
*Alma Fatara (Alfa)*
Wiwi Kunai berkelebat cepat menyerang Garudi Malaya. Lelaki itu tidak kalah cepat menghindar. Wiwi Kunai terus memburu dengan serangan-serangan yang berkecepatan tinggi. Begitu cepatnya, sampai-sampai Garudi kewalahan.
Babak!
Dua hantaman telapak tangan mendarat beruntun pada dada Garudi, membuatnya terjajar tiga tindak.
“Wiwi Kunai, kau serius ingin mencelakaiku?!” teriak Garudi.
“Lelaki Lele! Kau pikir pukulanku itu pukulan kasih sayang, hah?!” bentak Wiwi Kunai lalu merangsek maju lagi dengan serangan yang beringas.
“Aku juga akan serius jika kau serius!” kata Garudi sambil menghindari serangan-serangan wanita cantik pesolek itu. Ia harus lebih meningkatkan gerakannya.
Tak!
“Aww!” pekik Wiwi Kunai saat bokongnya berhasil dipukul dengan tongkat oleh Garudi.
“Hahahak!” tawa Alma yang serius menonton pertarungan dadakan itu.
“Kena kau! Hahaha!” kata Garudi yang berhasil melakukan gerakan mengelak ke belakang Wiwi Kunai lalu merangkul pinggangnya.
Dak!
“Akk!”
Wiwi Kunai menghentakkan kepalanya ke belakang, sehingga menghantam hidung Garudi. Lelaki itu menjerit kesakitan dan Wiwi lepas dari pelukannya. Cepat Wiwi melompat dengan tubuh berputar di tempat.
Dak!
Satu tendangan keras menampar wajah Garudi, memaksanya terbanting ke samping.
“Hahahak …!” tawa Alma semakin kencang.
“Cukup! Hentikan, Wiwi Kunang! Kau sudah membuatku berdarah!” teriak Garudi, masih memegang hidungnya yang berdarah.
“Oh! Kau berdarah?” ucap Wiwi Kunai terkejut, seolah baru tersadar. Wajahnya seketika berubah berekspresi menyesal. “Maafkan aku, Garudi!”
Breet!
Wiwi Kunai segera merobek kain ujung bajunya. Ia buru-buru mendapati wajah Garudi dan menyeka darah yang keluar dari hidung lelaki itu.
“Kau berapi-api ingin membunuhku, tetapi ketika melihat aku berdarah, kau berubah kasihan,” gerutu Garudi yang membiarkan Wiwi Kunai membersihkan lukanya.
“Aku tega menghajarmu sampai mati asal kau tidak berdarah!” sungut Wiwi Kunai.
Alma yang tadi tertawa kencang, mendadak berhenti dan heran melihat tingkah kedua orang dewasa itu. Ia lalu pergi mendekati keduanya.
“Kenapa jadi mesra seperti ini, Guru?” tanya Alma heran.
“Garudi ini kekasihku yang aku buang dan aku tinggalkan,” kata Wiwi Kunai.
“Eh, aku tidak dibuang, hanya ditinggalkan. Wiwi Kunang yang jahat kepadaku. Di saat aku sedang sayang-sayangnya, dia malah meninggalkanku!” sangkal Garudi serius.
__ADS_1
“Kau yang membuat dirimu untuk aku tinggalkan!” sentak Wiwi Kunai sambil mendorong hidung Garudi.
Garudi buru-buru ganti memegangi hidungnya menggunakan sobekan kain baju Wiwi Kunai. Ia turut berdiri mengikuti Wiwi Kunai yang telah berdiri.
“Tapi aku tidak merasa melakukan kesalahan. Kau pergi tanpa sepatah kata atau sebaris pesan, membuatku seperti orang tuli!” kata Garudi membela diri. “Seharusnya kau mengatakan apa kesalahanku!”
“Kau itu sudah tua, seharusnya kau bisa berpikir, apa sebabnya aku pergi meninggalkanmu tanpa pamit. Jangan bersifat kekanak-kanakan yang maunya disuapi melulu!” kata Wiwi Kunai dengan nada setengah berteriak.
“Sungguh, sampai sekarang aku tidak tahu apa kesalahanku kepadamu. Jika kau masih ingat, tolong beri tahu aku!”
“Sejak awal aku tahu kau itu lelaki genit, dan aku maklumi itu karena sudah menjadi sifat bawaanmu sejak orok. Tapi aku melihat sendiri, kau mencium Putri Capung Jarum!” tukas Wiwi Kunai.
Terdiamlah Garudi. Ia berusaha berpikir untuk mengingat-ingat masa lalunya lima belas tahun yang lalu, sebelum Wiwi Kunai benar-benar menghilang dari kehidupan dan cintanya.
“Aku tidak pernah mencium Putri Capung Jarum sekali pun. Bahkan aku tidak pernah mencium wanita mana pun!” sangkal Garudi dengan ekspresi ragu karena masih berusaha mengingat-ingat ratusan wanita yang pernah digodanya.
“Aku sangat ingat. Kau menciumnya di bawah pohon jambu monyet!” kata Wiwi Kunai.
“Jambu monyet … hmmm,” sebut Garudi lirih, berusaha memfokuskan ingatannya hanya kepada gadis cantik berjuluk Putri Capung Jarum. “Oooh, aku ingat!”
“Huh!” dengus Wiwi Kunai yang menunjukkan kecemburuan lama yang terbakar lagi.
“Aku tidak menciumnya. Waktu itu, kami memang berdua di bawah pohon jambu monyet. Putri Capung kelilipan, jadi aku meniupkan matanya,” jelas Garudi.
