
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Empat Bunga Pesona sudah mengambil kembali selendangnya masing-masing. Mereka membiarkan murid-murid Perguruan Pisau Merah mengangkuti mayat Ulung Gegap dan enam rekan mereka. Semuanya tewas dengan leher tergorok.
Meski pertarungan antara Empat Bunga Pesona dengan murid-murid Perguruan Pisau Merah sudah berakhir, tetapi rombongan Alma Fatara belum bisa melanjutkan perjalanannya. Kini Empat Bunga Pesona berdiri menghadang rombongan Alma Fatara.
“Kau harus diberi pelajaran, Gadis Tengik!” desis Bunga Dara yang sudah tidak suka dengan Alma Fatara.
“Hahahak! Tadi itu hanya bercanda,” kata Alma setelah tertawa pendek.
“Kalau berani satu lawan satu!” teriak Ning Ana yang membuat Alma Fatara dan rekannya yang lain terkejut.
“Urusan kalian sudah selesai, kalian sudah menang, jadi tolong biarkan kami lewat, Kakak,” ujar Alma Fatara sambil tersenyum-senyum.
“Kami tidak akan pergi sebelum memberi pelajaran atas sesumbarmu tadi!” kata Bunga Mekar bernada tinggi.
“Ayolah, Kak. Beri pengampunan sekali ini saja,” bujuk Alma memelas.
“Tidak!” jawab Empat Bunga Pesona serentak.
“Kalau mereka tidak mau, hajar mereka satu per satu, Kak Alma!” kata Ning Ana mengompori.
“Baiklah, Ning Ana!” seru Alma sambil berdiri dari duduknya di pedati. Lalu katanya kepada Garam Sakti, “Kang Garam, pinjamkan kerismu!”
Garam Sakti lalu meraih kerisnya, kemudian ia berikan kepada Alma.
“Horeee! Kalian akan rasakan keganasan Kak Alma!” teriak Ning Ana.
Alma Fatara lalu berkelebat di udara, melewati atas kepala Empat Bunga Pesona. Ia mendarat di tanah lapang dari jalanan pinggir sungai itu.
Empat Bunga Pesona segera berbalik arah, lalu melangkah mendekati posisi Alma.
“Aku harus merebut Pisau Bunuh Diri dari kalian, agar senjata itu tidak dengan mudah digunakan untuk membunuh orang!” seru Alma. Kini dia bersikap serius. Keris Petir Api yang dipinjamnya untuk sementara ia selipkan di depan perut.
“Bagus, itu alasan yang bagus untuk membunuhmu!” puji Bunga Dara.
__ADS_1
“Karena aku berniat merebut pisau itu, tentunya bukan hanya satu orang yang bertarung jika aku unggul. Jadi aku tawarkan, apakah mau satu lawan satu, atau kalian maju sekalian?” ujar Alma.
“Hihihi …!” tawa keempat wanita di hadapan Alma Fatara. Mereka menertawakan Alma.
“Sesumbarmu tinggi sekali, Alma!” kata Bunga Dara.
“Hahahak!” tawa Alma. “Aku sudah coba menghindar. Tapi tidak apa-apa. Mungkin ada gunanya juga jika merebut pisau itu, selain agar benda itu tidak digunakan sembarangan, aku juga bisa melidungi diri dari orang-orang jahat.”
“Terlalu hina kami, jika hanya untuk membuatmu diam, kami harus turun berempat,” kata Bunga Gadis.
“Cukup aku yang menghadapimu, Alma!” tandas Bunga Dara, lalu melangkah lebih maju ke depan Alma, meninggalkan ketiga adik seperguruannya.
“Paman Kepang! Kalian jangan ada yang turun ikut campur. Jika aku kalah, lanjutkan perjalanan ke Rawa Kabut!” teriak Alma.
“Baik, Alma!” sahut Magar Kepang dalam posisi tengkurap di punggung kudanya.
“Silakan, Kak!” kata Alma kepada Bunga Dara.
“Terima serangan!” teriak Bunga Dara sambil maju dengan cepat.
“Aku tidak boleh adu tenaga dalam, bisa-bisa luka dalamku memburuk,” pikir Alma sambil bergerak gesit menghindar dan menangkisi semua gerakan Bunga Dara.
Terlihat jelas bahwa Alma bisa mengatasi Bunga Dara dengan mudah. Hal itu cukup untuk memancing kemarahan Bunga Dara. Maka pada satu ketika.
“Hiaaat!” pekik Bunga Dara sambil melakukan serangan ritme tinggi tanpa jeda dan terkesan membabi buta.
