A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 11: Pangeran Kumbang Genit


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Ia bernama Garudi Malaya, berjuluk Pangeran Kumbang Genit. Ia seorang lelaki tampan untuk ukuran usia lima puluh tahun. Rambut bergelombangnya yang agak gondrong disisir rapi ke belakang dan warnanya hitam bercahaya. Ia menggunakan minyak rambut yang banyak dan harum aromanya. Tubuhnya yang gagah berotot dibungkus oleh pakaian bagus berwarna biru terang yang dikombinasi biru gelap. Ia membawa tongkat kecil dan pendek berwarna hitam mengilap. Tongkat itu bukan untuk alat bantu jalan, tetapi sebagai alat tunjuk yang mudah.


Dengan wajah yang berhias kumis segaris tapi berambut tebal, Garudi selalu mengembangkan senyum manis sebagai cara untuk menebar pesona, terutama kepada wanita-wanita muda yang ditemuinya. Tidak jarang gadis-gadis yang ditemuinya tertawa malu ketika mendapat senyum manis dan kode alis darinya.


Berjalan-jalan di keramaian kota adalah hal yang paling menyenangkan bagi Garudi Malaya, karena peluang untuk melihat wujud-wujud wanita semakin banyak.


Bagi Garudi, melihat wujud wanita saja sudah menyenangkan, apalagi kalau wanita itu muda, terlebih lagi jika ditambah cantik atau manis. Garudi bukanlah tipe pemilih. Tidak peduli apakah wanitanya berkulit hitam atau putih, asalkan enak di mata.


Kini Garudi Malaya berjalan-jalan santai di pasar Kademangan Telubotak yang ada di Desa Tulukotek.


Garudi Malaya menemukan seorang target, yaitu seorang gadis penjual rambutan. Gadis itu hanya berpinjung hitam sebatas dada atas. Meski tidak banyak, tetapi masih ada gumpalan empuk yang menonjol keluar. Kulit si gadis tidak begitu putih, tetapi ia memiliki wajah yang cantik plus manis, semanis kopi susu tambah gula. Rambutnya tergerai bak tirai kamar pengantin.


Garudi Malaya berjalan dengan meyakinkan seiring senyunnya yang sudah mengembang manis dari jauh. Tatapannya lurus kepada wajah gadis penjual rambutan yang sedang kosong pelanggan, padahal selain penjualnya cantik, rambutannya pun sangat merah terkesan sangat manis.


Gadis penjual rambutan yang sudah melihat kedatangan Garudi, jadi terpaku dengan jantung berdetak lebih kencang dan aliran darah berdesir indah, saat pandangan matanya bertemu satu garis dengan pandangan Garudi.


“Hai, Cantik!” sapa Garudi dengan suara khasnya yang berat tapi terkesan jantan. Senyum dan pandangannya tidak lepas terkikis oleh perjalanan waktu.


Nyess! Gadis itu merasa ingin melompat terbang ke udara lalu menari dan bernyanyi sya la la la, saking tersanjungnya disebut Cantik. Jantungnya terasa begitu sejuk. Ia pun tersenyum malu-malu.


“Iya, Kang?” sahut gadis itu seraya tersenyum dengan wajah agak memerah.


“Warna rambutannya sudah sangat manis, penjualnya pun sudah sangat cantik, tapi rasanya akan kurang nikmat kalau Kang Mas ini membeli tanpa tahu nama penjualnya,” kata Garudi sambil turun berjongkok di depan bakul jualan si gadis. Tangannya menyentuh buah rambutan, tapi matanya tidak lepas dari wajah si gadis.


“Namaku Ayu Kemaras, Kang Mas,” jawab gadis penjual rambutan.


“Nama yang ayu. Aku pikir tadi Ayu Keramas. Hahaha!” kata Garudi memuji lalu tertawa santai, sambil tangan kanannya mengambil satu buah rambutan.


“Hihihi! Kang Mas biasa saja,” kata Ayu Kemaras sambil tertawa malu.


“Hahaha! Aku kira bisa saja, ternyata biasa saja,” kata Garudi yang didahului dengan tawa jantannya yang lembut.


Ayu Kemaras semakin tertawa cekikikan.


“Penjual juga harus tahu nama pembelinya, supaya tercipta ikatan batin sehingga nanti akan menjadi langganan siang dan malam. Namaku Garudi Malaya, Rudi yang gagah dan suka membuat wanita melayang-layang. Hahaha!” kata Garudi sambil membelah kulit rambutan dengan jari tangan kanannya, sementara matanya tidak lepas dari wajah Ayu Kemaras.


“Hihihi!” Ayu Kemaras hanya tertawa terus.


“Sungguh beruntung aku, bertemu dengan seorang gadis yang tercantik di pagi ini. Aku cicipi dulu rambutanmu, Ayu,” puji Garudi lalu menyuap ke mulutnya.


“Eh eh, Kang Mas! Itu kulitnya!” seru Ayu Kemaras terkejut melihat Garudi menyuap kulit rambutan ke dalam mulutnya.


“Eh! Hahaha!” kejut Garudi lalu tertawa setelah untuk pertama kali ia alihkan pandangannya melihat apa yang ada di tangan kanannya.

__ADS_1


Ternyata tangan kanannya memegang kulit rambutan yang dikupasnya, sementara daging rambutan ada di tangan kirinya.


“Hahaha! Seperti ini jadinya kalau bertemu gadis yang terlalu cantik,” kata Garudi kembali memuji, membuat Ayu merasa melayang-layang.


“Kang Mas terlalu memuji, aku jadi malu,” ucap Ayu seraya tersenyum malu tidak ada habisnya.


“Hmm, sangat manis,” ucap Garudi saat menikmati rasa satu buah rambutannya. Sampai-sampai bijinya pun ditelan oleh Garudi.


