
*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*
Pagi harinya, Genggam Sekam dan Sumirah kembali datang ke kediaman Kucing Sungai. Ternyata pesanan tusuk rambut dari emas sudah jadi.
Tusuk rambut emas itu sedikit pun tidak memiliki unsur lain selain emas. Hanya yang membuatnya menarik dan mahal adalah jenis pola ukirannya yang indah dan termasuk gaya ukir yang sulit. Hanya orang berkeahlian khusus yang bisa membuatnya.
Bagi Kucing Sungai, membuat benda seperti itu seharusnya membutuhkan waktu selama satu pekan. Namun, ia masih memiliki beberapa tusuk rambut serupa sisa dari pesanan Ratu Warna Mekararum beberapa tahun yang lalu. Jadi, tidak perlu buat lagi, cukup dipoles menjadi baru lagi.
Selesainya urusan di Desa Ukirat, Genggam Sekam harus pergi ke wilayah Kerajaan Jintamani, tepatnya ke Kadipaten Pagamuyung. Untuk sampai di sana, mungkin akan memakan waktu selama tiga hari perjalanan berkuda cepat.
“Apakah kau yakin akan ikut denganku, Sumirah?” tanya Genggam Sekam sebelum ia melanjutkan perjalanan.
Mereka berdua sudah sama-sama duduk di atas punggung kudanya masing-masing.
“Tentu saja, Kakang. Anggaplah aku sudah menjadi kekasihmu yang akan mengikutimu ke mana pun kau akan pergi,” jawab Sumirah seraya tersenyum.
“Baiklah,” ucap Genggam Sekam setelah mengembuskan napas masygul. “Hea hea!”
Genggam Sekam lalu menggebah kudanya untuk langsung berlari kencang. Sumirah hanya tersenyum lalu cepat menyusul dan berlari di sisi kuda Genggam Sekam. Ia tidak mau peduli dengan rasa berat hati pemuda tampan yang pernah ditolak oleh Alma Fatara itu.
Dalam perjalanan, Sumirah tidak henti-hentinya menggoda Genggam Sekam dengan candaan-candaan verbal. Genggam Sekam pun bukan lelaki yang kejam terhadap wanita, sikap dinginnya karena kesal diikuti terus oleh gadis tersebut, lama-lama sirna. Justru ia larut dalam candaan si gadis.
Dalam perjalanan siang, mereka harus berhenti sekali untuk istirahat berupa makan dan minum. Kuda mereka juga butuh istirahat dan merumput. Jika kebetulan mereka istirahat siang di sebuah desa, mereka memanggil jasa pijat kuda agar kuda mereka tidak begitu kelelahan. Adapun untuk malam hari, mereka harus berhenti dan bermalam di mana saja, tergantung tempat yang mereka capai.
Pada hari kedua perjalanan menuju Kadipaten Pagamuyung, mereka beristirahat di sebuah hutan kecil yang mereka lewati. Mereka memilih istirahat dengan membakar ubi liar.
Begitu asik dan nikmat rasanya mereka santap siang, meski hanya dengan ubi bakar dan air bambu.
“Kakang, sebenarnya masalah apa yang dihadapi oleh Kerajaan Jintamani sehingga Kakang mau melakukan tugas ini? Padahal Kakang adalah seorang pendekar,” tanya Sumirah pada akhirnya, setelah ia tidak mau begitu ambil peduli perkara yang diemban oleh Genggam Sekam. Sebelumnya dia berpikir, yang penting dia bisa bersama pemuda itu.
“Raja Kerajaan Jintamani terancam digulingkan dan akan diganti dengan kerajaan yang baru oleh Senopati Gending Suro. Namun, itu belum akan dilakukan sebelum Senopati tahu di mana letak harta kerajaan disimpan. Orang yang tahu harta Kerajaan Jintamani hanya Ratu Warna Mekararum yang saat ini sedang berobat karena disiksa dan diracuni oleh Senopati. Jadi, Senopati kemungkinan akan menggunakan pasukan tiga kadipaten untuk menyerang kami dan menangkap Gusti Ratu ….”
“Lalu apa hubungannya dengan tusuk rambut emas itu?” tanya Sumirah memotong.
“Untuk membujuk para adipati agar tidak mengerahkan pasukan kadipaten dan mau percaya tentang kejahatan Senopati Gending Suro. Tusuk rambut ini sebagai bukti bahwa aku adalah utusan Ratu Warna Mekararum.”
__ADS_1
“Oooh.”
“Sebelumnya Adipati Girik Songko dari Kadipaten Pagamuyung sudah datang bersama pasukannya ke Rawa Kabut, tetapi ia dihancurkan oleh sahabatku.”
“Siapa?”
“Namanya Alma Fatara, masih sangat muda dan sangat cantik,” jawab Genggam Sekam. Ketika mendeskripsikan Alma Fatara, Genggak Sekam tersenyum bahagia.
Melihat hal itu, Sumirah menarik kedua sudut bibirnya.
“Kau pasti jatuh cinta kepadanya!” tukas Sumirah.
