
*Alma Fatara (Alfa)*
“Ambil senjata, Kang Debur!” teriak Alma mengingatkan. Ia melihat Debur Angkara tampak gugup sampai lupa menyiapkan senjata di tangan.
Di bibir pantai telah berbaris lima belas prajurit berseragam biru gelap. Empat mesin panah siap ditembakkan dalam jarak dekat, yang tentunya akan lebih sulit dihindari. Di belakang perahu Alma sudah bersiap.
Perahu biru yang dinaiki Alma dan Debur Angkara meluncur semakin mendekati bibir pantai.
“Tembaaak!” teriak seorang ketua prajurit yang berdiri di samping salah satu mesin panah.
Set set set!
Wuss!
Maka keempat prajurit operator mesin panah melepas senarnya. Empat-empat anak panah besi melesat menyerang perahu biru.
Namun, pada saat bersamaan, Alma menghentakkan kedua lengannya ke belakang. Dua gelombang angin dahsyat menghempas ke belakang, menjadikannya sebagai kekuatan dorong bagi perahu.
Perahu biru itu langsung melesat cepat seperti speed boat, membuat Debur Angkara terkejut dan hampir terjengkang ke belakang. Untung dia berpegangan dengan kuat.
“Hahahak!” tawa Alma melihat lelaki dewasa berotot itu hampir jatuh.
Sementara enam belas anak panah yang menyerang mereka melesat melampaui atas perahu dan terus ke belakang. Gagal target.
Perahu itu melesat cepat ke bibir pantai, membuat para prajurit terkejut, karena mereka akan ditabrak oleh perahu.
Brusk!
Perahu biru melesat naik sampai ke atas pasir menyerang barisan prajurit. Barisan itu sudah coba bergerak menghindar, tetapi tetap saja ada dua prajurit terhantam perahu hingga tewas.
“Seraaang!” teriak Alma sambil melompat menyerang para prajurit yang kehilangan persiapan.
“Hiaat!” teriak Debur Angkara yang juga melompat sambil lemparkan tombak di tangannya yang mengenai seorang prajurit.
Apa boleh buat bagi Debur Angkara. Sudah terlanjur masuk pertarungan, ya sudah, harus bertempur dengan penuh totalitas.
Alma bertarung dengan lincah. Setiap serangan tusukan tombak tidak ada yang mampu mengenai pakaiannya. Sebaliknya, pukulan dan tendangannya begitu lihai masuk menerobos pertahanan tameng para prajurit.
Baks!
Bahkan tameng prajurit yang dipukulnya dengan telapak tangan, tidak menghalangi serangan Alma. Tenaga pukulan itu bisa merambat menembus tameng lalu melesat menghantam tubuh prajurit. Itu salah satu ilmu kesaktian Alma yang bernama Tapak Rambat Daya. Prajurit yang terkena pukulan bertenaga dalam tinggi itu langsung dibuat muntah darah.
Pukulan Tapak Rambat Daya memang khusus pukulan yang harus melalui media lain untuk menyerang lawan. Pukulan itu justru tidak akan berlaku jika mengenai target secara langsung, akan berubah menjadi pukulan biasa.
Meski Alma adalah gadis belia, ternyata itu tidak menjadi hambatan baginya untuk mempecundangi para prajurit yang bertubuh gagah-gagah. Satu demi satu para prajurit itu bertumbangan, ada yang sebatas tidak berkutik saja dan ada yang sebatas tidak bernyawa lagi.
Di sisi lain, Debur Angkara berhasil menumbangkan tiga orang prajurit, tetapi kemudian dia terdesak karena sempat terjengkang setelah didorong perisai.
“Aak!” jerit Debur Angkara melihat datangnya dua tusukan tombak di saat ia kehilangan keseimbangan dan kuda-kuda.
Dak! Buk buk!
Namun beruntung bagi Debur Angkara, di saat genting tersebut, kelebatan tubuh jubah hitam datang dari samping menendang batang kedua tombak itu sekaligus, menyelamatkan Debur Angkara dari celaka. Selanjutnya dua tinju Alma masuk dengan cepat ke wajah kedua prajurit.
Bak bak!
Barulah setelah itu, Debur Angkara datang dengan dua tendangan beruntun menghajar kedua prajurit tersebut.
