
*Para Petarung Panah (Papepa)*
“Hentikan! Jangan berbuat onar di Kadipaten Balongan!” teriak Arya Mungkara yang masih duduk di atas kudanya, tapi lebih mendekat kepada posisi Alma Fatara.
“Hei! Siapa kau? Berani buang nyawa melawan Lima Pendekar Sungai Ular?” tanya Gemba Arek tidak kalah garang.
Terkejut Arya Mungkara mendengar nama yang disebut Gemba Arek. Bukan hanya putra Adipati saja yang terkejut, para peserta pertandingan besok yang pernah mendengar nama itu, juga terkejut.
Mengetahui siapa adanya kelima pendekar yang dihadapi oleh Alma Fatara, Arya Mungkara jadi bimbang dan bingung. Jika ia membantu Alma Fatara, maka ia akan berisiko terluka, bahkan bisa mati dibunuh. Jika dia mundur, maka citranya akan jatuh di tengah umum. Sebagai public figure, Arya Mungkara harus menjaga nama baiknya.
“Terima kasih sudah membelaku, Kakang Arya. Namun, Kakang Arya tidak perlu turut campur, karena aku bisa mengatasi mereka semua,” kata Alma Fatara yang bisa menangkap kebimbangan dadakan pemuda tampan itu.
“Apa kau yakin bisa meladeni mereka semua, Alma?” tanya Arya Mungkara, agar ia tidak terkesan menerima begitu saja permintaan Alma.
“Hahaha! Komandan Gendas Pati saja bisa aku lumpuhkan tanpa menyentuhnya, tentu itu bukan hal sulit aku lakukan kepada mereka! Hahaha!” koar Alma lalu tertawa, demi mengamankan posisi batin Arya Mungkara.
“Baiklah jika begitu. Tapi ingat, jangan remehkan mereka berlima!” kata Arya Mungkara wanti-wanti.
“Siap, Kakang!” kata Alma sambil memberi jempol satu kepada Arya dan tersenyum manis.
“Peduli sekali gadis ini kepadaku. Ia tahu cara membuatku tidak malu di depan umum,” batin Arya Mungkara.
Arya Mungkara lalu menjalankan kudanya menjauh dari Alma Fatara.
“Bagaimana, Kakang Arek?” seru Alma kepada Gemba Arek alias Ular Terbang Mungil. “Apakah cukup si bulat lucu itu yang melawanku, atau kalian akan maju bersama-sama?”
“Sombong betul!” rutuk Obol-Obol yang sudah beberapa kali menjadi korban Alma Fatara.
Sementara itu di barisan penonton.
“Itu pendekar wanita yang bersama Arung Seto dan adiknya,” kata Balingga kepada Bandeng Prakas di barisan penonton.
“Aku rasa Arya Mungkara hanya berlagak, sebenarnya dia takut berurusan dengan Lima Pendekar Sungai Ular!” kata Ujang Barendo mencibir Arya Mungkara.
“Kau berani melawan Lima Pendekar Sungai Ular?” tanya Bandeng Prakas.
“Melawan mereka? Huh!” dengus Ujang Barendo sambil mendengus dan tersenyum sinis. “Aku mana berani melawan pendekar yang sudah ternama seperti mereka.”
“Hahaha!” tawa Bandeng Prakas pendek.
“Memangnya kau berani, Bandeng?” tanya Balingga melirik.
“Demi mempertahankan kehormatanku, apa pun akan aku hadapi. Tapi jika melawan mereka, aku harus mempertimbangkan matang-matang dahulu,” jawab Bandeng Prakas.
“Dasar kalian, lelaki pengecut. Jika aku diizinkan untuk membela gadis secantik itu, aku akan korbankan jiwa dan ragaku demi dia,” kata Balingga.
“Jika begitu, majulah lindungi dia, supaya Arya Mungkara jatuh derajatnya,” kata Ujang Barendo.
“Tapi aku sudah terlanjur bertaruh untuk mendapatkan Ninda Serumi,” kilah Balingga.
__ADS_1
Mendengar nama kekasihnya disebut, Bandeng Prakas melirik tajam kepada Balingga.
“Tidak akan aku biarkan kekasihku jatuh kepadamu!” desis Bandeng Prakas.
“Kau boleh mengaku-aku Ninda Serumi sebagai kekasihmu, tapi buktinya, dia rela diperebutkan oleh dua belas lelaki,” kata Ujang Barendo.
“Lihatlah besok!” tandas Bandeng Prakas.
Beralih ke pertarungan antara Alma Fatara dan Obol-Obol.
“Hanya dengan melawanku, kau pun akan tunduk, Gadis Sombong!” teriak Obol-Obol yang masih dibiarkan oleh keempat rekannya.
Gemba Arek dan ketiga rekannya masih berkeyakinan bahwa Obol-Obol bisa mengatasi dan menaklukkan Alma Fatara. Obol-Obol belum mengerahkan kesaktian terbaiknya.
Obol-Obol sudah mencabut tongkat pendeknya.
Obol-Obol berlari maju, lalu melemparkan tongkat pendeknya. Tongkat itu melesat berputar vertikal seperti baling-baling kincir, bukan baling-baling bambu Doraemon.