“Iya, tapi dia menolakku. Dia justru menunjukkan gadis desa cantik agar aku menjadi kekasihnya.”
“Kakang, antarkan aku ke sungai, yuk!” ajak Sumirah tiba-tiba mengalihkan tema obrolan.
“Kenapa tidak berani sendiri? Bukankah kau seorang pendekar?”
“Ayolah! Aku tidak suka melamun jika di sungai!” kilah Sumirah.
Mereka berdua lalu beranjak dari tempatnya dan pergi menuju sungai yang sebelumnya sudah mereka ketahui keberadaannya. Sementara kedua kuda mereka tinggalkan tertambat.
Setibanya di pinggir sungai, Sumirah bergerak turun ke dekat air yang tidak begitu dalam. Air sungai itu jernih. Sementara Genggam Sekam berdiri di tanah, tidak ikut turun.
Sebelum turun ke air, tanpa aba-aba lebih dulu kepada Genggam Sekam, Sumirah langsung melorotkan celananya secara full, sehingga paha dan bokong mulusnya terbuka bebas.
Alangkah terkejutnya Genggam Sekam melihat tindakan nekat gadis itu. Jantungnya sampai terhentak di dalam dada. Ia sontak balik badan dan wajah.
“Sumirah! Apa yang kau lakukan?” teriak Genggam Sekam, tapi nadanya ditekan. “Kenapa kau tidak buka di balik batu?”
“Hihihi! Kita sama-sama orang dewasa, tidak perlu malu,” jawab Sumirah enteng.
Dia lalu mulai memasukkan kakinya ke air dan berjalan agak ke tengah, lalu berjongkok dengan menyingkapkan ujung bajunya agar tidak basah. Sumirah melakukannya di titik terbuka, padahal di sungai itu ada beberapa bongkahan batu yang bisa digunakan untuk berlindung.
“Jangan pergi, Kakang!” pesan Sumirah selagi ia dalam proses buang hajat.
__ADS_1
“Iya,” sahut Genggam Sekam lemah.
Melihat pemandangan megejutkan tapi indah seperti tadi, membuat alam pikir Genggam Sekam dilanda badai. Pikirannya jadi tidak tenang. Sungguh ia tidak menyangka bahwa Sumirah adalah wanita senekat itu.
“Bagaimana jika ada lelaki lain di tempat ini?” tanya Genggam Sekam, tapi hanya di dalam hati.
“Aaak!” jerit Sumirah tiba-tiba.
Cprak!
Terkejut Genggam Sekam dan otomatis menengok, langsung memandang ke posisi Sumirah tadi berjongkok di air. Namun, Genggam Sekam tidak melihat keberadaan Sumirah. Ia hanya melihat di tengah sungai ada gerakan air terlompat dan beriak, seperti usai dimasuki sesuatu yang besar. Ia memang tadi mendengar suara tubuh yang jatuh masuk ke air. Sementara celana Sumirah tetap berada di pinggir sungai di sisi bawah.
“Sumirah!” panggil Genggam Sekam panik.
Pikirannya yang langsung menduga bahwa ada sesuatu yang memaksa Sumirah masuk ke tengah sungai, membuat Genggam Sekap cepat berkelebat ke tengah sungai.
Jburr!
Di dalam sungai, Genggam Sekam berusaha mencari dalam keterbatasan pandangan.
Namun, tiba-tiba sosok tanpa pakaian muncul dari arah bawah Genggam Sekam. Pemuda yang sedang menyelam itu hanya bisa mendelik, ketika wajah yang dikenalnya itu datang kepada wajahnya, langsung mengecupnya di dalam air dan tubuhnya dipeluk erat dengan rabaan ke daerah kelelakian.
Sosok tanpa pakaian di dalam air itu tidak lain adalah Sumirah.
Serangan tiba-tiba Sumirah membuat Genggam Sekam sulit untuk menolak, karena hasrat kelelakiannya dengan cepat bergelora dan juga menuntut.
Ketika keduanya naik ke permukaan untuk mengambil napas, terlihat jelas tubuh polos Sumirah yang begitu indah. Gadis itu hanya tertawa. Mau tidak mau Genggam Sekam juga tertawa lirih.
Sumirah kembali menarik Genggam Sekam menyelam ke dalam air. Ia berada di atas angin dan menguasai Genggam Sekam yang juga sudah lupa dengan kesetiaan cinta.
Set! Tebs!
Genggam Sekam melesatkan tongkat besinya ke pinggir yang kemudian menancap dalam di batang pohon. Itu bertujuan agar dia lebih leluasa. Ia benar-benar tidak bisa menolak godaan dan ajakan Sumirah.
Setelah tongkat yang dilempar ke pinggir, giliran pakaian Genggam Sekam yang dilempar oleh Sumirah. Gadis itu benar-benar melucuti Genggam Sekam.
__ADS_1
Kedua muda dan mudi itu benar-benar terbakar api gairah di dalam sungai hutan. Beruntung tidak ada manusia dan setan yang menyaksikan perbuatan mereka. (RH)