
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Barulah setelah Alma Fatara bertanya, kedua putra Bendahara Kadipaten itu memperkenalkan namanya.
Ketika Arung Seto dan Ariang Banu datang ke kediaman Adipati Marak Wijaya dan menyatakan maksudnya, Alma Fatara cepat menangkap adanya siasat di balik niat tersebut. Karenanya, Alma menaruh rasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak perkara yang terjadi, terlebih dirinya tahu-tahu mau ditarik ke dalam permainan kedua pemuda tampan tersebut.
Setelah izin kepada Warna Mekararum dan Adipari Marak Wijaya, Alma memutuskan hanya membawa Magar Kepang sebagai teman pergi ke kediaman Adya Bangira. Ayu Wicara ditugaskan untuk mendampingi Warna Mekararum, Debur Angkara ditugaskan berlatih golok, dan Garam Sakti ditugaskan memberi makan kuda.
Adya Bangira dan istrinya, Aning Sulasih, menyambut baik kedatangan Alma Fatara dan Magar Kepang. Kedua tamu istimewa itu, menurut versi Arung dan Ariang, dijamu dengan makan siang yang nikmat. Magar Kepang sebagai orang terkaya di Pantai Parasemiris, harus mengakui bahwa kekayaannya masih jauh di bawah jika dibandingkan dengan orang kaya sekaya Bendahara Adya Bangira.
“Hahahak! Jangan terkejut, Paman, jika mendengar aku suka tertawa lepas. Ini akibat kedua anak Paman yang asal memungut gadis cantik di tengah jalan. Hahaha!” kata Alma Fatara yang tidak sungkan tertawa di depan Adya Bangira dan istrinya.
“Hahaha!” Namun, Adya Bangira dan istri, serta kedua putranya, justru ikut tertawa terbawa oleh keseruan Alma tertawa.
Justru Magar Kepang yang lebih kalem, ia lebih memilih menikmati makanan yang tersaji.
“Aku jujur-jujur saja, Paman. Kami terkejut saat Arung dan Ariang datang ke Kediaman Adipati untuk menebus kebebasanku dan sahabatku, padahal kami memiliki cara sendiri,” kata Alma Fatara.
Mendengar hal itu, tersenyum malulah Arung Seto dan Ariang Banu, tapi tidak semalu kucing.
“Maklumlah, kami ini sangat jeli untuk memanfaatkan peluang. Jadi, ketika kami melihatmu, Alma, kami langsung tertarik untuk memaksamu bekerja sama dengan cara menanamkan jasa lebih dulu kepadamu,” kilah Arung Seto jujur.
“Aku curiga, kalian bukan tertarik untuk bekerja sama denganku, tetapi kalian tertarik karena aku cantik, ya? Hahaha!” tebak Alma Fatara, yang lagi-lagi membuat keluarga itu tertawa ramai.
“Hahaha!”
Meski Arung Seto dan Ariang Banu tertawa, tetapi mereka jadi mati sikap karena tertebak oleh Alma.
“Coba katakan, rencana apa yang awalnya kalian rencanakan kepadaku, Kakang! Tidak perlu sungkan,” ujar Alma Fatara.
Arung Seto dan Ariang Banu sejenak saling pandang, seolah-olah minta kesepakatan secara senyap. Sebentar kemudian, akhirnya Arung Seto yang menjawab.
“Ini semua terkait dengan pertandingan besok yang berhadiah utama putrinya Kepal Kepeng.”
“Tunggu tunggu tunggu!” potong Magar Kepang tiba-tiba. Lalu tanyanya memastikan, “Berhadiah utama putrinya Kepal Kepeng? Jadi maksudnya, anak perempuan orang terkaya di Kadipaten Balongan, dijadikan hadiah kepada orang yang memenangkan pertandingan?”
__ADS_1
“Benar,” jawab Arung Seto.
“Kenapa bisa sekejam itu pertandingan ini?” tanya Alma. Lalu kemudian katanya, “Ah, silakan Kakang lanjutkan penjelasan Kakang. Aku akan mendengarkan sambil menikmati rezeki besar saat ini.”
