A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 20: Alma Cipta Kacau


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


Nasib nahas dialami oleh prajurit Kademangan Dulangwesi yang mengawal dan sais kereta kuda Nyi Bungkir. Mereka harus mati dengan cepat saat diserang beramai-ramai oleh prajurit Kadipaten Balongan.


Tinggallah Nyi Bungkir, Giling Saga dan Brata Ala yang tersisa. Mereka bertiga saling bahu-membahu menghadapi keroyokan para prajurit yang bertarung dengan formasi perang.


Bak!


Ketika Brata Ala melompat menerjang seorang prajurit, empat prajurit lain dengan kompak menutup target dengan memasang empat tameng rotannya. Terjangan Brata Ala jadi terbentur oleh lapisan perisai dan didorong kembali berbalik.


Werss! Blar!


Terlemparnya Brata Ala digantikan dengan kemunculan Giling Saga yang melompat sambil melepaskan sinar biru dari ilmu Bola Samudera. Sinar itu menghantam tameng empat perisai prajurit.


Tameng-tameng itu hancur seiring terpentalnya keempat prajurit, lalu terkapar dalam kondisi luka fisik yang cukup parah.


Sementara itu, Nyi Bungkir mau tidak mau harus bekerja keras. Dengan kedua telapak tangan bersinar hijau keputihan, wanita cantik itu menumbangkan para prajurit satu per satu. Setiap tubuh yang terkena pukulan dari ilmu Telapak Daun Racun, harus meregang nyawa beberapa saat kemudian, setelah racunnya bereaksi menyerang tubuh dalam.


Namun, sehebat-hebatnya ilmu dan segesit-gesitnya gerakan Nyi Bungkir, tetap saja serangan tombak yang susul-menyusul dan rapat, membuatnya kewalahan. Terlebih ketika satu tusukan tombak mengenai betis indahnya.


Set!


“Akk!” pekik tertahan Nyi Bungkir saat betis kanannya terbeset sisi tajam mata tombak.


Namun, itu cukup membuat Nyi Bungkir mengamuk dengan ilmu Lukisan Dewi.


“Hiaat!” pekik Nyi Bungkir sambil mengibaskan kedua tangannya bergantian ke sekitar.


Sesst! Sesst!


“Akk akk akk …!” jerit para prajurit yang ditebas oleh kelebatan sinar hijau tipis. Jangankan tubuh mereka, tameng rotan mereka saja dibuat terbelah dua.


“Panah!” perintah Lot kepada sebarisan pasukan panah yang telah bersiap.


Set set set …!


Belasan anak panah segera melesat berjemaah menyerang Nyi Bungkir seorang. Dengan gerakan yang gesit, wanita cantik itu berusaha mengelaki hujan panah.


Tseb!


“Ekk!” keluh Nyi Bungkir saat satu anak panah berjaya menusuk lambung kirinya.


Suasana malam memang membuat serangan panah memiliki keunggulan lebih. Nyi Bungkir sampai terdorong merapat ke roda kereta kudanya.


Melihat kondisi Nyi Bungkir yang sudah terkena panah, Giling Saga segera melompat ke dekat Nyi Bungkir. Layaknya seorang pahlawan, Giling Saga tampil sebagai benteng hidup bagi Nyi Bungkir dari serangan para prajurit yang langsung menyerbu.

__ADS_1


Kesepuluh jari tangan Giling Saga dan Brata Ala telah memerah seperti bara besi. Kulit dan daging para prajurit yang terkena tidak mendapat ampun. Tombak-tombak prajurit mudah dipatahkan dengan jari-jari panas tersebut. Jerit-jerit para prajurit terdengar susul-menyusul.


Namun, tetap saja ada kondisi yang membuat mereka tersudut, seperti yang dialami oleh Brata Ala.


Pada satu kesempatan, Brata Ala dijepit oleh dorongan tameng sejumlah prajurit dari segala arah. Kondisi itu membuat jari-jari panas Brata Ala tidak banyak berguna.


Sreet! Blar blar!


Seiring para prajurit itu menyusupkan pedang-pedang mereka dari balik tameng-tamengnya, menusuk tubuh Brata Ala dari berbagai arah, kedua tangan Brata Ala juga meledakkan dua sinar Bola Samudera.


Dua ledakan keras menghancurkan tameng-tameng yang menjepit tubuh Brata Ala, mementalkan para prajuritnya. Namun, pedang-pedang itu telah menusuk tubuh si pemuda. Ada lima tusukan pedang yang bersarang pada badan Brata Ala.


Brata Ala jatuh terlutut. Darah mengalir deras.


“Brata Ala!” teriak Giling Saga terkejut melihat tumbangnya Brata Ala.


Swess! Bluarr!


Tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh lesatan sinar kuning emas menyilaukan mata, menerangi daerah itu dengan sangat jelas. Sinar emas dari jauh itu melesat melambung seolah sengaja dilambungkan dari jauh. Sinar tersebut jatuh di tengah-tengah pasukan Kadipaten Balongan.


Ledakan dahsyat terjadi, mementalkan dan membunuh puluhan prajurit, termasuk mementalkan Komandan Dampuk Ulang dan Lot bersama kuda tunggangannya. Ledakan dahsyat itu juga membuat Nyi Bungkir, Giling Saga dan Brata Ala terpental dan jatuh terjengkang.


Dua kuda penarik kereta kuda terkejut ketakutan. Keduanya meringkik liar lalu berlari meninggalkan posisinya.


