A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 12: Merebut Pisau


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


“Kakang Genggam pergilah dulu, aku harus menunggu Ning Ana!” kata Alma Fatara.


“Tidak, aku bersamamu saja,” tolak Genggam Sekam.


Ning Ana yang sudah berhasil menangkap kembali kambing kesayangannya, datang dengan menungganginya. Ia tersenyum kepada Alma dan Genggam Sekam.


“Lihatlah, Kakang Genggam. Anak ini begitu cantik, bukan?” kata Alma.


“Ya, sangat cantik,” sepakat Genggam Sekam.


“Ning Ara yang aku tawarkan kepadamu lebih cantik karena sudah dewasa,” kata Alma.


“Waw!” desah Genggam Sekam yang bisa menggambarkan kecantikan Ning Ara, yaitu kecantikannya semodel Ning Ana, tapi dilengkapi dengan dada yang besar dan pinggul yang bahenol.


“Pasti sekarang berpikirnya yang enggak-enggak!” tukas Alma.


“Ti-ti-tidaaak!” sangkal Genggam Sekam.


“Hahaha!” tawa Alma. Lalu panggilnya, “Ning Ana!”


“Iya?” sahut Ning Ana.


“Apakah kau setuju jika kakakmu Ning Ara menjadi kekasih Kakang Genggam Sekam?” tanya Alma.


“Tidak. Dia mata keranjang!” tandas Ning Ana lantang.


Mendeliklah Genggam Sekam disebut “mata keranjang”.


“Hahaha!” tawa Alma. Lalu katanya, “Sepertinya pintu untukmu tertutup sebelah, Kakang.”


“Apanya yang mata keranjang?” tanya Genggam Sekam sewot.


“Aku sangat mengenali para lelaki yang mata keranjang. Matanya selalu ada dua. Yang satu melirik ke kanan dan yang satu melirik ke kiri,” kata Ning Ana.


“Hahahak …!” Alma kian tertawa. Lalu katanya, “Ayo, Ana. Kita harus pergi ke sungai menyusul empat wanita tadi. Apakah kambingmu bisa berlari cepat?”


“Bisa!” jawab Ning Ana yakin.


“Ayo!” seru Alma.


Mereka lalu meggebah kudanya, sementara Ning Ana menggebah kambingnya.


Mbeeek!


Alma hanya tertawa mendengar embikan Jelita.


Namun, memang dasarnya bukan hewan tunggangan, kambing Ning Ana hanya bisa berlari cepat sesuai standar perkambingan. Untuk pertama keberangkatan, Ning Ana langsung tertinggal. Mau tidak mau, Alma harus memelankan lari kudanya untuk menunggu kambing Ning Ana.


“Lebih baik kau pulang saja, Ning Ana!” saran Alma.


“Tidak mau! Aku sudah katakan, aku bosan di rumah!” bantah Ning Ana.


“Bagaimana jika kambingmu itu ditinggal saja?” saran Alma lagi.


“Tidak bisa, Kakak. Jelita ini kambing kesayanganku. Nyawanya adalah separuh nyawaku!” tandas Ning Ana.

__ADS_1


Ingin tertawa Alma mendengar kata-kata Ning Ana, tetapi ia tahan dan hanya tersenyum lebar.


“Baiklah,” kata Alma mengalah. Lalu katanya kepada Genggam Sekam, “Lebih baik Kakang menyusul Empat Bunga Pesona agar tidak kehilangan hatinya. Aku harus bersama Ning Ana.”


“Baiklah,” kata Genggam Sekam akhirnya. Ia harus mementingkan memburu pembunuh kekasihnya daripada memilih bersenang hati dengan Alma Fatara.


Genggam Sekam lalu berangkat lebih dulu untuk menyusul Empat Bunga Pesona menuju Sungai Ngulur.


Sementara Alma dan Ning Ana berjalan santai dengan kecepatan kambing menyusul menuju Sungai Ngulur.


“Jangan keluar dari desa sendirian lagi. Bahaya,” nasihat Alma.


“Kakak Alma saja boleh keluar dari desa sendirian,” protes Ning Ana.


“Hahaha! Karena aku bisa menjaga diri,” kata Alma.


“Aku juga bisa menjaga diri!” tandas Ning Ana.


“Lalu kenapa tadi, kau hampir saja dijadikan budak oleh keempat wanita tadi?”


“Aku menjaga diri dengan memanggilmu!” kilah Ning Ana.


“Hahaha!” tawa Alma. Lalu katanya, “Kau harus berguru agar memiliki kesaktian beberapa tahun kemudian.”


“Terlalu lama. Aku maunya hari ini atau besok,” kata Ning Ana.


“Waw! Kau pikir memiliki kesaktian sama seperti makan. Pagi kau makan, sore sudah jadi kotoran? Memiliki kesaktian itu memerlukan latihan dan kesabaran selama bertahun-tahun.”


“Wah, susah juga ya. Kalau begitu, aku menikah saja dengan Kang Garam, agar dia bisa menjagaku setiap saat,” kata Ning Ana.


“Hah! Kau kumat lagi, Ning Ana!” hardik Alma.


“Kau benar-benar mengejutkan aku, Ning Ana,” kata Alma.