“Kang Mas, kok bijinya juga ditelan?” tanya Ayu terkejut.


“Hahaha! Maklum, bawaan terpesona, memandang wajahmu yang manis. Jadi lupa kalau rambutan itu ada bijinya.”


“Hihihi!” tawa Ayu agak lebih keras.


“Ini, aku bayar. Kecantikan Ayu Keramas ….”


“Ayu Kemaras, Kang Mas!” ralat Ayu.


“Eh iya, Ayu Kemaras. Hahaha! Aku tidak butuh rambutan lagi, karena manisnya senyummu jauh lebih manis dari manisnya rambutan,” kata Garudi Malaya sambil meraih tangan Ayu dan meletakkan dua kepeng uang di telapak tangannya.


Ayu Kemaras hanya mendelik karena diberi uang.


Garudi Malaya bangkit berdiri seraya tersenyum bahagia.


“Aku juga, Kang Mas!” sahut Ayu Kemaras pula. Perasaannya berbunga-bunga. Andaikan ….


Garudi Malaya sudah berbalik lalu melangkah santai sambil menepuk-nepukkan batang tongkatnya ke telapak tangan kirinya.


“Hea hea! Minggiiir!” teriak seorang lelaki tiba-tiba, seiring terdengarnya suara lari seekor kuda yang kencang.


Tampak di kejauhan, seekor kuda hitam yang ditunggangi oleh seorang lelaki brewok, berpakaian serba hitam tapi berikat kepala kain kuning, memasuki jalan pasar yang ramai orang.


Namun, terlihat pula agak jauh di belakang kuda itu, tiga kuda lain yang ditunggangi oleh prajurit kademangan berpacu mengejar.


“Aaa …! Aaa …!” jerit para warga pasar, terutama ibu-ibu, sambil berlarian meninggalkan tengah jalan yang sebenarnya tidak begitu lebar.


Ketika pertama melihat, orang-orang akan langsung menduga bahwa penunggang kuda yang dikejar adalah penjahat buronan pemerintah.


“Aku mau pamer sedikit di depan Ayu agar dia semakin terkagum-kagum,” kata Garudi di dalam hati, senyumnya tetap tersungging.


Garudi lalu berjalan ke tengah jalan pasar dan berdiri di sana, seakan hendak menghadang lari kuda yang datang mendekat.


“Kang Mas Garudi!” teriak Ayu Kemaras terkejut mengandung khawatir.


Senangnya hati Garudi karena Ayu mengkhawatirkannya.

__ADS_1


“Minggiiir!” teriak penunggang kuda itu mendelik sangar saat melihat keberadaan Garudi Malaya di tengah jalan. Dia tidak mau menggeser sedikit arah laju kudanya. “Hea hea!”


Sudah pasti kuda itu akan menabrak Garudi yang berniat pamer ilmu sedikit.


Plak!


Ketika kuda itu tinggal beberapa tombak dari posisi Garudi, tiba-tiba dari samping melesat sesuatu kepada penunggang kuda. Sesuatu itu baru jelas terlihat ketika menampar wajah brewok si penunggang kuda, yaitu seekor ikan sebesar dua telapak tangan.


Blugk!


Hantaman ikan pada wajahnya membuat lelaki penunggang kuda terdorong ke samping dan jatuh dari kuda. Sang kuda dengan sendirinya berbelok ketika hendak menabrak Garudi Malaya. Sementara penunggang kuda jatuh berguling-guling dan berhenti di dekat kaki Garudi.


Garudi langsung menempelkan ujung tongkatnya ke leher si penunggang kuda.


“Hahahak …!” tawa seorang wanita terbahak-bahak seperti tawa bapak-bapak.


Tawa wanita itu diikuti oleh tawa para warga pasar yang sudah mengenalnya. Dari pinggir jalan pasar yang ramai, berjalan seorang gadis remaja cantik berkulit putih bersih. Ia memikul sebatang bambu kecil yang digantungi ikan-ikan segar. Wanita itu tidak lain adalah Alma Fatara. Kini ia lebih besar dari sebelumnya, karena memang sudah satu tahun berlalu.


“Hahaha! Rasakan kalau berani-berani memacu kuda kencang-kencang di pasar!” kata Alma tanpa mendekati korban lemparannya. Ia pergi memungut kembali ikan yang ia lempar. Lemparannya jelas bukan lemparan biasa.


Sementara itu, tiga kuda prajurit kademangan sudah berhenti di tempat itu, mereka segera turun dan meringkus lelaki yang mereka kejar.


Garudi Malaya terbelalak melihat Alma.


“Bidadari …” ucap Garudi Malaya. Sebagai ahlinya tentang kecantikan, ia langsung menilai dan menyimpulkan kecantikan Alma. “Tapi sayang dia masih kecil.”


“Ayo! Siapa yang mau beli ikan hebat ini, ikan yang punya riwayat menjatuhkan seorang penjahat!” teriak Alma sambil mengangkat tinggi-tinggi ikan di tangannya.


“Aku!” teriak seorang lelaki.


“Aku bayar mahal!” teriak seorang ibu berperawakan bangsawan.


“Aku juga punya banyak uang!” teriak yang lain.


“Aku! Aku! Aku …!” teriak yang lain pula.


Warga pasar pun berebut ingin membeli ikan yang tadi menampar wajah si penunggang kuda.


“Tenang …! Tenang …! Penawar tertinggilah yang berhak mendapatkan ikan ini, ditambah hadiah seluruh ikan yang lain!” teriak Alma.


Maka semakin berebutlah para calon pembeli ikan dagangan Alma.


Garudi yang melihat fenomena itu jadi tertawa sendiri.


“Anak yang menarik,” ucapnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2