
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Dengan melewati Gerbang Rawa Hijau, akhirnya Alma Fatara dan rombongannya meninggalkan Negeri Sembunyi dan kembali ke negeri Tanah Jawi.
Gerbang Rawa Hijau adalah dinding bening transparan yang luas dan tinggi, seperti dinding yang pernah Alma dan lainnya masuki secara nekat.
Mereka keluar dengan diantar oleh Panglima Kampung Siluman, yaitu Kirak Sebaya. Namun, meski nama gerbang yang mereka tembusi sama dengan gerbang sebelumnya, tetapi mereka muncul bukan di Rawa Hijau yang katanya beracun. Mereka muncul di sebuah pinggir sungai yang cukup besar.
“Lihat di sana!” tunjuk Kirak Sebaya ke depan atas jauh.
Alma Fatara dan yang lainnya bisa melihat keberadaan sebuah gunung yang jelas pepohonannya dan dedaunannya. Artinya gunung itu sudah sangat dekat dan mereka sedang berada di kaki gunung tersebut.
“Itu Gunung Alasan, Kek?” tanya Alma.
“Benar,” jawab Kirak Sebaya.
“Tujuan kita ke arah barat Gunung Alasan,” kata Alma.
“Kalian susuri saja sungai ini, karena sungai ini menuju ke barat Gunung Alasan. Tapi sebenarnya, kalian hendak ke mana?” tanya Kirak Sebaya.
“Rawa Kabut. Kami ingin bertemu dengan Ki Ramu Empedu,” jawab Alma lagi.
“Oh benar. Dia orang yang tepat jika untuk berobat. Namun, aku dengar-dengar dia orangnya agak susah,” kata Kirak Sebaya.
“Susah bagaimana, Kek?”
“Berdasarkan yang aku pernah dengar, Ki Ramu Empedu tidak mau mengobati orang yang tidak dikenalnya,” jawab Kirak Sebaya.
“Oh, begitu ya,” ucap Alma. “Baiklah, Kek. Terima kasih atas jasa baikmu. Kami harus berangkat.”
“Hehehe! Justru akulah yang seharusnya mengucapkan itu, Alma,” kata Kirak Sebaya yang didahului tawa terkekehnya. Lalu katanya kepada Warna Mekararum di bak pedati, “Terima kasih, Nenek Warna. Aku berharap kau bisa disembuhkan.”
Warna Mekararum hanya tersenyum kepada Kirak Sebaya.
“Kami pergi, Kek!” ucap Alma lagi.
Kirak Sebaya mengangguk seraya tersenyum.
Mulailah tiga kuda dan dua kuda penarik pedati berjalan meninggalkan Kirak Sebaya seorang diri. Mereka mengikuti arah aliran sungai yang menuju ke arah barat. Kemungkinan mereka harus memutari kaki Gunung Alasan sejauh seperempat lingkaran kaki gunung.
“Akhirnya kita bilaaas!” teriak Ayu Wicara tiba-tiba sambil merentangkan kedua tangannya, seperti adegan bintang kapal Titanic.
“Ayu, bilas apaan?” tanya Debur Angkara.
“Siapa yang ngomong bilas? Aku bilang bil …. Eh, aku bilang bebas!” ralat Ayu Wicara.
“Bebas dari apa?” tanya Alma.
__ADS_1
“Dari pemerasan dan sakit mati,” jawab Ayu Wicara.
“Dari peperangan dan sakit hati?” tanya Magar Kepang untuk memastikan.
“Iya.”
“Sakit hati kepada Lingkar Selam?” terka Alma.
“Bukan Lingkar Selam, tapi Lingkar Dalam!” ralat Ayu Wicara.
“Hahaha!” tawa Alma dan para lelaki.
Mereka terus bersenda gurau dalam perjalanan.
“Hei! Hei! Lihat!” teriak Debur Angkara tiba-tiba saat dia sekilas memandang ke aliran sungai yang deras.
Mereka semua kompak melemparkan pandangannya ke aliran air sungai. Dengan jelas mereka melihat sesosok tubuh berpakaian warna cokelat sedang hanyut tanpa terlihat ada perjuangan.
“Cepat potong, Kacang Dengkur! Mungkin masih hidup!” teriak Ayu Wicara cepat.
“Hahahak …!” tawa Alma mendengar kesalahan fatal kata-kata Ayu Wicara.
“Siap, Ayu Cantik!” sahut Debur Angkara yang bisa memahami maksud teriakan Ayu Wicara.
Sebagai orang laut yang pastinya jago berenang, tanpa ragu dan menimbang-nimbang, Debur Angkara langsung melompat dari kudanya, lalu berlari di udara dan kemudian terjun ke air sungai.
Baru saja Debur Angkara masuk ke air, tubuh besarnya langsung terbawa arus yang deras.
“Arusnya terlalu kencang!” kata Magar Kepang tegang.
Daripada hanyut terbawa arus yang kuat, Debur Angkara berusaha berenang ke tepi untuk keluar dari arus utama. Pada akhirnya ia bisa berenang ke tepi.
