
*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*
Sanggar Aga alias Pengelana Kepeng telah mencabut pedang bergagang putihnya. Bagi Genggam Sekam pun, tidak ada senjata lain selain tongkat besinya.
Kedua pemuda tampan itu saling berhadapan dan melangkah berputar, seolah sedang mengelilingi sebuah lingkaran.
“Pertarungan ini akan membuatmu menyesal karena telah merebut mantan kekasihku. Apa yang kau dapat tidak lebih dari bekas orang lain!” desis Sanggar Aga.
“Jika sudah menjadi bekas yang tidak terpakai, jangan berlagak seolah kau masih pantas!” balas Genggam Sekam tidak mau kalah di-bully.
“Kau akan menyesal berurusan denganku, Tongkat Berat!” teriak Sanggar Aga.
“Aku tidak akan pernah menyesal untuk menggebuk seorang budak kepeng!” balas Genggam Sekam.
“Keparat! Mati adalah hal yang pantas bagimu! Heaat!” teriak Sanggar Aga benar-benar tersinggung di sebut “budak”.
Ia berlari maju dengan pedang yang langsung ditebas-tebaskan.
Ting ting ting …!
Dengan sengit Genggam Sekam menangkis semua tebasan pedang menggunakan tongkat besinya. Ia pun tidak tinggal terima, serangan balasan pun ia lakukan. Sanggar Aga juga menangkis dengan pedangnya.
Melihat Sanggar Aga bisa mengimbanginya, Genggam Sekam meningkatkan permainan tongkatnya yang mengandalkan kekuatan.
Ting ting ting …!
Ketika Sanggar Aga menangkis tongkat Genggam Sekam dengan pedangnya, pedangnya itu selalu ingin terpental lepas dari pegangan. Kondisi itu membuat Sanggar Aga cukup terdesak.
Wuuut! Tang!
Pada satu ketika, tongkat besi Genggam Sekam mengapak dari atas ke bawah. Sanggar Aga yang kewalahan, hanya sempat menangkis dengan memalangkan bilah pedangnya. Begitu kuatnya daya pukul tongkat, membuat pedang Sanggar Aga lepas dari genggaman dan terbanting ke tanah.
Setelah itu, Sanggar Aga buru-buru menyambar kembali pedangnya dengan melompat berguling. Genggamannya pada gagang pedang terlihat gemetar.
Genggam Sekam terus memburu dengan serangan tongkatnya yang ganas, tetapi Sanggar Aga memilih terus menghindar menjauh, sebab kekuatan tangannya belum pulih.
“Apa yang kau lakukan, Budak Kepeng?!” teriak Genggam Sekam.
“Kau jangan besar kepala dulu, sebentar lagi aku akan mencabik-cabik tubuhmu!” balas Sanggar Aga.
Setelah itu, Sanggar Aga melompat mundur lebih menjauh.
Srek! Bress!
Sanggar Aga menancapkan pedangnya setengah badan ke dalam tanah. Pedang itu langsung bersinar kuning secara keseluruhan. Setelah itu, Sanggar Aga mengambil pedangnya dengan dua tangan. Ternyata, pedang bersinar kuning itu menjadi dua.
__ADS_1
Sanggar Aga kini siap bertarung dengan dua pedang. Hal itu membuat Genggam Sekam juga harus menaikkan level senjatanya.
Genggam Sekam lalu berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh. Ia meluruskan kedua tangannya ke depan dengan menggenggam bagian tengah tongkatnya. Kemudian kedua tangan itu ditarik saling menjauh, mengusap batang tongkat dari tengah ke arah kedua ujung. Bagian tongkat yang sudah diusap berubah bersinar biru seperti lampu neon.
“Hiaaat!” teriak kedua pemuda tampan itu bersamaan sambil saling maju memukulkan senjatanya.
Ctar ctar ctar …!
Sebanyak sepuluh kali peraduan antara dua pedang sinar kuning dan tongkat sinar biru terjadi. Suaranya bukan lagi tang ting tung, tetapi sudah berupa suara ledakan-ledakan nyaring.
Setelah sepuluh kali peraduan terjadi, keduanya saling mundur mengambil jarak. Hasilnya, kedua tangan kekar Sanggar Aga menjadi gemetar, bahkan kuda-kudanya ikut gemetar. Kekuatan tongkat besi Genggam Sekam begitu tinggi, cukup jauh di atas level kekuatan pedang Sanggar Aga.
“Apakah hanya sebatas itu kesaktianmu, Budak Kepeng?” tanya Genggam Sekam bermaksud memanasi hati lawannya tanpa mau menertawakannya. “Kita lihat, apakah kau masih mampu menahan kekuatan tongkatku! Heaaat!”
Genggam Sekam melanjutkan agresinya dengan satu lompatan di mana tongkatnya dikapakkan dari atas ke bawah, tepatnya ke arah kepala Sanggar Aga. Begitu deras tongkat itu datang. Gerakan tebasnya sampai meninggalkan ekor sinar biru di udara.
