A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 8: Perguruan Jari Hitam


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


Gibas Madar berlari-lari kecil memasuki Perguruan Jari Hitam. Di halaman luas perguruan terlihat ada dua kelompok orang yang sedang berlatih untuk kelas terakhir pada siang tersebut.


Kelompok pertama adalah lima belas orang muda, lelaki dan wanita, sedang berlatih menusuk-nusukkan kesepuluh jari cakarnya pada tiang-tiang bambu besar yang berbalut tali tambang. Di area itu ada puluhan tiang bambu setinggi kepala yang semuanya dibalut lilitan tali.


Kelompok kedua adalah dua puluh anak remaja belia, lelaki dan perempuan, yang sedang berlatih gerakan-gerakan dasar ilmu beladiri Jari Hitam.


Kedua kelompok murid itu dipimpin latih oleh dua orang murid utama Perguruan Jari Hitam. Orang yang melatih kelompok remaja adalah seorang wanita muda lagi cantik berpakaian putih. Rambutnya dikepang tiga. Terlihat ia memiliki sepuluh jari tangan warna hitam semua, sama dengan lelaki kakak seperguruanya yang melatih kelompok dewasa.


Sementara itu, di antara mereka yang berlatih, tidak ada satu pun yang memiliki jari tangan berwarna hitam. Itu artinya mereka belum sampai pada Kelas Jari Hitam, tingkatan murid tertinggi kedua. Kelas yang paling tinggi adalah Kelas Jari Emas Hitam.


Perguruan ini hanya memiliki tiga murid yang sudah mencapai Kelas Jari Emas Hitam, tapi semuanya tidak sedang berada di perguruan tersebut. Seorang kini berada di Istana Singayam sebagai seorang pejabat, sementara dua lainnya sedang berkelana memperdalam kesaktian di dunia luas.


Gibas Madar berlari menuju ke menara bambu yang ada di sudut halaman perguruan yang luas. Kedua murid utama yang sedang melatih hanya memandangi Gibas Madar sebentar. Jika murid yang satu itu datang sambil berlari menuju ke menara, pasti ia membawa kabar untuk sang guru.


Guru sekaligus Ketua Perguruan Jari Hitam yang bernama Rereng Busa memang memiliki ruang kerja di atas menara bambu. Di atas menara bambu yang lebih tinggi daripada pohon kelapa dewasa tersebut, ada sebuah ruang seperti pos siskamling. Di sanalah Rereng Busa mengeram sambil memerhatikan murid-muridnya berlatih dari atas. Posisinya yang tinggi membuatnya bisa melihat hingga ke area luar pagar perguruan.


Rereng Busa adalah seorang lelaki kurus, tetapi usia tujuh puluh tahunnya belum membuat rambut dan jenggotnya semua berwarna putih, baru sebagian saja. Ia mengenakan baju putih. Guna menutupi kekurusannya, ia pun mengenakan jubah warna biru gelap. Lelaki berhidung pendek tanpa kumis itu memiliki sepuluh jari yang seperti logam karena hitam mengilap seperti besi hitam. Seperti itulah bentuk jari tangan orang yang sudah mengusai ilmu Jari Emas Hitam.


“Guru!” panggil Gibas Madar sambil memanjati tangga bambu menara.


Rereng Busa tidak menyahut, meski ia mendengar dan tadi melihat kedatangan muridnya itu.


“Guru! Guru!” panggil Gibas Madar sambil menongolkan kepalanya dari bawah di depan gurunya. Ia tersenyum kuda.


“Ada apa, Gibas?” tanya Rereng Busa datar, tanpa ekspresi.


Gibas Madar memilih naik lebih dulu dan duduk bersila di depan gurunya setelah menjura hormat.


“Ada salam kenal, Guru,” jawab Gibas Madar.


“Seperti anak muda saja pakai titip salam kenal,” komentar Rereng Busa.


“Hehehe! Dari gadis cantik jelita,” kata Gibas Madar. “Namanya Alma Fatara.”


“Siapa dia?” tanya Rereng Busa masih datar.


“Orang yang menolong nyawaku, Guru,” jawab Gibas Madar dengan wajah sangat serius.