Alma Fatara menggeser tubuhnya untuk menghindar, membuat tongkat itu lewat di sisinya. Namun ada yang aneh, tongkat itu mendadak terhenti di udara, mengejutkan Gemba Arek dan ketiga rekannya yang melihat jelas keanehan itu.
Sementara Obol-Obol yang sudah terlanjur melompat dengan tubuh meringkuk dan berlapis sinar merah, tidak fokus kepada tongkatnya, tetapi fokus kepada gerakan Alma.
Tangkas Alma Fatara menghindari pula serangan maut tubuh Obol-Obol.
Seiring itu, tongkat Obol-Obol yang tertahan di udara, tiba-tiba melesat melengkung ke samping, seolah-olah senjata itu diayun menggunakan tali. Begitu cepat.
“Akk!” pekik Obol-Obol yang baru mendarat, setelah gagal mengenai Alma Fatara.
Tongkat pendek itu melesat seperti mengayun dan menghantam jidat Obol-Obol. Orang bulat itu menjerit dengan tubuh terjengkang.
“Hahahak …!” tawa Alma.
Tongkat pendek Obol-Obol ternyata belum berhenti membuat keanehan. Tongkat itu melesat ke arah Obol-Obol yang belum bangun berdiri. Obol-Obol dan yang lainnya jadi terkejut saat melihat tongkat itu bisa berhenti melayang tepat di atas tubuh tuannya sendiri.
Dak dak dak …!
“Ak aw akk …!” pekik Obol-Obol berulang-ulang, saat tiba-tiba tongkat itu memukulnya berulang kali dalam ritme cepat, seperti seorang ibu sedang memukuli anaknya yang durhaka, atau seperti memukuli kentongan sebagai tanda ada maling.
“Hahahak …!” Alma tertawa terbahak.
“Hahaha …!” tawa warga yang melihat kemalangan Obol-Obol.
“Ampun! Ampun!” teriak Obol-Obol sambil melindungi wajahnya dari gebukan tongkat yang sebenarnya dikendalikan oleh Benang Darah Dewa yang sulit untuk dilihat.
Ketika benang pusakanya beraksi, Alma Fatara dengan santainya hanya tertawa-tawa.
Tlang!
Tongkat kayu itu kemudian jatuh begitu saja, seolah setan yang merasukinya sudah pergi. Tanpa ada yang melihat, Benang Darah Dewa melepaskan lilitannya pada tongkat dan tertarik masuk kembali ke dalam pakaian Alma Fatara.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Alma saat melihat Obol-Obol bangkit dengan wajah yang bengkak.
Junjung Kemilau alias Cangkang Sejati sudah tidak bisa menahan diri melihat adegan itu.
Wess!
Junjung Kemilau melesat cepat, nyaris tidak terlihat mata biasa. Ia langsung melancarkan serangan kaki dan tangan beritme setan.
Alma Fatara sempat terkejut mendapat serangan sekonyong-konyong seperti itu. Namun, Alma Fatara sudah memiliki kematangan ilmu meski usianya masih begitu muda.
Dengan seluruh tubuh telah tersaluri tenaga dalam, Alma Fatara menangkis semua tendangan dan pukulan Junjung Kemilau. Pertarungan kedua gadis cantik itu terlihat seimbang, sama-sama kuat.
Namun, pada satu kesempatan, ….
Set!
“Akk!” jerit tertahan Junjung Kemilau dan sontak ia melompat mundur menjauhi Alma Fatara.
Junjung Kemilau memegangi pergelangan tangan kirinya yang berdarah deras.
“Keparat! Dia curang!” maki Junjung Kemilau seraya mengerenyit menahan sakit. Ia tidak tahu dengan apa pergelangan tangannya diiris oleh Alma.
Legi Kasep alias Pendekar Pembawa Maut bergegas menghampiri Junjung Kemilau. Ia memeriksa luka yang diderita oleh gadis cantik itu.
Breeet!
Tanpa pikir panjang Legi Kasep merobek kain bajunya hingga panjang. Buru-buru ia membalut berulang pergelangan tangan kiri Junjung Kemilau.
Sementara itu, seraya tersenyum Alma Fatara melangkah ke depan Gemba Arek selaku pemimpin dari kelompok itu.
“Hebat juga kau, Bocah,” puji Gemba Arek.
“Terima kasih, aku memang cantik, Kakang,” ucap Alma seraya tertawa malu yang dibuat-buat.
“Hahaha!” tawa Bandeng Prakas, Balingga dan Ujang Barendo bersamaan. Mereka merasa lucu ketika mendengar Alma menjawab pujian Gemba Arek.
Wuss!
Tiba-tiba Si Cantik Mabuk melepaskan angin pukulan kepada ketiga pemuda tampan itu. Karena terlena oleh tawanya, ketiganya dan beberapa warga tidak sempat menghindar. Mereka terhempas, terlempar sejauh dua tombak dan jatuh berserakan.
“Hahahak …!” tawa Alma meledak melihat apa yang dialami oleh ketiga pemuda tampan itu.
Wuss!
“Hak!” pekik Alma ketika ia tidak sigap, membuat angin pukulan Si Cantik Mabuk menghempas tubuhnya.
Alma terlempar sejauh dua tombak dan jatuh berdebam di tanah jalanan.
Pada saat itu pula, Gemba Arek telah berkelebat di udara mengejar posisi Alma. (RH)
__ADS_1