A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 11: Tanpa Sadar Memberontak


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Komandan Jaru Berawak memerintahkan pasukannya untuk beristirahat di pinggiran hutan bambu. Tenda yang dipasang hanya satu, yaitu tenda Komandan Jaru Berawak.


Saat istirahat itu, Jaru Berawak memanggil semua pemimpin pasukan kadipaten untuk berkumpul di dalam tenda. Selain sang komandan, ada enam kepala pasukan yang berkumpul, lima di antaranya adalah adipati.


Kelima adipati itu antara lain: Adipati Lalang Lengir pemimpin pasukan Kadipaten Sorangan, Adipati Garongjaga pemimpin pasukan Kadipaten Rangkas Kelud, Adipati Butak Jelaga pemimpin pasukan Kadipaten Duno, Adipati Kendrang pemimpin pasukan Kadipaten Bentangan, dan Adipati Panji Gumo pemimpin pasukan Kadipaten Bukit Aren. Sementara seorang lagi adalah Komandan Bariat yang memimpin pasukan Kadipaten Pagamuyung menggantikan posisi Adipati Girik Songko.


“Adipati Lalang Lengir, kau yang sudah sampai ke Rawa Kabut. Sampaikan kepada kami tentang medan di sana!” ujar Jaru Berawak.


“Dengan kekuatan seperti ini, aku ragu bahwa kita akan bisa menang, Panglima,” kata Lalang Lengir.


“Memangnya sebanyak apa kekuatan buruan nomor satu kerajaan itu sehingga kau begitu cepat menyimpulkan?” tanya Jaru Berawak dengan nada cukup tinggi. Sepertinya perkataan Adipati Lalang Lengir begitu cepat menyulut emosinya.


“Yang aku hadapi sangat sedikit, tidak sampai sepuluh orang saja, tapi medan perang yang dibuat oleh mereka bisa membuat semua pasukan kita tidak berdaya,” jawab Adipati Lalang Lengir tanpa merasa tertekan oleh nada tinggi Jaru Berawak.


“Seperti apa medan perang yang kau maksud itu, Adipati?” tanya Jaru Berawak lagi, kali ini nada suaranya lebih melemah.


“Kemungkinan besar perang akan terjadi di Lembah Hilang, lembah sebelum menuju Rawa Kabut. Di lembah itu kita akan dihadang oleh kabut. Jika kita memaksa masuk ke Rawa Kabut, pasukan kita bisa dibantai,” tandas Adipati Lalang Lengir.


“Kenapa belum apa-apa kau sudah menjatuhkan mental pasukan, Lalang Lengir?” tanya Adipati Garongjaga, seorang lelaki bertubuh gemuk besar. Dialah orang bertubuh paling besar di antara mereka.


“Aku hanya menyampaikan kemungkinan terburuk yang akan kita hadapi di sana,” kilas Lalang Lengir.


“Pendekar bayaran Adipati Girik Songko yang bernama Pengelana Kepeng mengatakan, medan rawa di Rawa Kabut adalah tanah es yang sangat dingin,” timpal Komandan Bariat.


“Apakah Pengelana Kepeng juga menemui kabut?” tanya Adipati Lalang Lengir.


“Dia tidak mengatakan. Tapi dia sampai ke pinggir rawa yang airnya berlapis tanah es,” jawab Bariat.


“Aku hanya sampai di Lembah Hilang,” tandas Adipati Lalang Lengir berdusta.


“Aku berpikir bahwa Ki Ramu Empedu telah mengubah medan pertahanannya dari es menjadi kabut,” kata Adipati Butak Jelaga, lelaki bertubuh gemuk tapi agak pendek.


“Menurutku, jika jumlah lawan hanya kurang dari sepuluh, meski mereka sakti, tapi secepat apa mereka bisa membantai habis pasukan kita yang jumlahnya sedemikian banyak,” kata Adipati Kendrang. Seorang adipati bertubuh tinggi gagah meski usia sudah separuh abad. “Aku rasa para pendekar yang kita miliki cukup untuk mengatasi kesaktian para pendekar Rawa Kabut.”


“Jika demikian, nanti biarkan para pendekar kita maju lebih dulu untuk merusak siasat orang-orang Rawa Kabut,” kata Jaru Berawak.

__ADS_1


“Baik, Komandan!” ucap mereka patuh.


“Kalian kembalilah untuk beristirahat!” perintah Jaru Berawak.


Para pemimpin pasukan kadipaten itu kemudian membubarkan diri.


“Panji Gumo, Garongjaga, aku mengundang kalian untuk minum wedang di keretaku,” ujar Adipati Lalang Lengir.


“Oh baik, hahaha!” jawab Adipati Panji Gumo, seorang pria kurus berkumis tebal. Ia merasa senang diundang khusus oleh seorang adipati cantik seperti Lalang Lengir.


“Siapa yang bisa menolak ajakan adipati tercantik di Kerajaan Jintamani?” kata Adipati Garongjaga.


“Kau juga, Kendrang. Bergabunglah bersamaku minum wedang!” kata Adipati Lalang Lengir kepada Adipati Kendrang.


“Terima kasih, Lalang. Mari!” sahut Adipati Kendrang seraya tersenyum.


Maka ketiga adipati lelaki itu pergi mengikuti Adipati Lalang Lengir. Bagi mereka, sangat sulit untuk menolak pesona wanita berdada indah menantang itu. Namun jelasnya, mereka tetap hanya bisa memandang dalam batas-batas kesantunan sebagai sesama kepala sebuah kadipaten.