Giling Saga yang masih bugar, cepat mengangkat tubuh Nyi Bungkir lalu berlari mengejar kereta kuda. Selanjutnya ia berkelebat berlari di udara dan mendarat di tempat sais pada kereta. Akhirnya, kereta berhasil meninggalkan tempat itu.


“Hahahak …!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak seorang wanita di tempat yang agak jauh. Mereka semua yang masih hidup memusatkan pandangannya ke arah sosok kuda, yang ditunggangi oleh seorang wanita yang sedang tertawa. Kegelapan membuat sosok itu hanya terlihat sebagai bayangan warna hitam.


“Obor!” teriak Dampuk Ulang, maksudnya meminta api.


Seorang prajurit segera datang berlari dari belakang dengan membawa sebuah obor bambu. Setelah menerima obor, Dampuk Ulang melesatkan obor di tangannya jauh ke arah si penunggang kuda. Ia bermaksud melihat sekilas sosok yang mengacaukan seluruh pasukannya.


Wuss!


Namun, seembusan angin yang dikirim oleh wanita penunggang kuda justru memadamkan api obor di tengah jalan.


“Hahaha!” Wanita itu malah tertawa. Kemudian dia menggebah kudanya, “Heah!”


Kuda itupun berlari kencang mendatangi arah pasukan pimpinan Dampuk Ulang.


“Panah! Panah!” perintah Dampuk Ulang.


Namun sayang, pasukan panah belum siap usai dibuat berantakan oleh sinar emas tadi.

__ADS_1


Pada saat itu, sosok wanita berjubah telah lepas landas dari punggung kudanya. Ia naik ke udara dengan tangan kanan berbekal sinar emas menyilaukan. Di situlah terlihat jelas wajah cantik wanita tersebut, yang tidak bukan adalah Alma Fatara.


“Munduuur! Munduuur!” teriak Dampuk Ulang panik sambil ia dan Lot buru-buru berkelebat mundur lebih dulu.


Puluhan prajurit yang berposisi di depan, jadi ikut panik dan buru-buru berlari mundur dengan kacaunya, seperti sekelompok rusa yang terkejut dengan kemunculan buaya predator.


Jleg!


“Hahaha …!” tawa terbahak Alma melihat kepanikan para prajurit tersebut. Dia sudah mendarat di pinggir kubangan. Ia memadamkan ilmu Pukulan Bandar Emas yang tidak jadi ia lepaskan.


Wuss!


Alma memilih melepaskan ilmu Sedot Tiup, ilmu angin berkekuatan hebat. Gelombang angin besar yang dilepaskan oleh Alma menderu memburu pasukan yang bergerak mundur secara kacau. Angin itu masih bisa menjangkau sejumlah prajurit terdekat dan melemparkannya sejauh rata-rata satu tombak saja, tidak usah banyak-banyak.


Setelah melepaskan angin yang kian menjauhkan posisi Dampuk Ulang dan pasukannya, Alma bergegas mengangkat tubuh Brata Ala ke punggung kuda.


Pak!


Alma dengan keras menepuk bokong kuda miliknya, sehingga meringkik keras dan berlari kencang ke arah kepergian kereta kuda tadi.


“Maafkan aku, para prajurit! Hahaha!” teriak Alma kepada Dampuk Ulang dan pasukannya, lalu tertawa sendiri.


Alma lalu berlari dan berkelebat di udara. Ia mendarat di punggung seekor kuda yang berada agak jauh dari pusat pertempuran. Dengan kuda bekas tunggangan Brata Ala itu, Alma melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.


Pada akhirnya, Alma bisa menyusul kuda yang membawa tubuh Brata Ala dan kereta kuda. Mereka akhirnya berkumpul di rumah Demang Baremowo.


“Beruntung kau muncul, Alma,” kata Giling Saga sambil mengangkat tubuh Nyi Bungkir masuk ke dalam rumah.


Para prajurit dan pelayan di rumah Demang Baremowo seketika dibuat sibuk. Dua orang prajurit menggotong tubuh Brata Ala yang sudah tidak sadarkan diri karena kehabisan banyak darah.


“Kenapa kau bisa menyusul kami, Alma?” tanya Nyi Bungkir.


“Aku diminta oleh Paman Demang untuk memastikan keselamatan Gelis Sibening. Agar aku tidak tersesat, aku mengikuti kalian. Ternyata ada rampok di tengah jalan,” jelas Alma.


“Itu pasukan Kadipaten Balongan, tetapi mereka datang bukan atas perintah resmi dari Adipati,” kata Giling Saga sambil menutupi luka panah pada lambung Nyi Bungkir dengan kain yang dibawakan oleh pelayan. Anak panahnya masih belum dicabut.


“Suruh prajurit memanggil tabib!” perintah Nyi Bungkir kepada pelayannya.


“Baik, Nyi.”


“Alma, cepatlah pergi ke rumah Nyi Kenanga, selamatkan Gelis dan tangkap Nyi Kenanga, sebelum pasukan Kadipaten sampai lebih dulu di sana. Aku yakin, pasukan Kadipaten itu dikirim oleh ayah Nyi Kenanga untuk membantu putrinya menyingkirkan Demang dan aku,” kata Nyi Bungkir.


“Tapi di sebelah mana rumah Nyi Kenanga itu?” tanya Alma.


“Arah selatan dari rumah ini. Rumah itu saat ini sedang dikepung oleh Dengkul Geni dan pasukan Kademangan,” jawab Nyi Bungkir.

__ADS_1


“Baik!” (RH)


__ADS_2