
*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*
Akhirnya Genggam Sekam yang berjuluk Pendekar Tongkat Berat pergi meninggalkan Rawa Kabut untuk menjalankan tugas dari Ratu Warna Mekararum.
Genggam Sekam akan pergi ke wilayah Kerajaan Pelilitan, tepatnya ke Desa Ukirat di Kadipaten Lambemu. Karena melewati Desa Bungitan, Genggam Sekam menyempatkan diri singgah sebentar di rumah Kepala Desa Dugil Ronggeng. Tujuan Genggam Sekam tidak lain adalah bertemu dan melepas rindu dengan Ning Ara, kembang Desa Bungitan.
Selain itu, Genggam Sekam juga menyampaikan kabar tentang Ning Ana, adik Ning Ara yang kini tenang berguru di Perguruan Pisau Merah selama sebulan. Legalah Dugil Ronggeng dan istrinya mengetahui putri kecil mereka baik-baik saja.
Ning Ara harus rela ketika kekasih gagahnya pamitan, meski ia belum puas menikmati pelepasan rindu.
Selanjutnya, Genggam Sekam melanjutkan perjalanan menuju wilayah Kerajaan Pelilitan.
Ketika Genggam Sekam sedang memacu kudanya dengan kecepatan tinggi memasuki wilayah Kerajaan Pelilitan, tiba-tiba sesosok tubuh muncul berlari secepat kuda dan seringan burung di sisi kuda. Sosok itu adalah seorang wanita muda lagi cantik berpakaian merah muda. Gadis itu menyandang dua pedang kembar di punggungnya.
“Sumirah!” sebut Genggam Sekam yang mengenali wanita berjuluk Pendekar Buaya Cantik itu.
“Hihihi!” tawa Sumirah sambil memandang kepada Genggam Sekam. “Begitu terburu-buru. Apakah kau hendak pergi menikah, Kang Genggam?”
“Aku sedang dalam tugas, jadi aku harus cepat tiba.”
“Kau membawa tugas apa?”
“Rahasia.”
“Jika kau tidak mau memberi tahu, aku akan terus mengikutimu,” ujar Sumirah.
“Terserah kau!”
“Baiklah! Hup!”
Tiba-tiba Sumirah melompat dan berhasil mendarat duduk tepat di belakang tubuh Genggam Sekam. Tak ayal lagi, agar tidak terjatuh dari atas kuda, Sumirah memeluk pinggang Genggam Sekam dan merapatkan tubuh depannya ke punggung pemuda itu.
“Apa yang kau lakukan, Sumirah?!” kejut Genggam Sekam bukan main.
“Kau tadi mengatakan ‘terserah’,” kilah Sumirah.
Genggam Sekam lalu terpaksa menghentikan lari kudanya. Ketika kuda berhenti, Sumirah masih memeluk Genggam Sekam.
“Iya, tapi tidak seperti ini maksudku,” kata Genggam Sekam tanpa memaksa Sumirah untuk turun. “Bagaimana jika ada orang yang mengenaliku atau mengenalimu?”
“Yaaa, mungkin mereka akan menyangka kita suami istri,” jawab Sumirah seenaknya.
“Lebih baik kau mencari kuda lain jika memang berniat mengikutiku,” kata Genggam Sekam.
“Aku tidak punya uang untuk membeli kuda,” jawab Sumirah tanpa mau turun dari punggung kuda.
“Aku yang akan membelikanmu, sebagai terima kasihku karena telah memberi petunjuk tentang Pengemis Batok Bolong,” kata Genggam Sekam.
__ADS_1
“Jika begitu, aku tetap di sini sampai kita tiba di Desa Munggihan di depan sana,” kata Sumirah.
“Baiklah.”
Genggam Sekam akhirnya melanjutkan lari kudanya. Ia memilih mengalah, meski sebenarnya di dalam hati ia merasa menang banyak, karena bisa merasakan kesekalan dada Sumirah sepanjang berkuda. Untung sang kuda tidak merasakan kebangkitan sang burung yang terhalang oleh lapisan pelana.
Setibanya di Desa Munggihan, barulah Sumirah turun dari kuda Genggam Sekam. Ia sedikit pun tidak merasa risih karena telah memberikan dadanya kepada pemuda tampan itu.
Mereka berjalan mencari orang yang mau menjual kuda. Genggam Sekam menuntun kudanya.
“Kakang Genggam, setelah kematian kekasihmu, tentunya kau belum memiliki kekasih baru lagi. Iya, ‘kan?”
“Sudah.”
“Menjengkelkan!” rutuk Sumirah kecewa.
“Kau itu cantik, pastilah banyak pendekar muda yang tertarik denganmu,” kata Genggam Sekam.
“Iya banyak, tetapi mereka hanya suka dengan tubuhku, bukan diriku seutuhnya. Tidak seperti Kakang yang walaupun sedikit mata keranjang, tapi benar-benar menghargai kekasih,” kata Sumirah. “Siapa kekasih Kakang Genggam yang baru?”
“Seorang gadis desa,” jawab Genggam Sekam.
“Ah, jika begitu, lebih baik aku menjadi kekasih Kakang dari kalangan pendekar. Aku janji, tidak akan cemburu kepada kekasih desa Kakang itu,” kata Sumirah.
