A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 18: Dikepung Pisau Merah


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Cahaya matahari pagi yang menyinari wajah Alma Fatara membuatnya terlihat seperti dewi berjubah hitam yang keluar dari dalam penginapan. Semua lelaki yang menunggunya keluar, dari yang muda hingga tua, jadi terpana kagum.


Namun, para lelaki itu harus mengedepankan tujuan utama mereka datang berkumpul dan mengepung penginapan tersebut. Mereka tidak boleh menaruh kasihan terhadap gender Alma Fatara sebagai perempuan atau terpikat oleh kecantikannya yang merupakan idaman setiap lelaki.


Alma Fatara yang keluar seorang diri dari dalam penginapan langsung memandang kepada seorang tua berjubah merah terang yang sedang duduk di sebuah kursi. Lelaki tua itu sudah berambut serba putih, dari rambut kepala, alis, bulu mata, kumis, jenggot, dan rambut lainnya. Gaya duduknya hingga sorot matanya terlihat begitu berwibawa. Kakek berusia seabad kurang dua puluh tahun itu masih sehat. Maklum orang sakti. Ia adalah Ketua Satu Perguruan Pisau Merah, namanya Datok Jari Sambilan.


Ia bisa merasakan dengan jelas aura Bola Hitam pada diri Alma Fatara.


Di belakangnya berdiri sepuluh lelaki yang berpakaian merah-merah dengan model baju yang lebih bergaya, menunjukkan posisi mereka di perguruan lebih tinggi dari murid lainnya. Dua di antaranya adalah Adipaksa dan Sungiran, dua orang yang kemarin sempat bertemu dengan Alma dan rombongan.


Di belakang mereka lagi, bertumpuk puluhan lelaki berseragam merah-merah dan bersenjata pisau-pisau merah. Mereka adalah para murid Perguruan Pisau Merah, termasuk mereka yang membentuk pagar betis mengelilingi bangunan penginapan.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat keramaian yang tidak pernah ia bayangkan. Bahkan tadi malam sedikit pun dia tidak bermimpi perkara warna merah.


Alma Fatara sudah bisa langsung tahu siapa pemimpin dari kerumunan tersebut.


“Hahaha!” Dato Jari Sambilan turut memperdengarkan suara tawanya yang lebih berbobot kewibawaan.


Alma Fatara maju beberapa langkah. Pembawaannya tenang dengan senyum manis yang seolah mengandung ilmu Semar Mesem.


“Senang bertemu denganmu, Kek. Ramai sekali. Apakah kau juga ingin merebut Bola Hitam milikku?” tanya Alma Fatara tetap santun. Untung ia tidak membawa Ning Ana.


“Oh, jadi aku orang keberapa yang ingin merebut Bola Hitam darimu?” tanya Dato Jari Sambilan dengan penuh kesantaian, sangat berbeda dengan para murid atau petinggi Perguruan Pisau Merah yang sudah tegang dan siap-siap menunggu perintah.


“Saat aku tiba di daerah Sungai Ngulur ini, baru si nenek kembar, Ketua Dua yang kemarin, lalu Kakek,” jawab Alma Fatara apa adanya.


“Oh, jadi Garet Badat mati di tanganmu karena ingin merebut Bola Hitam?” tanya Dato Jari Sambilan.


“Aku tidak tahu, tapi mereka berdua jadi saksinya,” jawab Alma sambil menunjuk Adipaksa dan Sungiran di belakang Dato Jari Sambilan.


Tanpa menengok, Dato Jari Sambilan sudah tahu siapa yang Alma tunjuk. Sebab, Adipaksa dan Sungiran yang kemarin mendampingi Garet Badat dan mereka juga yang membawa pulang mayat Ketua Dua itu.


“Adipaksa! Sungiran!” panggil Dato Jari Sambilan datar.


Dua orang yang dipanggil oleh sang ketua segera maju memperlihatkan diri kepada Dato Jari Sambilan.