“Aku memang lebih cerdas dari kakakku yang dengan mudah dipermainkan oleh lelaki. Akhirnya kerjanya hanya menangisi lelaki yang tidak setia kepadanya,” kata Ning Ana. “Kakak, untuk apa mencari Menur Mawangi, dia itu sudah menjadi perempuan tidak punya harga. Mati di sungai pun terlalu bagus baginya.”


“Kau jangan bicara seperti itu. Aku membantu ayah dan ibunya. Sehina-hinanya manusia, dia berhak memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Mungkin dengan matinya Jataru dan diculiknya dirinya, Kakak Menur bisa menyesal,” kata Alma.


“Kakak terlalu baik. Jika aku seorang pendekar, sudah aku bunuh perempuan seperti itu,” kata Ning Ara yang omongannya terkadang ekstrem.


Mereka berdua terus berbincang selama perjalanan menuju sungai.


Tidak terasa, mereka berdua akhirnya tiba di pertigaan jalan yang membentang sepanjang Sungai Ngulur yang arus tengahnya masih deras. Namun, mereka tidak melihat keberadaan orang lain selain mereka.


“Ke arah mana, Kak?” tanya Ning Ana.


“Aku lihat dulu,” jawab Alma, lalu ia melompat turun dari punggung kudanya.


Alma memeriksa tanah di titik temu dua jalan itu. Ia mencari jejak kuda. Memang ada beberapa jejak kaki kuda, baik jejak yang mengarah hulu maupun yang mengarah hilir. Namun, dapat dibedakan yang mana jejak kuda terbaru.


“Ke arah hilir,” kata Alma sambil meraih tali kudanya. Ia kembali naik ke punggung sang kuda.


Ning Ana sudah berjalan lebih dulu berbelok ke arah hilir sungai. Kuda Alma cepat mendampingi.


Setelah berjalan agak jauh ke arah hilir, mereka akhirnya menemukan Empat Bunga Pesona dan Genggam Sekam.


Ternyata mereka sedang menyaksikan pertarungan.

__ADS_1


Orang yang bertarung adalah pemuda yang bernama Pengging melawan Nyai Delima. Tidak terlihat keberadaan Nyai Langsat, tetapi yang kelihatan adalah Menur Mawangi yang bersembunyi di balik pohon.


Wuss!


Satu angin pukulan Nyai Delima menghantam tubuh Pengging, membuat pemuda bertubuh gagah itu terjajar lima tindak, tetapi tidak sampai jatuh.


Ctas!


“Akk!” pekik Pengging tertahan saat cemeti Nyai Delima mengenai wajahnya. Luka seperti terbakar tercipta memanjang di pipi kiri Pengging. Pecutan itu juga membuatnya jatuh terjengkang.


Nyai Delima cepat berlari maju ke arah Pengging.


Set!


“Akk!” jerit Nyai Delima sambil tiba-tiba berhenti dan membungkuk memegangi perutnya.


“Dia menggunakan Pisau Bunuh Diri!” teriak Bunga Mekar sambil menunjuk Pengging yang memang telah menusuk perutnya dengan pisau miliknya.


“Serang bersama!” teriak Bunga Dara berkomando.


Setelah berhasil menikam Nyai Delima secara gaib menggunakan pisaunya, Pengging terkejut karena empat wanita sudah beterbangan di udara berniat menyerangnya.


Blet blet blet!


Belum sempat Pengging berkonsentrasi terhadap satu pun wanita yang datang, empat selendang sudah melesat cepat menyerangnya secara berjemaah.


Selendang putih membelit kepala dan wajah Pengging, selendang kuning melilit leher Pengging, selendang biru melilit tangan Pengging yang memegang pisau, dan selendang merah melilit kaki kanan. Hasilnya, Pengging dibuat tidak berkutik.


Empat Bunga Pesona kemudian mendarat di sekeliling Pengging.


Baks! Baks!


“Hukh!” keluh Pengging tersentak di tempat saat dua pukulan telapak tangan bersamaan menghantam dada dan punggungnya.


Tuk!


Bunga Semi menotok pergelangan tangan Pengging yang memegang pisau. Hal itu membuat pisau terlepas dari tangan Pengging. Dengan mudahnya Bunga Semi menendang gagang pisau sehingga memantul melambung.


Bunga Dara dengan enteng menyambar pisau tersebut.


Sreeet!


Lalu Empat Bunga Pesona bergerak mundur bersamaan sambil menarik lepas selendang mereka masing-masing.


Selepas dari belitan empat selendang, Pengging yang sudah dalam kondisi terluka dalam tertarik tidak karuan. Ia berdiri dengan oleng dan hilang keseimbangan.


Set! Tuk!


Tiba-tiba sebatang tongkat melesat dan menghantam keras perut Pengging, membuat pemuda itu melesat mundur dengan punggung melengkung seperti udang, sementara tongkat besi menempel di perutnya.


Pendekar Tongkat Berat yang melesatkan tongkatnya, berlari cepat di udara mengejar tubuh Pengging.


Buk!


Ketika Pengging mendarat di tanah keras dengan punggungnya, Genggam Sekam langsung datang berdiri di dekat Pengging dan menginjak dadanya dengan satu kaki.


“Katakan! Dari mana kau mendapatkan pisau itu, hah?!” tanya Genggam Sekam dengan membentak keras.

__ADS_1


“Uhhuk uhhuk!” Pengging terbatuk mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.


“Ayo katakan!” teriak Genggam Sekam sambil memajukan kakinya ke leher Pengging. (RH)


__ADS_2