
*Alma Fatara (Alfa)*
Bayangan besar di dalam air yang berenang cepat, kian mendekati perahu merah tempat Debur Angkara dan ketiga temannya berada. Mereka berempat lebih tegang dibandingkan enam rekan yang lain di dua perahu yang berbeda.
“Awas! Ikan itu menyerang perahumu, Debur!” teriak Kepala Desa Jaring Wulung di perahu warna kuning.
“Bersiap!” teriak Debur Angkara tegang.
Ikan besar yang semakin dekat dan semakin jelas terlihat, siap menabrak bawah perahu Debur Angkara.
“Tombaaak!” teriak Debur Angkara tegang plus panik.
Debur Angkara dan keempat temannya cepat melemparkan tombaknya ke air menargetkan ikan yang datang.
Dugk!
“Akk …!” jerit Debur Angkara dan ketiga temannya bersamaan.
Setelah tombakan mereka tidak ada yang mengenai ikan besar itu, perahu itu dihantam keras. Perahu terguncang hebat. Dua teman Debur Angkara terlempar ke air.
Debur Angkara dan seorang temannya lagi memang tidak ikut jatuh, tetapi mereka jadi panik karena bagian dasar perahu ada yang retak panjang. Perahu bocor besar. Air dengan cepat merembes masuk.
"Ki, cepat ke sini! Perahu kami bocor besar!" teriak Debur Angkara.
"Cepat dayung perahunya ke sana!" perintah Jaring Wulung kepada dua orang yang bersamanya di perahu kuning.
Satu orang cepat turunkan layar dan yang seorang lagi mendayung ke arah perahu merah yang semakin banyak kemasukan air.
Sementara si ikan besar menghilang masuk ke kedalaman laut.
Dua orang yang jatuh ke air telah muncul ke permukaan dengan wajah ketakutan, takut kalau tahu-tahu ikan itu menggigit mereka.
"Alma! Tolong aku!" teriak salah seorang pemuda yang ada di air.
“Dayung perahunya! Tolong mereka!” teriak Slamet Lara di perahu biru.
“Perhatikan juga ikannya!” teriak Alma pula yang lebih fokus mencari keberadaan ikan.
Suasana benar-benar tegang.
Ketika perahu Slamet Lara sudah menjangkau kedua pemuda yang tercebur, dan perahu Jaring Wulung sudah merapat ke perahu merah, tiba-tiba ….
“Ikannya ada di sana!” teriak Juminta tiba-tiba.
Terkejut pula yang lainnya. Mereka cepat memandang ke arah tunjukan Juminta. Ketika mereka melihat, ikan itu sangat dekat dengan perahu kuning.
Bdugk! Brak!
Jaring Wulung dan kedua pemuda yang bersamanya tidak sempat menombak, hingga perahu mereka dihantam sangat keras. Hebatnya hantaman itu, sampai-sampai perahu kuning terbelah menjadi dua. Jaring Wulung dan Debur Angkara serta tiga pemuda lainnya terlempar bersamaan ke dalam air.
Posisi perahu Slamet Lara agak jauh dari perahu kuning yang terbelah, sehingga mereka tidak bisa banyak membantu. Alma sudah menanggalkan jubah hitamnya, membuat penampilannya lebih indah. Namun, pikiran kotor tidak punya kesempatan masuk ke dalam otak-otak para lelaki itu, mereka lebih disibukkan oleh ketegangan dan kepanikan.
“Ikannya berbelok!” teriak Juminta yang kembali menunjuk.
Ikan besar itu memang cepat berbelok dan berbalik setelah menghancurkan perahu kuning. Kali ini, ikan itu tidak berenang ke arah perahu yang tersisa, tetapi berenang cepat ke arah orang-orang yang sedang mencoba mempertahankan diri di permukaan air laut.
“Ikan itu mau memakan Ki Jaring!” teriak Juminta lagi semakin panik. Ingin rasanya dia berbuat sesuatu untuk menjadi penyelamat, tapi apa yang bisa dia perbuat? Hanya bisa berteriak.
__ADS_1
Jaring Wulung menjadi panik pula, terlebih dia tidak memegang senjata apa pun. Senjatanya terlepas ketika ia jatuh.
Jbur! Sreeet!
Alma Fatara melompat cepat ke dalam air. Selanjutnya, tubuhnya melesat di dalam air dengan cepat. Ia melesat berenang dengan arah hendak memotong laju renang si ikan besar yang punya dua sirip besar di punggungnya.