Akhirnya mereka tiba di posisi kereta kuda Adipati Lalang Lengir dan pasukannya yang berjumlah sedikit. Ternyata tempat untuk bincang-bincang mereka sudah di-setting oleh Remuk Hasrat, pengawal gagah Adipati Lalang Lengir.


“Remuk Pusaka, kondisikan agar tidak ada yang menguping dan curiga!” perintah Adipati Lalang Lengir kepada pengawal pribadinya yang lain.


Remuk Hasrat sudah membuat tempat duduk dari beberapa potongan pokok pohon yang melingkari sebuah batu besar yang di atasnya rata. Batu itu sepertinya memang sengaja dibuat rata menggunakan sesuatu, apakah itu dengan alat atau dengan kesaktian. Di atas meja batu sudah tergelar gelas-gelas bambu dan teko tanah liat yang dari lubang mulutnya keluar asap tipis.


Mereka berempat duduk di kursi kayu. Sementara Remuk Hasrat berdiri tidak jauh di belakang Adipati Lalang Lengir.


Wanita cantik jelita berusia matang itu lalu menuangkan wedang yang masih panas ke gelas-gelas yang sudah disiapkan. Ketiga mata lelaki berusia di atas empat puluh lima tahun itu fokus memandangi kecantikan Adipati Lalang Lengir. Mereka pun menang banyak karena bisa memandangi dengan puas sembulan dada putih Adipati Lalang Lengir.


“Silakan, para Adipati!” ucap Adipati Lalang Lengir tanpa memandang wajah ketiga pejabat serekanannya.


“Oh iya!” ucap Adipati Garongjaga, cepat tersadar dari keterpakuannya, agar tidak terpergok oleh Adipati Lalang Lengir.


“Terima kasih, Lalang,” ucap Adipati Kendrang sambil buru-buru mengulurkan tangannya meraih gelas. Sama, agar tidak terpergok sedang memandangi belahan bukit di tubuh Adipati Lalang Lengir.


“Hahaha!” Adipati Panji Gumo hanya tertawa.


“Sepertinya kau memiliki niatan khusus mengundang kami, Lalang?” tukas Garongjaga.

__ADS_1


“Iya. Sebelum aku jelaskan, aku ingin bertanya kepada kalian. Apakah kalian sedang memberontak melawan Gusti Prabu Marapata?”


Terkejutlah ketiga adipati lelaki itu mendengar pertanyaan Adipati Lalang Lengir.


“Apa yang kau tanyakan itu, Lalang? Mana mungkin kami melakukan itu?” hardik Adipati Panji Gumo. Perasaan senangnya seketika berubah tidak nyaman.


“Kau jangan merusak suasana gembira ini, Lalang!” kata Adipati Garongjaga.


“Benar. Pertanyaanmu itu bisa membahayakan kami!” kata Adipati Kendrang pula. Ia bahkan kembali meletakkan gelas di tangannya. Seleranya hilang.


“Aku beri tahukan kebenarannya. Tanpa kalian sadari, kalian telah terlibat dalam pemberontakan. Buronan nomor satu yang akan kita serang di Rawa Kabut adalah Gusti Ratu Warna Mekararum!” kata Adipati Lalang Lengir serius, tapi setengah berbisik.


“Apa?!” ucap ketiga adipati lelaki itu terkejut bukan main. Adipati Garongjaga sampai berdiri dari duduknya.


“Duduklah dengan tenang, Garongjaga. Jangan menarik perhatian,” kata Adipati Lalang Lengir.


“Gusti Ratu Warna Mekararum sudah wafat. Kita semua tahu itu,” kata Adipati Kendrang.


“Benar,” sahut Adipati Panji Gumo pula.


“Belum. Gusti Ratu belum wafat. Sebelumnya aku pergi ke Rawa Kabut bukan untuk menyerang. Aku berbohong. Aku datang ke sana untuk memastikan kebenaran bahwa Gusti Ratu masih hidup. Ternyata benar, Gusti Ratu masih hidup. Dan aku bergabung dalam pasukan ini bertujuan memperingatkan kalian,” jelas Adipati Lalang Lengir.


Berubah gelisahlah ketiga adipati lelaki itu. Mereka saling pandang.


“Bersikap tenanglah, jangan menimbulkan kecurigaan!” kata Adipati Lalang Lengir mengingatkan kembali.


“Apa kata-katamu bisa dipercaya, Lalang?” tanya Panji Gumo.


“Aku sudah mengorbankan dadaku kalian lihat sepuasnya demi meyakinkan kalian,” kata Adipati Lalang Lengir.


Kata-kata itu membuat ketiga adipati lelaki tersebut terkesiap, yang artinya Adipati Lalang Lengir tahu bahwa pesona tubuhnya sempat dinikmati oleh mereka. Mereka hanya bisa menelan ludah kering, karena satu pun belum ada yang meminum wedang.


“Aku menyampaikan hal ini karena aku ditugaskan langsung oleh Gusti Ratu. Jika seandainya kalian tetap melanjutkan pemberontakan ini, kalian semua pasti akan mati, sebab ada seorang pendekar sakti yang akan langsung mengincar nyawa para pemimpin pasukan,” ujar Adipati Lalang Lengir.


“Lalu siapa dalang pemberontakan ini?” tanya Adipati Garongjaga.


“Senopati Gending Suro,” jawab Adipati Lalang Lengir.

__ADS_1


“Lalu apa yang harus kita lakukan untuk keluar dari pemberontakan ini?” tanya Adipati Panji Gumo.


Adipati Lalang Lengir lalu menjelaskan secara singkat rencananya. (RH)


__ADS_2