
*Alma Fatara (Alfa)*
Awal malam itu, Alma Fatara berlatih kecepatan menangkap anak panah. Senjata-senjata itu dilesatkan oleh gurunya, Wiwi Kunai. Pada mata anak panah diberi bulatan kayu kecil sehingga matanya tidak lancip.
Medan berlatih itu diterangi oleh empat tiang suluh di halaman rumah. Wiwi Kunai duduk pada sebuah kursi bambu. Di sisinya ada sejumlah tabung bambu berisi banyak anak panah. Di depan sana, dalam jarak beberapa tombak, Alma Fatara bersiap.
Seset seset …!
Tep tep tep …!
Wiwi Kunai melesatkan anak-anak panah itu dengan tenaga dalam, membuat senjata itu berlesatan bersusul-susulan.
Sigap Alma menangkapi anak-anak panah dengan tangannya yang bergerak cepat. Tubuhnya pun bergerak ke sana dan ke mari. Pada awal-awal, Alma bisa menangkapi batang-batang panah, tetapi kemudian dia mulai kewalahan dan hanya bisa menghindar. Bahkan ada tiga anak panah yang mengenainya.
Setelah habis, Alma kembali memunguti anak-anak panah yang berserakan di tanah, lalu kembali menempatkan pada tabung-tabung bambu di sisi gurunya.
“Matikan tiga obornya!” perintah Wiwi Kunai.
“Baik, Guru!”
Alma lalu berlari kecil kemudian melompat tinggi di dekat tiang suluh yang lebih tinggi dari kepalanya. Saat melompat itu, Alma mengibaskan tendangannya tepat di api obor hingga padam. Hal yang sama Alma lakukan pada dua obor lainnya.
Dengan demikian, semakin gelaplah halaman itu. Alma Fatara kemudian kembali bersiap.
Seset! Seset…!
Tep tep tep…!
Alma Fatara kembali beraksi ketika anak-anak panah itu dilesatkan oleh gurunya. Sepuluh anak panah pertama bisa Alma tangkap. Namun selanjutnya, Alma selalu gagal. Kegelapan yang mengurangi kejelasan senjata yang melesat, membuat Alma belum terbiasa. Ada lebih banyak anak panah yang mengenainya daripada sebelumnya.
“Gagal!” seru Wiwi Kunai.
Ketika Alma kembali memunguti anak panah, tiba-tiba dari kejauhan muncul butir-butir cahaya yang kelap-kelip membentuk barisan gelombang. Gelombang cahaya-cahaya di dalam kegelapan itu bergerak terbang menuju ke tempat latihan.
Terkejutlah Wiwi Kunai ketika mengenali cahaya-cahaya apa itu. Itu adalah cahaya-cahaya gerombolan kunang-kunang yang terbang berformasi.
“Dasar Lelaki Lele!” maki Wiwi Kunai seraya tersenyum sekilas ketika ia sadar siapa pengirim kaum kunang-kunang itu.
__ADS_1
Dengan hati yang merasa berbunga-bunga, Wiwi Kunai memandang ke sana dan ke sini mencari-cari keberadaan Garudi Malaya. Hanya dia yang bisa mengirim gerombolan kunang-kunang. Namun, Garudi belum menampakkan dirinya.
Gelapnya malam yang hanya berpenerangan dengan satu obor, membuat kunang-kunang itu bercahaya lebih terang.
“Waw …! Indahnya!” pekik Alma terpukau ketika melihat gerombolan kunang-kunang tersebut.
Ketika gerombolan kunang-kunang itu tiba di depan wajah Wiwi Kunai, para binatang itu membentuk formasi sehingga seperti pertemuan dua telapak tangan yang berdiri, yang menunjukkan simbol menghormat atau meminta maaf.
Semakin tersentulah hati Wiwi Kunai setelah sebelumnya ia begitu marah dengan kemunculan Garudi Malaya, mantan kekasih lamanya.
Wiwi Kunai akhirnya tersenyum lebar. Ada sebulir air mata yang keluar dan jatuh menetes.
Selanjutnya, gerombolan kunang-kunang tersebut terbang naik ke atas dan menumpuk menjadi satu gumpalan padat, lalu terbang bubar ke segalah arah seperti ledakan kembang api. Alangkah bahagianya Wiwi Kunai, sampai sempat muncul suara tawanya begitu singkat.
“Waaa!” teriak Alma Fatara sambil tepuk-tepuk tangan.
Setelah gerombolan kunang-kunang pergi menghilang, dari dalam kegelapan tiba-tiba muncul sekelebat bayangan biru di udara.
Sess! Ctar!
