
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Alma Fatara dan rombongan akhirnya di terima oleh Dugil Ronggeng, Kepala Desa Bungitan. Rumah Dugil Ronggeng memang tidak besar, tetapi yang penting Ratu Warna Mekararum memiliki tempat yang nyaman untuk tidur.
Adapun para lelaki bisa tidur di mana saja, apakah beratap atau tidak. Alma dan Ayu Wicara juga bisa tidur di mana saja. Bahkan Alma lebih ekstrem, karena tidur di air pun dia bisa.
Pada malam itu, mereka dengan Dugil Ronggeng sedang berbincang-bincang akrab. Warna Mekararum sudah beristirahat di kamar yang tuan rumah miliki. Untuk malam itu, rencananya Dugil Ronggeng akan tidur di ruang tamu.
“Putri Ki Dugil di mana? Kok sejak tadi tidak terlihat?” tanya Debur Angkara sambil memandang ke dalam dan ke sekitar rumah yang gelap.
“Entahlah, sejak pulang tadi sore, putriku tidak keluar-keluar dari kamarnya,” kata Dugil Ronggeng dengan nada yang santun dan merendah.
“Kakak itu sedang berduka, Ayah. Aku lihat tadi menangis saat pulang!” celetuk gadis tanggung nan cantik yang duduk di pojok teras. Gadis cantik berhidung bangir itu memiliki bibir bawah yang belah, membuat bibirnya begitu memikat. Namanya Ning Ana, putri bungsu Dugil Ronggeng.
“Ah, jangan sembarangan jika bicara, Ana!” hardik Dugil Ronggeng.
“Jika tidak percaya, Ayah lihat saja di kamar Kakak, pasti dia sedang gantung diri karena putus cinta,” kata Ning Ana asal.
“Husy! Bicara apa kau itu? Jangan bicara sembarangan di depan tamu!” hardik Dugil Ronggeng.
“Kalau kakaknya putus cinta, Kang Garam siap menyambung hati yang putus. Hahaha!” celetuk Alma pula, membuat Garam Sakti terkejut.
“Kalau Kang Garam, buatku saja, jika belum punya kekasih,” timpal Ning Ana.
Terkejutlah mereka semua mendengar perkataan Ning Ana, sebab itu adalah hal yang tidak pantas dikatakan oleh anak seumuran Ning Ana yang baru berusia empat belas tahun.
“Ning Ana!” hardik Dugil Ronggeng lagi, kali ini memarahi dengan tatapan yang mendelik. “Tidak pantas gadis sekecil dirimu bicara seperti itu. Gunungmu saja belum tumbuh, tapi sudah bicara seperti itu!”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara tanpa peduli apakah akan menyinggung perasaan Kepala Desa atau tidak. Lalu katanya, “Maafkan aku, Paman. Aku suka tidak bisa menahan tawa jika ada yang lucu. Hahaha!”
“Tidak apa-apa, Alma,” kata Dugil Ronggeng lembut. Lalu ia beralih lagi kepada Ning Ana dengan nada yang keras, “Ana, lebih baik kau masuk!”
Dengan wajah cemberut, Ning Ana bangun berdiri. Lalu katanya sebelum pergi, “Aku bosan menjadi gadis desa. Lelaki desa satu pun tidak ada yang aku sukai. Tapi saat melihat Kang Debur dan Kang Garam, aku langsung jatuh hati.”
“Kacang Dengkur adalah kekasihku, jangan coba-coba kau menggodoknya!” kata Ayu tiba-tiba, menambah keterkejutan para lelaki itu, terutama Alma.
“Hahahak …!” Kian tertawalah Alma setelah terkejut. Apalagi ketika melihat keterkejutan Debur Angkara. Lalu katanya setelah tertawa, “Aku sangat setuju jika Kang Debur menikah dengan Ayu.”
“Tapi, Alma …,” ucap Debur Angkara seolah keberatan.
“Kakak Alma juga setuju jika aku menikah dengan Kang Garam?” tanya Ning Ana.
Alma Fatara mendelik mendengar pertanyaan gadis tanggung itu.