“Tapi maaf, penjelasanmu sudah lama tidak berlaku. Dan sekarang, kegenitanmu berubah menjadi kemesuman!” tukas Wiwi Kunai.
“Apa maksudmu menjadi kemesuman?” tanya Garudi tidak mengerti.
“Dulu kau genit, sekarang anak perempuan pun kau kejar-kejar. Apakah tidak otak kotor namanya itu?” jelas Wiwi Kunai.
“Lelaki Lele Mata Kadal!” maki Wiwi Kunai sambil langsung melemparkan tendangan mautnya ke arah wajah Garudi.
Tak tak!
Sigap Garudi menangkis dua tendangan dengan batang tongkatnya.
“Bukan itu maksudku! Maksudku ingin menjadikan Alma muridku!” teriak Garudi panik sambil buru-buru melompat mundur.
Sezz! Blarr!
Wiwi Kunai melesatkan sinar kuning berwujud bola sebesar kepalan kepada Garudi. Lelaki tampan itu sigap mengelak dengan memiringkan tubuhnya, membuat sinar itu terus lewat menghancurkan pagar kebun singkong. Garudi masih bisa merasakan betapa panasnya hawa sinar itu.
Melihat gurunya sudah mengeluarkan ilmu ajiannya yang berbahaya, Alma cepat melerai.
“Guru Guru! Paman Paman!” seru Alma sambil bergerak berdiri di tengah jarak keduanya. “Hentikan pertarungan kalian. Jangan sampai terjadi celaka lalu menyesal terlambat!”
“Aku tidak mau tahu, pokoknya dia harus pergi jauh dari rumahku! Aku tidak sudi melihat hidung cucutnya itu!” teriak Wiwi Kunai dengan wajah yang benar-benar marah.
Wiwi Kunai lalu berkelebat pergi dan mendarat di depan pintu rumahnya. Ia buru-buru masuk dan menutup pintu.
Brak!
Tutupan pintu terdengar keras, membuat Alma mendelik kaget.
__ADS_1
Sementara Garudi berdiri diam dengan wajah sedih memandangi kepergian Wiwi Kunai. Alma jadi iba melihat ekspresi menyedihkan Garudi.
“Huuu huuu …!”
Terkejut Garudi dan Alma, tiba-tiba mereka mendengar suara tangis Wiwi Kunai yang kencang dari dalam kamarnya. Garudi dan Alma jadi saling pandang, heran. Mereka tidak menyangka jika Wiwi Kunai akan menangis, karena tadi ia begitu galak dan marah kepada Garudi.
“Tidak aku sangka cinta lamaku akan bersemi kembali,” ucap Garudi lemah sambil turun duduk di tanah berumput pendek.
“Aku kira Guru wanita yang tidak punya cinta kepada seorang lelaki,” ucap Alma sambil memeras ujung pakaiannya yang masih basah. “Eeeh, ternyata cintanya kepada Paman yang genit.”
“Jika gurumu menangis, itu berarti dia masih cinta kepadaku,” kata Garudi.
“Sudah berapa lama Paman berpisah dengan Guru?” tanya Alma sambil turut duduk di sisi kanan Garudi, tapi berjarak satu depa.
“Sekitar lima belas tahun,” jawab Garudi.
“Wah, aku belum lahir. Hahaha!” kata Alma.
“Dia pergi begitu saja seperti setan, tanpa memberi tahu mau pergi ke mana. Selama lima belas tahun aku mengembara bolak-balik demi mencarinya, tetapi aku tidak menemukannya juga. Tapi aku bersyukur juga, akhirnya aku bisa menemukannya.”
“Paman masih mencintai Guru?” tanya Alma.
“Masih sangat mencintai. Biarpun banyak bunga yang lebih cantik dan menggoda yang aku temui, tetapi satu-satunya wanita yang aku cintai sampai saat ini adalah Wiwi Kunang.”
“Kenapa Paman menyebutnya Kunang?”
“Itu adalah panggilan sayangku kepadanya. Dan dia sangat suka jika aku memanggilnya Kunang. Salah satu yang ia suka dariku adalah, aku mampu mendatangkan banyak kunang-kunang yang membawa cahaya kepadanya.”
“Kalau begitu, lakukan lagi, Paman!” kata Alma.
“Berarti nanti malam?”
“Terserah Paman.”
“Ya harus malam, kalau siang kunang-kunangnya tidak bercahaya,” kata Garudi.
“Tenang saja, Paman. Aku mendukungmu untuk kembali bersama dengan Guru.”
“Berarti kau juga mau menjadi muridku?”
“Tidak!” tegas Alma. “Lebih baik sekarang Paman pergi menyiapkan banyak hadiah untuk membujuk hati Guru. Nanti malam ke sini lagi.”
“Ah, kau benar juga, Alma. Aku harus memberinya hadiah.”
Garudi lalu bangkit dan berlari pergi.
“Hahaha!” tawa Alma.
Sementara itu, suara tangis Wiwi Kunai sudah tidak terdengar. Alma lalu bangkit dan berjalan menuju rumah.
“Alma, mana Lelaki Lele itu?” tanya Wiwi Kunai yang muncul di ambang pintu.
“Sudah pergi, Guru. Bukankah Guru tidak mau melihat hidungnya?” jawab Alma yang berdiri di depan tangga.
__ADS_1
“Kenapa kau biarkan pergi?” rutuk Wiwi Kunai.
Alma hanya mendelik karena disalahkan. (RH)