__ADS_1
“Kang Debur, lemparkan tombak buatku!” teriak Alma sambil berjumpalitan (lenting tangan putar/round off) di pasir pantai mendekat ke arah salah satu mesin panah.
Meski tidak mengerti maksud dari perintah Alma, Debur Angkara segera mengambil satu tombak prajurit yang tergeletak di tanah, lalu melemparkannya ke arah Alma, tapi agak ke atas. Dia takut jika lemparannya justru mengenai Alma.
Ketika tombak itu melesat, Alma mengakhiri jumpalitannya dengan lompatan salto yang tinggi di udara. Kakinya menyepak keras ujung belakang tombak, membuat senjata itu melesat semakin cepat dan menancap di dada prajurit operator mesin panah.
“Kang Debur! Ambil alih!” teriak Alma kencang.
Debur Angkara cepat berlari menuju mesin panah yang sudah kosong dari operator. Sementara itu, lima prajurit bertombak yang tersisa berlarian menyerbu mengejar Alma.
Srekr! Wuss!
Alma menghentakkan kaki kanannya ke tanah berpasir, membuat sekelompok pasir terhentak naik ke udara. Selanjutnya Alma menghentakkan kedua lengannya, mengirimkan angin keras kepada pasir-pasir tersebut.
Serangan angin berpasir menghadang kelima prajurit yang datang, membuat mereka terhempas dengan mata terserang pasir. Selanjutnya Alma berlari maju melumpuhkan kelima prajurit tersebut. Dengan demikian habislah kelima belas prajurit, tersisa tiga prajurit operator mesin panah dan seorang ketua prajurit.
“Tembaaak!” teriak Ketua Prajurit kepada ketiga prajuritnya yang tersisa.
Seset …! Wuss!
Sebanyak dua belas anak panah melesat menargetkan Alma dan Debur Angkara.
Alma kembali menggunakan ilmu anginnya untuk membelokkan arah panah. Namun, dekatnya jarak membuat panah-panah itu sulit dibelokkan, sehingga nyaris mengenai Alma. Beruntung ia pun gesit mengelak.
Sementara Debur Angkara yang belum sampai kepada mesin panah, memilih menghindar dengan cara menjatuhkan tubuhnya rata ke tanah berpasir. Ia tiarap. Saat melihat panah-panah mengerikan itu bertancapan jauh dari tubuhnya, Debur Angkara cepat bangun dan berlari kembali menuju mesin panah.
Gagal dengan tembakan itu, Ketua Prajurit memutuskan berlari ke arah Alma lalu melompat menerjang dengan galak.
Dak!
Ketika Alma menangkis dengan batang tangannya, Alma harus terjajar tiga tindak, menunjukkan bahwa Ketua Prajurit yang gagah itu memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi.
Dak!
Mendelik pula Ketua Prajurit ketika ia menahan tendangan itu dengan batang tangannya. Ia terjajar pula tiga tindak.
Srekr!
Alma kembali menjejakkan satu kakinya ke pasir, membuat pasir terhentak naik ke udara. Ketua Prajurit yang sebelumnya melihat jenis serangan itu, cepat melindungi matanya dengan tangan dan menguatkan kuda-kudanya.
Namun, Ketua Prajurit tidak merasakan serangan angin pasir kepadanya, tetapi justru melihat kelebatan tubuh Alma yang bergerak cepat memutar menyerang dari samping. Tahu-tahu tubuh Alma sudah terbang berguling di udara dengan kedua kaki berkelebat deras.
Dak! Bak!
Tendangan kaki kiri berhasil ditangkis oleh Ketua Prajurit, tetapi tendangan kaki kanan yang mengikuti berhasil mendarat di wajah. Ketua Prajurit itu terbanting dengan bibir yang pecah dan berdarah.
Sementara itu, Debur Angkara berlomba-lomba dengan prajurit operator memasang anak panah di mesin panahnya masing-masing. Ketidakakraban dengan mesin panah itu membuat Debur Angkara gemas sendiri.
“Yiaak!” teriak Debur Angkara sambil melompat ke balik batang pohon.