Bzersst!
Buru-buru Sanggar Aga melompat berguling ke samping kanan, membuat tongkat besi Genggam Sekam menghantam tanah kosong, menciptakan garis membelah yang panjang ke depan dan dalam ke bawah.
Genggam Sekam tidak mau memberi waktu jeda. Ia melanjutkan serangannya dengan melesatkan sinar hijau dari tangan kirinya.
Sess! Blaar!
Sinar hijau Genggam Sekam hanya menghancurkan tanah kosong.
Genggam Sekam terus memburu Sanggar Aga. Namun, Sanggar Aga tidak bisa juga bersikap seperti ayam betina yang dikejar-kejar ayam jago untuk kawin. Ia harus sesekali meladeni agresi tongkat Genggam Sekam dengan pedangnya.
Ting ting ting!
Risikonya, lagi-lagi Sanggar Aga kalah tenaga.
“Heaaah!” teriak keras Genggam Sekam pada satu ketika, saat melihat kondisi Sanggar Aga semakin lemah. Ia membabatkan tongkatnya dengan tenaga tinggi.
Zress!
Sanggar Aga yang memang sadar bahwa ia telah kalah tenaga, terpaksa menangkis tidak menggunakan pedangnya, tetapi dengan satu kesaktiannya.
Dengan modal tenaga dalam yang berantakan, Sanggar Aga meledakkan satu sinar merah di tangan kirinya, sambil menahan datangnya tongkat demi menyelamatkan dadanya dari kehancuran.
“Akkh!” jerit Sanggar Aga dengan tubuh yang terpental jauh.
Bruks!
Tubuh Sanggar Aga jatuh keras dan berguling-guling.
__ADS_1
“Hoekh!”
Ketika tubuh Sanggar Aga berhenti terlempar, ia muntah darah kental.
“Benar-benar sial monyet! Tidak aku sangka kesaktian tongkat besi itu begitu tinggi,” batin Sanggar Aga sambil cepat melempar pandangannya kepada Genggam Sekam.
Seeet! Zuk!
“Aaakk!”
Namun, lagi-lagi Sanggar Aga hanya terkejut. Tahu-tahu tongkat besi bersinar biru telah melesat secepat kilat. Sanggar Aga yang berusaha mengelak, akhirnya menjerit tinggi karena tongkat besi Genggam Sekam menancap membolongi paha kanannya. Tongkat besi itu sampai menancap masuk ke tanah hingga sepertiga panjang tongkat.
Jeritan Sanggar Aga yang kencang menarik perhatian Sumirah, sang mantan kekasih. Wanita berjuluk Pendekar Buaya Cantik itu terkejut di dalam pertarungannya saat melihat kondisi Sanggar Aga.
“Kakang Genggam! Jangan bunuh dia!” teriak Sumirah kencang sambil berkelit menghindari serangan Pendekar Macan Putih.
Genggam Sekam yang sudah berniat mengeksekusi Sanggar Aga, terpaksa menghentikan gerakannya. Akhirnya dia hanya berjalan menghampiri lawannya yang ternyata tidak sulit untuk dikalahkan.
“Nasibmu sangat mengenaskan, Budak Kepeng!” desis Genggam Sekam sambil memegang ujung tongkatnya yang menancap membolongi paha Anggar Saga.
Sanggar Aga sudah tidak peduli lagi disebut “Budak Kepang”, sebab ia sangat kesakitan.
Sret!
“Aaakk!” jerit keras Sanggar Aga ketika tongkat itu sedikit diputar oleh Genggam Sekam.
Sreeet!
“Aaakk!” jerit panjang Sanggar Aga ketika Genggam Sekam mencabut perlahan tongkatnya dari tanah, yang juga sekaligus menggesek daging pahanya yang bolong besar.
Namun, sebelum tongkat besi itu lepas secara keseluruhan, tiba-tiba Sanggar Aga melakukan tindakan berbahaya.
“Hiaaat!” Sanggar Aga yang tidak tahan menahan rasa sakit, berteriak sambil mengerahkan kekuatan tenaga saktinya yang tersisa melalui dua tinju yang bersinar hijau berpijar.
Tindakan tiba-tiba Sanggar Aga mengejutkan Genggam Sekam yang cepat menjadikan tongkatnya sebagai perisai guna menahan tinju.
Zbarr!
“Hugk!” keluh Genggam Sekam.
Ternyata serangan berisiko yang dilakukan Sanggar Aga bisa membuat Genggam Sekam terdorong keras dan terjengkang. Genggam Sekam cepat bangkit sambil mengerenyit dan memegangi dadanya yang terasa sesak dan panas.
Genggam Sekam segera mengatur sejenak pernapasannya. Ia siap melesatkan sinar hijau dari telapak tangan kirinya. Namun, dilihatnya Sanggar Aga sudah tergeletak tanpa gerakan maupun rintihan kesakitan.
“Dia membunuh dirinya sendiri,” gumam Genggam Sekam sambil mengendorkan ketegangannya. (RH)
__ADS_1