
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
“Bisa atau tidaknya aku membantumu, Paman Demang, tergantung ceritamu. Apa masalah kalian sampai bunuh-bunuhan seperti ini?” kata Alma santai, padahal Demang Baremowo semakin menderita, terlihat bahwa kini dia dalam posisi terlutut di dekat kaki kuda penarik pedati.
“Aku tidak mengenal mereka yang menyerangku ini. Mereka pasti orang-orang bayaran,” jawab Demang Baremowo. “Atau mereka orang-orang Perguruan Jari Hitam!”
“Aduh, jika Paman tidak tahu duduk perkaranya, aku juga bingung mengambil sikap,” keluh Alma.
“Alma, apakah kau sanggup melawan mereka?” tanya Garam Sakti setengah berbisik, tetapi tetap saja semuanya bisa dengar.
“Apakah kau masih meragukanku, Kang Garam? Kita sudah menaklukkan Perampok Paling Ganas dan Perampok Kelabang Setan,” kata Alma tanpa ragu.
“Tapi itu kelompok perampok, ini berbeda,” kilah Garam Sakti.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar kekhawatiran Garam Sakti. “Aku adalah Dewi Gigi. Siapa yang berani buat urusan, akan aku berantas menggunakan kekuatan bulan sepotong. Hahaha!”
“Nisanak!” panggil Jejak Langit.
Alma berhenti tertawa, jadi fokus memandang kepada Jejak Langit.
“Aku akan menceritakan siapa kami, tapi itu artinya kau tidak akan lolos dari kematian, kecuali ….”
“Kecuali apa? Paman bertopeng mau main tawar-menawar rupanya,” kata Alma.
“Kecuali kau serahkan pusaka sakti yang kau sembunyikan di balik pakaianmu!” tandas Jejak Langit.
“Hah!” desah Alma Fatara terkejut. Ia terkejut karena Jejak Langit bisa mengetahui keberadaan senjata pusakanya.
Garam Sakti dan rekan-rekan seperjalanan juga dilanda terkejut. Mereka bingung, bagaimana bisa Jejak Langit tahu.
Namun, dengan mampunya Jejak Langit mengetahui keberadaan pusaka milik Alma, itu menunjukkan kira-kira setinggi apa kesaktian Jejak Langit.
“Cepat ceritakanlah, Paman bertopeng. Kami orang sibuk, tidak banyak waktu main tebak-tebakan,” ujar Alma.
“Namaku Jejak Langit. Kami dibayar untuk membunuh Demang Baremowo oleh orang yang ingin menguasai Kademangan Dulangwesi. Ini tidak lebih hanya urusan perebutan tahta kademangan,” kata Jejak Langit.
“Hanya perkara itu, Paman? Wah, berarti kalian dipihak yang salah. Kalian ingin menjatuhkan penguasa yang sah,” kata Alma kepada Jejak Langit. Lalu ia beralih kepada Demang Baremowo, “Baik, Paman Demang. Untuk perkara ini, kau akan aku tolong. Beristirahatlah!”
“Terima kasih, Nisanak,” ucap Demang Baremowo lemah.
“Namaku Alma, Alma Fatara, ingat itu, Paman Demang!” kata Alma kepada Demang Barewomo seperti gaya khas tokoh animasi India yang identik dengan sepedanya.
Alma lalu fokus kepada Jejak Langit.
“Paman Jejak Langit!” sebut Alma, fokus kepada pemimpin lelaki bertopeng. “Aku hanya memberimu satu pilihan. Paman menginginkan urusan yang mana dalam berhadapan denganku? Urusan yang berkaitan dengan Paman Demang atau urusan ingin merebut pusakaku? Paman harus pilih salah satunya.”
“Hahaha!” tawa Jejak Langit pendek. Lalu katanya menyimpulkan, “Jika aku memilih urusan Demang, berarti kau akan berhadapan aku dan seluruh anak buahku. Namun, jika aku memilih merebut pusakamu, hanya aku yang boleh bertarung denganmu.”
“Paman Jejak Langit memang cerdas!” puji Alma sambil bertepuk tangan sekali.
“Aku memilih urusan Demang Baremowo!” tandas Jejak Langit.
“Kang Garam, apakah kau siap bertarung?” tanya Alma sambil menepuk bahu Garam Sakti.
Garam Sakti yang dalam kondisi tegang jadi terkejut.
__ADS_1
“Hah?” tanya Garam Sakti.
