
*Para Petarung Panah (Papepa)*
“Kakang Arya mau ke mana?” tanya Alma Fatara kepada putra Adipati yang berdiri di sisi kudanya.
“Aku awalnya berniat menyusulmu ke rumah Bendahara Kadipaten. Aku khawatir kau akan dimanfaatkan oleh kakak beradik itu,” jawab Arya Mungkara.
“Hahaha! Tenang saja, Kakang. Aku tidak akan bermain curang dengan seorang pun peserta pertandingan, termasuk Kakang,” kata Alma yang didahului dengan tawanya.
“Hati-hatilah jika berurusan dengan Pamong Sukarat,” pesan Arya Mungkara.
“Baik,” ucap Alma. “Lebih baik Kakang kembali duluan, karena aku dan Paman Magar akan berjalan-jalan lebih dulu.”
“Biarkan aku menemani,” kata Arya Mungkara menawarkan diri.
“Kami juga bersedia menemanimu, Adik Cantik,” sahut Ujang Barendo yang datang dari belakang Alma bersama Balingga.
Alma Fatara cukup terkejut dan langsung melihat ke belakang. Alma tersenyum manis kepada kedua pemuda tampan yang baru datang itu.
“Hei! Apa yang ingin kalian lakukan?” hardik Arya Mungkara sambil maju menghadang Ujang Barendo dan Balingga.
“Kenapa kau marah, Anak Adipati?” tanya Ujang Barendo seraya tersenyum, senyum yang biasa, tapi sangat menjengkelkan bagi Arya Mungkara.
“Mohoh maaf, Kakang-Kakang,” ucap Alma cepat menengahi. “Kalian berdua juga pasti peserta pertandingan besok. Lebih baik izinkan aku pergi hanya berdua dengan pamanku. Permisi.”
Seraya tersenyum paksa, Alma Fatara melangkah pergi sambil agak membungkuk-bungkuk.
“Permisi!” ucap Magar Kepang pula sambil berlalu menarik tali kendali kudanya mengikuti Alma.
“Ini gara-gara kalian!” tukas Arya Mungkara geram dan melotot kepada kedua saingannya.
“Hahaha!” tawa Balingga yang senang melihat Arya Mungkara marah. “Itu artinya kau tidak lebih baik daripada kami.”
“Awas saja besok!” ancam Arya Mungkara lalu segera naik ke kudanya.
“Hahaha!” Ujang Barendo dan Balingga hanya tertawa menertawakan kemarahan Arya Mungkara.
Setelah Arya Mungkara pergi bersama kudanya, kedua pemuda itu berbalik pula.
Sementara itu, Alma Fatara yang tidak langsung menuju pulang ke kediaman Adipati, pergi menuju area sungai. Namun, tiba-tiba mereka dihadang oleh empat lelaki berpakaian hitam-hitam bersenjatakan pedang.
Alma Fatara dan Magar Kepang terpaksa berhenti. Wajah Magar Kepang mengerut serius menatap wajah-wajah asing itu. Berbeda dengan Alma yang selalu tenang dengan senyumannya.
“Maafkan kami, Nisanak!” ucap seorang dari keempat lelaki itu. Lelaki tersebut menjura hormat sealakadarnya. Tampaknya dialah pemimpin dari ketiga rekannya. “Junjungan kami Gusti Pangeran Derajat Jiwa mengundang Nisanak.”
“Gusti Pangeran? Pangeran dari mana?” tanya Alma dengan mata membeliak cantik.
“Pangeran dari Kerajaan Singayam,” jawab lelaki itu.
“Aaah!” pekik Alma lalu menunjuk wajah lelaki di depannya sambil tersenyum berpikir. “Berarti pangeranmu itu masih bersaudara dengan Pangeran Sugang Laksama yang bergelar Pendekar Pedang Jurig?”
“Pendekar Pedang Dedemit,” ralat lelakit tersebut.
“Ah iya. Hahaha! Pendekar Pedang Dedemit!” seru Alma jadi teringat. “Siapa namamu, Kakang?”
“Hamba bernama Jendar, Nisanak,” jawab lelaki itu.
“Benar Pangeran Derajat Jiwa itu saudara dari Pangeran Sugang Laksama?” tanya Alma lagi.