Slamet Lara dan Juminta terbelalak terkejut melihat kecepatan renang Alma yang seperti ikan.
Buks!
Tepat ketika si ikan siluman membuka mulutnya hendak menggigit kedua kaki Jaring Wulung yang sudah sangat panik, Alma menabrak tubuh samping ikan dengan tinjunya yang bertenaga dalam tinggi.
Tubuh besar ikan itu terdorong dari jalurnya dan mulutnya menerkam tempat kosong.
Bruss!
Tiba-tiba tubuh Alma melompat terbang keluar dari air. Sementara ikan siluman itu berenang cepat menjauh, tetapi kemudian berputar balik lagi.
“Lempar tombak!” teriak Alma saat dirinya berada di udara.
Juminta yang sejak tadi menganga takjub, cepat tersadar lalu melempar tombaknya ke arah Alma.
“Lemparan bagus! Hahahablq!” teriak Alma sambil menangkap batang tombak yang dilempar akurat kepadanya. Lalu ia tertawa terbahak yang kemudian diputuskan oleh air laut seiring tubuhnya masuk kembali ke air.
Alma kembali berenang menyelam seperti ikan. Tubuhnya meliuk-liuk ke atas ke bawah sebagai daya dorongnya. Ia berenang cepat menantang arah renang si ikan siluman. Tombak ia julurkan ke depan, seolah ingin mengadu mata tombaknya dengan mulut ikan besar itu.
Slamet Lara, Juminta dan dua pemuda lainnya yang sudah naik ke perahu, hanya bisa menegang dengan mulut ternganga melihat pertarungan Alma dengan ikan besar itu. Meski adegan itu agak jauh, tetapi mereka masih bisa melihat bayangan keduanya di dalam air.
Set! Tseb! Seeets!
Beberapa tombak sebelum kedua jago air itu bertemu, Alma menghentakkan telapak tangan kanannya pada ujung belakang tombaknya. Tombak itupun melesat lebih cepat dari tangan Alma dan menancap tepat pada mata kiri si ikan.
Ternyata jari-jari tangan Alma yang tegak di atas kepala menjadi setajam pisau yang mengiris dalam dan panjang perut ikan.
“Lihat itu!” teriak Slamet Lara terkejut ketika melihat ada darah dan jeroan ikan timbul ke permukaan yang ditinggalkan oleh si ikan.
Bruss!
“Hahahak …! Kita menaaang!” teriak Alma yang melompat terbang dari dalam air sambil tertawa terbahak-bahak.
“Kita menaaang! Hahaha …!” teriak empat lelaki yang ada di perahu biru, satu-satunya perahu yang masih utuh. Mereka tertawa terbahak-bahak.
Sementara Jaring Wulung, Debur Angkara dan tiga pemuda lainnya yang masih berada di air, mereka hanya bisa ikut bersorak girang, meski mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi sesungguhnya.
“Uaakk!” jerit Debur Angkara dan dua lelaki temannya karena tahu-tahu ikan besar menabrak mereka, tetapi sudah dalam kondisi mati.
“Hahahak …!” tawa Alma yang sudah berenang wajar layaknya manusia.
“Hahaha …! Ikan itu sudah mati, Debur!” teriak Juminta menertawakan keterkejutan mereka yang ada di air.
“Waaah! Ikannya besar sekali!” teriak Debur Angkara takjub sambil mencoba menaiki bangkai ikan itu.
“Tapi, bagaimana kita akan pulang? Perahu tinggal satu, hanya muat enam orang,” kata Jaring Wulung.
“Tenang saja, Ki!” kata Juminta seraya tersenyum lebar. Ia lalu memandang jauh, “Sepertinya bantuan datang!”
Mereka segera melihat ke arah pandangan Juminta. Cukup jauh di arah barat, ada sekelompok perahu dengan layar yang terkembang.
__ADS_1
“Itu nelayan dari Desa Iwakculas,” kata Jaring Wulung. Ia bisa mengenali dari model layar perahu yang berwarna belang-belang.
Ada lima perahu yang menuju ke arah mereka, semua layarnya bercorak lurik dua warna, tetapi tidak ada yang sama.
“Alma, kau manusia atau ikan?” tanya Juminta sambil menunggu tibanya rombongan perahu itu.