Sebelum ia sempurna memasang empat anak panah, tiga prajurit operator sudah lebih dulu memanah ke arahnya. Dua belas anak panah besi menghujani mesin panah pegangan Debur Angkara. Beruntung Debur Angkara lebih dulu menyelamatkan diri. Mesin panah yang belum sempat ia gunakan itu rusak terkena banyak panah.
Debur Angkara kemudian melihat situasi. Sejenak ia sempat bingung harus berbuat apa.
Pendekar desa itu kemudian memutuskan berlari cepat sambil menyambar satu anak panah yang menancap di pasir. Ia berlari ke salah satu mesih panah yang sedang dalam proses mengisi ulang anak panah.
Set!
__ADS_1
Tepat ketika prajurit operator selesai memasang empat anak panah, Debur Angkara melesatkan anak panah di tangannya. Anak panah itu tepat menancap di leher prajurit operator yang membuatnya tewas.
Dengan terbirit-birit Debur Angkara berlari ke samping lalu melakukan lompatan harimau guna berlindung dari bidikan dua mesin panah yang tersisa.
Set!
Sebanyak delapan anak panah melesat menyerang Debur Angkara, tetapi nasib mujur masih menaungi lelaki berkumis model poni itu. Buru-buru dia berlari pergi ke belakang mesin panah yang kosong. Status mesin panah itu sudah terisi lengkap, tinggal dilepas.
Set!
Empat anak panah melesat menyerang satu mesin panah dan operatornya yang sedang buru-buru memasang ulang anak panah.
“Akk!” jerit prajurit itu ketika dua anak panah menusuk tembus tubuhnya.
Debur Angkara buru-buru kembali berlari ke balik pohon.
Set!
Satu mesin panah yang tersisa kembali ditembakkan. Empat anak panah melesat menyerang batang pohon.
Breet!
“Aak!” jerit Debur Angkara terkejut, karena satu anak panah berhasil menyerempet kain celananya, tepat pada bagian bokong. Bahkan membuat ia tertarik dan jatuh.
Lagi-lagi Debur Angkara beruntung. Anak panah itu hanya merobek belakang celana luarnya, bukan kulit atau ****** ********.
Prajurit operator yang tinggal seorang, buru-buru memasang kembali amunisi panahnya, tetapi sayang stok anak panahnya habis. Ia hanya bisa terkejut dan buru-buru mengambil tombaknya.
Bagaimana prajurit itu tidak ketar-ketir, jika melihat semua teman-temannya sudah mati. Di sisi lain, ketua prajuritnya sedang dihajar oleh Alma.
Babak bak plak!
Ketika tinju Ketua Prajurit menyerang Alma, kedua tangan gadis belia itu bergerak cepat secara beruntun. Empat gerakan dalam setengah detik.
Satu gerakan tangan menangkis, gerakan berikutnya menotok lengan dalam, gerakan ketiga menapak dada, dan gerakan keempat menampar wajah Ketua Prajurit dengan begitu keras. Ketua Prajurit terbanting lagi dengan wajah merah seperti udang rebus.
Alma melompat bersalto.
Jleg!
Jejakan kakinya di pasir membuat sebatang tombak mencelat naik ke udara. Melihat aksi lawannya itu, Ketua Prajurit terkejut dan merasa inilah akhir dari hidupnya.
“Ampuuun!” teriak Ketua Prajurit yang sudah pasrah, sambil memejamkan matanya. Ia yakin, tombak itu akan melesat menusuk tubuhnya dengan kecepatan tidak terelak.
Set!
“Aaak …!” jerit Ketua Prajurit saat merasakan sakit pada bahu kanannya.
“Hahahak …!” tawa Alma melihat Ketua Prajurit yang menjerit histeris.
Mendengar suara tawa Alma, Ketua Prajurit membuka matanya.
“Kau aku tahan! Hahaha!” kata Alma sambil menempelkan mata tombak yang lain ke leher Ketua Prajurit.
Ketua Prajurit hanya bisa mendelik terkejut. Ternyata dia belum mati. Tanpa ia lihat, mata tombak yang disepak Alma tadi di udara hanya mengiris bahunya.
“Aaak!” jerit prajurit operator mesin panah saat ia dibunuh oleh Debur Angkara.
__ADS_1
Jika hanya melawan seorang prajurit, Debur Angkara masih percaya diri. (RH)