“Hahaha!” tawa rendah Adya Bangira dan Aning Sulasih.
“Setiap Petarung Panah pasti sangat berambisi memenangkan pertandingan besok, terlebih hadiah utamanya adalah Ninda Serumi, gadis tercantik se-Kadipaten Balongan. Kecantikan Ninda Serumi sudah masyhur. Jadi pertandingan pada tahun ini sangat terasa nuansanya lebih ketat. Seperti Bandeng Prakas yang tidak pernah ikut, kali ini ikut pertandingan. Kandidat terkuat selalu putra Adipati, yaitu Arya Mungkara,” tutur Arung Seto.
Rupanya Ariang Banu juga tidak betah hanya diam, ia juga ingin turut menjelaskan.
“Nah, setelah tahu bahwa Komandan Gendas Pati bisa kau taklukkan dengan muda sampai tidak bisa berdiri, Kakang Arung punya ide. Kami membebaskanmu dengan tebusan, tetapi kau harus membantu kami saat pertandingan, entah bagaimana caranya. Jika salah satu dari kami menang, maka yang menang akan mendapatkan putri Kepal Kepeng. Namun, setelah itu hadiahnya ditukar. Ninda Serumi akan diserahkan kepada di antara kami yang kalah, dan yang menang akan memilikimu, Alma,” tutur Ariang Banu.
“Apa? Hahahak …!” kejut Alma, tapi kemudian dia tertawa terbahak, sampai ia menutup mulutnya agar makanan di dalam mulutnya tidak tumpah. Lalu katanya kepada Adya Bangira, “Maafkan aku, Paman. Maafkan aku, Bibi. Aku tidak sopan saat makan!”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” kata Adya Bangira maklum.
“Jika seperti itu, maka yang menang tidak akan mendapat apa-apa. Sebab, tidak akan ada lelaki yang boleh memilikiku. Meski aku cantik, tapi aku masih kecil. Hahaha!” kata Alma kepada kakak beradik tersebut, membuat keduanya menjadi gemas melihat Alma.
“Tapi itu rencana awalnya,” kata Ariang Banu membela diri.
“Aku tidak akan membantu satu pun orang untuk berbuat curang. Aku seorang pendekar. Aku tidak tahu, apakah kalian berdua seorang pendekar atau sekedar anak bangsawan,” tandas Alma.
“Kehormatan lebih penting dibanding kenikmatan. Bukankah begitu, Paman?” kata Alma lalu minta pendapat Adya Bangira.
“Betul, Alma!” Yang menjawab justru Magar Kepang tanpa memandang Alma, ia hanya mengangguk sambil mencedok sayur ke piringnya.
“Aku bertanya kepada Paman Adya, bukan kepada Kepala Desa Iwakculas,” gerutu Alma.
“Hahaha!” tawa mereka bersama.
“Aku kagum, masih sebelia ini Alma sudah kuat memegang kejujuran. Kalian berdua harus mencontohnya,” kata Adya Bangira.
“Iya, Ayah,” jawab Arung Seto dan Ariang Banu.
“Aku tidak mau kalian membuat malu nama keluarga. Lebih baik kalah terhormat, daripada harus menang dengan kecurangan,” pesan Adya Bangira.
__ADS_1
“Tapi kalah itu menyakitkan, Ayah,” kata Arung Seto.
“Jika kalian tidak mau kalah, harus banyak berlatih. Jangan mau enaknya saja, mau juara tapi tidak mau kerja keras. Kita yang melakukan kesalahan, tapi justru orang lain yang kita salahkan. Jika hanya mengejar kecantikan, di dunia luas ini terlalu banyak wanita cantik. Jika kalian tidak bisa mendapatkan anak Kepal Kepeng, kalian bisa memperebutkan Ayu Wicara sahabatku,” kata Alma Fatara.
