
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Dalam kondisi basah kuyup dan tubuh lemas, lelaki tua yang mengaku bernama Jangkung Jamur itu mencoba memulihkan tenaganya dengan cara melakukan giat pernapasan.
Pengolahan pernapasan yang rapi dan tertib itu hanya berlangsung sekitar seratus hitungan. Setelahnya, Jangkung Jamur berdiri. Dia memang tinggi, bahkan sedikit lebih tinggi dari tubuh Garam Sakti.
“Siapa nama kalian semua?” tanya Jangkung Jamur kepada Alma Fatara dan rekan-rekan. “Mungkin suatu saat nanti aku bisa berbalas kebaikan.”
“Aku Alma Fatara, Kek. Yang cantik ini namanya Ayu Wicara,” kata Alma mulai memperkenalkan rekannya satu per satu.
“Amal tahu saja kalau aku jentik. Hihihi!” celetuk Ayu memotong perkataan Alma lalu tertawa genit sendiri.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar perkataan Ayu Wicara. Kemudian dia melanjutkan perkenalannya, “Ini Paman Magar Kepang, orang terkaya di tiga desa Pantai Parasemiris. Ini Debur Angkara, seorang pendekar desa. Yang kusir itu Garam Sakti, seorang pendekar desa juga. Yang dipedati Nenek Warna Mekararum.”
Mereka yang diperkenalkan hanya menganggukkan kepala sekali, kecuali Warna Mekararum.
“Jika boleh tahu, perkara apa yang membuat Kakek Jangkung hanyut di sungai?” tanya Alma.
“Aku dituduh merebut Pisau Bunuh Diri oleh Empat Bunga Pesona. Aku kalah bertarung dan jatuh ke sungai. Padahal aku tidak pernah melihat pisau itu,” tutur Jangkung Jamur.
“Jika diperebutkan seperti itu, berarti pisau itu adalah senjata sakti?” tanya Alma.
“Benar. Menurut cerita yang aku dengar, pisau itu bisa membunuh lawan dengan cara ditusukkan ke diri sendiri. Namun entahlah, aku pun belum pernah melihat pisau itu, apalagi melihat kehebatannya,” kata Jangkung Jamur.
“Oh,” desah Alma hanya manggut-manggut.
“Kenapa aura Bola Hitam ada padamu, Alma?” tanya Jangkung Jamur dengan tatapan serius.
“Karena itu adalah senjataku, Kek. Kakek Jangkung juga bisa merasakan rupanya. Hahaha!”
“Berhati-hatilah, Nak. Banyak pendekar serakah berkeliaran,” pesan Jangkung Jamur. Lalu katanya, “Terima kasih sekali lagi. Aku harus pergi, Alma.”
Kakek itu lalu berlari menyeberang jalan tanah lalu melompat dan berkelebat menerabas semak belukar, seolah ia sengaja menghindari jalan umum.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan!” seru Alma Fatara yang dalam kondisi kuyup. Namun, kondisi kuyup seperti itu sudah hal yang biasa bagi Alma Fatara. Biasanya, pakaian luar dan dalamnya akan kering di badan.
__ADS_1
Mereka semua lalu kembali ke tunggangannya masing-masing. Perjalanan pun dilanjutkan.
“Jika Kakek Jangkung bisa merasakan aura Bola Hitam, kenapa keempat pendekar wanita tadi tidak merasakannya?” tanya Alma kepada dirinya sendiri, seperti pemain sinetron, tetapi tetap terdengar oleh Warna Mekararum yang duduk di dekatnya.
“Bukankah mereka masih muda-muda? Mungkin mereka tidak mengenal Bola Hitam karena ketika Raja Tanpa Tahta masih hidup, mereka belum berkeluyuran di dunia persilatan, atau tidak pernah bertemu dengan Raja Tanpa Tahta. Jadi, meskipun mereka merasakan aura Bola Hitam, tetapi mereka tidak tahu aura apa itu,” kata Warna Mekararum menanggapi pertanyaan Alma.
“Iya ya, Nenek benar juga. Berarti orang yang tahu bahwa aku memiliki Bola Hitam hanya para pendekar yang pernah bertemu dengan Raja Tanpa Tahta. Nenek pernah bertemu dengan Raja Tanpa Tahta?”
“Belum, tetapi nama Raja Tanpa Tahta sudah masyhur ke mana-mana. Dia masyhur karena kesaktiannya yang sulit dicari tatarannya, dan dia masyhur karena kebaikannya. Itu sebabnya, kematiannya karena diracun oleh istrinya sendiri menjadi berita yang sangat menggemparkan dunia.”
“Pantas saja para pendekar itu sangat ingin memiliki Bola Hitam, ternyata pusaka ini memiliki kesaktian yang begitu hebat seperti Angin Tujuh Langit. Kenapa Guru tidak pernah bercerita tentang kehebatan Bola Hitam?”
“Tanpa dia cerita pun, kau tetap akan tahu,” kata Warna Mekararum.
“Berarti, setelah Nenek sembuh, kita pergi ke Kerajaan Jintamani?” tanya Alma.