Melihat respon Garam Sakti, Alma langsung menangkap gelagat tidak bagus dari lelaki besar itu, tapi ia tetap mengulang pertanyaannya, “Apakah Kang Garam siap bertarung?”
“Eh, anu, sepertinya aku saat ini tidak siap bertarung ramai-ramai, Alma,” jawab Garam Sakti dengan berat hati.
“Karena Paman Jejak Langit memilih urusan Demang, kalian juga boleh ikut bertarung. Tapi baiklah jika kalian memang belum siap, biar aku yang menghadapi mereka semua,” kata Alma.
Sebenarnya ada rasa kecewa di hati Alma, tetapi ia coba mengerti akan tingkat kekuatan mental rekan-rekannya. Ia sadar bahwa tingkat ilmu olah kanuragan Debur Angkara, dan tiga rekan lainnya masih di bawah level para anak buah Jejak Langit. Jika memaksa mereka bertarung pun akan berisiko besar bagi nyawa. Sebenarnya Alma mengharapkan Garam Sakti yang sudah memiliki senjata pusaka, yaitu Keris Petir Api peninggalan Ki Rampe Ulon. Namun, Alma tidak bisa memaksa.
Alma bangun berdiri dari duduknya, ia berdiri gagah di sisi Garam Sakti.
“Paman Jejak Langit, boleh aku buat aturan?” tanya Alma.
“Asal kau tidak curang,” jawab Jejak Langit.
“Hahaha!” tawa Alma, menunjukkan kesantaiannya, meski ia kini menghadapi perkara serius dengan taruhan nyawa. Lalu katanya, “Selama kalian belum bisa membunuhku, jangan sentuh dan jangan ganggu Demang Baremowo, karena sekarang Paman Demang berada dalam tanggung nyawaku.”
“Hahaha! Menarik sekali kau, Nisanak. Baik, aku sepakat. Tapi, sebutkan dulu dengan siapa aku berhadapan!” tanya Jejak Langit, seolah tadi tidak mendengar perkenalan Alma kepada Demang.
“Namaku Alma Fatara, anak laut yang berubah menjadi Dewi Gigi. Hahaha!” jawab Alma dengan tetap berseloroh.
“Kau anak kemarin pagi, Alma. Gurumu pasti punya nama. Siapa nama gurumu?” tanya Jejak Langit lagi.
“Guruku ada dua orang. Lelaki dan perempuan. Paman Jejak Langit mau tahu yang mana?”
“Keduanya.”
“Guru perempuanku bernama Wiwi Kunai, berjuluk Pemancing Roh,” jawab Alma.
“Guru lelakiku bernama Garudi Malaya, berjuluk Pangeran Kumbang Genit,” tambah Alma.
Ketika mendengar nama Garudi Malaya, reaksi sepasang mata Jejak Langit berubah. Meski terlihat terkejut, tetapi ada raut kemarahan yang terkandung dalam sorot matanya.
“Alma! Pertama aku menjadi sungkan dan hormat ketika mendengar nama Pemancing Roh, tetapi aku menjadi marah ketika mendengar nama Pangeran Kumbang Genit!” kata Jejak Langit setengah membentak.
“Ada apa dengan guru lelakiku, Paman?” tanya Alma heran.
“Karena dia adalah orang yang telah menghancurkan hati kakak perempuanku. Akan aku buat hati lelaki keparut itu hancur dengan membunuhmu!” tandas Jejak Langit.
“Waw! Dosa apa guruku di masa lalu?” ucap Alma benar-benar terkejut. Lalu katanya, “Baik, Paman! Ayo kita mulai!”
Alma lalu memasang kuda-kuda di atas pedati itu, kedua kakinya menekuk sehingga tubuhnya turun sedikit merendah. Sementara tangan kirinya merentang lurus ke belakang.
Tangan kiri Alma menyedot udara sehingga pakaiannya mengembung seperti boneka balon. Melihat hal itu, Jejak Langit dan belasan anak buahnya bersiap.
Wuss!
Alma melepaskan ilmu Sedot Tiup, saat ia menghentakkan lengan kanannya kepada Jejak Langit dan anak buahnya yang berdiri di depan kuda pedati.
Angin pukulan itu menderu keras menerbangkan sebagian anak buah Jejak Langit. Sekitar sebelas orang terlempar dan jatuh berserakan di tanah sekitar kereta kuda milik Demang Baremowo. Sementara Jejak Langit berhasil lolos dengan menghindar ke angkasa.
