
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
“Dalam kondisi terluka, tapi kau masih bisa mengalahkan Empat Bunga Pesona,” kata Warna Mekararum dalam perjalanan menuju Perguruan Pisau Merah.
“Itu karena mereka tidak mengenal lawan. Seharusnya mereka mempertahankan pertarungan jarak jauh. Pertarungan jarak dekat akan selalu menjadi milikku, karena lawan selalu tidak tahu aku memiliki Benang Darah Dewa dan keberadaannya sulit dilihat,” jelas Alma Fatara.
“Kak Alma, apakah aku bisa menggunakan Benang Darah Dewa juga?” tanya Ning Ana.
“Bisa, tapi syaratnya kau harus memiliki tenaga dalam yang sempurna. Kau tidak bisa mengandalkan Kang Garam Sakti,” jawab Alma.
“Berarti tidak bisa, Kak,” kata Ning Ana. Tiba-tiba dia tertawa, “Hihihi! Lucu sekali mereka berempat. Sudah pongah mau memberi pelajaran kepada Kak Alma, eh malah mereka yang jadi kerbau semua. Hihihi!”
“Hahaha!” tawa Alma. “Hati-hati jika kau keluyuran sendirian. Jika bertemu dengan mereka, kau pasti akan dipepes.”
“Hihihi! Mereka perlu daun pisang yang banyak untuk membuat pepes Ning Ana.”
Tanpa terasa, mereka telah tiba di depan gerbang besar Perguruan Pisau Merah. Gerbang kayu yang tebal dan besar, jelas menunjukkan bahwa Perguruan Pisau Merah memang perguruan besar. Pada gerbang besar yang berwarna hitam itu ada gambar pisau besar berwarna merah di tengah-tengah pintu. Jika pintu gerbang itu terbuka, maka gambar pisau akan terbelah dua bagian.
Setelah memberi tahu niat mereka kepada penjaga gerbang, Alma dan rekan-rekan harus menunggu.
Tidak seperti perguruan-perguruan pada umumnya, Perguruan Pisau Merah memiliki tembok benteng batu yang tinggi, seolah tidak ada celah untuk bisa masuk tanpa izin atau menyelinap.
“Wah, perguruan ini besar sekali!” ucap Debur Angkara terpana sambil melihat tembok dan pintu yang kokoh.
“Kacang Dengkur tertarik?” tanya Ayu Wicara.
“Sepertinya di perguruan ini tidak ada perempuannya, sebab sejak tadi aku hanya melihat lelaki semua,” kata Debur Angkara.
“Kacang Dengkur ingin mencari kudis lain selain aku?” tanya Ayu Wicara merengut asam.
“Bukan kudis, tapi gadis,” ralat Debur Angkara sambil tersenyum.
“Iya, Kacang Dengkur mau melirik kudis lain selain aku?” tanya Ayu Wicara lagi dengan kesalahan kata yang sama.
“Tidak, aku hanya menduga,” tepis Debur Angkara. Lalu tanyanya setengah berbisik kepada Ayu Wicara, “Memangnya, Ayu cinta mati kepadaku?”
“Tidak. Aku hanya lintah (cinta) hidup kepada Kacang Dengkur,” jawab Ayu Wicara.
“Hahaha!” tawa Debur Angkara.
__ADS_1
“Kak Ayu, mesra sekali!” teriak Ning Ana. “Membicarakan apa?”
“Ning Anu, anak kutil (kecil) tidak boleh tahu!” sahut Ayu Wicara.
“Hahahak …! Ning Ana disebut Anak Kutil!” tawa Alma Fatara.
Setelah agak lama menunggu, akhirnya pintu gerbang terbuka. Namun, pintu gerbang terbuka bukan untuk mengizinkan Alma dan rombongan masuk, tetapi serombongan murid perguruan akan keluar.
Ada sebanyak dua puluh lelaki berkuda berseragam merah-merah hendak berangkat pergi. Pemimpin dari rombongan berkuda itu adalah Adipaksa. Bersamanya ada pula Sungiran.
“Keparat, dia lagi!” maki Adipaksa terkejut saat melihat Alma dan rombongannya yang menunggu tidak jauh di depan gerbang. Lalu perintahnya, “Kepung!”
Maka para murid berkuda yang tingkatannya lebih rendah dari Adipaksa dan Sungiran cepat bergerak mengurung posisi Alma dan rombongan.
Rombongan Alma cukup terkejut karena tiba-tiba justru dikepung.
“Kakang Adipaksa, jangan memaksa kami!” seru Alma Fatara. “Kami datang ingin bertemu Ketua Satu. Jangan menyesal jika kalian semua mendapat hukuman karena ulah kalian ini.”
“Jangan dengarkan ocehannya, dia wanita yang pandai bersilat lidah!” teriak Adipaksa.
Murid-murid Perguruan Pisau Merah jadi dilanda keraguan, terlihat dari kegalauan pandangan mereka yang meminta pendapat dari wajah teman-temannya.
“Sepertinya aku perlu menghilangkanmu, Kakang Adipaksa,” kata Alma tenang sambil mengambil sesuatu di pinggang belakangnya.