“Benar. Aku minta bantuanmu untuk pergi menemui Prabu Marapata.”
“Baik, Nek. Aku akan membantu Nenek sampai Nenek sudah tidak membutuhkan bantuanku lagi. Hahaha!”
“Hahaha!” Alma hanya tertawa mendengar keinginan sang ratu.
Ketika mereka sudah cukup jauh menyusuri jalan pinggir sungai, mereka kembali harus berhenti. Pasalnya, di depan sana, tepatnya di tengah jalan, sedang terjadi pertarungan sengit antara empat wanita muda dengan dua nenek kembar.
Nenek kembar itu memiliki gaya rambut putih keriting yang sama, sama-sama berhias bando kain warna kuning. Mereka pun sama-sama menggunakan senjata cemeti warna kuning. Model pakaiannya pun sama, tetapi beda warna. Yang satu warna biru terang dan satunya warna hijau muda. Satu hal lagi yang membedakan, yaitu giginya.
Nenek berpakaian warna biru yang bernama Nyai Delima memiliki gigi yang berwarna merah, seperti gusinya sedang berdarah, tetapi memang merah adalah warna oroginalnya. Sedangkan nenek berpakaian warna hijau muda bernama Nyai Langsat memiliki gigi yang normal dengan satu lubang pintu agak di kiri.
Masing-masing nenek dikeroyok oleh dua gadis. Para gadis itu bertarung masing-masing menggunakan selendang.
Para gadis itu tidak lain adalah keempat wanita muda berkuda yang sempat mampir sejenak bertanya kepada rombongan Alma di pinggir sungai. Mereka dikenal dengan nama Empat Bunga Pesona.
“Jika kalian tidak berhenti, jangan salahkan jika kami berlaku kurang ajar, Nyai Langsat!” seru Bunga Dara, gadis tertua yang berpakaian warna merah.
“Bukankah Pendekar Tinju Pusaka terakhir kali berseteru dengan kalian?” tukas Nyai Langsat, lalu kembali menyerangkan lecutan ujung cemetinya ke arah Bunga Dara.
__ADS_1
“Itu bukan berarti kamilah yang sekarang memegang pisau itu!” seru Bunga Gadis pula, wanita cantik berbibir ungu. Ia mengenakan pakaian warna ungu dengan selendang berwarna kuning. Ia melesatkan ujung selendangnya di saat Nyai Langsat menyerang kakak seperguruannya.
Ctas! Sleeb!
Bunga Dara gesit menghindari lecutan cemeti Nyai Langsat. Namun sebaliknya, Nyai Langsat memberikan tangan kirinya untuk dililit oleh selendang Bunga Gadis.
Setelah itu, Nyai Langsat melompat jauh ke arah Bunga Gadis sambil melecutkan cemetinya.
Sleet! Das!
Namun, sebelum cemeti itu mengenai sasaran, dari samping telah berkelebat selendang putih milik Bunga Dara yang telak menghantam lambung Nyai Langsat.
Tubuh nenek itu terlempar ke samping, tetapi bagusnya dia masih bisa mendarat dengan bagus dan tangannya lepas dari lilitan ujung selendang.
“Jika aku memiliki Pisau Bunuh Diri, mungkin sudah aku gunakan untuk membunuh kalian berdua!” seru Bunga Dara di jeda sejenak itu.
Perkataan Bunga Dara membuat Nyai Langsat berhenti bergerak, tidak melanjutkan serangannya. Sepertinya kata-kata Bunga Dara dibenarkan oleh akal sehatnya. Namun, tiba-tiba sepasang mata tuanya melebar dan pandangannya tiba-tiba dilemparkan ke arah pedati kuda, tepatnya langsung ke arah Alma yang duduk di bak pedati.
“Bola Hitam?” ucapnya lirih. Lalu tiba-tiba teriaknya kepada saudari kembarnya, “Delima, hentikan pertarungan!”
Nyai Delima yang bertarung sudah menggunakan cemeti berapi biru, jadi berhenti. Padahal ia baru saja berniat menghajar serius kedua lawannya.
Namun, ia segera tersadar akan rasa sesuatu. Ia pun tiba-tiba melemparkan pandangan langsung ke arah Alma Fatara dengan tatapan setajam sembilu.
“Sepertinya kedua nenek itu merasakan kehadiran Bola Hitam,” kata Warna Mekararum yang bisa melihat gelagat kedua nenek kembar.
“Delima, lupakan Pisau Bunuh Diri, pusaka yang lebih sakti datang dengan sendirinya!” teriak Nyai Langsat.
“Tunggu apa lagi, langsung serang!” teriak Nyai Delima ambisius, lalu tiba-tiba berlari kencang menerabas kedua lawannya.
Nyai Langsat pun cepat menyusul kembarannya, tanpa mempedulikan lawannya sebelumnya.
Empat Bunga Pesona hanya terkejut melihat tindakan kedua nenek kembar itu.
Alma Fatara dan rekan-rekannya juga terkejut, tahu-tahu menjadi sasaran kedua nenek bar-bar itu. (RH)
__ADS_1