
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Dua prajurit datang dengan membawa keranjang besar berisi puluhan anak panah. Keranjang itu mereka angkat bersama dan diletakkan di depan panggung utama. Ada pula beberapa prajurit yang membawa tabung-tabung bambu yang kosong dan memiliki tali. Tabung-tabung itu berfungsi sebagai tabung tempat anak panah diletakkan.
Ketika Pendekar Mata Ular mendapat giliran pertama memilih sepuluh anak panah, mata awasnya dengan cepat dapat membedakan anak panah yang bertanda samar. Ketika anak panah diambil, maka terlihat bahwa bagian mata anak panah yang tajam ditutup oleh kayu berbentuk kubus, sehingga anak panah itu menjadi tumpul.
“Anak panah yang bertanda lebih dari sepuluh,” batin Pendekar Mata Ular. “Apakah selain aku, Pamong Sukarat membayar pendekar lain?”
Setelah mendapatkan sepuluh anak panah yang semuanya berciri khusus pada bagian ekornya, Pendekar Mata Ular mundur, tetapi ia masih memperhatikan orang berikutnya yang memilih anak panah.
Peserta berikutnya adalah Gegas Simanuk dari Hutan Balewang yang memilih anak panah. Pendekar Mata Ular memperhatikan dengan seksama.
“Gegas Simanuk juga mengambil panah berciri,” batin Pendekar Mata Ular.
Ia kembali terkejut dalam diam saat melihat, ternyata Jenjer Mahesa juga mengambil anak panah bertanda. Pada akhirnya ketiga pendekar itu saling pandang dalam kedinginan ekspresi.
Pendekar Mata Ular sebelumnya tidak mengenal Gegas Simanuk dan Jenjer Mahesa. Adapun keduanya saling kenal, begitu pun dengan Tiro Mulaga.
Aturannya, pengambil panah pertama melompat naik ke atas gawang sebelah kanan. Pengambil panah kedua naik ke atas gawang sebelah kiri. Peserta selanjutnya naik ke gawang kanan, selanjutnya naik ke gawang kiri. Mudahnya, Petarung Panah nomor urut ganjil naik ke gawang kanan dan nomor urut genap naik ke gawang kiri.
Maka, kini ada enam Petarung Panah berdiri di gawang kanan dan enam Petarung Panah di gawang kiri. Kedua kelompok saling berhadapan dalam jarak dua puluh meter. Sementara para Petarung Panah di setiap gawang berdiri dalam jarak tertentu, tidak berdekatan.
Di gawang kanan telah berdiri Pendekar Mata Ular, Jenjer Mahesa, Arya Mungkara, Arung Seto, Ujang Barendo, dan Ronggo Manik. Sementara di gawang kiri berdiri Pangeran Derajat Jiwa, Gegas Simanuk, Ariang Banu, Balingga, Bandeng Prakas, dan Tiro Mulaga.
Jika penomorurutan itu bersifat jujur, mungkin bisa saja Pendekar Mata Ular satu gawang dengan Pangeran Derajat Jiwa yang diincarnya. Namun, lagi-lagi Pamong Sukarat yang telah mengatur semua kemungkinan.
Kedua belas Petarung Panah telah siap dengan busur dan satu anak panahnya. Sementara tabung anak panah berada di punggung.
__ADS_1
Hiruk pikuk penonton kian ramai dan menggila. Detik-detik dimulainya pertandingan akan segera tiba. Semua taruhan penonton sudah masuk ke dalam keranjang masing-masing. Penerimaan uang taruhan sudah ditutup. Tidak ada lagi prajurit yang berkeliling seperti pedagang asongan.
“Kepada seluruh Petarung Panah harap memerhatikan aturan dalam pertandingan!” seru Pamong Sukarat. “Pertama. Petarung Panah hanya boleh memanah kelompok lain, tidak boleh memanah anggota kelompok sendiri. Kedua. Jika Petarung Panah jatuh dari atas gawang, baik disebabkan terkena panah atau jatuh karena menghindari serangan, dinyatakan gugur. Ketiga. Jika Petarung Panah sudah terkena dua kali panah tanpa jatuh, maka dinyatakan gugur. Empat. Jika sampai semua panah habis dan masih ada lebih dari satu Petarung Panah yang bertahan di atas gawang, maka pertandingan akan dilanjutkan dengan panah baru. Apakah kalian mengerti?”
“Mengerti!” sahut semua Petarung Panah yang sudah menatap lawan dengan tajam.
Para penonton kian bersorak-sorak bar-bar, seperti orang yang baru diberi suntikan gangguan.
“Arya! Kau harus pertahankan gelar juaramu!” teriak seorang penonton.
