
*Alma Fatara (Alfa)*
Lama-lama dikeroyok oleh enam lelaki bergolok, membuat Garam Sakti kewalahan juga. Meski ia memiliki gerakan tarung lebih cepat dari pada para anak buah Ki Rampe Ulon, tetapi ancaman mata golok yang datang bersusulan menyerangnya membuatnya ngeri juga. Maka itu, Garam Sakti kini mengambil senjata berupa balok kayu. Maka habislah keenam orang pengeroyoknya digebuk menggunakan balok kayu.
Sementara itu, Ki Rampe Ulon semakin murka. Jelas-jelas wanita muda yang dihadapinya bukanlah orang suruhan Demang Baremowo, melainkan pendekar sakti yang entah dari mana datangnya.
“Katakan, siapa kau sebenarnya, Perempuan Celaka?!” sentak Ki Rampe Ulon sambil mengerenyit menahan sakit pada jari-jari tangan tangan kanannya yang dipatahkan oleh Alma.
“Aku adalah Dewi Gigi. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa terbahak. Ia lalu berseru sambil menunjuk wajah Ki Rampe Ulon, “Wahai kau, Penjahat Cinta! Masa hidupmu yang penuh hama, sudah waktunya habis! Hahaha …!”
“Hahaha …!” tawa Garam Sakti melihat gaya kocak Alma Fatara.
“Kurang garam! Kalian … kalian belum melihat keganasanku. Aku adalah Ketua Perampok Kelabang Setan!” teriak Ki Rampe Ulon.
“Aku adalah ketua setannya! Hahaha!” balas Alma Fatara terus mengejek.
“Benar-benar kurang garam!” maki Ki Rampe Ulon lalu tangan kirinya yang masih normal bergerak ke belakang pinggang.
“Hahaha! Kalau kurang garam, aku punya garam sakti,” kata Alma Fatara yang tidak henti-hentinya tertawa.
Zess! Bress!
“Waaak!” pekik Alma Fatara terkejut sambil buru-buru melompat ke samping.
Ki Rampe Ulon mengeluarkan sebuah keris bagus berwarna hijau gelap. Dari keris itu melesat garis sinar hijau terang yang mengenai tumpukan kayu bakar, karena Alma menghindari serangan itu. Tumpukan kayu kering itu langsung dibakar oleh api berwarna hijau.
“Akan aku buat kau menjadi gadis panggang!” teriak Ki Rampe Ulon murka lalu menusukkan kembali kerisnya.
Zess! Bress!
Kembali segaris sinar hijau melesat tanpa putus dari keris bernama Petir Api itu.
“Jiaaa!” teriak Alma Fatara sambil menghindari serangan itu. Ia lalu berlari kabur sambil berteriak kepada Garam Sakti, “Lari, Kang Garam!”
Alma Fatara dan Garam Sakti buru-buru lari menjauhi Ki Rampe Ulon. Ketua kelompok perampok itu jadi kian bersemangat karena melihat Alma dan Garam Sakti ketakutan.
“Cepat, Kang Garam! Keris itu bisa membuat kita jadi tikus panggang!” teriak Alma lagi kepada Garam Sakti yang berlari di depan Alma.
Mereka berdua berlari turun ke sawah yang belum ditanami padi.
Zess! Bress!
“Jiaak!” pekik Alma lucu sambil melompat ke depan menghindari serangan sinar hijau yang mengenai tanah jalan sawah.
“Akk!” jerit Garam Sakti terkejut ketika tubuh Alma menabraknya dan membuatnya tersungkur masuk ke dalam petak sawah yang penuh lumpur.
__ADS_1
“Hahahak!” tawa Alma terbahak saat melihat Garam Sakti jatuh ke lumpur dengan wajah lebih dulu. Ia sampai berhenti berlari.
Ki Rampe Ulon datang dengan sumringah ke jalan sawah yang diapit petak-petak sawah.
“Modar kau, Perempuan Edan!” maki Ki Rampe Ulon sambil menusukkan kerisnya dari jarak jauh.
Zess! Bress! Wuss!
“Aaa!”
Alma Fatara dengan lincah meloncat naik ke udara menghindari garis sinar hijau yang menyerangnya. Seiring itu, Alma melepaskan angin Sedot Tiup kepada Ki Rampe Ulon. Kepala desa palsu itu tidak bisa mengelak, tubuhnya terhempas lalu jatuh ke dalam lumpur sawah.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara terbahak melihat nasib Ki Rampe Ulon yang sama seperti Garam Sakti.
Dengan penuh kegusaran, Ki Rampe Ulon buru-buru bangun dengan wajah dan tubuh penuh lumpur. Namun, Ki Rampe Ulon harus terkejut dan terdiam ketika tiba-tiba keris pusakanya yang juga berlumur lumpur bergerak naik melayang, lalu melesat ke tangan Alma.
“Hahaha!” tawa Alma setelah keris bagus itu berada dalam genggamannya. Alma telah mengambil keris itu menggunakan senjata Benang Darah Dewa yang tidak terlihat oleh Ki Rampe Ulon.
Ia lalu menusukkan keris di tangannya.
Zess! Bress!
