A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 16: Pasangan Serasi


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Debur Angkara dan Algojo Tombak adalah lawan seimbang jika dilihat dari segi fisik yang sama-sama tinggi besar berotot kekar. Namun, dari segi kesaktian mungkin Algojo Tombak lebih tinggi levelnya.


Meski Debur Angkara kalah level kesaktian melawan Algojo Tombak, tetapi dia dibantu oleh sang kekasih, yaitu Ayu Wicara yang mengandalkan pedang besarnya, pedang yang bobotnya lebih berat dari setengah tubuhnya.


Pada awal pertarungan, Algojo Tombak dibuat terkejut oleh kehebatan senjata Golok Setia Debur Angkara.


Set!


Sekali tebas, tombak berbatang kayu Algojo Tombak langsung terpotong dua saat menangkis bacokan kedua golok berwarna biru gelap itu. Buru-buru Algojo Tombak melompat mundur untuk menenangkan dirinya.


Kini Algojo Tombak tinggal memiliki dua tombak, beruntung keduanya terbuat dari logam seratus persen. Meski demikian, untuk mengantisipasi kehebatan pusaka lawan, Algojo Tombak menyalurkan kesaktiannya kepada kedua tombak besinya. Kedua tombak besi Algojo Tombak jadi memiliki kilatan-kilatan listrik merah yang malu-malu genit, munculnya hanya sedikit-sedikit.


Terbukti bahwa strategi tarung Algojo Tombak tepat. Algojo yang bermain dua tombak membuat Debur Angkara kewalahan.


Ting ting ting …!


Algojo Tombak menghujani Debur Angkara dengan hujaman-hujaman kedua tombaknya. Debur Angkara hanya bisa menangkis menggunakan kedua Golok Setia-nya, sambil mundur-mundur dengan wajah meringis, ngeri jika ada tusukan yang lolos.


“Sawangku, minggiiir!” teriak Ayu Wicara tiba-tiba dari arah belakang Debur Angkara.


Wuut! Trang!


“Uhgk!” keluh Algojo Tombak dengan tubuh terjengkang keras ke tanah.


Teriakan Ayu Wicara dari belakang membuat Debur Angkar buru-buru turun berjongkok. Tahu-tahu pedang panjang dan besar Ayu Wicara telah berkelebat deras menyerang Algojo Tombak.


Algojo Tombak hanya bisa terkejut karena pedang besar itu tahu-tahu sudah begitu dekat kepadanya. Ia pun menangkis dengan silangan kedua tombak besinya di depan badan. Peraduan itulah yang membuat Algojo Tombak terjengkang lantaran tenaga pedang besar itu begitu kuat.


“Hihihi!” tawa Ayu Wicara melihat Algojo Tombak terjengkang keras. “Rasakan kehebatan jurus Putaran Pegang Burung-ku!”


“Perempuan lacur keparat!” maki Algojo Tombak sambil buru-buru bangkit dengan wajah meringis, sebab ia merasakan sesak dan sakit pada dadanya.


Lebih menjengkelkan lagi bagi Algojo Tombak, Debur Angkara tampil bergaya di belakang Ayu Wicara, bak pasangan yang sedang foto prewedding.


“Hiaaat!” teriak Algojo Tombak sambil berlari maju menyerang kedua lawannya dengan tombak di kedua tangan.

__ADS_1


Sreeet!


Namun, Ayu Wicara menggores tanah dengan ujung pedang besarnya, membuat tanah berhambur naik menghadang gerakan tubuh Algojo Tombak.


Hamburan tanah ke udara itu membuat Algojo Tombak menahan langkahnya sambil melindungi matanya dari tanah.


Pada saat itu, Debur Angkara berkelebat cepat melompati Ayu Wicara dan menerjang menerobos tirai hamburan tanah.


Buk!


Terjangan kaki Debur Angkara berhasil menghantam dada Algojo Tombak, memaksa lawannya itu kembali terjengkang.


Debur Angkara kian bersemangat untuk menyudutkan Algojo Tombak. Dia terus merangsek maju di saat Algojo Tombak masih separuh terbaring.


Set! Ting!


Tap! Zerzz!


Algojo Tombak cepat melempar tombak di tangan kanannya menyerang Debur Angkara yang maju. Debur Angkara sigap menangkis tombak itu dengan goloknya. Tangkisan itu membuat tombak sedikit berbelok arah, lewat di sisi kepala Debur Angkara dan mengarah langsung kepada Ayu Wicara.


Dengan sigap pula Ayu Wicara menangkap tombak besi itu. Namun, seketika itu juga, Ayu Wicara bergetar kejang seperti tersengat listrik.


