
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
“Berhenti!” seru seorang dari tiga penunggang kuda yang berpapasan dengan rombongan Alma Fatara.
Mau tidak mau, semua pengendali kuda dalam rombongan Alma menarik tali kekang untuk berhenti. Mereka berhenti bukan karena seruan atau perintah itu, tetapi karena ketiga kuda itu berhenti menghadang dan menutup jalan.
Dua lelaki dari ketiga orang itu mengenakan pakaian sama, baik model maupun warna, tapi mungkin ukurannya yang berbeda. Yang satu berbadan besar, tapi agak subur oleh lemak. Usianya separuh abad kurang satu dekade. Pada bagian pinggang ada deretan senjata berupa pisau berwarna merah, baik bilah maupun gagangnya berwarna merah. Ia bernama Adipaksa. Dialah yang tadi berseru memerintahkan rombongan Alma berhenti.
Sementara lelaki satunya lebih muda sepuluh tahun dari Adipaksa. Ia kurus jangkung tinggi dengan rambut keriting tapi lebat. Kejangkungannya pun terjelaskan dari model lehernya yang jenjang dengan bentuk jakun yang jelas terlihat mengganjal. Ia bernama Sungiran, adik seperguruan dari Adipaksa.
Adapun lelaki satunya berpakaian beda model. Baju merah terangnya dilapisi jubah merah gelap sehingga menyerupai warna hitam. Ia sudah tua dan berambut dua warna. Kepalanya dililit oleh pita merah terang yang tebal, yang pada bagian dahi ada hiasan logam berbentuk miniatur pisau berwarna perak. Kakek berusia separuh abad lebih sedekade itu bernama Garet Badat, salah satu pemimpin di Perguruan Pisau Merah.
Alma lalu berdiri dari duduknya. Penampilannya yang serba hitam dengan kulit putih bersih yang kontras warnanya, memberi kesan keanggunan yang berpadu dengan kekuatan.
“Maafkan aku, Kek. Kenapa harus menghentikan kami?” tanya Alma santun tapi lantang.
“Gadis Cantik!” seru Garet Badat dari kudanya yang posisinya di tengah. “Aku menginginkan Bola Hitam yang kau bawa!”
“Hahaha! Sudah aku duga. Melihat umur Kakek, aku sudah menduga bahwa kami dihentikan karena perkara Bola Hitam,” kata Alma tanpa terkejut.
“Untuk menghindari pertumpahan darah, lebih baik serahkan senjata itu dengan baik-baik. Itu satu-satunya cara aman bagi kalian!” seru Garet Badat.
“Kami datang dari Pantai Parasemiris. Sudah banyak tempat yang kami singgahi dan sudah banyak pendekar yang kami temui. Bukannya aku menyombongkan diri, tetapi Bola Hitam masih ada padaku hingga saat ini. Apakah Kakek yakin tidak mau meralat permintaan Kakek barusan?” ujar Alma Fatara.
“Hahaha!” Garet Badat justru tertawa mendengar perkataan Alma. “Bocah yang menarik. Memang kau hebat, bisa bertahan sejauh ini dengan membawa senjata rebutan itu.”
“Hahaha! Baguslah jika Kakek tahu,” kata Alma tertawa.
“Ini perampok namanya, Kak Alma. Jangan beri ampun. Perampok itu berbahaya jika diberi ampun, hari ini diberi ampun, tetapi besok pasti merampok lagi!” kata Ning Ana ikut ambil bagian.
“Anak Setan!” maki Garet Badat melototi Ning Ana.
“Bapak Setan!” balas Ning Ana sambil bangun berdiri dan melotot juga kepada Garet Badat.
“Hahahak!” tawa Alma yang melihat keberanian atau kenekatan Ning Ana, di saat Magar Kepang dan lainnya terkejut melihat tindakan gadis tanggung itu.
“Diam kau, Anak Setan! Atau aku buat kau tidak bisa bicara!” ancam Garet Badat.
“Memangnya kau siapa, kakek bau lumpur? Aku yang punya lidah, kenapa kau yang menyuruhku diam? Kau saja tidak bisa diam!” balas Ning Ana tanpa sedikit pun mengedepankan rasa hormat.
Sementara Alma Fatara membiarkan Ning Ana yang meladeni Garet Badat.
“Aku Garet Badat, Ketua Dua Perguruan Pisau Merah. Beraninya kalian kurang ajar dengan orang Pisau Merah yang menguasai Gunung Alasan dan daerah sekelilingnya!” sesumbar Garet Badat.
__ADS_1
“Kami tidak kutang ajar. Dia yang kutang ajar!” sahut Ayu Wicara sambil menunjuk Ning Ana.
“Hahahak …!”
Tak ayal lagi, ketegangan yang tercipta justru hancur oleh ledakan tawa Alma dan rekan-rekan. Ning Ana yang juga merasa sedang berseteru, ikut tertawa, termasuk Adipaksa dan Sungiran.
Suasana itu benar-benar membakar dada Garet Badat. Ia yang sebagai pemimpin tinggi di Perguruan Pisau Merah malah dianggap lucu ketika sedang marah-marahnya.
Ayu Wicara yang tidak tertawa menjadi heran melihat sebagian besar dari mereka tiba-tiba tertawa.
“Amal! Apa yang kalian tertawakan? Di gigiku ada kulit durian?” tanya Ayu Wicara.
“Hahahak!” semakin tertawa Alma dipanggil “Amal”. Ia lalu menunjuk kepada Ning Ana.
“Kenapa Kak Ayu bawa-bawa kutang?” tanya Ning Ana.
