
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Setelah mengungkapkan cara aman bagi Ninda Serumi agar bisa lepas dari posisi hadiah pertandingan, Alma Fatara dan Magar Kepang pergi menyusuri pinggir sungai. Sementara Ninda Serumi memilih akan pulang sendiri ke penginapan.
Ninda Serumi akhirnya ditemukan oleh Pangeran Derajat Jiwa dan pengawalnya yang saat itu memang mencarinya. Ninda Serumi hanya berdalih bahwa dia hanya ingin berjalan-jalan.
“Kenapa harus lewat jendela?” tanya Pangeran Derajat Jiwa.
“Hamba pikir, jika hamba keluar lewat pintu, hamba akan dilarang keluar,” kilah Ninda Serumi.
Sementara itu, Alma Fatara dan Magar Kepang akhirnya sampai di alun-alun pinggir sungai, tempat acara pertandingan besok digelar.
Di tempat yang dijaga oleh banyak prajurit itu, sudah dibangun sebuah panggung papan berhias kerajinan-kerajinan janur yang beragam. Ada pula panji merah bergambar sesuatu, yang merupakan lambang Kadipaten Balongan. Umbul-umbul dengan kain benderanya yang warna-warni marak ditancapkan di sekeliling alun-alun.
Terlihat pula ada dua gawang panjang yang saling berseberangan dalam jarak kira-kira dua puluh meter. Setiap gawang terbuat dari dua lapis batang bambu dengan beberapa tiang kaki. Panjangnya bisa mencapai sepuluh meter.
“Hei! Mau apa kalian? Ini daerah terlarang sebelum hari pertandingan!” hardik seorang prajurit yang mendatangi kedua turis domestik tersebut.
“Mau lihat-lihat, Paman!” jawab Alma Fatara sambil berjalan hendak melewati prajurit itu.
“Eh eh eh! Sudah dibilang daerah terlarang, masih juga bandel!” kata si prajurit sambil menghadang langkah Alma dengan bentangan pedangnya yang masih bersarung.
Alma terpaksa menahan langkahnya, daripada pedang itu menyentuh area depannya yang membusung gagah.
“Sebentar saja, Paman. Lihat, itu adalah tempat yang indah!” kata Alma memohon sambil ia menunjuk ke belakang si prajurit.
“Aaah! Jangan membodohiku. Jika aku berpaling, kau pasti berlari masuk!” tukas si prajurit.
Tus!
“Aw!” pekik si prajurit tiba-tiba sambil bawah perutnya refleks menyentak maju dan tangan sontak memegangi bokong kirinya. Itu terjadi karena si prajurit merasakan bokongnya seperti ditusuk jarum.
“Eit! Kenapa, Paman?” tanya Alma sambil pura-pura terkejut dan melompat kecil ke belakang, seperti lompatan anak kambing usia balibul (bayi bawah lima bulan). Sebab ia yang menusuk bokong si prajurit dengan Benang Darah Dewa.
Si prajurit cepat memandang ke belakang. Jika yang ditusuk bokongnya, jelas tusukan itu datang dari belakang.
“Jalu!” teriak si prajurit kepada temannya yang berdiri agak jauh di belakangnya.
“Ada apa, Gulong?” sahut prajurit yang bernama Jalu, tapi kemudian dia mendatangi Gulong. “Kenapa? Kenapa?”
“Kau yang menusukku!” tuding Gulong.
Mendelik terkejut Jalu dituduh hal yang tidak diperbuatnya.
“Menusukmu? Menusukmu bagaimana?” tanya Jalu.
“Menusukku. Kau menusuk bokongku!” tandas Gulong.
__ADS_1
“Menusuk bokongmu? Hahaha …!” Jalu justru tertawa terbahak.
“Hahahak!” Alma dan Magar Kepang yang sejak tadi menahan tawa, akhirnya melepas bebas tawanya.
“Gulong, kau jangan mengada-ada. Mana mungkin aku menusuk bokongmu. Aku pernah lihat bokongmu seperti apa, sungguh aku tidak tertarik sedikit pun untuk menjahilinya. Apalagi jarak berdiriku dari bokongmu itu jauh,” tandas Jalu.
“Hahahak …!” tawa Alma benar-benar terbahak. Apalagi mendengar perkataan Jalu. Alma sampai terbungkuk dilanda tawa.
Melihat Alma tertawa begitu kencang, Gulong jadi berbalik kepada Alma.
“Pasti kau yang melakukannya, Nisanak?” tuding Gulong.
“Hahahak!” Alma justru tetap tertawa dituduh seperti itu. Lalu katanya, “Paman lihat sendiri aku tidak berbuat apa-apa, kenapa menuduhku? Hahaha!”
Perkataan Alma membuat Gulong terdiam.
“Sudah, lebih baik kalian berdua pergi dari sini!” usir Gulong kesal.
“Permisi, Paman Prajurit!” ucap Alma sambil cekikikan. Ia lalu berbalik.
Namun seiring itu, Benang Darah Dewa keluar lagi dari balik pakaiannya mengulur ke belakang Gulong. Kedua prajurit itu sedikit pun tidak melihat pergerakan benang yang tipis.
Tus!