“Ana! Kau …,” teriak Dugil Ronggeng geram melihat kelakuan putri bungsunya yang memang nakal untuk seorang anak perempuan. Ingin rasanya ia memukul putrinya itu, tetapi Ning Ana sudah berlari kecil masuk ke dalam rumah.
“Hihihi …!” tawa Ning Ana panjang, saat berada di dalam rumah.
__ADS_1
“Anak itu memang nakal dan selalu membuat marah diriku dan ibunya,” keluh Dugil Ronggeng.
“Itu belum seberapa, Ki,” kata Debur Angkara. “Alma jauh lebih nakal ketika usianya sebaya dengan putrimu itu.”
“Hahahak!” tawa Alma karena diingatkan masa nakalnya yang memang keterlaluan, karena hampir setiap hari berkelahi. Jika tidak berkelahi dengan kakak angkatnya, pasti berkelahi dengan teman sepermainannya.
“Tapi pada akhirnya, kami semua mencintai Alma,” kata Magar Kepang.
“Jangan-jangan Paman Magar ada maunya sampai memuji-muji aku. Hahaha!” tukas Alma.
“Hahaha!” tawa Magar Kepang. “Aku tidak punya maksud terselubung, Alma.”
“Oh, jadi Paman ini pernah menjadi perampok?” tanya Alma ingin menegaskan kisah yang diceritakan oleh Dugil Ronggeng di awal tadi.
“Benar. Dulu aku anggota Perampok Lembah Jepit. Aku termasuk anggota yang disegani. Namun, sejak Ketua Perampok Lembah Jepit mati, kami berantakan. Aku lalu menikahi gadis tercantik Desa Bungitan dan berhenti dari kehidupan liar. Jadi, meski aku bukan orang terkaya, tetapi aku yang paling ditakuti di desa ini,” tutur Dugil Ronggeng.
“Pantas, putri Ki Dugil sangat cantik. Rupanya ibunya pernah menjadi gadis tercantik di desa ini,” kata Garam Sakti.
Perkataan Garam Sakti itu membut Alma, Magar Kepang dan Debur Angkara memandangi Garam Sakti. Pemuda bertubuh tinggi besar itu jadi salah tingkah karena mendapati dirinya dipandangi.
“Ke-ke-kenapa kalian memandangi aku seperti itu?” tanya Garam Sakti agak tergagap.
“Jangan katakan bahwa kau jatuh cinta kepada Ana, Kang Garam!” tukas Alma.
“Hah! Jatuh cinta kepada putri Ki Dugil? Ma-ma-mana mungkin. Hahaha!” tepis Garam Sakti agak tergagap, lalu tertawa drama.
Pak!
“Jangan buat malu warga Desa Iwakculas, Garam!” ancam Magar Kepang sebagai Kepala Desa Iwakculas. Di Desa Iwakculas, Garam Sakti memang bestatus bawahan Magar Kepang.
“Tidak akan, Ki,” kata Garam Sakti.
“Kalau sama-sama linta (cinta), kenapa harus dibarang (dilarang). Biarkan saja lintanya menyapu (cintanya menyatu),” celetuk Ayu Wicara. “Seperti aku dan Kacang Dengkur.”
Ayu meraih lengan Debur Angkara lalu memeluknya, tetapi Dengkur Angkara menyingkirkan tangan Ayu dengan wajah mengerenyit.
“Ayu bicara apa?” tanya Degil Ronggeng tidak mengerti.
“Hahaha! Tidak usah didengarkan, Paman. Ayu bicaranya memang suka melantur,” kata Alma Fatara.
“Ooh,” desah Dugil Ronggeng. Lalu katanya tiba-tiba, “Nah, ini putri pertamaku!”
Serentak mereka menengok ke arah dalam rumah. Seketika mereka terkejut dan terpesona melihat gadis cantik yang keluar membawa senampan minuman hangat dan setiga piring kacang rebus. Makanan dan minuman itu sama-sama masih mengebulkan asap kehangatan.
“Ini kan gadis yang tadi sore,” kata Magar Kepang sambil menunjuk.