“Kau memang cantik. Sebenarnya aku juga tidak masalah jika kau menjadi kekasihku, apalagi jika kau mau setia. Namun, aku tidak tega dan tidak mau menyakiti hati kekasihku,” tandas Genggam Sekam.
“Menjengkelkan!” rutuk Sumirah lagi dengan mimik kecewa.
Setelah agak lama mencari-cari, akhirnya mereka menemukan penjual kuda di desa itu, meski bukan penjual kuda partai besar. Kemahiran Sumirah dalam merayu ternyata membuat penjual kuda mau memberi harga sedikit murah.
“Ingat, kita tidak boleh lambat!” kata Genggam Sekam.
“Baik.”
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan menuju Kadipaten Lambemu.
Kekencangan dalam berkuda membuat keduanya lebih banyak diam. Mereka tiba di Desa Ukirat bertepatan ketika matahari sudah tenggelam di barat
Setelah bertanya kepada warga desa, Genggam Sekam lalu mendapat petunjuk di mana kediaman pengrajin emas yang bernama Kucing Sungai.
Tempat kediaman Kucing Sungai ternyata tempat para pengrajin emas bekerja. Bahkan malam pun mereka bekerja dengan penerangan obor yang banyak. Ada sekitar sepuluh lelaki dan seorang wanita bekerja di tempat yang berdinding papan di kanan dan kiri. Di sebelah atas ada lantai papan yang juga tanpa dinding depan dan belakang. Uniknya, atapnya terbuat dari susunan bilah-bilah bambu.
Beberapa orang yang bekerja di lantai dua, mereka menekuni meja dan bahan pekerjaannya yang berupa perhiasan emas yang masih kasar. Berbeda bagi orang-orang yang bekerja di lantai tanah di bawah, mereka bekerja dengan api, bara dan air. Ada air biasa, tapi ada juga air keras.
Kedatangan dua kuda yang ditunggangi oleh dua orang pendekar, menarik perhatian para pekerja. Seorang lelaki bertelanjang dada, bertubuh besar dan berotot kekar, datang menyongsong tamu yang tidak dikenal itu.
Kedua kuda berhenti. Genggam Sekam dan Sumirah turun dari kudanya.
__ADS_1
“Mencari siapa, Kisanak, Nisanak?” tanya lelaki berkeringat itu, menunjukkan bahwa ia telah bekerja keras sebelumnya.
“Kami ingin bertemu dengan Kucing Sungai,” jawab Genggam Sekam.
“Kalian siapa?” tanya lelaki yang usianya hampir separuh abad.
“Aku Genggam Sekam, Pendekar Tongkat Berat. Dan ini Sumirah, Pendekar Buaya Cantik,” jawab Genggam Sekam.
“Kucing Sungai tidak berurusan dengan pendekar persilatan,” kata lelaki besar itu dingin.
“Aku diutus oleh Gusti Ratu Warna Mekararum,” ujar Genggam Sekam, membuat lelaki besar tersebut agak mendelik.
“Jadi kau membawa perkara kerajaan, Kakang?” tanya Sumirah yang terkejut karena tidak menyangka tentang tugas yang diemban Genggam Sekam.
“Iya,” jawab Genggam Sekam sambil mengangguk.
“Aku yang bernama Kucing Sungai. Tunggu sebentar!” kata lelaki tersebut.
Lelaki besar yang mengaku sebagai Kucing Sungai lalu pergi ke gentong. Ia menciduk-ciduk air dengan tangannya lalu membasuh wajah dan badannya yang berkeringat. Setelah agak bersih, ia pergi meninggalkan tempat pengolahan emas itu.
“Mari!” ajak Kucing Sungai kepada kedua tamunya.
Kucing Sungai melangkah pergi menuju rumah sederhana yang berjarak beberapa tombak dari tempat pegolahan emas tersebut. Genggam Sekam dan Sumirah segera mengikuti dengan menarik kudanya.
Kucing Sungai menerima kedua tamunya di ruang tamu rumahnya. Di sudut ruangan terlihat ada sejumlah alat yang berkaitan dengan kerajinan emas. Namun, tidak ada perhiasan emas yang terlihat di ruangan itu.
“Gusti Ratu ingin dibuatkan tusuk rambut seperti yang dulu pernah Kucing Sungai buatkan,” ujar Genggam Sekam.
“Berapa?” tanya Genggam Sekam.
“Satu saja.”
“Bayarannya!”
“Ini!”
Genggam Sekam menyodorkan sekantung uang ke depan Kucing Sungai.
“Sebanyak harga yang dulu,” kata Genggam Sekam lagi.
“Silakan datang sekitar dua pekan lagi,” kata Kucing Sungai.
“Hah! Dua pekan? Tapi aku membutuhkannya sehari atau dua hari ini,” kata Genggam Sekam.
“Bayarannya harus tambah,” kata Kucing Sungai.
“Sudah diduga,” kata Genggam Sekam. Ia lalu kembali mengeluarkan sekantung uang yang sama dan diberikan ke depan Kucing Sungai.
__ADS_1
“Kembalilah besok pagi!” kata Kucing Sungai.
“Baik.” (RH)