“Akk!” pekik Gulong sambil terlompat dan memegangi bokongnya.
“Kenapa kau, Gulong?” tanya Jalu terkejut juga, tapi terkejut karena tingkah temannya itu.
Gulong tanpa sabar lagi, ia menonjok wajah Jalu. Mandapat tinju karena hal yang tidak ia lakukan, Jalu pun membalas. Terjadilah perkelahian antara kedua prajurit tersebut.
Melihat dua rekannya berkelahi, para prajurit yang lain buru-buru berlarian mendekat untuk melerai.
Sementara Alma Fatara dan Magar Kepang melangkah pergi dengan tertawa-tawa.
Saat itu, hari mulai senja. Keduanya berjalan langsung menuju pulang.
“Hahaha!” tawa Alma saat melihat keberadaan Debur Angkara, Garam Sakti dan Ayu Wicara yang menunggu di teras rumah Adipati Marak Wijaya.
“Amal! Lama sekali kau baru tulang?” tanya Ayu Wicara.
“Hahaha! Aduh, lelah aku tertawa!” keluh Alma yang disambut oleh kelucuan lidah Ayu Wicara.
“Pulang, bukan tulang, Ayuuu,” ralat Magar Kepang dengan sabar.
“Iya, itu maksudku,” kata Ayu Wicara tanpa senyum, seperti terdakwa yang tidak bersalah.
“Aku ada pekerjaan nanti malam!” kata Alma berbisik kepada rekan-rekannya.
Debur Angkara, Garam Sakti dan Ayu Wicara segera mendekat dan merapat, sampai-sampai Ayu Wicara terjepit tubuhnya oleh dua tubuh besar rekannya.
__ADS_1
“Iiih! Apaan sih!” keluh Ayu Wicara sambil mendorong tubuh Debur Angkara dan Garam Sakti.
“Paman Magar, jelaskan rencana kita kepada mereka di belakang. Ingat, ra ha sia!” kata Alma.
“Siap, Keponakan!” sahut Magar Kepang.
“Keponakan?!” sebut ulang Debur, Garam dan Ayu dengan wajah melongo heran.
“Hahaha!” Alma hanya tertawa melihat reaksi ketiga rekannya.
“Alma!” panggil seseorang tiba-tiba, memotong tawa Alma.
Alma dan rekan-rekannya cepat menengok ke pintu rumah. Di sana telah berdiri Adipati Marak Wijaya.
Alma lalu memberi isyarat gerakan wajah agar Magar Kepang dan yang lainnya pergi ke belakang.
Magar Kepang lalu mengajak rekan-rekannya untuk pergi ke belakang kediaman Adipati. Sementara Alma Fatara pergi mendatangi sang pemimpin kadipaten itu.
“Aku dengar kau tadi menghajar Lima Pendekar Sungai Ular?” tanya Adipati Marak Wijaya.
“Iya, Paman. Mereka menginginkan milikku,” jawab Alma.
“Hati-hati dengan mereka. Mereka memang terkadang muncul di Ibu Kota. Para prajurit tidak pernah bisa mengatasi mereka. Oh ya, tadi Pamong Sukarat datang menemuiku. Dia mengatakan, besok dia akan meminta Komandan Dampuk Ulang untuk datang ke Ibu Kota. Aku tidak tahu, siasat jahat apa yang ingin dia lakukan besok,” tutur Adipati Marak Wijaya.
“Aku ada pertanyaan, Paman. Apakah dalam pertandingan besok para peserta akan saling membunuh dengan panah?” tanya Alma.
“Tidak. Mereka akan memakai panah-panah yang tumpul,” jawab Adipati.
“Panah yang mereka gunakan milik masing-masing, Paman?”
“Bukan, tetapi anak panah milik kami untuk menghindari kecurangan,” jawab Adipati. “Lalu apa rencanamu terhadap Pamong Sukarat besok?”
“Aku akan membongkar kejahatannya setelah pertandingan usai, agar tidak mengganggu jalannya pertandingan, Paman,” jawab Alma. “Tapi, Paman. Apakah Pangeran Derajat Jiwa akan ikut dalam pertandingan?”
“Kau tahu?” Adipati justru balik bertanya.
“Dia jatuh hati kepadaku. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa heboh sendiri.
“Maksudmu?” tanya Adipati tidak mengerti.
“Tadi Pangeran Derajat mengundangku ke penginapan dan menawarku untuk menjadi istrinya. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa lucu sendiri. “Dia pikir hidup di istana itu membahagiakan.”
“Kau aneh sekali, Alma. Mungkin semua orang akan berebut jika ada peluang untuk menjadi seorang yang serba punya dan terpandang. Tapi kau, justru tidak tertarik dengan perkara hidup bergelimang harta,” kata Marak Wijaya.
“Termasuk Paman juga, akan berebut jika ada peluang?” terka Alma.
Mendelik Adipati Marak Wijaya mendengar perkataan Alma. Ia segera tertawa pendek yang dipaksakan.
“Hahaha! Aku sudah kaya. Kurang apa lagi aku?” kilah Adipati Marak Wijaya.
__ADS_1
“Hahaha!” Alma pun ikut tertawa. Ia tidak mau membuat Adipati merasa tidak nyaman kepadanya. (RH)