“Ujang Barendo! Jika kau kalah, aku tidak akan beli jengkolmu lagi!” teriak warga yang lain.
“Bandeng Prakas, kaulah wakil orang-orang miskin, jangan jadi pecundang!”
“Hei, Pendekar Mata Ular! Kau yang terhebat, habisi semua atau kau yang aku habisi!” teriak seorang nenek-nenek yang mendukung Pendekar Mata Ular. Dia sudah bertaruh untuk pendekar bermata aneh itu.
“Derajat Jiwa! Aku dan teman-temanku sudah bertaruh untukmu walaupun kita tidak saling kenal. Awas saja jika sampai kalah!” teriak seorang penonton mengancam.
Seperti itulah aneka teriakan para penonton yang tidak terkendali. Sementara ketegangan tercipta di atas arena. Meski mereka para pendekar, tetap saja ada degub-degub berdebar dalam jantung mereka, terlebih para pemain lama yang kini menghadapi pemain baru dan sakti-sakti.
Di atas panggung utama pun tercipta ketegangan, terutama pejabat dan tokoh yang memiliki putra dalam pertandingan tersebut.
Ninda Serumi selaku gadis tercantik se-Kadipaten Balongan yang menjadi hadiah bagi pemenang, terlihat gelisah dan cemas.
Di sisi lain di barisan penonton, Lima Pendekar Sungai Ular memantau situasi di dalam alun-alun. Posisi mereka adalah posisi yang paling dekat dengan panggung utama.
Debur Angkara, Garam Sakti dan Ayu Wicara juga waspada di posisinya masing-masing. Alma Fatara masih berdiri di atas pohon. Sementara Warna Mekararum dan Magar Kepang hanya bisa mendengar keramaian itu tanpa bisa melihat jelas. Posisi mereka yang berada di belakang kerumunan penonton adalah posisi yang tidak bagus. Magar Kepang bahkan berdiri di atas pedati demi melihat sedikit gambaran di tengah lapangan.
“Baiklah! Bersiaaap!” teriak Pamong Sukarat lebih keras.
__ADS_1
“Ayo, Prajurit!” teriak Alma Fatara kepada seorang prajurit berkuda yang ternyata sudah ada menunggu di bawah pohon.
“Siap!” jawab prajurit itu. “Heaah!”
Prajurit berkuda itu lalu menggebah kudanya dengan kencang memasuki alun-alun. Kemunculan kuda berlari yang tiba-tiba itu membuat Pamong Sukarat menahan aba-abanya. Perhatian sebagian besar orang seketika tertuju kepada kuda yang datang, terutama perhatian Adipati Marak Wijaya.
“Laporan penting, Gusti Adipati!” teriak prajurit itu kencang, padahal dia masih berada di tengah alun-alun.
“Yaaah!” desah para penonton kecewa karena Pertandingan Petarung Panah jadi tertunda gegara kedatangan prajurit tersebut.
“Apa ini?” tanya Pamong Sukarat dalam hati. Sebab kedatangan prajurit berkuda itu bukan bagian dari rencananya.
Prajurit itu menghentikan kudanya di dekat tangga panggung utama. Ia segera turun dan bergerak naik ke panggung dengan membawa segulung kain warna putih.
Baru saja prajurit itu tiba di atas panggung, Pamong Sukarat yang menaruh curiga, segera menghadang dengan tatapan mata mendelik.
“Berikan kepadaku, Prajurit!” perintah Pamong Sukarat yang berdiri membelakangi posisi duduk Adipati dan pembesar lainnya.
“Maafkan hamba, Gusti. Surat ini harus langsung diberikan kepada Gusti Adipati!” bantah si prajurit sambil menjura hormat.
Mendelik tajamlah Pamong Sukarat dengan rahang mengeras, menunjukkan kemarahannya kepada prajurit itu. Saat itu juga, si prajurit dilanda setengah ketakutan. Namun, dia melakukan itu juga atas perintah Adipati Marak Wijaya sendiri.
Aksi prajurit berkuda ini adalah siasat yang diatur oleh Adipati Marak Wijaya sendiri dan Alma Fatara.
Meski marah oleh penolakan si prajurit, tetapi Pamong Sukarat tidak bisa berbuat lebih di depan Adipati dan tokoh lainnya. Terlebih di panggung itu ada Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan.
Akhirnya Pamong Sukarat bergeser, membiarkan prajurit tersebut datang kepada Adipati Marak Wijaya.
Dengan menghormat berlutut satu kaki, prajurit tersebut menyerahkan gulungan kain yang dibawanya.
__ADS_1
Pamong Sukarat hanya berdiri memandangi dan menunggu. Jelasnya, dia merasa berdebar dengan adanya surat tersebut. (RH)