“Aku jelas bawa-bawa kutang ke mana-mana karena aku sudah punya bukit tergarang (terlarang). Beda dengan kau, bukitmu baru sebesar sarang belut (semut)!” jawab Ayu Wicara semakin kacau.
“Hahahak …!”
Semakin tertawalah mereka semua, kecuali Garet Badat dan Ayu Wicara sendiri. Warna Mekararum pun tertawa kencang, meski tidak sepanjang tawa Alma.
Merasa terabaikan, Garet Badat pun habis kesabaran dan bertindak.
Zerss!
Swess! Bluarr!
Dari atas, Garet Badat melesatkan sebuah sinar hijau berpijar seperti kembang api.
Namun, meski tertawa kencang, rupanya Alma tetap bersiaga. Kesiagaan itu karena orang yang mereka hadapi adalah orang sakti yang pemarah.
Seketika Alma membalas dengan melesatklan sinar kuning emas menyilaukan mata dari ilmu Pukulan Bandar Emas. Maka terjadilah peraduan dua tenaga kesaktian yang dahsyat tanpa mempertimbangkan lingkungan sekitar. Akibatnya, kekacauan pun terjadi.
Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara terlempar dari kudanya dan jatuh keras di tanah jalanan. Kuda-kuda mereka terkejut ketakutan dan berlari liar meninggalkan tempat itu. Hal yang sama terjadi pada Adipaksa dan Sungiran. Ketiga kuda mereka juga lari ketakutan.
Adapun Garam Sakti, dia cepat berdiri memeluk Ning Ana sebelum pertemuan ilmu itu terjadi. Ketika ledakan terjadi, Garam Sakti yang memasang punggung kokohnya terpental dari atas pedati dengan Ning Ana terlindungi di dalam pelukannya. Mereka jatuh di tanah tepat di pinggir sungai.
Sementara Alma Fatara langsung memasang kuda-kuda guna menjadi perisai hidup bagi Warna Mekararum. Tubuh Alma Fatara tersentak dengan papan bak pedati patah pada bagian yang dipijak olehnya, tapi tidak sampai membuat kedua kaki Alma terjeblos. Wajah putih Alma terlihat jelas memerah, mulutnya terkatup rapat karena menahan sesuatu di dalam.
Tubuh Warna Mekararum sempat terguncang keras. Namun, dua kuda penarik pedati juga sama seperti kuda yang lain. Kejadian itu membuat mereka takut dan panik. Kedua kuda itu berlari mendadak lurus ke depan.
Bduk!
__ADS_1
Alma yang sempat menahan tekanan berat dari adu ilmu itu, terbanting ke belakang di lantai bak pedati. Seiring itu, mulutnya terbuka memuncratkan darah ketika kepalanya membentur papan bak pedati. Wajah Alma jadi kotor oleh darah kental.
Sementara itu, Garet Badat tersentak naik lebih tinggi karena dorongan keras dari peraduan itu, lalu jatuh meluncur seperti nangka busuk.
Blugk!
“Hukr!”
Ketika tubuh Garet Badat menghantam tanah yang ditumbuhi ilalang, orang tua itu langsung menyemburkan darah kental.
Namun, Garet Badat cepat bangkit berdiri, tetapi ia jatuh lagi dengan berlutut.
“Ketua! Ketua!” panggil Adipaksa dan Sungiran sambil berlari menjemput Garet Badat di tempatnya jatuh.
Garam Sakti cepat bangkit dan melihat situasi, sementara Ning Ana masih dalam pelukannya. Kondisi Ning Ana baik-baik saja. Ia justru merasa bahagia diselamatkan oleh Garam Sakti dengan pelukan. Terlihat dari senyumnya yang lebar.
“Kita harus menyusul pedati,” kata Garam Sakti saat melihat pedati sudah berlari jauh.
Jbur!
Tanpa pikir panjang, Garam Sakti membawa tubuh Ning Ana melompat bersama ke dalam air, lalu membiarkan diri mereka terbawa arus yang deras.
“Akk! Akk!” jerit Ning Ana karena ia gelagapan tiba-tiba masuk ke dalam air, meski ia dalam lindungan Garam Sakti.
Sementara itu, Debur Angkara dan Ayu Wicara memilih berkelebat pergi untuk mengejar kuda mereka yang kabur.
Melihat rekan-rekannya pada pergi, Magar Kepang jadi bingung, sebab apalah daya dia hanya manusia biasa, bukan manusia planet.
Magar Kepang mengalihkan pandangannya kepada Adipaksa dan Sungiran. Kedua orang itu lebih fokus membantu Garet Badat yang terluka parah.
Buru-buru Magar Kepang berlari kecil masuk ke dalam ilalang dengan badan membungkuk, agar tidak terlihat. Di dalam semak belukar setinggi pinggang itu, Magar Kepang bersembunyi dengan tengkurap.
“Hoekh!”
Garet Badat muntah darah lagi. Kondisinya menjadi begitu lemah. Adipaksa dan Sungiran lalu memapah pemimpin mereka. Kedua kaki orang tua itu bahkan tidak bisa berpijak atau melangkah, sehingga tubuhnya menggantung pada bahu Adipaksa dan Sungiran.
Belum lagi mereka keluar dari rerumputan, tiba-tiba kepala Garet Badat jatuh terkulai tanpa tenaga sedikit pun.
“Ketua! Ketua!” sebut Adipaksa dan Sungiran terkejut.
Namun sayang, Garet Badat sudah tidak bernyawa.
“Ketuaaa!” (RH)
__ADS_1