A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Kamsil 7: Negeri Sembunyi


__ADS_3

*Kampung Siluman (Kamsil)*


 


“Kepala botaaak!” teriak marah Senopati Kerajaan Ringkik, yaitu Gulung Sedayu. Ia marah karena badan bukit batu yang merupakan jalan satu-satunya untuk mencapai benteng, kini terbakar oleh api. Bukan hanya badan bukit yang dibakar, tetapi juga belasan prajurit yang sedang berusaha naik ikut terbakar.


Pasukan yang mendaki naik terpaksa mundur lebih rendah, karena seiring minyak yang mengalir cepat ke bawah, apinya juga ikut mengejar.


Gulung Sedayu adalah seorang lelaki bertubuh kurus tetapi berotot keras. Meski kurus, tetapi pakaian perangnya yang terbuat dari bahan kulit tebal tetap pas dengan tubuhnya. Lelaki berusia lima puluhan tahun itu berbekal senjata panah. Ia berdiri di atas kereta perangnya yang punya payung.


“Gusti Senopati!” panggil seorang prajurit perwira sambil mendekati kereta kuda junjungannya.


“Ada apa, Rebangga?” tanya Gulung Sedayu.


“Di atas sana banyak minyak, kita serang dengan panah api!” usul Rebangga yang merupakan tangan kanan sang senopati.


“Kau benar, Rebangga,” kata Gulung Sedayu sepakat. Ia lalu memerintahkan kepada pasukan panahnya, “Pasang panah api!”


Maka para prajurit segera memasang kain-kain pada mata panah. Panah yang sudah diberi balutan kain, segera dicelupkan ke gentong berisi minyak. Barulah setelah itu kemudian dipasang di mesin panah.


Setelah semua anak panah berminyak dipasang di mesin panah, beberapa prajurit menyalakan obor lalu membakar ujung-ujung anak panah yang telah terpasang.


Melihat mesin-mesin panah siap menembakkan anak panah api dari bawah, terkejutlah Panglima Kampung dan Kepala Kampung Siluman yang ada di atas Benteng Bukit.


“Cepat hentikan aliran minyak! Lindungi gentong-gentong minyak dengan perisai!” teriak Panglima Kampung Kirak Sebaya sebelum pasukan panah Kerajaan Ringkik melepaskan panah-panah apinya.


Maka beberapa lelaki kampung itu segera memanjat sebuah tiang untuk menutup aliran minyak pada pipa bambu. Sejumlah lelaki segera bergerak bersama pergi ke dekat kumpulan gentong kayu yang berisi minyak. Mereka segera membentuk formasi dengan tubuh berada di belakang perisai yang disusun rapat.


“Tembakkan bola api jarak terjauh!” teriak Kirak Sebaya lagi.


“Atur jarak terjauh!” teriak komandan manjanik.


Tiga orang segera memutar tuas manjanik masing-masing, sehingga komponen gir besi berputar pelan dan menaikkan tiang pengatur jarak tembak sampai ke titik maksimal.


“Siap!” teriak lelaki pengatur jarak tembak.


Jleg!


Bola kayu besar segera diletakkan ke sendok pelontar.


Bress! Blep!


Bola kayu lalu disiram minyak dan dibakar. Pembakar bola kayu besar itu segera mengangkat tangan kanan sebagai tanda “siap”.

__ADS_1


“Tembaaak!” teriak komandan manjanik.


Dak dak dak!


Pemegang palu besar segera menghantamkan palunya ke pasak pengunci. Seiring lepasnya pasak pengunci, sendok raksasa terangkat lalu melempar bola api dengan kekuatan maksimal.


Ketiga bola api melesat jauh meninggalkan benteng bukit menyerang ribuan pasukan Kerajaan Ringkik pimpinan Senopati Gulung Sedayu.


Boam! Boam! Boam!


Satu bola api jatuh dan meledak di tanah kosong di kaki bukit. Satu lagi jatuh dan meledak di tengah-tengah pasukan yang sedang berbaris diam. Belasan prajurit terpental dalam kondisi terbakar tubuhnya.


Satu bola api lagi jatuh dan meledak tepat di barisan mesin panah, merusak dua mesin panah sekaligus membunuh prajurit operatornya.


“Tembaaak!” teriak komandan pasukan panah.


Set set set!


Mesin-mesin panah lainnya langsung melepaskan serangan panah api balasan. Hujan panah api melesat naik menuju ke atas benteng bukit.


“Serangan dataaang!” teriak Kirak Sebaya.


Maka seluruh orang di atas benteng bukit kembali bersiap dengan berlindung.


Tep tep tep!


Alma Fatara dan rekan-rekannya memilih berlindung di balik pagar benteng batu bersama Rempah Putih dan Kirak Sebaya.


Namun, sayang ….


Pleng! Bluar!


Satu anak panah berapi langsung masuk ke dalam gentong minyak yang ada di dekat salah satu alat manjanik. Gentong kayu tunggal itu langsung terbakar yang kemudian meledak, merusak alat manjanik dan mementalkan kelima operatornya dalam kondisi terluka bakar parah.


“Alat pelempar kita tersisa dua,” ucap Rempah Putih.


Sementara di bawah sana, seorang prajurit berkuda datang menghadap kepada Senopati Gulung Sedayu.


“Lapor, Gusti Senopati! Pasukan Komandan Gelegar sudah sampai di Lembah Kerang!” lapor prajurit itu setelah turun menghormat.