“Hahahak …!” Meledak tiba-tiba tawa Magar Kepang. Untung mulutnya kosong dari makanan.
“Tapi, aku sangat tidak nyaman dengan pertandingan ini, Paman. Seorang gadis tercantik se-Kadipaten Balongan, mau dijadikan hadiah utama dalam sebuah pertandingan. Jika dia mau menjadi hadiah, aku jadi mempertanyakan akal sehatnya.”
Perkataan Alma Fatara itu membuat Adya Bangira dan kedua putranya mendelik.
“Kenapa, Alma?” tanya Arung Seto.
“Aku juga perempuan, Kakang. Aku adalah manusia, tidak mungkin mau dijadikan seperti benda, yang bebas dimiliki lelaki mana pun asalkan dia menang pertandingan. Jika aku, aku sangat tersinggung. Jangankan aku, Kakang Arung dan Kakang Ariang juga akan merasa seperti itu. Bagaimana jika kakang berdua yang berada di posisi putri Kepal Kepeng?”
Terdiam sejenak kedua pemuda tampan itu.
“Aku tidak sudi. Meski semua yang bertanding adalah wanita, tapi aku tidak mau diperebutkan kemudian dimiliki. Apa jadinya jika yang menang wanita tua?” kata Arung Seto.
“Hahaha!” Tertawalah mereka.
“Ya, aku sepakat dengan Kakang Arung,” kata Ariang Banu.
“Menurutku, ini jelas sesuatu yang salah, Paman. Bagaimana bisa Kepal Kepeng sudi menempatkan putrinya yang begitu indah, bebas dijamah oleh tangan lelaki mana pun?” tanya Alma.
“Itu terjadi atas kesepakatan antara Gusti Adipati dan pemilih anak, dalam kasus ini adalah Kepal Kepeng. Kesepakatan itu bisa disetujui oleh Kepal Kepeng, pastinya karena ada iming-iming uang yang besar dalam kesepakatan. Sebagai orang terkaya di Kadipaten Balongan, tidak membuat Kepal Kepeng puas ….”
“Maafkan aku, Paman. Tapi, jika Kepal Kepeng ditawari uang yang banyak, berarti Paman Adipati mengeluarkan uang yang banyak untuk pertandingan ini?” tanya Alma menyela.
“Tidak, justru Gusti Adipati untung besar. Karena uang itu berasal dari taruhan banyak bangsawan. Termasuk uang taruhanku,” jawab Adya Bangira.
“Oh,” desah Alma.
“Aturannya, sebelum pertandingan di mulai, puluhan orang bangsawan akan menyetor uang taruhannya kepada Gusti Adipati. Taruhan itu bisa berupa uang, harta benda lainnya, hingga tanah yang luas. Separuh dari uang taruhan yang terkumpul akan menjadi milik si pemilik anak gadis. Sisanya akan dibagi dua, separuh untuk Gusti Adipati, dan separuhnya untuk pemenang taruhan, bukan pemenang pertandingan. Pemenang pertandingan hanya akan mendapat sedikit. Jika jumlah orang pemenang taruhan banyak, maka kewajiban Gusti Adipati menambah jumlah hadiah setengah dari jatahnya. Karena itu, biasanya Gusti Adipati berbuat curang dengan cara membantu memenangkan Petarung Panah yang tidak diunggulkan, agar pemenang taruhan jumlahnya sedikit dan jatah Gusti Adipati tidak terganggu,” jelas Adya Bangira.
“Jika Paman tahu Paman Adipati akan curang, kenapa Paman tetap ikut taruhan?” tanya Alma.
__ADS_1
“Untuk pelepas kewajiban sebagai pejabat Kadipaten. Jika aku tidak turut bertaruh, mungkin aku akan disingkirkan sebagai pejabat dan Gusti Adipati akan mengangkat pejabat bendahara yang baru,” kilah Adya Bangira.
“Ini urusan yang tidak benar, Paman,” kata Alma dengan kening agak berkerut, menunjukkan bahwa ia sedang berpikir serius. (RH)