Setelah itu, Alma berkelebat ke tengah-tengah anak buah Jejak Langit yang kacau sebagian. Mendaratnya Alma di tanah langsung disambut oleh serangan pedang dan tangan kosong oleh sebagian anak buah Jejak Langit.
Jejak Langit turun dari udara. Untuk sementara ia membiarkan anak buahnya yang mengatasi Alma Fatara. Ia memantau.
__ADS_1
Alma Fatara kali ini bersikap serius dan teliti dalam bertarung. Gerakannya begitu lincah mengatasi semua serangan senjata, pukulan dan tendangan. Bukan hanya menghindar dan menangkis, tetapi Alma juga bisa melakukan agresi berbahaya.
Sementara itu, kegundahan melanda hati dan perasaan Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara melihat Alma bertarung seorang diri, dikeroyok oleh belasan lelaki berbahaya. Mereka menonton dengan ekspresi yang sangat tidak bersemangat. Bahkan Debur Angkara yang memiliki kebersamaan lebih lama dengan Alma, meringis seakan ingin menangis.
Sep! Bak bak!
Pada satu kesempatan, Alma terpaksa menangkap dua batang badan pedang dengan kedua telapak tangannya.
“Alma!” pekik Debur Angkara dan Magar Kepang terkejut bersamaan. Mereka berpikir Alma melakukan tindakan mencelakai diri sendiri.
Namun, kemudian mereka lega. Telapak tangan Alma tidak luka sedikit pun. Alma justru bisa melompat dan menendang kedua lawan pemilik pedang.
Debur Angkara dan kawan-kawan memang tidak tahu bahwa Alma sebenarnya memiliki keistimewaan sejak lahir, yaitu kebal senjata tajam dan api.
Dak dak dak!
Alma berjalan mundur-mundur sambil menangkisi tendangan dan ancaman pedang yang datang susul-menyusul.
Dak!
Tiba-tiba dari sisi belakang lawannya, berkelebat satu lawan yang langsung menerjang Alma. Gadis cantik itu menangkis dengan silangan tangan. Namun, tangkisan itu membuat Alma terjajar beberapa tindak dan hilang keseimbangan.
Dak! Bak!
“Hugk!”
Dalam kondisi Alma yang seperti itu, datang dua terjangan sekaligus. Alma yang kehilangan kuda-kuda masih dapat menangkis satu terjangan, tapi tidak terjangan yang lain. Terjangan terakhir menghantam bahu kanan, memaksanya terbanting ke samping.
“Alma,” ucap Debur Angkara lirih. Ia menitikkan air mata melihat kondisi Alma.
Debur Angkara akhirnya tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia marah kepada dirinya sendiri yang penakut. Ia pun berteriak keras.
“Almaaa! Aku lebih baik mati bersamamu daripada hidup dalam ke-malu-an!” teriak Debur Angkara sambil cabut goloknya.
Teriakan Debur Angkara itu mengejutkan Alma yang baru saja berguling diri menghindari serangan. Ia menatap kepada Debur Angkara yang sudah berkelebat meninggalkan kudanya dan masuk ke dalam pertarungan.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara begitu gembira.
“Garam Sakti bodoh! Kau sudah punya keris pusaka, kenapa masih takut?” teriak Garam Sakti memaki dirinya sendiri. Ia lalu cabut Keris Petir Api-nya.
Zess! Bress!
“Aaak! Panaaas …!”
Garam Sakti menusukkan keris di tangannya ke arah salah satu lawan Alma di depan sana. Satu aliran sinar hijau tanpa putus melesat mengenai punggung lawan. Satu lawan Alma itu langsung terbakar oleh api warna hijau. Dia pun menjerit kepanasan.
Zess! Bress!
Korban kebakaran bertambah lagi ketika Garam Sakti kembali melesatkan aliran sinar hijau.
“Makan minum bersama, bersarung mati bersama!” teriak Ayu Wicara kencang dengan satu kata yang salah, yakni “bertarung” tetapi ia sebut “bersarung”.
Ayu Wicara yang sudah menghunus pedangnya, lalu berkelebat turun dalam pertarungan.
“Hahahak!” tawa Alma terbahak melihat tiga sahabatnya turut bertarung membantunya. Ia semakin bersemangat.
__ADS_1
Berbeda dengan Magar Kepang yang memang tidak bisa bertarung. (RH)