Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Mendadak Nikah.


__ADS_3

Baru saja bangun dari tidurnya, pagi-pagi Nico mendapatkan telpon mendadak dari Rendy. Dia diminta datang ke rumah sakit sekarang juga, karena takut Reva kenapa-kenapa, Nico bergegas mandi dan langsung pergi ke rumah sakit.


"Tuan, sarapannya?!" tanya kepala pelayan.


"Aku sedang terburu-buru, siapkan saja sandwich. Nanti aku makan dijalan" ucapnya sambil memainkan ponselnya.


Tidak lama kemudian, sandwich sudah siap dan mobilnya pun sudah siap. Dia langsung berangkat ke rumah sakit minta ditemani oleh supirnya langsung.


Biasanya dia berangkat sendirian, tapi kali ini kepala pelayannya tidak mengizinkan tuannya pergi sendirian, karena dia melihat tuannya sepertinya sedang panik oleh sesuatu, jadi dia meminta anaknya yang merupakan kepala pengawal Nico, menjadi sopirnya pagi itu.


"Ayahmu itu terlalu berlebihan, aku tidak apa-apa kok" ujar Nico.


"Beliau begitu karena khawatir, kenapa kamu terburu-buru begitu? Apa ada hal yang mendesak tidak bisa kamu tunda dulu? Biasanya kamu tak pernah melewatkan sarapanmu" tanya sopirnya itu sekaligus sahabatnya sejak kecil.


"Aku tak tahu, tapi perasaanku mengatakan ada sesuatu.." ujarnya pelan.


Mereka melaju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang, sedangkan Nico sedang menikmati sandwich sambil melihat kearah luar jendela, sambil berpikir apa yang terjadi saat ini di rumah sakit itu.


Setibanya di rumah sakit, dia langsung bergegas menuju kamar rawat inap Reva, sedangkan sopirnya tadi tak langsung pulang dia juga ikut bersama Nico, dia penasaran apa yang membuat tuan sekaligus sahabatnya itu begitu khawatir.


Nico heran melihat depan kamar Reva ada beberapa orang berbadan tegap, tinggi sedang berjaga. Dia juga melihat beberapa perawat sedang mondar-mandir dari kamar Reva, perasaannya tak menentu dan bergegas masuk ke dalam kamar itu diiringi oleh sopirnya tadi.


"Berhenti, Pak. Anda mau kemana?" tanya salah satu orang yang berjaga didepan kamar tersebut.


"Saya Nico, saya ingin masuk kedalam" jawab Nico.


Terlihat orang-orang itu seperti sedang mengamatinya, lalu salah satunya sedang menelpon seseorang.


"Anda boleh masuk, tuan Rendy sedang menunggu anda didalam" jawab orang yang sedang menelpon tadi dengan sopan.


Lalu dia membukakan pintu kamar itu, Nico masuk bersama sopirnya dengan perasaan tak menentu. Ketika dia masuk, dia dikejutkan oleh pemandangan didalam kamar tersebut.


Didalam kamar tersebut tidak terlihat seperti kamar pasien pada umumnya, karena terdapat beberapa bunga yang menghiasinya, dan gordennya juga diganti dengan yang lebih bagus, dan ada meja dan kursi yang sudah dihiasi juga, dia juga melihat Reva sedang didandani oleh dua orang yang tak dikenalnya.


Di sana dia melihat ada beberapa orang, termasuk Rendy, Andriana, kedua orang kepercayaan Reva yaitu Susy, dan Mona. Dan juga ada tiga orang lelaki lainnya.


"Ren, ada apa ini?" tanyanya penasaran.


"Kakak, duduk dulu. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu" ujar Rendy tenang, dia juga melirik kearah sopir Nico.


"Kau duduk saja dulu di sana, aku ingin bicara berdua saja dengannya" ujar Nico memberi perintah sopirnya itu.


Sopirnya itu duduk diantara para bapak-bapak yang ada di sana, sementara itu Nico diajak Rendy berbicara agak menjauh dari sana, Nico sedari tadi menatap dirinya penasaran.


"Kak, aku harap Kakak tidak marah dan setuju dengan apa yang aku lakukan sekarang ini, ini demi kebaikan kita semuanya" ujar Rendy memulai percakapannya.


