
*Kampung Siluman (Kamsil)*
Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara sudah terbangun tanpa kurang suatu apa pun. Tidak ada yang hilang dari tubuh mereka.
Alma Fatara dan rekan-rekannya sudah mendapat penjelasan bahwa keberadaan mereka di Kampung Siluman adalah disebabkan oleh Bola Hitam. Seandainya mereka tidak memiliki Bola Hitam yang dibawa oleh Alma Fatara, mereka tidak akan diundang masuk menggunakan Gerbang Rawa Hijau.
Sabung, pemuda bergigi tonggos yang bersenjata kapak, datang berlari menghampiri Rempah Putih dan Lingkar Dalam.
“Lapor, Kepala! Panglima Kampung tidak bisa meninggalkan posisinya. Panglima meminta agar Alma dan teman-temannya langsung terjun ke medan perang!” lapor Sabung.
“Baik,” jawab Rempah Putih. Lalu katanya kepada Alma, “Alma, mari kita pergi ke Benteng Bukit!”
“Baik,” jawab Alma. Lalu katanya kepada Magar Kepang, “Paman Magar, jaga Nenek!”
“Sabung, bawa Nenek dan Magar Kepang ke tempat perlindungan!” perintah Rempah Putih kepada Sabung.
“Baik, Kepala!” sahut Sabung patuh.
Rempah Putih lalu memimpin mereka pergi dengan langkah yang cepat. Sementara Sabung menuntun pedati ke arah lain.
Pedati dibawa ke arah sebuah dinding batu yang tidak terlalu tinggi. Pada bagian bawahnya ada dibangun atap rumbia yang luas bertiang-tiang batang bambu dan tanpa dinding. Tetapi itu bagian depan dari sebuah gua besar di bawah tebing.
Di dalam gua itu berkumpul para wanita dan kaum anak-anak, dari yang balita sampai yang badutan (bawah dua puluh tahun).
Beberapa wanita datang menyambut kedatangan Sabung dan pedati. Satu di antara wanita itu adalah jelita berambut panjang terurai. Ia bernama Lilia Seharum, putri dari Rempah Putih dengan Tulu Rumping.
Tulu Rumping adalah wanita gemuk separuh abad yang mengenakan pakaian berumbai-rumbai warna cokelat. Sementara wanita satunya adalah seorang nenek bertubuh agak bungkuk dan bertongkat bambu hijau, seperti yang banyak ada di kampung itu. Ia bernama Nenek Gendar Sayu, istri dari Panglima Kampung.
“Tolong bantu angkat, Nenek Warna tidak bisa berjalan!” kata Magar Kepang.
Tulu Rumping sebagai istri pemimpin lalu memanggil beberapa wanita yang ada di dalam gua.
Sementara itu, Rempah Putih dan Alma Fatara beserta rekannya sudah tiba di area benteng. Suara pertempuran yang mengerikan terdengar bising bagi Alma dan rekan-rekannya.
“Benda apa itu, Paman Rempah?” tanya Alma sambil menunjuk pipa bambu yang sambung-menyambung menjadi satu, posisinya membentang memanjang di sisi atas daerah itu.
“Itu saluran minyak untuk pertahanan Kampung Siluman,” jawab Rempah Putih.
“Karena minyak inilah Kerajaan Ringkik ingin merebut Kampung Siluman,” timpal Lingkar Dalam.
Kini mereka melihat sebuah benteng batu yang tingginya hanya sedada menghadap ke arah luar. Di balik benteng terlihat banyak lelaki bersenjata sedang bekerja dengan sibuk. Terlihat banyak anak panah menancap bertebaran di mana-mana.
__ADS_1
Di sisi dalam benteng ada tiga alat yang terbuat dari kayu besar dan kuat. Alat besar yang posisinya saling berjauhan itu semodel manjanik, yaitu alat pelontar batu besar. Namun di sini, yang dilontarkan bukan batu, tetapi bola api.
Pada setiap alat manjanik dioperasikan oleh lima orang. Dua orang bertugas mengangkat bola besar berbahan kayu berat, satu orang bertugas menyiram dengan minyak yang diserok dari gentong, satu orang bertugas menarik sendok pelontar raksasa untuk dikunci balik setelah melempar bola api, dan satu orang lagi memegang palu besar untuk memukul lepas kunci ketika bola api dilemparkan.
Jadi ada lima belas orang yang bertugas mengoperasikan tiga manjanik, ditambah satu orang komandan.
Sementara itu, dari ujung pipa bambu yang membentang di atas mengucur cairan minyak tanpa henti yang ditampung menggunakan gentong-gentong kayu.
“Berlinduuung!” teriak satu suara orang tua tapi keras menggelegar, dapat didengar oleh sekitar seratus lelaki yang sedang berperang di benteng itu.
Para lelaki yang sedang berperang serentak merunduk dan berlindung di balik apa pun.
“Berlindung!” seru Rempah Putih pula kepada Alma dan lainnya.
Set set set …!
Tiba-tiba di langit muncul melesat puluhan anak panah bak hujan. Panah-panah itu dengan jelas akan menghujani rombongan Alma pula. Rempah Putih dan Lingkar Dalam memilih berlindung di balik kumpulan gentong kayu.
“Berlindung di belakangku!” seru Alma cepat.
Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara cepat berkumpul di belakang Alma yang sudah merendahkan diri dengan kuda-kudanya. Tangan kiri Alma merentang lurus ke belakang, menyedot udara yang membuatnya membengkak seperti balon gas, maksudnya pakaiannya.
Wuss! Tebteb teteb!
Seiring datangnya hujan panah, Alma melepaskan angin kuat Sedot Tiup, membuat panah-panah yang mengarah mereka terhempas berantakan di udara. Sementara puluhan panah lainnya menancap di mana saja.
“Tembaaak!” teriak komandan manjanik setelah hujan panah berlalu.
Dak dak dak!
Tiga petugas yang memegang palu besar cepat mengayunkan palunya menghantam pasak pengunci. Pasak itu terpental lepas dari kuncian, membuat sendok raksasa yang sudah menadah bola api bergerak naik melempar jauh ke depan.
Wuss!
Tiga bola api melambung jauh dan cepat ke depan sana, meninggalkan area benteng.
Boam! Boam! Boam!
Terdengar tiga ledakan keras yang mengguncang tempat itu seperti gempa berskala kecil. Ternyata bola api itu memiliki bahan peledak di dalamnya, sehingga bisa meledak ketika menghantam keras.
Orang-orang yang ada di benteng itu kembali memunculkan diri untuk melanjutkan pertempuran.
Dua orang lelaki berpakaian putih-putih segera datang menghampiri lelaki yang menderita luka panah pada kakinya. Kedua orang itu bekerja cepat seperti orang yang sudah mahir menangani korban luka.
__ADS_1
Tas! Tseb!
“Aaak!” jerit lelaki yang terluka, ketika satu orang yang menanganinya mematahkan anak panah lalu menekan masuk patahan anak panah yang masih menancap.
Tembusan anak panah ditarik keluar sepenuhnya. Kemudian, lelaki satunya bertindak cepat menyumbat lubang luka yang mengeluarkan darah dengan sesuatu. Lalu luka itu dibalut dengan gulungan kain berwarna merah. Setelah mengikatnya, korban luka segera dipapah ke tempat perlindungan yang ada di benteng itu.
Rempah Putih dan Lingkar Dalam segera pergi ke pagar benteng. Alma dan ketiga sahabatnya segera mengikuti.
“Tuang minyak!” teriak lelaki tua bertongkat berjubah abu-abu memberi perintah.
Maka para lelaki segera bergerak bersama. Dua orang dua orang mengangkat drum kayu berisi minyak, lalu dibawa ke pagar untuk dituangkan ke luar benteng.
Karena penasaran, Alma dan ketiga rekannya melongok di pagar untuk melihat kondisi di luar benteng itu. Terbeliaklah mereka melihat ada apa di luar benteng.
Ternyata benteng atau Kampung Siluman itu ada di atas bukit batu. Mereka melihat ribuan pasukan tersebar di bagian bawah bukit batu dan sedang bergerak mendaki di pinggang bukit. Terlihat pula di kaki bukit masih ada ribuan pasukan yang masih berbaris rapi. Di barisan depan pasukan itu ada deretan mesin panah yang arah bidikannya mendongak ke atas.
Ribuan prajurit itu bergerak seperti kawanan semut yang sedang berusaha mencapai puncak.
Minyak-minyak yang ditumpahkan jatuh di tebing bukit dan mengalir turun mencapai posisi para prajurit yang sedang naik.
“Garam, i-i-ini perang sungguhan!” kata Debur Angkara tergagap dan dengan suara bergetar. Baru kali ini ia melihat perang terjadi di depan mata.
“I-i-iya. Kok aku jadi ge-ge-gemetar ya?” ucap Garam Sakti pula. Kondisi mentalnya tiba-tiba drop.
“Ka-ka-kacang Debur, Kacang Garam, ayo kita pulang saja,” kata Ayu Wicara pula, setali tiga uang dengan keduanya.
“Kakek Kirak Sebaya!” panggil Alma Fatara kepada kakek berjubah abu-abu, setelah terkejut melihat kondisi di bawah sana.
Lelaki tua berjubah abu-abu yang menjadi panglima di benteng itu segera menoleh. Melihat Alma, ia langsung tersenyum lebar memperlihatkan dua gigi emasnya.
“Waktunya kita berperang, Alma!” seru Kirak Sebaya.
“Rupanya Kakek yang menjebak kami masuk ke Kampung Siluman!” tukas Alma.
“Anggap saja seperti itu. Bertepatan kau datang, pasukan Kerajaan Ringkik datang menyerang. Waktu yang sangat tepat. Kita harus mengatasi serangan ini dulu!” kata Kirak Sebaya agak berteriak, karena ramainya suara pertempuran. Lalu teriaknya kepada pasukannya, “Bakaaar!”
Set set set!
Tiga orang lelaki cepat melepaskan panah yang ujungnya menyala api.
Bress!
Ketika panah berapi itu jatuh di dinding bukit yang berminyak, lautan api langsung menjalar membakar dinding bukit dan sampai kepada para prajurit teratas yang sedang naik.
__ADS_1
“Akk! Akk! Akk …!” jerit belasan prajurit berseragam biru yang terbakar tubuhnya.
“Panas! Panas! Panaaas!” teriak para prajurit itu. (RH)