“Hahahak …!” Alma malah tertawa terbahak. “Seharusnya yang kalian khawatirkan itu adalah aku, karena siluman ikan itu adalah aku! Hahahak!”
“Hah!” terkejutlah mereka semua.
“Hahahak …!” tawa Alma semakin menjadi melihat keterkejutan semua lelaki itu, termasuk Slamet Lara, ayahnya. “Aku bercanda. Hahahak!”
“Fuuu! Aku pikir kau serius, Alma,” kata Debur Angkara lega.
“Aku pandai berenang karena guru yang mengajarkannya. Kami tinggal tidak jauh dari sungai besar, jadi tidak jauh berbeda dengan tinggal di pantai. Bedanya, jika di sana aku punya guru yang sakti,” kata Alma. “Tapi ini ikan biasa, Ki!”
“Benar. Jika ikan siluman, pasti dia akan berubah wujud jika mati,” kata Jaring Wulung yang memeluk potongan papan perahu yang hancur.
“Ikan ini harus kita bawa pulang!” kata Slamet Lara.
Rombongan perahu Desa Iwakculas semakin mendekat. Mereka membawa orang yang cukup banyak, lebih dua puluh orang. Ada dua perahu yang cukup besar.
“Jaring Wulung! Apa yang kau lakukan di air!” teriak seorang lelaki berbadan gemuk dan berperut gendut. Ia mengenakan pakaian bagus berwarna hijau. Kepalanya diikat dengan kain bagus berwarna hijau pula. Di leher gemuknya ada kalung besar dari perak. Ia adalah Kepala Desa Iwakculas yang bernama Magar Kepang, sosok orang bersandal yang memiliki gaya hidup mewah.
Tampak di sisi Magar Kepang berdiri seorang pemuda gagah dan berotot besar, lebih berotot dibandingkan Debur Angkara. Ia tidak berbaju, hanya bercelana hitam. Lelaki yang usianya masih di bawah tiga puluh tahun itu adalah Pendekar Desa Iwakculas, namanya Garam Sakti.
“Kau tidak melihat apa yang kami dapatkan?” tanya Jaring Wulung berteriak, karena perahu itu belum benar-benar tiba di tempat mereka.
Magar Kepang dan Garam Sakti mengerutkan kening.
“Mereka bisa membunuh ikan siluman?” ucap Magar Kepang pelan kepada Garam Sakti. “Kenapa pula ada perempuan cantik yang bersama mereka?”
Akhirnya kelima perahu itu menurunkan layar karena telah tiba.
“Kalian yang membunuh ikan siluman itu?” tanya Magar Kepang kepada kelompoknya Alma.
“Bukan, tapi Alma!” jawab Jaring Wulung.
“Alma?” sebut ulang Magar Kepang tidak paham.
“Aku di sini, Paman!” teriak Alma sambil melambaikan tangan kepada Magar Kepang. Saat itu Alma duduk bersila di atas papan pecahan perahu.
“Apa? Gadis muda itu yang membunuh ikannya?” tanya Garam Sakti seakan tidak percaya.
Magar Kepang dan warga nelayannya juga terkejut.
“Hahahak! Biasa saja dong, Paman. Aku kan jadi malu. Hahahak!” seru Alma tanpa sungkan tertawa terbahak-bahak.
“Pokoknya ikan siluman ini sudah menjadi milik kami karena kamilah yang membunuhnya,” kata Debur Angkara.
“Awalnya niat kami ingin berburu ikan siluman ini. Kami mendengar kalian pergi berburu ikan siluman, jadi kami pun turun untuk berburu juga. Tapi kami rupanya telat. Aku tawarkan kalian tumpangan, tapi kalian harus memberikan kami juga daging ikan itu. Bagaimana?” ujar Magar Kepang.
“Bagaimana, Alma?” tanya Jaring Wulung kepada Alma.
“Aku serahkan kepadamu, Ki!” sahut Alma yang tampak tenang di atas papan yang terombang-ambing.
“Baik, kami setuju!” seru Jaring Wulung kepada Magar Kepang.
__ADS_1
“Apa itu?!” teriak Juminta lagi-lagi mengejutkan sambil menunjuk jauh ke langit.
Ketika semuanya memandang ke depan atas, tepatnya ke arah Pulau Seribis yang searah dengan tunjukan Juminta, mereka semua terkejut. (RH)