A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 10: Perkenalan Alma-Genggam


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Akhirnya pagi menyingsing sesuai harapan, tanpa hujan, banjir ataupun badai melanda. Pagi-pagi sebelum matahari terbit, Mullar Adyawali dan istrinya yang dikawal oleh Gulang dan lima anak buahnya, datang ke rumah Kepala Desa.


Alma yang belum bangun jadi terkejut karena suara ramai sudah terdengar menyeruduk gendang telinganya.


Memang dasarnya orang cantik, ketika Alma bangun, wajahnya tetap jelita, meski sedikit berantakan rambutnya.


“Aku mandi dulu, Paman. Agar si Peging tidak kabur gara-gara aku tidak wangi. Hahaha!” kata Alma saat menyapa Mullar Adyawali dan istri, serta Kepala Desa.


Setelah mandi, maka Alma pun semakin cantik dan cerah cemerlang tanpa deterjen pemutih. Ia pun makin harum dengan sabun herbal berwangi mawar.


Sementara itu di belakang rumah. Dari kandang kambing, Ning Ana memantau orang-orang dewasa yang berkumpul di depan rumah. Sambil mengelus-elus punggung kambing besarnya yang berwarna hitam, pandangan Ning Ana sulit beralih dari kegiatan di depan rumah.


Uniknya, kambing yang dielus-elus oleh Ning Ana memiliki tali kendali seumpama kuda atau sapi, tetapi talinya lebih kecil.


Setelah mendapat informasi perkiraan arah kepergian Peging tadi malam, Alma Fatara pergi seorang diri dengan menunggang kuda. Karena tidak memiliki tujuan yang jelas, Alma berkuda santai.


Dalam perjalanannya, Alma memandang ke sana dan ke mari. Tanpa sepengetahuan Alma, ada orang yang mengikuti perjalanannya dari jarak yang cukup jauh. Orang itu tidak lain adalah Ning Ana yang menunggang kambingnya, kambing yang ketika di kandang selalu dia elus-elus. Karena tahu bahwa orang yang diikuti adalah orang sakti, Ning Ana sangat menjaga jarak.


Ketika hendak memasuki sebuah hutan, Alma berpapasan dengan seorang pemuda berkuda yang keluar dari dalam hutan. Pemuda tampan itu berperawakan seorang pendekar. Kepalanya diikat dengan kain warna hijau gelap, sama dengan warna pakaiannya yang serba hijau. Ada sebuah tongkat besi yang menyilang di punggungnya.


Pemuda itu terus memandangi wajah Alma ketika berpapasan. Pandangannya tajam seolah mengajak adu tatap. Melihat pemuda itu terus memandanginya, Alma Fatara juga menatap tanpa berkedip, meskipun ia menahan diri karena ingin tertawa.


Hingga ketika kedua kuda mereka berdekatan, mereka masih saling menatap. Tiba-tiba Alma menjulurkan lidahnya, memelet bermaksud mengejek.


Tindakan Alma Fatara itu membuat si pemuda tampan terkejut.


“Hahaha!” tawa Alma sambil berlalu melalui kuda pemuda tersebut.


Dilewati begitu saja, seolah diremehkan, si pemuda cepat memutar balik kudanya dan mengejar kuda Alma, lalu menghadangnya dengan posisi melintang.


“Tunggu, Nisanak!” seru pemuda itu.


“Ya?” tanya Alma seraya menaikkan kedua alisnya.


“Siapa kau, Nisanak?” tanya si pemuda langsung.


“Pasti kau tertarik kepadaku karena kau langsung menanyakan namaku. Aku ingatkan dirimu, Kakang, jangan sampai tertarik kepadaku,” kata Alma.


“Kenapa?” tanya si pemuda.


“Karena itu buruk bagimu,” jawab Alma.

__ADS_1


“Buruk kenapa? Apakah ada pemuda lain yang akan membacokku?” tanya si pemuda.


“Karena kau akan sakit hati. Hahaha!” jawab Alma.


“Apakah kau sudah punya kekasih?”


“Tidak.”


“Apakah kau sudah punya suami?”


“Tidak, tidak.”


“Apakah kau mencintai pemuda lain?”


“Tidak, tidak, tidak.”


“Apakah kau akan dinikahkan paksa oleh orangtuamu?”


“Tidak, tidak, tidak, tidak.”


“Wah, berarti aku adalah lelaki beruntung.”


“Hahaha!” tawa Alma terbahak, membuat pemuda itu berkeyakinan, ia adalah lelaki pertama yang akan menjadi kekasih gadis cantik yang dijumpainya tanpa ada niat itu.


Si pemuda menaikkan alisnya melihat Alma tertawa lepas, seolah ia adalah gadis yang menyimpan segudang kebahagiaan tanpa ada beban utang pinjaman online. Pemuda itu akhirnya tersenyum karena ditertawakan oleh Alma.


