A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 8: Bertemu Mantan


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


“Hihihi! Akhirnya aku berhasil memaksamu, Kakang,” kata Sumirah sambil merapikan pakaiannya yang sudah ia kenakan secara lengkap.


“Kau memang keterlaluan, Sumirah. Kau membuatku tidak bisa menolak,” gerutu Genggam Sekam yang harus mengenakan celana basah, sementara bajunya tidak ia kenakan untuk sementara. Bajunya ia letakkan di ujung tongkat besinya.


“Hihihi!” Sumirah masih tertawa bahagia.


“Tapi kau sudah tidak perawan rupanya. Kau pernah melakukannya dengan siapa?” tanya Genggam Sekam datar.


“Dengan kekasihku yang dulu. Aku tidak mau menyebut namanya, agar kau tidak terganggu jika bertemu dengannnya,” jawab Sumirah santai. “Kakang sendiri sepertinya sudah berpengalaman memasukkannya? Pernah dengan siapa?”


“Dengan Dewi Penari Daun. Tapi, bagaimana jika nanti kau hamil karenaku?”


“Kita tinggal menikah. Atau jika Kakang tidak mau menikahiku, aku juga tidak masalah. Yang penting anakku jelas siapa ayahnya dan tetap mencintaiku.”


“Hah, kau ini. Kau mengacaukan kesetiaanku,” gerutu Genggam Sekam.


“Cukup kita berdua saja yang tahu hubungan asmara kita, Kakang.”


“Seharusnya begitu. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaan kekasihku dan orangtuanya. Mereka sudah terlanjur percaya kepadaku.”


“Iya. Aku akan berusaha menutupi asmara kita tetap rahasia.”


“Ayo, kita harus bergegas!”


“Ayo, aku sudah tidak penasaran lagi. Hihihi!”


Mereka berdua berjalan menuju ke tempat pembakaran dan kuda mereka ditambat.


Karena tidak mau menunda-nunda waktu, Genggam Sekam terpaksa mengenakan kembali bajunya dalam kondisi basah. Biarlah nanti kering di badan. Sumirah pun terus mendampingi Genggam Sekam dengan penuh semangat. Kebahagiaan seolah tidak mau pergi dari dalam pikiran dan hatinya.


Pada malam harinya, mereka berdua bermalam di sebuah desa.

__ADS_1


Rupanya, Sumirah ketagihan. Ia mendesak untuk bermalam dengan satu kamar. Malam itu, keduanya kembali melakukan hubungan badan yang seharusnya belum boleh mereka lakukan. Awalnya Genggam Sekam menolak.


“Jika kita sering melakukannya, peluang kau akan hamil semakin besar,” kilah Genggam Sekam saat dibujuk oleh Sumirah untuk berpacu kuda di atas ranjang.


“Aku sepenuhnya yang bertanggung jawab jika aku hamil. Kakang tidak perlu khawatir. Pokoknya, Kakang itu tinggal menerima nikmatnya saja. Aku sudah ada rencana jika memang seandainya aku hamil nantinya,” ujar Sumirah sambil duduk mengangkang di pangkuan Genggam Sekam yang duduk di pinggir ranjang. Meski ia masih berbaju, tetapi ia menyuguhkan belahan dada mulusnya di bawah hidung Genggam Sekam.


Dengan dalih sebagai lelaki normal, akhirnya Genggam Sekam tidak bisa menolak ajakan hasrat birahinya. Maka jadilah mereka berkuda di atas ranjang. Terkadang Genggam Sekam yang mengkudai Sumirah, terkadang sebaliknya. Ternyata Sumirah juga bisa mengkudai Genggam Sekam.


Ketika mereka melanjutkan perjalanan pada pagi harinya, bahasa tubuh mereka sudah tidak seperti dua rekan, tetapi lebih cenderung sebagai suami dan istri.


Mereka butuh setengah hari perjalanan lagi untuk tiba di ibu kota Kadipaten Pagamuyung.


Setibanya di ibu kota Kadipaten Pagamuyung, matahari sudah menukik ke arah langit barat. Di Ibu Kota, mereka melihat ada kesibukan yang dilakukan oleh para prajurit kadipaten, seperti latihan di sebuah area tanah lapang yang ada di Ibu Kota, atau sejumlah prajurit mengangkut perlengkapan dan senjata.


Ketika mereka berdua sudah tiba di depan gerbang kediaman Adipati Girik Songko, satu suara lelaki tiba-tiba memanggil.


“Sumirah!”