Bluk!


Ayu Wicara tumbang setelah tombak itu lepas dari tangannya, tetapi dia tidak mati. Ayu Wicara hanya terlihat lemas.


Kejadian itu membuat Algojo Tombak punya waktu untuk bangun dan menyerang Debur Angkara dengan kiblatan sinar biru tipis.


Sess! Zreng!


Debur Angkara menangkis kiblatan sinar biru itu dengan silangan kedua Golok Setia-nya. Giliran Debur Angkara yang terjengkang di sisi Ayu Wicara, tetapi ia tidak terluka.


Selanjutnya, Algojo Tombak sudah melayang di udara, agak tinggi di atas Debur Angkara. Tombaknya sudah terangkat tinggi siap dilemparkan.


Debur Angkara berpikir, akan sulit baginya untuk menghindari lemparan tombak lawan dalam kondisi ia setengah berbaring seperti itu. Menangkis dengan golok pun tidak menjamin.


Namun, memang pikiran Debur Angkara sedang cerdas di saat genting seperti itu. Tangan kirinya cepat meraih gagang pedang Ayu Wicara lalu diangkat geser sehingga melintang lurus di atas badannya.

__ADS_1


Set! Ting!


Ketika Algojo Tombak melesatkan tombaknya ke bawah, Debur Angkara sudah berlindung di bawah pedang besar milik Ayu Wicara. Terbukti, tombak itu memang mengenai bilah pedang lalu terpental asal.


Lolos dari serangan tombak, Debur Angkara buru-buru bangun sambil menyelipkan golok birunya di pinggang. Ia beralih berlari sambil menyeret pedang berat Ayu Wicara.


Algojo Tombak yang baru saja mendarat terkejut melihat Debur Angkara yang datang berlari dengan pedang besar yang diseret di tanah.


“Putaran Pedang Burung!” teriak Debur Angkara dengan penyebutan yang benar, bukan “Putaran Pegang Burung” sebagaimana yang biasa disebutkan oleh Ayu Wicara.


Mendengar nama jurusnya diteriakkan oleh Debur Angkara, Ayu Wicara terkejut dan buru-buru bergerak bangun dalam kondisi lemah.


Selanjutnya, Debur Angkara yang bertenaga lebih besar dari kekasihnya, memutar-mutar pedang besar itu seiring tubuhnya yang ikut berputar, seperti seorang atlet lempar martil.


Algojo Tombak yang sudah tidak bersenjata, buru-buru mundur cepat, takut terkena kibasan pedang yang berputar liar seperti komedi putar.


Meski tenaganya besar, tetapi Debur Angkara belum pernah memainkan jurus Putaran Pedang Burung. Ia hanya sering melihat Ayu Wicara memainkannya dalam latihan. Maka ketika Debur Angkara memainkannya, hasilnya tidak terkontrol.


Saking kerasnya Debur Angkara memutar pedang besar itu, putarannya jadi kekencangan dan tidak terkendali, sampai-sampai putaran tubuh lelaki berkumis poni itu ikut terbawa oleh putaran pedang.


Kondisi itu membuat Debur Angkara agak panik, terlihat dari wajahnya yang mendelik dan menganga.


Melihat lawannya dalam kondisi di luar kendali, Algojo Tombak cepat bertindak dengan mengerahkan ilmu pukulan jarak jauhnya yang bersinar biru.


Sess! Zwiing! Sess!


“Aaak!” pekik Algojo Tombak dengan tubuh terjengkang keras ke belakang. Terlihat di badan depannya ada luka panjang yang menghanguskan baju dan kulitnya.


Ketika Algojo Tombak melesatkan sinar biru, tanpa diduga pedang besar yang diputar oleh Debur Angkara menyala merah dan menghantam sinar biru yang datang. Seperti stick baseball yang memukul bola kasti, sinar biru terpental balik dan tepat mengenai pemiliknya sendiri.


Itulah nasib apes yang menimpa Algojo Tombak.


Setelah sempat terkejut melihat pedangnya menyala merah, Ayu Wicara yang sudah kembali lebih kuat, buru-buru berlari sempoyongan menyambar golok Debur Angkara yang terselip di pinggang.


“Aku busuk kauuu!” teriak Ayu Wicara sambil melompat jauh seperti seekor kucing dengan tangan kanan bergerak menusuk.


Tseb!

__ADS_1


“Aaak!” jerit Algojo Tombak yang sudah tidak berdaya karena luka parahnya. Golok biru yang ditusukkan oleh Ayu Wicara menghujam dadanya dengan dalam.


Dengan demikian, tamatlah riwayat hidup Algojo Tombak. (RH)


__ADS_2