“Benar, Nisanak.”
__ADS_1
“Namaku Alma Fatara, Kakang Jendar,” kata Alma. “Karna ini undangan, apa boleh buat. Di mana pangeranmu?”
“Di penginapan,” jawab Jendar.
“Silakan, Kakang,” kata Alma.
Jendar lalu melangkah pergi.
“Alma, naiklah!” kata Magar Kepang kepada Alma.
“Hahaha! Tidak perlu, Paman Magar. Nanti aku jadi gadis kurang ajar. Aku takut cantikku nanti berkurang. Hahaha!” tolak Alma lalu tertawa.
Maka kondisi tetap sama, mereka berjalan tanpa ada yang naik kuda.
Setibanya di penginapan, Alma Fatara dan Magar Kepang diminta menunggu di lantai bawah, tempat di sebuah meja yang sudah memiliki hidangan buah dan minuman.
Tiga pengawal berdiri menemani Alma dan Magar Kepang, tepatnya menjaga. Sementara Jendar pergi naik ke lantai atas, tepatnya ke kamar yang disewa oleh sang pangeran.
Ketika Alma Fatara menunggu, dari lantai atas turunlah Kepal Kepeng dan istrinya, Asih Munira. Mereka dikawal oleh seorang pendekar yang memang adalah pengawal pribadi Kepal Kepeng.
Mereka tampaknya hendak pergi. Kepal Kepeng berjalan sambil memandangi Alma dan Magar Kepang yang dijaga oleh pengawal Pangeran Derajat Jiwa.
Dalam hati kedua orangtua dari Ninda Serumi itu bertanya-tanya. Tetapi keduanya tetap berjalan menuju pintu.
“Tidak aku sangka, masih ada gadis yang lebih cantik dari putri kita,” kata Kepal Kepeng kepada istrinya, setelah keluar dari penginapan.
“Maksud Kakang gadis berpakaian hitam tadi?” tanya Asih Munirah.
“Iya. Sepertinya gadis itu punya hubungan khusus dengan Gusti Pangeran,” duga Kepal Kepeng.
Seperginya mereka berdua, dari dalam kamar muncul keluar Ninda Serumi. Ia berhenti di teras kamar di balik pagar pengaman teras yang setinggi rusuk. Ia memandang ke lantai bawah, memandang kepada Alma dan sejumlah orang di meja lain.
“Kalian kenal dengan gadis cantik di atas itu, Kakang?” tanya Alma kepada pengawal.
“Itu Ninda Serumi, putri Kepal Kepeng. Gadis yang menjadi hadiah di pertandingan besok,” jawab salah seorang pengawal.
Mendeliklah Alma mendengar hal itu. Ia jadi menengok kepada Magar Kepang.
“Itu Ninda Serumi, Paman,” kata Alma memberi tahu, padahal Magar Kepang juga mendengar jawaban si pengawal.
Sebelumnya saat berada di rumah Adya Bangira, Alma menyimpan keganjilan terhadap gadis yang mau dijadikan hadiah utama dalam pertandingan besok.
Namun, belum juga Alma berinisiatif melakukan sesuatu, dari kamar lain keluar seorang pemuda tampan berpenampilan megah. Pemuda yang dikawal oleh Jendar itu tidak lain adalah Pangeran Derajat Jiwa.
“Gusti!” ucap Ninda Serumi menghormat kepada Pangeran Derajat Jiwa. Ia tidak menyangka bahwa sang pangeran akan muncul.
“Apa yang kau lakukan di sini, Ninda?” tanya Pangeran Derajat Jiwa. Ia berhenti sejenak untuk menyapa gadis tercantik sekadipaten itu.
“Aku hanya jenuh di dalam kamar, Gusti,” jawab Ninda Serumi.
Pangeran Derajat hanya memberi senyuman. Ia lalu melangkah menuju tangga. Ia sudah bisa melihat keberadaan gadis cantik berjubah hitam di bawah sana.
Melihat kemunculan Pangeran Derajat Jiwa, Alma Fatara dan Magar Kepang bangun berdiri.
Setelah menuruni tangga, Pangeran Derajat Jiwa yang dikawal oleh Jendar, langsung mendatangi Alma.