“Kenapa kalian tidak mengatakan bahwa Ketua Dua ingin merebut Bola Hitam milik gadis ini?” tanya Dato Jari Sambilan.


Terkejutlah Adipaksa dan Sungiran.


“Ka-ka-kami tidak tahu tentang Bola Hitam, Guru,” kilah Adipaksa yang lebih tua dari Sungiran.

__ADS_1


“Hahaha! Bohong kau, Kakang!” tukas Alma. “Jelas-jelas Kakang berdua mendengar ‘Aku menginginkan Bola Hitam yang kau bawa’. Itu jawab Ketua Dua setelah memuji aku Gadis Cantik.”


“Hahaha!” Sejumlah murid Perguruan Pisau Merah tertawa rendah mendengar kata-kata akhir Alma.


Dato Jari Sambilan lalu mengibaskan telapak tangannya sekali, memberi isyarat agar kedua murid utamanya itu mundur kembali.


“Siapa namamu, Nak?” tanya Dato Jari Sambilan.


“Aku Alm Fatara, Kek. Nama Kakek siapa?” tanya Alma yang bisa mengimbangi kesantaian sang ketua.


“Rupanya kau datang dari jauh, sebab tidak mengenalku. Namaku Dato Jari Sambilan. Aku orang nomor satu di Perguruan Pisau Merah.”


“Oh, pasti Ketua Satu?” terka Alma.


“Hmm!” gumam Dato Jari Sambilan sambil manggut kepala dua kali.


“Hahaha!” tawa Alma karena terkaannya bernilai seratus.


Sementara itu, para lelaki di belakang sang guru menunjukkan ekspresi heran.


“Kenapa pengepungan ini justru jadi ramah tamah?” pikir Adipaksa.


Tanda tanya Adipaksa itu mewakili isi kepala para murid Perguruan Pisau Merah lainnya.


“Sebagai bentuk tanggung jawabku jika sampai kau mati di wilayah ini, aku perlu tahu siapa gurumu,” ujar Dato Jari Sambilan.


Dalam ketenangannya, agak melebar sepasang mata Dato Jari Sambilan mendengar dua nama itu. Ia akhirnya manggut-manggut.


“Guru Kakek Dato siapa namanya?” tanya Alma berseloroh.


“Hahaha!” Tertawalah Dato Jari Sambilan mendapat pertanyaan seperti itu. Sementara para murid di belakang mulai emosi mendengar pertanyaan yang mereka nilai lancang. Namun, ternyata sang guru menjawab pertanyaan itu, “Mendiang guruku bernama Pendekar Pisau Dari Samudera. Kau kenal?”


“Kapan guru Kakek wafat?”


“Tiga puluh lima tahun yang lalu.”


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara. “Aku masih jadi kecebong saat gurunya Kakek wafat!”


“Hahaha …!” Dato Jari Sambilan tertawa keras mendengar sebutan “kecebong”. Tawanya pun membuat sebagian murid turut tertawa, seolah lupa dengan maksud mereka datang dalam jumlah besar ke tempat itu.


“Aku rasa masa perkenalan kita sudah cukup, Kek. Silakan Kakek Dato menyampaikan maksud yang sesungguhnya,” kata Alma yang kemudian membuat semua orang terdiam. Mereka mulai tegang, sebab orang yang mereka hadapi adalah pembunuh Ketua Dua mereka.


“Aku pagi-pagi datang ke sini bersama murid-muridku bukan untuk merebut Bola Hitam yang ada padamu. Sebelumnya aku tidak tahu bahwa kau memegang Bola Hitam milik Raja Tanpa Tahta. Setelah kau keluar, barulah aku tahu. Aku datang untuk menuntut nyawa atas kematian Garet Badat yang adalah Ketua Dua.”

