A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Kamsil 13: Angin Tujuh Langit


__ADS_3

*Kampung Siluman (Kamsil)*


 


Kirak Sebaya dan Rempah Putih yang berlari menggunakan ilmu peringan tubuh, benar-benar dalam ancaman bahaya. Puluhan anak panah yang akan dilepaskan oleh mesin siap menghujani mereka. Bahkan Lingkar Dalam dan para lelaki Kampung Siluman yang berdiri di bibir puncak bukit, tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi kedua pemimpin kampung itu.


Wuss!


Alma Fatara yang bergerak berputar di tempat seperti penari balet, merentangkan kedua tangannya yang bersinar biru terang. Tiba-tiba tercipta angin berputar kencang dari gerakan itu. Angin berputar yang hanya bersuara tanpa penampakan itu, membuat kepungan prajurit terdepan terdorong seperti tertiup angin badai.


Alma Fatara mendelik mendapati hasil itu. Sebab, ini pertama kalinya Alma melakukan itu dan pertama kali melihat hasilnya yang berupa angin badai.


“Berarti kurang kencang putarannya!” kata Alma Fatara kepada dirinya sendiri.


Ia lalu melakukan putaran yang lebih kencang. Kedua tangannya yang bersinar biru terang tetap merentang. Kaki kanan Alma menjadi titik poros perputaran tubuhnya. Entah di mana Alma pernah belajar balet.


“Panaaah!” teriak sang komandan yang tetap fokus kepada dua target di badan bukit, padahal angin kencang telah membuat baju dan jenggotnya berkibar brutal.


Set set set …!


Wusss!


Seiring dilepasnya puluhan anak panah dari mesin-mesin panah, angin dahsyat yang diciptakan oleh putaran tubuh Alma tiba-tiba membesar melebihi espektasi.


Angin dahsyat yang tidak terlihat, seketika mengacaukan arah lesatan hujan panah. Bukan hanya itu, puluhan prajurit terdekat tidak lagi terdorong, tetapi ikut naik ke udara dan hanyut dalam putaran angin puyuh. Mesin-mesin panah ikut tertarik oleh angin dan terangkat terbang.


Wuss! Wuss!


Semakin lama, angin itu semakin kuat dan semakin besar radius jangkauannya. Kirak Sebaya dan Rempah Putih, serta seluruh warga Kampung Siluman tersenyum sumringah melihat pasukan Kerajaan Ringkik terbang beramai-ramai di udara malam.


Kereta kuda Senopati menjadi panik karena tertarik oleh angin.


“Cepat menjauh!” teriak Senopati Gulung Sedayu kepada saisnya.


“Hia! Hia!” pekik sais menggebah kencang kudanya agar berlari kencang.


Wuss! Brak!


Namun, angin masih bisa menyambar bak kereta perang itu sehingga terlempar ke samping dan mengajak kudanya terbanting. Sais dan Senopati Gulung Sedayu jadi terlempar dan jatuh bergulingan.


Namun kemudian, kedua orang itu justru tersambar oleh angin dan tertarik masuk ke dalam putaran angin puyuh.


“Aaak! Aaak! Aaak …!”

__ADS_1


Gelapnya malam membuat suasana terlihat tidak begitu mengerikan, tetapi suara teriakan para prajurit yang menjauh dan mendekat sili berganti menciptakan horor yang ekstrem.


“Munduuur! Munduuur! Munduuur!” teriak para komandan pasukan yang posisinya jauh dari pusat angin.


Ribuan prajurit yang sejak awal hanya bersiaga dan belum turun berperang, segera bergerak dari posisinya. Mereka segera membubarkan diri menjauhi pusat pertempuran.


Puluhan tubuh prajurit dan benda apa saja, terbang berputar-putar di udara tinggi karena terbawa dan hanyut dalam arus angin puyuh ciptaan Bola Hitam.


Sementara itu di titik pusat angin, Alma Fatara mulai merasakan sesuatu yang berbeda, yaitu ketika ia berhenti, angin puyuh yang ia ciptakan tidak mereda.


“Kenapa tidak berhenti?” tanya Alma heran.


Sementara itu, Kirak Sebaya dan Rempah Putih juga terkena imbasnya. Keduanya bertiarap di batu bukit dan berpegangan kencang. Pakaian dan rambut mereka berkibar kencang karena ada daya sedot pula yang mengenai mereka. Tongkat kayu Kirak Sebaya bahkan sudah raib tersedot oleh angin.


Kepanikan juga melanda di atas bukit. Angin kencang juga sampai kepada mereka. Mereka masing-masing berlindung. Bahkan sejumlah rumah panggung bambu ada yang ambruk dan terbang. Untung sudah tidak ada orang di dalamnya.


“Alma belum bisa mengendalikan Angin Tujuh Langit!” teriak Kirak Sebaya.


“Apa yang harus kita lakukan?!” teriak Rempah Putih sambil bertahan sekuat tenaga dari tarikan angin.


“Bertahan sekuatnya!” jawab Kirak Sebaya berteriak.