“Aakk!” jerit Ki Rampe Ulon kencang sambil berjongkok di lumpur dan memegangi kepalanya, meski sinar hijau yang melesat dari keris itu mengenai lumpur dekat kakinya. Ia lalu berteriak marah campur takut, “Jangan sembarangan menggunakan keris itu, itu bukan mainan!”
“Hahaha!” tawa Garam Sakti dalam kondisi yang seperti pisang berlumur lumpur siap goreng.
Ki Rampe Ulon buru-buru melompat naik ke jalan setapak antarpetak sawah dalam kondisi berlumpur.
Zess! Blep!
“Aakk! Panaaas!” jerit Ki Rampe Ulon saat sinar hijau dari keris itu mengenai kaki Ki Rampe Ulon.
“Hah! Aku tidak bermaksud mengenainya!” pekik Alma kaget sendiri.
Ki Rampe Ulon meloncat-loncat di tempat karena merasakan kepanasan yang teramat tinggi. Api hijau membakar kaki hingga perut Ki Rampe Ulon. Hingga akhirnya ia melompat masuk ke dalam lumpur dan berkubang di situ. Sampai-sampai Ki Rampe Ulon mengguling-gulingkan dirinya di dalam lumpur demi memadamkan api.
“Kau benar-benar perempuan sialaaan!” teriak Ki Rampe Ulon.
“Hahaha! Tadi itu aku hanya berniat menakutimu, tetapi malah kena benaran!” kilah Alma Fatara. “Bagaimana? Apakah kau mau menyerah, Ki?”
“Menyerah dari siapa?” tanya Ki Rampe Ulon yang sudah tidak terbakar karena diselamatkan oleh lumpur sawah, tetapi rasa sakit karena luka bakar yang parah membuatnya menahan derita.
“Menyerah dariku. Jika kau tidak mau pergi meninggalkan desa ini, aku akan membakarmu bulat-bulat!” kata Alma Fatara.
“Iya, aku akan menyerah, tapi jangan bunuh aku!” kata Ki Rampe Ulon.
__ADS_1
“Eh, karena kau telah membunuh warga desa, jadi hukuman untukmu adalah kematian!” kata Alma Fatara.
“Jangan bunuh aku! Jangan coba-coba bunuh aku!” teriak Ki Rampe Ulon antara memelas dan mengancam.
“Kau pantasnya dihakimi oleh warga desa!” kata Alma Fatara. Ia lalu berteriak lantang kepada khalayak warga desa, “Hoooiii! Warga desa, ke sinilah! Ayo pukuli Ki Rampe Ulon sampai menjadi bubur!”
Namun, warga desa yang mendengar teriakan Alma, hanya diam di tempat, menonton dari kejauhan.
Alma dan Garam Sakti jadi bingung karena tidak satu pun warga desa yang datang untuk memukuli Ki Rampe Ulon. Alma kembali mencoba berteriak.
“Hoooiii, Warga Desa! Jika kalian tidak datang untuk memukuli Ki Rampe Ulon, maka dia akan aku lepaskan. Biar Ki Rampe Ulon yang memukuli kalian sampai jadi bubur!” teriak Alma.
“Ayo hajaaar!” teriak seseorang tiba-tiba dari kejauhan.
Ketika Alma dan Garam Sakti menengok, ternyata orang yang berteriak sambil berlari datang adalah Sandung Wicara bersama Baling Wong, Meteng, Jengkis, dan beberapa anggota Perampok Paling Ganas.
“Jika kau melawan, Ki, maka aku akan membakarmu dengan keris saktimu ini!” ancam Alma kepada Ki Rampe Ulon.
“Ayo hajaaar!” teriak Sandung Wicara penuh semangat.
Melihat Sandung Wicara dan kelompoknya datang dengan berani, sejumlah warga yang awalnya takut, jadi ikut berlari mendekat ke arah Ki Rampe Ulon yang panik di tempat. Bahkan di antara warga yang datang itu ada ibu-ibu yang membawa kayu. Rasa dendamnya membuat si ibu nekat membawa kayu.
Akhirnya ….
Bak bik buk …!
Beramai-ramai mereka turun ke lumpur dan memukuli Ki Rampe Ulon, seperti memukuli seorang pencuri ayam betina.
“Akk! Akk! Aw …!” pekik-pekik Ki Rampe Ulon menikmati hantaman bertubi-tubi itu. Untung tidak ada yang memukul menggunakan tenaga dalam.
“Minggir! Minggir! Dia sudah memperkosa anakku!” teriak si ibu penuh emosi.
Beberapa warga lelaki bergeser memberi jalan kepada si ibu.
Dak! Dak!
“Akkh …!” jerit Ki Rampe Ulon lebih tinggi saat batok kepalanya dihantam balok kayu.
Memang hantaman itu tidak bertenaga dalam, tetapi bertenaga dendam. Dua pukulan kayu keras cukup membuat dua luka robek pada kepala Ki Rampe Ulon. Ketua perampok itu akhirnya tumbang dalam kondisi berlumur lumpur dan bersimbah darah.
Para anak buah Ki Rampe Ulon tidak berani datang menolong, mereka takut kepada pendekar wanita yang suka tertawa itu.
“Rampe Ulon!” panggil seseorang tiba-tiba dari kejauhan.
Alma Fatara, Garam Sakti, dan warga yang sedang mengamuk, jadi menengok dan melihat siapa yang memanggil orang yang sedang mereka hakimi. (RH)
__ADS_1