Semakin berbunga hati Wiwi Kunai di dalam taburan bunga. Meski usia mulai menua, tetapi rasa tidak pernah menua.
Selanjutnya, sosok berpakaian biru mendarat di depan Wiwi Kunai. Ia langsung berlutut satu kaki, sementara kedua tangannya menadah sebuah keranjang bambu yang berisi buah jeruk kuning kecil-kecil.
Mendelik tetapi tersenyum lebar Wiwi Kunai melihat sekumpulan jeruk tangerin, jeruk yang nenek moyangnya katanya berasal dari Tangier di Maroko. Jeruk jenis itu adalah buah kesukaannya dan sangat sulit didapatkan.
“Maafkan aku, Wiwi Kunang, karena telah melukai hati dan cintamu!” ucap lelaki yang adalah Garudi Malaya itu dengan lembut dan bernada menyesal.
“Dasar Lelaki Lele,” ucap Wiwi Kunai pelan tanpa bernada memaki. Lalu katanya lagi, “Aku terima maafmu.”
Wiwi Kunai lalu mengambil keranjang jeruk itu.
“Terima kasih, Wiwi Kunang sayangkuuu!” teriak Garudi girang sambil bangkit dan hendak memeluk tubuh Wiwi Kunai.
“Eh!” seru Wiwi Kunai sambil cepat menempatkan ujung kakinya pada dada Garudi, menahan lelaki tampan dan tua itu maju. “Waktu kita menjadi sepasang kekasih, kau tidak pernah memelukku, kenapa sekarang kau mau memelukku?”
“Hehehe! Baik, baik, baik! Aku tidak akan memelukmu. Jika perlu aku juga tidak akan menyentuhmu,” kata Garudi.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Alma menyaksikan drama dua orang dewasa itu.
Wiwi Kunai lalu menurunkan kakinya dari dada Garudi.
“Biar aku yang memelukmu!” kata Wiwi Kunai tiba-tiba sambil menghamburkan tubuhnya memeluk Garudi.
Alangkah terkejutnya Garudi, tetapi kemudian dia tertawa menang.
“Hahahak …!” Semakin panjanglah tawa Alma.
Mendengar suara tawa muridnya yang semakin menjadi, Wiwi Kunai cepat-cepat melepas pelukannya.
Wuss!
“Aak!” pekik Alma terkejut bukan main, karena tiba-tiba gurunya melepaskan segulung angin pukulan kepadanya. Buru-buru dia melompat berkelebat.
“Karena kau gagal dalam latihan, pergi bersihkan dan rapikan kamar kosong di atas!” perintah Wiwi Kunai.
“Siap, Guru! Hahaha!” sahut Alma lalu tertawa terus. Ia segera pergi naik ke rumah.
Di rumah itu memang ada sebuah kamar kosong selain kamar Wiwi Kunai dan Alma.
“Kau masih mengingat apa-apa yang aku suka,” kata Wiwi Kunai kepada Garudi sambil duduk di kursinya.
“Karena aku memang selalu mengingatmu. Meski aku mengembara ke sana dan ke sini, suka menggoda wanita lain, tetapi aku selalu mengingatmu. Selama aku tidak mengetahui tentang keberadaanmu, aku tidak bisa memutuskan untuk mencari kekasih baru. Kecuali jika aku sudah tahu di mana kuburanmu jika kau mati, atau siapa suamimu jika kau sudah menikah,” ujar Garudi.
“Tapi ingat, hubungan kita belum kembali sebagai kekasih sebelum kau melewati satu purnama masa pembuktian. Jika aku melihat kau menggoda wanita lain di depan mataku, termasuk menggoda muridku, maka hubungan kita berakhir dengan jelas. Kau boleh mencari wanita lain!” tandas Wiwi Kunai.
“Baik, aku akan menurut. Tapi kalau menggoda wanita lain di belakang matamu, boleh kan?” tanya Garudi.
“Terserah!” ucap Wiwi Kunai ketus.
“Sebab kau tahu sendiri, darah penggoda itu sudah mengalir di dalam tubuhku,” kilah Garudi.
“Jika kau ingin menjadikan Alma sebagai murid, aku izinkan, tetapi kau harus melatihnya di depan mataku. Alma itu anak yang sangat cantik, aku tetap khawatir kau berbuat macam-macam kepadanya,” kata Wiwi Kunai.
“Terima kasih, Wiwi Kunang sayangku. Aku jamin, Alma akan aman dari sifat jahatku. Aku akan sangat bangga jika mempunyai seorang murid seperti Alma!” kata Garudi bersemangat. (RH)
__ADS_1