“Bagus!” desis Senopati Gulung Sedayu. Ia lalu berteriak kepada para komandan pasukannya, “Tarik mundur semua pasukan!”


“Munduuur!”

__ADS_1


“Munduuur!”


“Munduuur!”


Teriak para komandan pasukan Kerajaan Ringkik.


Maka, pasukan yang sudah mendaki sampai pinggang bukit segera bergerak turun. Mereka lega karena menurut mereka, mustahil naik sampai ke benteng bukit, terlebih tebing batu yang miring itu kini dilapisi lautan api.


“Kenapa mereka mundur?” tanya Kirak Sebaya kepada dirinya sendiri. Lalu teriaknya keras, “Hentikan serangan!”


Seketika suasana di atas benteng bukit hening. Mereka segera maju ke pagar batu untuk melihat pasukan musuh.


Mereka melihat semua pasukan musuh bergerak mundur, baik pasukan yang sudah maju maupun pasukan yang masih dalam barisan. Mesin-mesin panah juga ditarik mundur.


“Apakah mereka menyerah?” tanya Alma.


“Tidak. Mereka hanya mundur. Saat ini mereka kesulitan untuk menaklukkan benteng ini. Senopati Gulung Sedayu pasti sedang memikirkan siasat baru,” kata Kirak Sebaya.


“Lingkar Dalam, atur penjagaan untuk mengawasi pergerakan pasukan Ringkik!” perintah Rempah Putih kepada putranya.


“Baik, Ayah,” ucap Lingkar Dalam patuh.


“Ayo, kita kembali ke balai kampung untuk merundingkan siasat pertahanan yang lebih baik, terlebih sekarang ada Alma bersama kita!” ajak Kirak Sebaya.


Panglima Kampung dan Kepala Kampung lalu meninggalkan benteng bersama Alma Fatara dan rekan-rekannya. Sementara warga yang berjiwa prajurit-prajurit itu merapikan segala kekacauan yang telah terjadi di benteng. Mereka pun harus mendata kondisi terkini persenjataan dan perubahan kekuatan yang mereka miliki.


Korban-korban luka pun segera di bawah pulang.


Kaum wanita dan anak-anak segera mendapat kabar bahwa mereka sudah bisa keluar dari gua perlindungan, tapi untuk sementara.


Warna Mekararum dan Magar Kepang diikutkan dalam perbincangan di balai kampung. Istri Kirak Sebaya dan Rempah Putih turut hadir, termasuk putri Rempah Putih yang bernama Lilia Seharum.


“Alma, pertemuan kita di tempat Galuh Derama, bagi Kampung Siluman adalah suatu keberuntungan. Kami sudah lama menunggu pewaris Bola Hitam datang, setelah kami mendengar berita duka tentang kematian Raja Tanpa Tahta. Kehadiranmu di sini sangat bertepatan dengan kedatangan serangan dari Kerajaan Ringkik. Raja Tanpa Tahta semasa hidupnya pernah dua kali membantu kami mengalahkan pasukan Kerajaan Ringkik. Dia menggunakan Bola Hitam sebagai senjata andalannya,” tutur Kirak Sebaya setelah mereka duduk berkumpul di balai kampung.


“Kenapa Kakek Kirak tidak meminta, tapi justru menjebak kami masuk ke kampung ini?” tanya Alma Fatara.


“Kalian sedang terburu-buru menuju Gunung Alasan. Aku khawatir kalian tidak bersedia mampir ke Kampung Siluman, apalagi ini urusan perang,” kilah Kirak Sebaya. “Ini memang salahku. Namun, karena melihat kebaikanmu saat di pedagang kelapa, aku berkeyakinan kau tidak akan marah.”


“Hahaha!” tawa Alma akhirnya meledak setelah sekian waktu tegang saat menghadapi perang yang juga perdana baginya, sama seperti yang dialami oleh ketiga rekannya. Lalu katanya, “Aku tidak marah, Kek. Aku hanya ingin tahu alasannya, karena kami tidak tahu-menahu tentang perkara Kampung Siluman, apalagi perkara peperangan.”


“Aku tidak pernah mendangar ada kerajaan bernama Ringkik di Tanah Jawi ini,” kata Warna Mekararum yang sekaligus adalah pertanyaan. Sebagai seorang ratu, tentunya ia tahu kerajaan apa saja yang ada di Tanah Jawi itu.


“Ini adalah Negeri Sembunyi. Negeri manusia yang berada di balik negeri manusia. Kami adalah manusia yang sama dengan manusia di Tanah Jawi, tetapi tanpa di ketahui oleh orang banyak, ada negeri lain di balik alam kalian. Negeri yang memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan kehidupan di negeri Tanah Jawi. Aku umpamakan, jika kehidupan kalian ada di atas lantai ini, maka Kampung Siluman, Kerajaan Ringkik dan alamnya, ada di balik lantai ini. Raja Tanpa Tahta adalah salah satu orang yang tahu tentang keberadaan Negeri Sembunyi,” jelas Kirak Sebaya.

__ADS_1


“Maksudmu, antara Tanah Jawi yang kami tinggali dengan Negeri Sembuyi adalah dua alam yang berbeda, tetapi bertetangga dan sama-sama alam manusia, bukan alam bangsa jin?” terka Warna Mekararum.


“Benar,” jawab Kirak Sebaya. (RH)


__ADS_2