Alma Fatara tersenyum lebar mendengar pemuda itu memperkenalkan dirinya.


“Kakang Genggam, kau seorang pendekar tampan, rasanya mustahil jika kau tidak punya wanita pemuja dirimu?” tanya Alma.


“Hahaha! Cerdas,” puji Genggam Sekam sambil tertawa.


“Pertemuan pertama antara seorang lelaki dan wanita, itu selalu berbungkus kepalsuan,” kata Alma.


“Hahaha!” tawa Genggam Sekam lebih kencang. “Aku memang memiliki beberapa wanita pemuja, tapi mereka masa laluku. Saat ini hatiku seorang diri. Sudah dua purnama lamanya aku melewati masa berkabung. Jadi, tidak salah jika aku mencari pemuja yang baru.”


“Tapi aku sedikit pun tidak mau memujamu, Kakang,” kata Alma.


“Aku bersedia menjadi pemujamu, Nisanak Cerdas,” kata Genggam sekam.


“Tapi aku tidak mau dipuja, Kakang. Hahaha! Ah, sudahlah. Aku harus mencari seseorang,” kata Alma lalu membelokkan sedikit kepala kudanya untuk melewati posisi Genggam Sekam.


“Nisanak Cerdas! Bolehkan aku tahu siapa orang yang kau cari? Mungkin aku bisa menanam budi untukmu,” kata Genggam Sekam yang membuat Alma menghentikan kembali kudanya.

__ADS_1


“Namaku Alma Fatara, Kakang. Aku mencari pemuda yang bernama Peging. Dia membawa lari gadis desa. Dia memiliki pisau sakti yang sangat berbahaya,” jawab Alma dengan sengaja membocorkan ciri-ciri senjata Peging.


“Pisau sakti yang sangat berbahaya?” sebut ulang Genggam Sekam. Ia lebih tertarik mendengar tentang pisau. “Apakah maksudmu pisau itu adalah Pisau Bunuh Diri, Alma?”


“Aku tidak tahu nama pisaunya, tapi Peging membunuh orang lain dengan cara menusuk dan menyayat dirinya sendiri,” jelas Alma.


“Benar, itu Pisau Bunuh Diri!” tandas Genggam Sekam.


“Kakang Genggam juga ingin memilikinya?” tanya Alma.


“Kekasihku dibunuh oleh Pisau Bunuh Diri, tapi aku tidak tahu siapa yang saat itu memegang pisau tersebut,” kata Genggam Sekam. “Izinkan aku ikut bersamamu.”


“Bukankah Kakang akan pergi ke suatu tempat?” tanya Alma mengingatkan.


“Benar, tetapi urusan menemukan pembunuh mendiang kekasihku lebih penting,” jawab Genggam Sekam.


“Tapi dengan syarat, jangan jatuh hati kepadaku, Kakang. Aku masih terlalu muda. Aku tidak mau menjadi kekasih ingusan,” tandas Alma sambil tersenyum manis.


“Baik … baik. Aku tidak akan mengganggumu, Alma. Aku berjanji,” kata Genggam Sekam.


“Tapi, Kakang datang dari arah yang akan aku datangi,” kata Alma.


“Aku tidak menemukan seorang pun di dalam hutan. Lebih baik kita ubah arah.”


“Baiklah.”


“Jika yang diculik adalah seorang gadis desa, kemungkinan besar gadis itu tidak akan dibawa jauh-jauh. Mungkin masih di sekitar luar desa,” ujar Genggam Sekam.


“Aku memilih ke selatan.”


“Ayo!”


Maka mereka berdua menjalankan kudanya ke arah selatan.


Agak jauh di belakang, Ning Ana yang menunggang kambing segera melanjutkan penguntitannya.


“Sepertinya Kakang Genggam suka dengan kecantikan. Ketika melihat yang cantik seperti aku, langsung tertarik. Jika Kakang bersedia, aku menawarkan seorang gadis desa yang sangat cantik. Saat ini dia tidak memiliki seorang pemuda sebagai kekasih,” ujar Alma Fatara.


“Kau jangan mengerjaiku, Alma,” kata Genggam Sekam tidak percaya.


“Hahaha! Aku hanya bermaksud memberi peluang. Tidak ada salahnya Kakang pergi melongok gadis desa yang aku maksud. Jika tidak cocok, yang tidak apa-apa. Namanya Ning Ara,” kata Alma.


“Baik, nanti akan aku lihat gadis yang kau tawarkan.”

__ADS_1


“Tapi tunggu dulu. Kakang Genggam pendekar yang baik, kan?” tanya Alma.


“Pasti.” (RH)


__ADS_2