Panggilan itu membuat keduanya menghentikan langkah kuda yang berjalan santai menghampiri prajurit penjaga gerbang rumah sang adipati. Keduanya menengok ke sumber suara.


Sanggar Aga adalah salah satu pendekar bayaran Adipati Girik Songko yang juga mendapat luka dari Alma Fatara di Rawa Kabut. Namun, sepertinya dia sudah sembuh atau kondisinya jauh lebih baik.


“Kakang Sanggar Aga?” sebut Sumirah agak terkesiap.


“Kau kenal dengannya?” tanya Genggam Sekam kepada Sumirah.


“Mantan kekasihku.”


“Kekasihmu yang kemarin tidak ingin kau sebutkan namanya?” cecar Genggam Sekam.


“Bukan.”


“Jadi sebenarnya kau punya berapa banyak mantan kekasih?”

__ADS_1


“Hanya tujuh pendekar,” jawab Sumirah enteng.


“Tujuh orang kau katakan ‘hanya’? Nanti kau harus menjelaskan kepadaku tentang itu!” tandas Genggam Sekam.


“Kenapa Kakang Sanggar ada di kediaman Adipati?” tanya Sumirah kepada pemuda yang berdiri tidak jauh dari kuda.


“Aku sedang dibayar oleh Adipati Girik Songko,” jawab Sanggar Aga. “Apakah Pendekar Tongkat Berat itu kekasih barumu?”


“Bukan,” jawab Sumirah.


“Ayo, urusan kita bukan dengannya!” kata Genggam Sekam lalu memajukan kudanya yang kemudian dihadang oleh prajurit penjaga pintu halaman.


Sumirah juga memajukan kudanya, mengabaikan Sanggar Aga. Pemuda berpedang itu hanya memandangi kepergian keduanya.


“Katakan kepada junjungan kalian, aku Pendekar Tongkat Berat membawa hal sangat penting untuk disampaikan kepada Adipati!” ujar Genggam Sekam kepada prajurit.


“Baiklah, kalian tunggu di sini!” kata salah satu prajurit penjaga. Ia lalu berbalik pergi masuk menuju rumah besar yang memiliki penjagaan ketat prajurit-prajurit berbaju warna hijau dan bercelana hitam.


Setelah menunggu dan mengikuti protokol, akhirnya Genggam Sekam dan Sumirah diizinkan bertemu dengan Adipati Girik Songko.


Ternyata, Sanggar Aga menjadi orang yang mendampingi Adipati Girik Songko saat menerima tamunya di dalam kamar. Girik Songko dalam kondisi perawatan karena satu kakinya dalam kondisi buntung sebatas lutut.


“Aku diutus oleh Gusti Ratu Warna Mekararum,” ujar Genggam Sekam.


“Apa?” kejut Girik Songko. “Apakah kau tidak berdusta? Gusti Ratu sudah wafat setahun yang lalu!”


“Tidak. Gusti Ratu Warna Mekararum masih hidup. Orang yang kalian buru sampai ke Rawa Kabut adalah Gusti Ratu Warna Mekararum,” tandas Genggam Sekam.


“Apa?!” kejut Adipati Girik Songko dan Sanggar Aga.


“Kami mengejar buruan nomor satu Kerajaan Jintamani. Mana mungkin kami mengejar Gusti Ratu Warna Mekararum yang sudah mati?” kali ini yang berkata adalah Sanggar Aga.


“Dengan jelas Istana Kerajaan Jintamani mengumumkan kematian mendiang Ratu Warna Mekararum setahun yang lalu. Apa yang kalian berdua rencanakan?” tukas Adipati Girik Songko.

__ADS_1


“Ini adalah kejahatan Senopati Gending Suro. Sebenarnya Senopati telah menguasai dan mengendalikan Kerajaan Jintamani. Dia telah mengasingkan dan menyiksa Gusti Ratu Warna Mekararum sebelum diselamatkan oleh Alma Fatara, pendekar wanita yang telah menghancurkan pasukan Kadipaten di Rawa Kabut. Senopati Gending Suro ingin mengganti Kerajaan Jintamani dengan kerajaan baru, tetapi dia harus memiliki harta kerajaan yang hanya diketahui tempat penyimpanannya oleh Gusti Ratu. Selama dia belum mendapatkan harta itu, dia belum akan melengserkan Gusti Prabu Marapata. Maka itu, Gusti Ratu Warna Mekararum mengutusku untuk mencegah Adipati mengirimkan pasukan kembali ke Rawa Kabut. Gusti Ratu berharap Adipati tidak ikut terlibat dalam pemberontakan,” ungkap Genggam Sekam. (RH)


__ADS_2