Namun, Bunga Dara harus terkejut. Selain karena Alma bisa mengimbangi gerakannya, Bunga Dara merasa ada serangan aneh terhadapnya. Serangan itu begitu halus berwarna merah samar yang menyerang wajah dan tubuh atasnya, tetapi ia tidak tahu jelas apa itu.
Hingga akhirnya Alma melompat mundur menjauhi Bunga Dara.
Alangkah terkejutnya Bunga Dara ketika merasakan ada banyak cairan mengalir di kulit wajahnya, bahkan ada yang mengalir melintasi alisnya lalu terjun melewati depan retina matanya. Buru-buru Bunga Dara memegang wajahnya yang telah dilumuri oleh darah. Karena banyaknya jumlah darah yang keluar dari wajah cantiknya, membuat telapak tangannya berlumur. Tidak hanya itu, darah juga keluar dari kulit leher dan dada.
“Aaak!” jerit Bunga Dara setelah terkejut tanpa suara.
Apa sebenarnya yang terjadi?
__ADS_1
Penjelasannya adalah, ketika Bunga Dara menyerang brutal dengan kecepatan tinggi, Alma Fatara menggunakan Benang Dara Dewa untuk berfungsi sebagai dua jarum penusuk. Kedua ujung benang bergerak menusuk berulang-ulang ke wajah, leher dan badan Bunga Dara, di saat dia sangat berambisi melukai Alma.
Adrenalin tarung yang sedang memuncak, membuat Bunga Dara tidak merasakan bahwa kulit wajah dan badannya sedang dihujani tusukan-tusukan yang beritme sangat cepat. Dan ketika serangan berhenti, barulah Bunga Dara merasakan perih dan munculnya darah.
“Apa yang kau perbuat kepadaku, Gadis Tengiiik!” teriak Bunga Dara murka, sambil mencabut Pisau Bunuh Diri.
Melihat Bunga Dara sudah mencabut Pisau Bunuh Diri, Alma cepat melesat maju menyerang Bunga Dara. Dalam kondisi muka dan leher berlumur darah, Bunga Dara melompat mundur untuk menjaga jarak.
Seet!
Bunga Dara mengiris perutnya sampai baju pada bagian perut robek, tetapi perut itu tidak apa-apa.
Alma Fatara merasakan ada tenaga atau benda tidak terlihat yang sedang berusaha merobek perutnya. Namun, kekebalan terhadap senjata tajam yang dimiliki oleh Alma, membuatnya tidak terluka. Sementara tubuhnya terus bergerak maju kepada Bunga Dara.
Alangkah terkejutnya Bunga Dara mendapati Alma tidak terluka oleh serangan Pisau Bunuh Diri. Ia cepat-cepat melangkah mundur.
Tes!
Ketika sambil mundur hendak menusukkan Pisau Bunuh Diri ke lehernya sendiri, Bunga Dara kembali lebih terkejut, karena tangan kanannya tidak bisa digerakkan, seperti diikat oleh sesuatu.
Ketika Alma melakukan gerakan tangan sedikit menghentak di depan perutnya, tahu-tahu pergelangan tangan kanan Bunga Dara putus. Telapak tangan yang memegang Pisau Bunuh Diri itu jatuh bersama pisaunya.
“Aakk …!”
Tajamnya Benang Darah Dewa membuat Bunga Dara tidak menjerit. Barulah dua detik kemudian, rasa sakit itu muncul menyiksa, membuat Bunga Dara menjerit tinggi.
Dalam kondisi seperti itu, Bunga Dara masih sadar akan Pisau Bunuh Diri. Sambil menahan sakit, Bunga Dara bergerak cepat hendak memungut pisau yang tergeletak di tanah.
Baks!
Namun, tubuh Alma cepat datang dan menghantamkan telapaknya ke dada Bunga Dara, membuat upaya wanita berselendang itu gagal meraih pisau dan tubuhnya terlempar ke belakang.
Benang Darah Dewa dengan cepat bergerak mengulur melingkari gagang pisau lalu mengambil untuk Alma. Dengan demikian Pisau Bunuh Diri mutlak berada di tangan Alma.
Alangkah terkejutnya ketiga adik seperguruan Bunga Dara. Demikian pula beberapa murid Perguruan Pisau Merah yang memilih bertahan menyaksikan pertarungan itu. Mereka terkejut karena terlihat mudah bagi Alma merebut Pisau Bunuh Diri. (RH)
__ADS_1