Di bawah sana, Alma Fatara sedang berusaha mencari cara untuk menghentikan angin itu.


Setelah berusaha beberapa kali, akhirnya Alma menyimpulkan bahwa dirinya bisa.


Alma kembali melakukan ritual seperti awal. Ia berputar pada poros satu kaki dan kedua tangan terentang dengan dua sinar biru terang. Alma akhirnya kembali menyatu dengan angin puyuh ganas itu.


“Hiaat!” teriak Alma kencang sambil menghentakkan kedua lengannya pada satu arah.


Wuss!


Tiba-tiba angin puyuh yang tingginya menjulang sampai ke langit gelap, bergerak menjauhi bukit batu. Nahasnya, angin itu bergerak mengejar pasukan Kerajaan Ringkik yang sedang mundur. Tak ayal lagi, ratusan prajurit tersapu dan tertarik masuk dalam pusaran.


Ternyata, seiring dilepasnya si angin puyuh, kekuatannya secara perlahan berkurang dengan sendirinya.


Bernapas legalah Kirak Sebaya dan Rempah Putih, serta warga Kampung Siluman. Kirak Sebaya dan Rempah Putih sampai tersengal-sengal dalam bernapas.


“Akhirnya Alma bisa menguasai Angin Tujuh Langit,” ucap Kirak Sebaya.


“Hampir saja,” ucap Rempah Putih pula.


Di atas bukit juga terjadi perbincangan heran.

__ADS_1


“Sebenarnya Alma itu manusia atau dewa? Bagaimana bisa dia membuat angin mengerikan seperti itu?” kata Magar Kepang.


“Makanya, Ki, kau jangan coba-coba membuat marah Alma,” kata Debur Angkara sambil merapikan kumis poninya yang berantakan karena tersedot angin puyuh.


“Aku sudah pernah merasakan angin mengerikan seperti itu, ketika aku masih kecil. Seluruh desa dilanda kehancuran yang luar biasa. Untung waktu itu aku tersangkut di pagar batu di pantai,” kisah Magar Kepang.


“Jangan-jangan karena itu Ki Magar di namakan Magar,” terka Garam Sakti.


“Sejak bayi namaku Magar Kepang, tidak ada hubungannya dengan kejadian itu!” sentak Magar Kepang mendadak kesal.


“Pembicaraan kaum pisangan sungguh membocahkan!” celetuk Ayu Wicara.


“Membosankan, Ayuuu! Bukan membocahkan!” teriak Magar Kepang kian kesal.


“Hahaha!” tawa Debur Angkara dan Garam Sakti menertawakan kekesalan Magar Kepang.


“Jangan tertawa kalian. Bisa-bisa biaya hidup kalian nanti tidak ditanggul,” kata Ayu Wicara kepada kedua lelaki besar itu.


“Ditanggung, Ayuuu! Bukan ditanggul sungai!” ralat Debur Angkara dan Garam Sakti bersamaan, giliran mereka yang kesal.


Suasana mulai hening, seiring telah hilangnya angin puyuh ciptaan Bola Hitam. Pertempuran di bawah sana telah berhenti. Suasana masih gelap, terlebih tidak ada api yang menyala di bawah sana.


Alma Fatara memilih turun merebahkan dirinya di atas tanah dengan kedua tangan terentang bebas seolah tanpa beban. Ia memejamkan matanya di dalam kegelapan. Suasana benar-benar sunyi tanpa ada suara seorang pun manusia, kecuali suara napasnya yang agak menderu.


“Ayo kita turun melihat keadaan di bawah!” kata Lingkar Dalam sambil memberikan satu obor kepada Magar Kepang.


“Ayo!” kata Magar Kepang sambil memberikan obor di tangannya kepada Debur Angkara.


Lingkar Dalam bersama beberapa lelaki Kampung Siluman lalu bergerak menuju tangga yang dimiliki oleh bukit batu itu. Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara segera ikut. Mereka membawa beberapa obor.


“Hati-hati!” pesan Lingkar Dalam kepada para tamu kampungnya saat mereka menuruni tangga.


Memang ada satu tangga yang menghubungkan bawah dan atas bukit. Hanya saja, posisi tangga itu hanya akrab oleh para penghuni bukit.


Mereka lebih dulu sampai ke tempat Kirak Sebaya dan Rempah Putih berada.


“Bagaimana keadaan Ayah?” tanya Lingkar Dalam.


“Kami baik-baik saja,” jawab Rempah Putih.


“Hihihi! Kepala Kandung tidak pakai celana! Hihihi!” tawa Ayu Wicara sambil menunjuk ke bawah perut Kepala Kampung.


“Hahaha!” tawa rendah Kirak Sebaya dan yang lainnya. “Untung cawatmu masih melekat, Rempah.”

__ADS_1


Kini, Rempah Putih memang tidak mengenakan celana karena celananya itu tersedot oleh angin puyuh tadi. Untung ia masih bercawat.


“Apa boleh buat, masih untung masih hidup,” kata Rempah Putih, mau tidak mau dia harus bersikap cuek, terlebih di hadapan Ayu Wicara. (RH)


__ADS_2