“Alma! Aku tidak bisa, arusnya terlalu kuat!” teriak Debur Angkara sambil angkat tangan kanan tanda menyerah.
“Kacang Garam!” teriak Ayu Wicara sambil terus menggebah kudanya mengikuti posisi tubuh orang yang hanyut itu.
“Aku sedang membawa pedati, Ayu Cantik!” teriak Garam Sakti.
“Amal!” teriak Ayu Wicara.
“Hahahak!” Alma Fatara justru tertawa. Lalu jawabnya, “Siap, Ayu Cantik!”
Alma Fatara langsung berkelebat ke samping dan masuk ke air. Ia terjun pada jarak yang cukup jauh di belakang orang yang hanyut.
Di dalam air, Alma Fatara bisa berenang seperti ikan besar yang mengikuti arus. Dalam waktu singkat, Alma bisa menyusul tubuh orang yang hanyut. Magar Kepang dan Garam Sakti hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kehebatan gadis pimpinan mereka.
Alma Fatara lalu meraih kain baju orang yang hanyut, ternyata orang itu lelaki tua, terlihat dari jenggot panjangnya yang berwarna putih.
__ADS_1
Seolah tidak mengalami kesulitan berarti. Alma Fatara menarik tubuh lelaki berpakaian cokelat itu ke tepi sungai.
Magar Kepang yang kudanya segera tiba di dekat, segera melompat turun dan membantu menarik tubuh lelaki tua bertubuh panjang itu.
Tubuh lelaki yang tidak sadarkan diri tersebut diterlentangkan. Maka terlihat jelaslah bahwa lelaki itu memang tua dengan rambut yang gondrong. Kakinya yang panjang menunjukkan bahwa dia orang tua yang tinggi.
Bug! Bug! Bug!
Magar Kepang langsung memukul dada lelaki tua itu sebanyak tiga kali seperti sedang memukul bedug.
“Minggiiir!” teriak Ayu Wicara yang sudah melayang di udara.
Mereka hanya terkejut melihat tindakan Ayu Wicara. Magar Kepang buru-buru menjauhi tubuh si orang tua.
Bdugk!
“Uhhuk uhhukk!” seiring tubuh Ayu Wicara menimpa tubuh kakek itu, tiba-tiba tubuh kurus itu tersentak karena terbatuk-batuk yang mengeluarkan air beberapa kali dari dalam tenggorokannya.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara melihat kejadian itu.
Drap drap drap …!
Tiba-tiba terdengar suara lari beberapa ekor kuda.
Kedatangan suara lari kuda yang mendekat, seketika membuat mereka terdiam dan menengok ke arah belakang pedati kuda.
“Ayu, cepat dorong kakek itu ke sini!” perintah Alma yang masih berada di air sungai.
Ayu Wicara cepat menggulingkan tubuh si kakek yang baru tersadar kembali jatuh ke air. Alma cepat menggunakan Benang Darah Dewa yang kemudian melilit kaki dan tangan si kakek. Tubuh si kakek yang masih lemas ditarik tenggelam ke dalam air.
Di saat itu, sebanyak empat ekor kuda yang datang berlari kencang, berhenti mendadak di dekat rombongan Alma.
Keempat kuda itu ditunggangi oleh empat orang wanita muda lagi cantik-cantik. Wanita tertua mungkin berusia tiga puluh lima tahun dan yang termuda usia dua puluh tahun. Model pakaian mereka bergaya pendekar. Mereka tidak membawa senjata sebagaimana yang biasa dibawa oleh para pendekar, tetapi pada bagian pinggang ada lilitan kain yang tebal.
“Para Kisanak, Nisanak!” sapa wanita tertua yang berpakaian merah tetapi berbalut kain putih pada pinggangnya. Ia bernama Bunga Dara, pimpinan dari kelompok itu. “Apakah kalian melihat tubuh kakek-kakek hanyut di sungai?”
“Kami tidak melihatnya. Sejak tadi kami berada di sini, tapi tidak melihat ada manusia hanyut, kecuali kayu atau kedebong pisang,” jawab Alma lancar.
“Kalian bisa lihat sendiri,” kata Magar Kepang pula.
“Ayo cepat, tubuhnya pasti sudah jauh terbawa arus!” seru Bunga Dara lalu cepat menggebah kudanya agar berlari kencang lebih dulu.
Ketiga wanita lainnya cepat pula menggebah kudanya. Tanpa kata mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
Seiring kepergian keempat wanita itu, Alma Fatara memunculkan kembali tubuh si kakek berpakaian cokelat ke permukaan air.
“Haaah! Haaah!” Kakek itu menghirup udara sebanyak-banyaknya, karena hampir saja dia berhenti bernapas. Lalu ia terbatuk, “Uhhuk uhhuk!”
__ADS_1
“Maafkan aku, Kek. Sebab keempat wanita itu mencarimu, aku khawatir jika mereka bermaksud buruk kepadamu,” ujar Alma kepada si kakek sambil tersenyum-senyum melihat nasib lelaki tua itu.
“Mereka memang mau membunuhku,” kata si kakek, lalu dengan gerakan lemah ia memanjat naik ke atas tanah. (RH)