“Selamat datang, Alma Fatara!” ucap Pangeran Derajat Jiwa sambil tersenyum lebar sumringah.
“Hahaha!” tawa Alma menyikapi sambutan dari Pangeran Derajat Jiwa.
__ADS_1
Melihat Alma tertawa seperti itu, terlihat sang pangeran cukup terkesiap.
“Kau membuatku seperti wanita bangsawan saja, Gusti Pangeran. Tapi juga seperti wanita panggilan. Hahaha!” ujar Alma Fatara.
“Hahaha! Bukan maksudku menganggapmu sebagai wanita panggilan, Alma,” tepis Pangeran Derajat Jiwa yang disertai dengan tawa agar suasana lebih cair. “Silakan duduk, Alma!”
Alma dan Magar Kepang duduk setelah Pangeran Derajat Jiwa duduk. Mereka jadi beseberangan meja. Senyum tidak pernah kering di wajah sang pangeran. Sepertinya dia begitu bahagia bisa bertemu dekat dengan Alma.
“Aku tadi melihatmu bertarung di jalanan melawan Lima Pendekar Sungai Ular. Aku langsung jatuh hati melihat kecantikanmu dan ….”
“Hahaha …!” tawa Alma terbahak mendengar menuturan Pangeran Derajat Jiwa.
Tawa Alma membuat sang pangeran berhenti berkata.
“Jadi?” tanya Alma setelah tawanya mereda.
“Aku berharap kau mau menjadi istriku,” jawab Pangeran Derajat Jiwa to the point seperti lewat jalan tol bebas virus.
“Hahaha!” tawa Alma lagi. Lalu tanyanya, “Bukankah aku masih terlalu muda, Gusti?”
“Tidak masalah,” kata Pangeran Derajat Jiwa.
“Tapi masalah bagiku. Hahaha!” kata Alma, tetap berhias tawa. “Apakah hanya karena itu Gusti mengundangku?”
“Ya.”
“Jika demikian, izinkan aku pamit, Gusti,” ujar Alma Fatara.
“Lalu apa jawabanmu, Alma?” tanya Pangeran Derajat Jiwa cepat.
“Maafkan aku, Gusti Pangeran. Semoga penolakanku tidak membuat hatimu terbelah,” tandas Alma Fatara.
“Apakah kau tidak tertarik sedikit pun denganku? Aku tampan dan seorang pangeran. Jika kau menikah denganku, maka kau akan menjadi bagian dari keluarga Istana,” tanya Pangeran Derajat Jiwa.
“Aku adalah orang yang sudah bahagia hidup bersama laut, pasir, kelomang dan pohon kelapa. Jadi aku tidak bisa mengatakan bahwa istana megah bisa membuatku bahagia,” kata Alma bijak.
Alma Fatara sejenak memandang ke lantai dua. Ia memandang kepada Ninda Serumi.
“Apakah Gusti Pangeran termasuk peserta pertandingan besok?” tanya Alma.
“Benar.”
“Sudah ada Ninda Serumi yang begitu cantik, tetapi Gusti Pangeran masih terpaut kepada wanita lain,” sindir Alma.
Alma Fatara lalu bangkit berdiri yang diikuti oleh Magar Kepang. Pangeran Derajat Jiwa mau tidak mau harus ikut berdiri.
Alma mendadak melambaikan tangan menyapa Ninda Serumi seraya tersenyum lebar.
Ninda Serumi terkejut mendapat lambaian tangan dari wanita yang tidak dikenalnya itu.
Pangeran Derajat Jiwa jadi menengok melihat kepada Ninda Serumi yang membalas lambaian Alma dengan penuh tanda tanya.
“Kami permisi, Gusti,” ucap Alma lalu menjura hormat.
Magar Kepang pun menjura hormat.
“Aku akan selalu mengejarmu, Alma, sampai kau bersedia menjadi istriku!” tandas Pangeran Derajat Jiwa.
“Silakan, Gusti!” ucap Alma seraya tersenyum kepada pemuda tampan itu. Alma kemudian melangkah meninggalkan sang pangeran dan keempat pengawalnya. (RH)
__ADS_1