedua anak buah Ki Rampe Ulon ditarik seperti dua binatang ternak.


Setibanya di hutan basis pengungsian, kedua anak buah Ki Rampe Ulon itu diikat di batang pohon dengan kuat. Mereka tidak bisa melawan.


Buk!


“Hukh!”


“Hahahak!” tawa Sandung Wicara terbahak setelah menonjok perut salah satu dari tawanan mereka. Ia lalu beralih ke tawanan satunya dan berkata gagah sebelum menonjoknya, “Ini hukuman kepada orang yang berani-beraninya melawan Perampok Paling Gawat!”


“Paling Ganas, Ketua!” teriak para warga meralat perkataan Sandung Wicara.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara yang melihat kekocakan Sandung Wicara. Ia jadi teringat kepada seorang ketua bajak laut perempuan yang suka disahuti oleh anak buahnya, yaitu Cucum Mili, Ketua Bajak Laut Kepiting Batu yang berjuluk Ratu Kepiting.

__ADS_1


Buk!


“Hukh!” keluh tawanan saat Sandung Wicara dengan penuh gaya menonjok perut.


“Giliran aku! Giliran aku, Ketua!” teriak Jengkis senang. Pikir lelaki bertubuh besar itu, kapan lagi bisa balas dendam kepada anak buah Ki Rampe Ulon.


Kedua tawanan itu hanya bisa mendelik lalu mengerenyit ingin menangis.


“Ampuuun, Ki!” ucap mereka takut.


“Jengkis, tahan!” seru Alma yang duduk di atas bak pedati. “Pukul jika mereka tidak menjawab dengan bernar!”


“Baik, Pendekar!” sahut Jengkis bersemangat karena namanya disebut oleh Alma yang terlalu cantik.


“Kisanak berdua! Siapa orang yang mengutus Ki Rampe Ulon untuk berkuasa di Desa Turusikil?” tanya Alma.


“Demang Baremowo!” jawab satu dari tawanan itu.


“Hajar!” perintah Alma kepada Jengkis yang tinjunya sudah gatal sejak tadi.


Buk!


“Hukh!”


“Hahaha …!” tawa Jengkis sangat gembira. Ia semakin bergaya dengan berloncat-loncat kecil di tempatnya, laksana petinju di atas ring.


“Kisanak berdua! Siapa orang yang mengutus Ki Rampe Ulon untuk berkuasa di Desa Turusikil?” tanya Alma lagi.


“Demang Baremowo!” jawab tawanan itu masih sama.


“Hajar!” perintah Alma tanpa ragu.


“Hahaha …!” tawa Jengkis semakin senang lalu tanpa sungkan ia mendaratkan dua tinju beruntun.


“Hukhr!” keluh tawanan itu begitu menderita, sampai-sampai air ludahnya mengalir menggantung di bibir.


Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, Jengkis begitu menikmati penyiksaannya terhadap dua tawanan itu.


“Ki Sandung, siapkan golok. Jika dia masih berdusta, sembelih lehernya!” perintah Alma.


“Siap!” sahut Sandung Wicara.


Mendeliklah kedua tawanan itu mendengar perkataan Alma.


Sandung Wicara lalu mengambil sebilah golok dan memasangnya di depan tubuh satu tawanan, seolah siap tebas jika tawanan itu menjawab dusta. Namun, tangan Sandung Wicara tampak gemetar memegang gagang golok.


Melihat hal itu, tertawalah Alma Fatara, Debur Angkara dan Garam Sakti. Sandung Wicara memang tidak memiliki riwayat pernah melukai orang pakai golok, apalagi membunuh. Semenjak pura-pura jadi perampok saja ia bergaya galak, ganas dan kejam.


“Minggir, Ki!” kata Debur Angkara sambil ambil alih golok tersebut.


Debur Angkara langsung menempelkan mata golok ke kulit leher seorang tawanan. Jelas hal itu lebih dulu membunuh nyali si tawanan sehingga pingsan lemas dalam kondisi terikat di pohon.


Debur Angkara lalu beralih ke tawanan satunya. Tawanan itu mendelik dan jadi gemetar hebat, bahkan terdengar suara giginya yang bertabrak-tabrakan.


“Siapa orang yang mengutus Ki Rampe Ulon untuk berkuasa di Desa Turusikil?” teriak Alma bertanya lagi.


“Ti-ti-tidak ada. Ka-ka-kami pe-pe-perampok!” jawab tawanan itu gagap dadakan.


“Perampok apa?” tanya Alma lagi.


“Perampok Kelabang Setan!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2