A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 4: Mengatur Siasat


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Di hari itu juga, sekitar tujuh pedati kuda datang ke Rawa Kabut. Setiap pedati di tarik oleh satu ekor kuda dan masing-masing membawa dua orang lelaki. Meski mereka berpakaian sipil, tetapi dari karakteristik fisiknya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sering berlatih.


Alma Fatara menduga kuat mereka adalah prajurit berpakaian sipil.


Alma Fatara hadir hanya untuk mengawasi kerja para pria pedati itu. Mereka datang memenuhi permintaan Alma kepada Adipati Girik Songko, agar mengirim orang untuk mengangkut mayat puluhan prajurit yang dibunuh oleh Alma tadi pagi.


Setelah semua mayat dan potongan-potongannya diangkut, maka ketujuh pedati itu pergi dengan damai. Tidak ada ketegangan verbal apalagi fisik.


“Aku akan memasang kabut hingga ke darat dan kau bisa membangun benteng es di rawa. Aku sedang meramu minuman Lahar Semeru. Minuman itu nantinya akan membantu menghangatkan dalam tubuh, sehingga kalian tidak begitu kedinginan jika berada di atas es,” ujar Jangkung Jamur ketika ia mendiskusikan tentang pertahanan di Rawa Kabut bersama Warna Mekararum, Genggam Sekam dan Debur Angkara.


Genggam Sekam sudah bisa keluar dari kamarnya. Masa istirahatnya tinggal dua hari lagi. Jika dihitung dan diduga, Genggam Sekam akan pulih dari lukannya sebelum pasukan Kerajaan Jintamani datang. Perhitungan mereka, Kerajaan Jintamani membutuhkan waktu untuk memobilisasi pasukan, terlebih kawasan kaki Gunung Alasan agak jauh dari wilayah kekuasaan Kerajaan Jintamani.


“Kemungkinan besar, waktu tercepat Kerajaan Jintamani untuk mengirim pasukan dalam jumlah besar adalah dua pekan. Anggaplah satu pekan menggabungkan pasukan dan satu pekan masa perjalanan. Senopati Gending Suro hanya bisa mengerahkan pasukan kadipaten. Kemungkinan dia akan mengirim pasukan gabungan dari tiga kadipaten terdekat dengan wilayah ini. Mungkin bisa enam ratus prajurit. Pada masa itu, aku yakin Senopati Gending Suro akan menyusun pasukan besar sebagai persiapan jika pasukan tiga kadipaten gagal juga,” tutur Warna Mekararum.


“Kabut yang nanti ada akan memaksa pasukan musuh berhenti di Lembah Hilang,” kata Jangkung Jamur.


“Bisakah kita mengecilkan jumlah korban, Kek? Aku merasa menjadi pembantai mengerikan di usiaku yang sedang indah-indahnya ini,” kata Alma.


“Itu tergantung kau, Alma. Dengan adanya Bola Hitam di tanganmu, seorang diri pun kau menghadapi seribu pasukan, kau tetap akan menang. Mungkin bisa dikatakan bahwa nasib nyawa pasukan Kerajaan Jintamani ada di tanganmu,” tandas Jangkung Jamur.


“Ada cara untuk mencegah perang terjadi, yaitu mengirim utusan secepatnya untuk menemui para adipati dan menceritakan kondisi yang sebenarnya,” kata Warna Mekararum yang berbicara dari dalam kamarnya.


“Aku tidak bisa pergi meninggalkan Nenek. Jika aku pergi, aku tidak bisa memastikan kondisi Nenek seperti apa,” kata Alma. “Para sahabatku pun belum ada yang mumpuni untuk melaksanakan tugas sepenting dan berbahaya seperti itu.”

__ADS_1


“Biar aku yang menjadi utusan, tapi harus menunggu dua hari lagi,” kata Genggam Sekam.


“Para adipati itu tidak akan mempercayai cerita orang asing yang tidak ada kaitannya dengan Ratu Warna Mekararum tanpa membawa bukti. Sebelum kau menemui ketiga adipati, pergilah ke Desa Ukirat di Kadipaten Lambemu, Kerajaan Pelilitan. Temui pengrajin emas bernama Kucing Sungai. Minta buatkan tusuk rambut yang pernah dipesan oleh Ratu Warna Mekararum. Ia pasti akan membuatkannya jika diberi bayaran yang pas,” ujar Warna Mekararum.