Alma menggerakkan tangannya berniat mengiris lehernya sambil memandang tersenyum kepada Adipaksa yang mendadak panik.
“Hentikan! Jangan kau lakukan, Nisanak!” teriak Adipaksa cepat.
Teriakan Adipaksa membuat Alma berhenti, menahan pisaunya di leher, sekedar menempel. Hal itu membuat Adipaksa terdiam tegang dengan dahi langsung berkeringat dingin. Adipaksa bisa merasakan lehernya seperti ditempeli sesuatu yang tidak terlihat.
“Hihihi …! Mati kutu kucing dia!” ejek Ning Ana sambil menunjuk Adipaksa.
“Untuk apa pakai oncom-oncom (ancam-ancam), Amal? Langsung sembelit (sembelih) saja!” celetuk Ayu Wicara.
“Ja-ja-jangan kau lakukan, Nisanak! Di sini ada ratusan murid Perguruan!” teriak Adipaksa tergagap.
“Jangankan ratusan, ribuan pasukan pun aku sanggup menghancurkannya!” sesumbar Alma Fatara bermaksud menjatuhkan mental Adipaksa.
“Hentikan!” seru seseorang tiba-tiba dari kejauhan, seiring datangnya seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang lelaki berpakaian merah-merah pula, tetapi model pakaiannya sama dengan Adipaksa dan Sungiran.
__ADS_1
Mereka mengalihkan pandangan kepada lelaki yang berteriak tadi.
“Adipaksa! Jangan bertindak gegabah! Mereka tamu Ketua Satu!” teriak lelaki itu lagi. Ia seorang lelaki bertubuh sedang tapi berotot, terlihat dari otot lengannya karena bajunya berlengan pendek. Wajahnya pun memiliki struktur yang kokoh. Ia bernama Sudigatra, setingkat dengan Adipaksa, tetapi lebih dekat dengan Ketua Satu.
“Ti-ti-tidak, aku ti-ti-tidak gegabah!” sahut Adipaksa tergagap.
“Baik, Kakang. Kita berdamai,” kata Alma tersenyum setelah menjauhkan Pisau Bunuh Diri dari lehernya.
Legalah Adipaksa seiring rasa yang menempel di lehernya juga hilang.
“Bu-bu-bubar!” teriak Adipaksa kepada pasukannya, sampai-sampai gagapnya masih terbawa.
Adipaksa buru-buru meninggalkan rombongan Alma Fatara. Ia tidak mau lama-lama menenteng malu di mata murid-murid yang lain. Murid-murid berkuda yang lain segera membubarkan pengepungan dan mengikuti Adipaksa pergi.
Sudigatra mendekatkan dirinya kepada rombongan Alma.
“Namaku Sudigatra, Alma. Ketua Satu sudah menunggu kedatangan kalian,” ujar Sudigatra.
“Baik,” jawab Alma yang sudah menyembunyikan kembali Pisau Bunuh Diri.
Sudigatra lalu menuntun rombongan Alma masuk ke dalam perguruan.
“Waw!” desah Alma dan rekan-rekannya ketika melihat seperti apa kondisi lingkungan di dalam perguruan.
Dari gerbang besar masuk ke dalam perguruan, terhampar jalan tanah keras yang lebar dan berujung pada sebuah bangunan besar bertingkat tiga, berbahan material batu dan pasir yang dipadu dengan kayu-kayu besar. Warnanya merah yang diberi warna kuning. Jika dilihat dari jauh, warna kuningnya seperti garis-garis tepian pada bangunan.
Di kanan-kiri jalan berdiri berbagai jenis bangunan, tetapi tidak ada yang bertingkat. Terlihat ada aktivitas sejumlah murid perguruan di luar dari latihan, seperti mengepel, menuntun kuda, mengangkut perlengkapan latihan, hingga menata taman-taman kecil yang ada di kanan kiri jalan besar.
“Huh! Hah! Huh! Hah!”
Saat rombongan melewati depan satu bangunan yang cukup besar dan lebar, terdengar suara ramai hentakan banyak suara yang bertempo dan berulang-ulang, suara yang biasa dikeluarkan ketika seseorang sedang berlatih bersama-sama. Tidak terlihatnya wujud para pemilik suara itu, menunjukkan bahwa latihan itu dilakukan di dalam ruangan.
“Benar-benar perguruan yang besar,” komentar Garam Sakti.
“Ih, ada murid perempuannya!” kata Debur Angkara terkejut, ketika melihat serombongan barisan wanita-wanita muda berseragam merah dengan warna kuning pendukung, melintas memotong jalan di depan sana. Sebagian dari wanita itu membawa bakul-bakul.
“Kakang Sudigatra, perguruan ini memiliki berapa murid?” tanya Alma Fatara agak berteriak.
“Sekitar sembilan ratus orang!” sahut Sudigatra sambil menengok ke belakang, karena posisi kudanya paling depan.
__ADS_1
“Perguruan ini yang menguasai daerah sekeliling Gunung Alasan?” tanya Alma lagi.
“Bisa dikatakan seperti itu!” jawab Sudigatra. (RH)