
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Perjalanan Alma dan rombongan harus tetap dilanjutkan meski Magar Kepang menderita luka tusuk. Tabib Renta Ranum sudah meringankan lukanya.
“Ye ye ye!” teriak Ning Ana gembira ketika kuda-kuda mereka kembali berjalan.
Magar Kepang harus membeli kuda baru untuknya. Ia menunggang kuda dengan cara tengkurap di punggungnya, agar lukanya tidak menyentuh pelana kuda atau tertekan. Meski itu cara menunggang kuda yang tidak nyaman, tetapi harus ia lakoni. Faktor itu juga yang membuat rombongan berjalan lebih pelan.
Sementara pedati sudah diperbaiki sebelum melanjutkan perjalanan. Kali ini, Pendekar Tongkat Berat ikut serta, membuat rombongan tambah gemuk dan memiliki seorang pemuda tampan.
Mereka meninggalkan Desa Rawabening. Tinggal melewati Perguruan Pisau Merah maka mereka akan tiba di Rawa Kabut, tempat kediaman Ki Ramu Empedu.
Ternyata, perjalanan mereka masih harus tertunda lagi, sebab di tengah jalan ada pertarungan yang terjadi dengan meriahnya. Meriah karena melibatkan empat wanita bersenjata selendang dan sekitar dua puluh lelaki berseragam merah-merah bersenjatakan pisau merah.
Ada satu orang lelaki yang berdiri di seberang sana. Dia hanya menyaksikan pertarungan tersebut.
Rombongan Alma terpaksa berhenti untuk menunggu mereka selesai bertarung atau ada satu kelompok yang kalah.
Genggam Sekam mengerutkan kening ketika melihat lelaki berseragam merah yang hanya menonton.
“Sepertinya itu Ulung Gegap,” batin Genggam Sekam.
Pemuda itu lalu mendekatkan kudanya ke sisi pedati mendekati Alma.
“Alma, sepertinya itu Ulung Gegap,” kata Genggam Sekam.
“Oh. Jadi dia murid Perguruan Pisau Merah?” respon Alma.
“Entahlah, tapi itu pasti Ulung Gegap!” tandas Genggam Sekam. “Aku akan menemuinya.”
Genggam Sekam lalu berkelebat meninggalkan punggung kudanya. Ia turun di tengah-tengah pertarungan lalu berlari di sela-sela orang-orang itu.
Empat Bunga Pesona sempat terkejut melihat pemuda tampan itu masuk ke pertarungan, tetapi kemudian mereka tahu bahwa Genggam Sekam hanya sekedar lewat.
Sementara lelaki berpakaian merah di seberang sana agak terkejut ketika melihat Genggam Sekam berlari ke arahnya.
“Pendekar Tongkat Berat. Punya maksud apa dia kepadaku?” batin lelaki berusia sekira separuh abad kurang lima tahun.
“Ulung Gegap!” sebut Genggam Sekam sambil berhenti lima langkah di depan lelaki yang dikenalnya bernama Ulung Gegap.
“Apa urusanmu padaku, Tongkat Berat?” tanya lelaki yang memang Ulung Gegap.
“Aku ingin tahu siapa pemegang Pisau Bunuh Diri dua purnama lalu, karena dengan pisau itu kekasihku dibunuh,” ujar Genggam Sekam.
__ADS_1
“Kenapa kau bertanya kepadaku?” tanya Ulung Gegap.
“Karena sebelum Pengemis Batok Bolong memegang pisau itu, kau adalah orang yang memegangnya,” jawab Genggam Sekam.
“Dia benar, tapi juga dia tidak jujur. Kau dikelabuinya,” kata Ulung Gegap.
Terkesiaplah Genggam Sekam.
“Sebelum dia, akulah yang memegang Pisau Bunuh Diri selama dua pekan. Namun, aku merebut pisau itu justru dari Pengemis Batok Bolong juga,” tandas Ulung Gegap.
“Apa?!” kejut Genggam Sekam. “Jika benar yang kau katakan berarti Batok Bolong sengaja ingin menutupi siapa pemegang pisau pada dua purnama lalu.”
“Pergilah kembali tanyakan kepada Pengemis Batok Bolong. Hingga lebih satu purnama lalu, memang aku yang memegang pisau itu, tapi sebelumnya jelas-jelas Batok Bolong yang memegangnya. Apakah memang dia atau pendekar lain, yang jelas dia tahu dari mana dia merebut pisau itu sebelumnya,” tandas Ulung Gegap.
“Setahuku kau bukan orang Perguruan Pisau Merah?” tanya Genggam Sekam.
“Tapi sekarang aku bagian dari mereka. Perguruan Pisau Merah yang menolong nyawaku saat terluka oleh Pisau Bunuh Diri. Sudahlah, itu bukan urusanmu,” kata Ulung Gegap.
“Baiklah. Aku harap kau pun tidak mengelabuiku, Ulung Gegap,” ujar Genggam Sekam.
“Aku tidak punya masalah denganmu, untuk apa aku mengelabuimu,” balas Ulung Gegap.
“Baiklah, terima kasih atas petunjukmu,” ucap Genggam Sekam.
“Apa yang kau dapat, Kakang?” tanya Alma.