__ADS_1


“Aku tidak membunuh Ketua Dua, Kek. Aku baru tahu pagi ini dari pelayan penginapan bahwa Ketua Dua tewas. Jika memang benar Ketua Dua tewas, tanyakan kepada kedua orang yang kemarin bersamanya, apa yang membuatnya tewas. Ketika aku terakhir melihatnya, Ketua Dua masih hidup,” jelas Alma.


“Hmm!” gumam Dato Jari Sambilan lagi. Lalu panggilnya, “Adipaksa!”


“Aku, Guru!” sahut Adipaksa sambil kembali maju menghadap di sisi kanan.


“Ceritakan sejujurnya, bagaimana Ketua Dua sampai mati!” perintah Dato Jari Sambilan.


“Eee … seperti ini, Guru. Ke-ketika kami semua sedang tertawa menertawakan teman gadis ini, Ketua Dua melompat ke langit dan menyerang mereka dengan ilmu Hantam Rusak Sejagad. Gadis ini menangkis dengan ilmunya. Lalu, Ketua Dua jatuh. Awalnya hanya terluka, tapi … kemudian … kemudian Ketua Dua meninggal,” kisah Adipaksa agak tersendat dan tergagap.


Dato Jari Sambilan kembali manggut-manggut sebanyak tiga kali. Alma sampai menghitung jumlah anggukan itu.


“Baiklah!” kata Dato Jari Sambilan agak keras sambil bangkit berdiri.


Alma Fatara mundur setindak dan bersiap di balik ketenangannya.


“Baiklah, Alma Fatara. Ketua Dua Garet Badat telah bersalah karena berusaha merebut senjata pusakamu. Hal itu seharusnya tidak dia lakukan. Meskipun kematiannya adalah bencana bagi Perguruan Pisau Merah, tapi aku harus mengakui bahwa dia salah. Aku tahu kau masih terluka, Alma. Tapi jika aku memaksa, kau bisa menggunakan Bola Hitam untuk menghadapi kami. Aku sudah pernah melihat kehebatan Bola Hitam. Aku tidak mau membenarkan yang salah dan aku pun tidak mau kehilangan banyak muridku hanya untuk dendam.”


“Terima kasih karena sudah menjadi kakek yang bijak, Kek,” ucap Alma sambil menghormat dengan sedikit membungkuk dan kedua telapak tangan bertemu di depan dada.


“Semua murid Perguruan Pisau Merah, pulang ke perguruan!” teriak Dato Jari Sambilan keras membahana.


Terkejutlah kesepuluh murid utama dan murid-murid lainnya mendengar perintah itu. Namun apa daya, perintah itu harus dilaksanakan. Saat itu juga, murid-murid Perguruan Pisau Merah bergerak membubarkan diri dengan barisan yang bergerak rapi seperti pasukan tentara.


Clap!


Dato Jari Sambilan tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri, meninggakan kursi yang merupakan milik penginapan.


“Fuuuh!”


Alma Fatara mengembuskan napas panjang. Perasaannya sangat lega. Keputusan Dato Jari Sambilan telah menyelamatkan Alma dari menjadi pembunuh massal, seperti yang ia lakukan di Negeri Sembunyi terhadap pasukan Kerajaan Ringkik.


Saking leganya, Alma Fatara turun duduk di tanah keras tanpa khawatir akan menderita cacingan. Ia hanya memandangi para lelaki berpakaian merah-merah itu berpergian.


Bukan hanya Alma yang lega, pemilik dan pelayan penginapan lega hati, demikian pula dengan warga Desa Rawabening.


“Kakak Alma!” panggil Ning Ana yang mendadak muncul dari balik ambang pintu penginapan. Ia berlari ke dekat Alma.


“Alma!” panggil Garam Sakti pula. Ia dan Ning Ana dilanda kecemasan yang tinggi.


“Wah, Kakak Alma hebat bisa membuat mereka semua kabur!” puji Ning Ana.


“Untung kau tidak keluar mengacau,” kata Alma.

__ADS_1


“Hah, kok aku?” protes Ning Ana.


“Hahaha!” tawa Alma rendah. (RH)


__ADS_2