Gadis yang adalah Ning Ara itu, hanya tersenyum semanis gula setengah sendok. Ada rasa malu yang melandanya, karena tamu-tamu itu adalah mereka yang menyaksikan jelas pertengkarannya dengan Jataru.
__ADS_1
“Jadi kalian sudah mengenal putriku?” tanya Dugil Ronggeng.
“Belum, Paman. Hanya tadi kami sempat bertemu dengan Kakak jelita ini,” kata Alma yang usianya memang lebih muda dari Ning Ara.
“Oooh,” desah Dugil Ronggeng.
Dengan wajah menunduk dan sebagian rambut terurai menutupi wajahnya, Ning Ara menyuguhkan makanan dan minuman yang dibawanya.
Para tamu itu untuk sementara diam dan tanpa kedip mata memandangi gadis tercantik di desa itu.
“Putrimu memang sangat cantik, Ki,” puji Magar Kepang. “Jika aku yang punya anak secantik ini, pasti akan aku carikan calon suami yang terbaik, bukan pemuda desa.”
“Maksud Ki Magar, yang terbaik itu seperti apa ya?” tanya Dugil Ronggeng, butuh penjelasan yang lebih detail.
“Aku masuk, Ayah,” ucap Ning Ara izin kepada ayahnya.
“Duduklah di sini, Ara. Kehadiranmu pasti membuat tamu-tamu pendekar kita ini senang!” pinta Dugil Ronggeng sambil memegang tangan putrinya.
“Baik, Ayah,” ucap Ning Ara patuh dengan wajah terus menunduk. Ia lebih baik mendengar cerita obrolan para pendekar daripada bersedih hati di kamar, itupun mendapat gangguan dan olokan dari adiknya, Ning Ana.
“Maksudku itu, kalau gadis secantik … siapa namanya, Ki?” kata Magar Kepang.
“Ning Ara. Kalau adiknya bernama Ning Ana,” jawab Dugil Ronggeng.
“Kalau gadis secantik Ning Ara ini, sepantasnya mendapat jodoh yang terbaik. Yaaa, bisa seorang pendekar sakti yang tampan, atau seorang pangeran kerajaan,” kata Magar Kepang melanjutkan penjelasannya.
“Hahaha! Ki Magar ada-ada saja. Apalah kami yang hanya orang desa miskin seperti ini,” kata Dugil Ronggeng merendah.
“Itu bukan masalah, Ki Dugil,” kata Magar Kepang. Lalu tanyanya kepada Alma, “Alma, menurutmu mana yang lebih cantik, Ning Ara atau Ninda Serumi putri Kepal Kepeng di Kadipaten Balongan?”
“Menurutku lebih cantik Ning Ara. Jika aku lelaki, aku juga pasti jatuh cinta. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa.
“Amal kumat!” celetuk Ayu Wicara yang membuat Alma kian tertawa.
“Bagaimana, Kang Debur, Kang Garam? Mana yang lebih cantik?” tanya Alma.
“Lebih cantik Ning Ara,” jawab Debur Angkara dan Garam Sakti bersamaan.
Jawaban Alma dan kedua sahabatnya membuat hati Ning Ara berbunga-bunga karena mereka mengakui kecantikan dirinya.
“Di Kadipaten Balongan ada seorang gadis tercantik sekadipaten. Ia menjadi rebutan dari seorang tukang jengkol sampai seorang pangeran,” kata Alma Fatara.
“Jadi, Ning Ara bersabar saja, nanti jodoh yang terbaik akan datang. Aku yakin itu,” kata Magar Kepang.
Tiba-tiba suasana santai mereka terganggu oleh suara ramai orang banyak yang terdengar datang mendekat.
Mereka semua segera mengalihkan pandangan ke arah jauh ke depan rumah. Suara keramaian itu disertai dengan banyaknya cahaya api obor yang dibawa oleh banyak orang.
__ADS_1
“Hukum kawin saja! Hukum kawin pokoknya! Hukum kawin harga mati!” teriak banyak warga sambil mendorong-dorong dua orang pasangan muda-mudi.
Dua pasang muda-mudi itu tidak lain adalah Jataru dan Menur Mawangi yang sedang diarak oleh warga. (RH)