Perkataan Gibas Madar itu barulah membuat Rereng Busa sedikit kerutkan kening tuanya.


“Kau kenapa sampai nyawamu terancam?” tanya sang guru.


“Aku digantung oleh Nyi Bungkir di pohon, tetapi Alma dan teman-temannya menolongku,” jawab Gibas Madar.


“Kenapa kau digantung?”


“Aku dituduh menculik Gelis Sibening, gara-gara ada yang melihatku tadi malam lewat di depan rumah Demang,” jawab Gibas Madar.


“Mengapa mereka tidak bertanya kepada Dendeng Pamungkas? Sejak kemarin siang anak itu tidak pulang ke perguruan. Sejak jatuh cinta kepada putri Demang itu, kelakuannya berubah dan tidak mentaati aturan perguruan,” kata Rereng Busa.

__ADS_1


“Jadi, bagaimana dengan salamnya, Guru?” tanya Gibas Madar kembali kepada topik awal.


“Untukmu saja.”


“Hehehe! Terima kasih, Guru,” ucap Gibas Madar riang.


“Dengan siapa Giling Saga datang?” tanya Rereng Busa pelan sambil memandang jauh ke luar pagar perguruan.


Pertanyaan gurunya itu membuat Gibas Madar menengok jauh ke belakang.


Mereka melihat rombongan dua kereta kuda, tepatnya satu kereta kuda dan satu pedati kuda, datang menuju gerbang perguruan yang berbentuk gapura. Ada lima kuda lain yang mengiringi dua kendaraan beroda kayu itu. Tiga kuda milik rombongan Alma Fatara dan dua kuda milik anak buah Demang Baremowo yang sudah tewas.


Lari kuda-kuda terlihat cepat, terkesan tergesa-gesa.


“Terjadi sesuatu,” ucap Rereng Busa tanpa mengalihkan pandangannya dari kedatangan murid-muridnya.


“Itu, Guru! Itu Alma Fatara!” kata Gibas Madar sumringah sambil menunjuk ke arah jauh.


Gibas Madar buru-buru bergerak turun lewat tangga bambu. Sementara Rereng Busa memilih turun lewat udara. Ia turun seperti batu jatuh ke dalam air. Turun lurus tapi pelan. Ketika mendarat di tanah, debu yang tergerak hanya sedikit. Sementara Gibas Madar baru sampai di tengah tangga menara.


Penjaga gerbang perguruan membukakan pintu lebar-lebar untuk rombongan tersebut.


Rereng Busa memilih menunggu di depan pendapa perguruan.


Kedatangan rombongan itu menjadi perhatian para murid yang sedang berlatih, tetapi tidak menghentikan atau mengganggu latihan mereka. Setibanya rombongan di depan pendapa, Giling Saga segera turun dari kuda tunggangannya dan menghadap kepada gurunya. Ia menghormat.


“Guru, kami membawa Demang Baremowo yang terluka parah. Demang diserang di jalan oleh orang-orang tidak dikenal,” lapor Giling Saga.


“Cepat bawa kepada Ki Sagu Gelegak!” perintah Rereng Busa.


Dua orang segera menggotong tubuh Demang Baremowo.


“Almaaa! Hahaha!” pekik Gibas Madar sambil berlari menghampiri Alma Fatara yang baru turun dari pedati kuda.


“Eeeh! Hahahak!” teriak Alma girang juga sambil menunjuk Gibas Madar ketika mengingat wajahnya. Lalu katanya saat tawanya mereda, “Aku lupa namamu!”


“Hahaha!” tawa serentak Magar Kepang dan rekan-rekannya.


Gibas Madar jadi tersenyum kecut karena Alma melupakan namanya.


“Ah, aku ingat, Gibas Modar!” kata Alma.


“Hahahak!” tawa Alma and The Gang semakin ramai.


Rereng Busa, Giling Saga dan para murid senior perguruan itu hanya memandangi keseruan yang tercipta antara Gibas Madar dan Alma CS.


“Bukan Gibas Modar, tapi Gibas Madar!” ralat Gibas Madar meluruskan ingatan Alma yang tersesat.


“Hahahak!” Kali ini hanya Alma yang tertawa keras, sementara yang lain tinggal tersenyum saja. “Aku pikir kau akan gantung diri lagi setelah kami pergi.”