“Baik. Aku rasa dengan berkuda cepat, kita bisa menghindari perang di Lembah Hilang,” kata Genggam Sekam.


“Untuk sementara kita hanya bisa mempengaruhi para pejabat di luar dari Ibu Kota Kerajaan Jintamani. Mungkin sebagian pejabat di Istana tidak satu langkah dengan Senopati Gending Suro, tetapi mereka berada di bawah ancaman langsung, jadi sulit bagi mereka untuk memberontak terhadap kekuatan Senopati,” kata Warna Mekararum.


“Kakang Debur, belajar dari apa yang terjadi pada kalian ketika pasukan kerajaan datang, Kakang dan Ayu Wicara harus banyak latihan, terutama dalam penggunaan senjata baru kalian,” kata Alma kepada Debur Angkara.


“Iya, Alma,” ucap Debur Angkara patuh.


Maka, pada hari itu, Debur Angkara mulai berlatih untuk memahirkan ilmu goloknya, termasuk memaksimalkan senjata pusaka yang ia miliki.


Jangkung Jamur bermurah hati memberikan Debur Angkara sebuah pil, yang jika dalam lima hari tubuh dipakai berlatih secara maksimal, khasiat pil itu akan memancing peningkatan tenaga dalam secara cepat. Pemberian Jangkung Jamur itu memberi semangat kepada Debur Angkara.


Di bawah arahan Alma dan Genggam Sekam, Debur Angkara mendapat pelatihan yang baik. Meski Debur Angkara tidak cerdas-cerdas amat, tetapi ia bisa melakukan arahan kedua pelatihnya dengan latihan berulang-ulang. Sedemikian semangatnya, sampai-sampai kening Debur Angkara berkeringat dalam suhu yang dingin.


“Hahaha!” tawa Alma ketika melihat kemajuan yang dicapai oleh Debur Angkara.


Sess!


Debur Angkara menyalurkan tenaga dalamnya kepada dua Golok Setia. Golok itu bersinar biru redup.


“Hiaaat!” pekik Debur Angkara sambil melompat dan menghujamkan kedua goloknya ke bidang es.

__ADS_1


Crekr! Krekrr!


Ketika kedua golok itu menancap di bidang es yang keras, tercipta gerakan meretak ke berbagai arah, menunjukkan semakin besarnya tenaga yang tersalurkan ke dalam kedua golok.


“Hahaha! Aku bertambah hebat Alma!” teriak Debur Angkara gembira seraya tertawa menatap kepada Alma.


“Kuncinya rajin berlatih, Kang!” sahut Genggam Sekam.


“Baik!” ucap Debur Angkara semakin semangat.


“Ayu Wicara akan semakin sayang kepada Kacang Dengkur-nya! Hahaha!” teriak Alma pula.


“Hahaha!” tertawa pula Debur Angkara.


“Istirahat dulu, Kang Debur! Lihat, sampai berkeringat di hawa sedingin ini!” kata Alma.


“Ada yang datang, Alma,” ujar Genggam Sekam yang kini mengenakan pakaian beberapa lapis.


Alma Fatara dan Debur Angkara mengalihkan pandangannya ke arah jauh.


Mereka melihat ada dua orang penunggang kuda sudah berada di pinggir rawa. Mereka belum maju untuk menginjak daratan es. Kedua penunggang kuda itu juga memandang ke arah Alma dan kedua sahabatnya.


“Tamu harus disambut, Kakang!” kata Alma lalu melangkah pergi. Genggam Sekam dan Debur Angkara mengikuti Alma.


Dua orang yang datang adalah seorang lelaki berwarna merah dan seorang perempuan berwarna putih. Maksud dari berwarna merah karena lelaki itu memiliki rambut berwarna merah terang, bukan merah kecokelatan atau merah kekuningan, tetapi benar-benar merah, sampai-sampai kedua alis dan jenggotnya juga berwarna merah terang. Pakaiannya pun serba merah, lebih merah dari seragam murid-murid Perguruan Pisau Merah. Ia pun membawa sebuah pedang di punggungnya yang berwarna serba merah. Orang berusia separuh abad itu dikenal luas dengan nama Merah Matang.

__ADS_1


Adapun wanita cantik berusia empat puluhan tahun, dia berambut serba putih tanpa sehelai pun rambut hitam. Pakaian luar dalamnya juga berwarna putih. Ada dua kipas putih terlipat yang diselipkan di sabuk putihnya. Ia dikenal secara luas dengan nama Wanita Kipas Melati. (RH)


__ADS_2