“Menurut Ulung Gegap, kita telah dikelabui oleh Pengemis Batok Bolong. Ulung Gegap benar sebelumnya memegang pisau itu selama dua pekan, tetapi ia merebutnya dari Batok Bolong pula. Jika perkataan Ulung Gegap benar, berarti kemungkinan besar pembunuh kekasihku adalah Batok Bolong, atau orang yang dia ketahui sebagai pemegang pisau itu sebelum dirinya,” kata Genggam Sekam.
“Lalu apa yang Kakang akan lakukan?” tanya Alma Fatara.
“Aku akan kembali ke Desa Rawabening untuk mencari Batok Bolong,” jawab Genggam Sekam.
“Baiklah,” kata Alma.
“Heah!” Genggam Sekam yang sudah duduk di punggung kudanya, segera menggebah kudanya. Ia pergi meninggalkan rombongan menuju ke Desa Rawabening lagi.
“Sepertinya si marah-marah (merah-merah) akan kalah, Kacang (Kakang),” kata Ayu Wicara kepada Debur Angkara, mengomentari pertarungan massal yang mereka tonton.
“Mereka tidak bisa mendekati Empat Bunga Pesona. Mereka harus mengandalkan pisau terbang, tapi pertahanan selendang empat wanita cantik itu sangat kuat,” tanggap Debur Angkara.
“Jangan menyebut mereka jentik (cantik) di depanku. Aku ini kekasihmu, Kacang Dengkur. Aku suka memburu (cemburu),” kata Ayu Wicara.
“Iya,” ucap Debur Angkara seraya tersenyum kecut.
__ADS_1
Sementara itu di dalam pertarungan.
Meski jumlah murid-murid Perguruan Pisau Merah lebih banyak, tetapi yang mereka lawan adalah empat pendekar wanita sakti. Terlihat jelas bahwa murid-murid Perguruan Pisau Merah tidak bisa mendekati fisik keempat wanita cantik itu, karena mereka terbentur oleh kelebatan-kelebatan selendang yang berseliweran tanpa henti.
Bukan hanya itu, keahlian pisau merah terbang dengan mudah digugurkan oleh pertahanan selendang. Pisau-pisau seolah terbuang percuma dan berserakan di tanah jalanan. Padahal, untuk membuat satu pisau saja dibutuhkan bahan dan upaya.
Perguruan Pisau Merah memang memproduksi pisau merahnya sendiri. Mereka hanya perlu pasokan besi untuk membuat pisau.
Selain pisau-pisau yang berguguran, murid-murid itu juga dibuat bertumbangan dengan berbagai kondisi dan luka. Sejauh ini, Empat Bunga Pesona hanya mengandalkan ilmu selendangnya, belum mengeluarkan kesaktian yang lain.
“Ulung Gegap! Jika kau tidak menginginkan murid-murit Perguruan Pisau Merah ini bermatian, lebih baik suruh mereka mundur!” seru Bunga Dara memberi kesempatan kepada Ulung Gegap.
“Pisau Bunuh Diri adalah pusaka milik Perguruan Pisau Merah, jadi itu harus kalian serahkan!” teriak Ulung Gegap pula.
“Kenapa bukan Dato Jari Sambilan sendiri yang turun tangan untuk merebut Pisau Bunuh Diri? Biar dia mati sekalian di tangan kami!” seru Bunga Dara lagi.
“Aku minta sekali lagi, serahkan Pisau Bunuh Diri itu, Bunga Dara!” seru Ulung Gegap.
“Tidak akan! Hanya dengan senjata ini aku bisa membunuh Dato Jari Sambilan!” tegas Bunga Dara.
“Serang mereka dengan ilmu Pisau Penghancur!” teriak Ulung Gegap.
“Benteng Selendang Pelangi!” teriak Bunga Dara pula.
Bersamaan dengan kedua telapak tangan murid-murid Perguruan Pisau Merah pada menyala merah seperti lampu neon, Empat Bunga Pesona cepat bergerak berkumpul satu. Bunga Gadis, Bunga Mekar dan Bunga Semi berdiri mengurung posisi Bunga Dara dengan tiga sudut.
Blet! Blet! Blet!
Sebelum ada serangan yang datang lebih dulu, keempat wanita cantik itu melepaskan selendang mereka. Selendang-selendang empat warna itu bukan lepas jatuh ke tanah, tetapi lepas melesat terbang dengan sendirinya memutari posisi berdiri mereka berempat.
Keempat selendang yang lebar dan panjang itu terus melesat terbang berputar tanpa henti, sehingga membentuk kurungan selendang. Sementara di dalam kurungan, Bunga Gadis, Bunga Mekar dan Bunga Semi menciptakan perisai sinar kuning masing-masing yang melindungi tubuh mereka. Adapun Bunga Dara tidak, ia mengeluarkan Pisau Bunuh Diri.
Ses ses ses …!
Bless bless bless …!
Para murid Perguruan Pisau Merah secara serentak dan susul-menyusul melesatkan sinar-sinar merah berwujud pisau kecil. Semua sinar dari ilmu Pisau Penghancur itu menghantam dinding selendang yang tanpa celah. Semua sinar merah hanya ambyar tanpa menimbulkan kerusakan pada dinding selendang ataupun melukai keempat wanita itu.
Seet!
Giliran Bunga Dara yang melakukan serangan dengan cara ia mengiris leher indahnya sendiri menggunakan Pisau Bunuh Diri.
Selain Empat Bunga Pesona, tidak ada yang melihat apa yang dilakukan oleh Dewi Bunga. (RH)
__ADS_1