“Hahaha! Mana mungkin aku berani,” kata Gibas Madar seraya tertawa malu.

__ADS_1


Sambil tertawa kecil, Alma berjalan pergi menemui Rereng Busa yang bersikap dingin, menjaga wibawanya. Barulah di depan sang guru besar perguruan itu Alma menahan tawanya.


“Hormatku, Kek!” ucap Alma sambil menghormat ala pendekar.


“Jadi kau yang bernama Alma Fatara, gadis yang menitip salam kenal kepadaku,” kata Rereng Busa.


“Wah, Gibas Madar memang bisa dipercaya. Dititipi salam saja ia benar-benar menyampaikan kepadamu, Kek. Berarti kau adalah Ketua Perguruan Jari Hitam,” kata Alma.


“Benar,” jawab Rereng Busa.


Alma Fatara lalu berteriak kepada rekan-rekannya.


“Hei, Paman! Kang Debur! Kang Garam! Kang Ayu! Eh, kok Kang Ayu. Ayu Cantik!” teriak Alma memanggil satu per satu rekannya. “Sini hormat kepada Kakek Ketua Perguruan! Kapan lagi kalian bisa bertemu dengan orang sakti!”


Empat nama orang yang dipanggil oleh Alma buru-buru datang meninggalkan kuda-kuda mereka.


“Hormatku, Ketua!” ucap Magar Kepang lebih dulu, sebagai orang tertua di antara mereka. Ia senyum-senyum, senang sekali bertemu dengan orang sakti. Ia lalu memperkenalkan diri, “Aku Magar Kepang, orang terkaya di tiga desa yang ada di Pantai Parasemiris.”


“Hemm!” gumam Rereng Busa.


“Aku Debur Angkara, Ketua. Aku pengawal Alma Fatara. Hehehe!” kata Debur Angkara lalu terkekeh malu-malu ikan.


“Aku Garam Sakti, Ketua. Aku juga pengawal Alma Fatara,” ujar Garam Sakti lebih kalem.


“Aku Ayu Wicara, Ketiak!” kata Ayu Wicara mantap.


Mendelik terkejut Rereng Busa disebut “Ketiak”.


“Hahahak …!”


Hanya Alma seorang yang berani tertawa terbahak-bahak seperti bapak-bapak. Sementara yang lain hanya bisa menahan tawa, termasuk Giling Saga dan murid senior yang lain.


“Hei, Amal! Kenapa kau tertawan sendiri seperti orang kesurupan?” hardik Ayu Wicara heran kepada wanita sakti rekan barunya itu.


“Hahaha …!” Tambah tertawa Alma karena Ayu lagi-lagi memanggilnya “Amal”, sampai-sampai dia terbungkuk memegangi perutnya.


Rereng Busa dan orang-orang Perguruan Jari Hitam yang belum begitu mengenal Alma, hanya bisa terheran memandangi gadis cantik itu.


“Maafkan aku, Ketua. Bukannya aku tidak menghormatimu, tetapi aku memang gampang tertawa. Apalagi sejak Ayu Wicara bergabung bersamaku. Dia suka berbicara salah kata, jadi harap maklum jika dia menyebutmu dengan kurang sopan,” tutur Alma setelah tawanya mereda.


“Hemm!” Lagi-lagi Rereng Busa menggumam.


“Sebelum diputuskan dibawa ke perguruan ini, Demang Baremowo berada di bawah tanggung jawabku, Kek. Jadi kami terpaksa ikut ke sini untuk memastikan keselamatannya,” ujar Alma.


“Kalian beristirahatlah sejenak di perguruan ini hingga kondisi Demang Baremowo bisa meninggalkan perguruan ini!” kata Rereng Busa.


“Terima kasih, Kek,” ucap Alma.


“Giling Saga!” panggil Rereng Busa.


“Iya, Guru?” sahut Giling Saga.

__ADS_1


“Perintahkan murid-murid untuk mencari Dendeng Pamungkas, sebab Gelis Sibening diculik seseorang. Aku khawatir anak itu yang melakukannya!” perintah Rereng Busa.


“Baik, Guru.” (RH)


__ADS_2