"Apa itu, katakan saja. Dari tadi aku begitu penasaran dengan semua ini, aku pikir ada apa karena kau meneleponku pagi-pagi sekali, hingga aku memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Reva.


Cepatlah, katakan saja! Jangan membuatku menunggu" ujar Nico penasaran.


Dia melihat Rendy menarik nafasnya berlahan, dan memulai berbicara sambil menatap wajah calon kakak iparnya tersebut.


"Kak, maaf aku lancang tanpa memberitahumu sebelumnya. Tapi aku harus mengatakan, karena...

__ADS_1


Sebentar lagi kalian, Kak Nico dan Kak Reva sebentar lagi akan melakukan akad nikah!" ujar Rendy dengan sekali tarik nafas mengucapkan hal itu dengan gugup.


"A-apa?!" Nico sangat terkejut mendengar kabar mendadak tersebut.


"Ta-tapi kenapa, Ren? Kenapa mendadak sekali mengatakan hal itu, dan persiapan semua ini??" tanya Nico bingung.


"Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu saat kita di kantor polisi aku mulai memikirkan semuanya, Kak. Apalagi setelah melihat sikap ayah kepada kami, membuatku berpikir sejauh ini.


Semenjak kak Reva dirawat dan koma sampai sekarang, perusahaan dan yayasan kembali diambil alih oleh Elena, tentu saja dengan persetujuan ayah.


Dia kembali berulah, merekrut orang-orangnya lagi dan membuat kekacauan di sana. Kedua orang itu adalah orang-orang kepercayaan kak Reva, termasuk bodyguard yang berjaga diluar.


Saat ini hanya mereka yang masih bertahan disisi Kak Reva, yang lain dipecat, ada juga di tugaskan diluar daerah, bahkan terpaksa berkhianat karena dibawah tekanan Elena.


Sedangkan ayah tak peduli, dengan entengnya dia malah membawa kembali Pramudya ke perusahaannya dan menempatkan posisinya di kursiku.


Dia berpikir dengan ini aku akan melunak dengannya, tidak semudah itu! Aku yang bersusah payah membangun kembali perusahaan itu dan sekarang akan direbut begitu saja, tidak akan kubiarkan!


Dengan hal ini, setelah Kak Nico dan Kak Reva menikah.. Kakak mendapatkan hak semuanya atas dirinya, termasuk perusahaan dan yayasan bisa diwakilkan Kak Nico menanganinya.


Aku percaya Kak Nico bisa melakukan itu semua, aku yakin Kak Nico bisa dipercaya dan bertanggung jawab atas ini semuanya" ujar Rendy mengakhiri pernyataannya tadi.


"Oke, untuk menikah aku setuju. Tapi untuk menangani perusahaan dan yayasan aku tak yakin, aku tidak enak seperti memanfaatkan momen ini disaat Reva masih koma.


Bukankah perusahaan dan yayasan itu atas nama Reva, kau dan juga Ericka?? Kau juga berhak atas hal itu, kau bisa mendapatkannya kembali, aku akan bantu soal itu.


Kapan perlu kita jebloskan saja Elena kedalam penjara atas perbuatannya itu, aku akan bertanggung jawab soal itu" ujar Nico.


Aku akan fokus dalam mempertahankan hakku di perusahaan dan yayasan Wijaya Grup, dan menendang benalu dan parasit didalam keluarga kami.


Aku akan menyerahkan hak atas tanggung jawab perusahaan dan yayasan tersebut kepada Kak Nico sebagai wali dan suami sah dari Kak Reva, Kakak kandungku sendiri" ujar Rendy lagi.


"Baiklah, kalau begitu. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku, jika terjadi suatu hal atau kau butuh bantuan apapun, hubungi aku dan katakan saja semuanya.


Karena aku gak mau mendengar berita atau satu hal mengejutkan seperti ini lagi, bisa mati berdiri aku!" ujar Nico kesal, sambil memukul bahu Rendy pelan.


"Tapi senang kan kejutannya, hehe.. Iya, aku akan mulai terbuka semua hal kepada kalian berdua saja, aku percaya kedua kakakku dengan baik" ucap Rendy sambil tersenyum sumringah.


"Tentu saja, kalau soal itu" balas Nico sambil merangkul Rendy.


Setelah keduanya selesai membahas soal itu, Nico diminta untuk bersiap-siap didepan penghulu disaksikan orang-orang yang ada di sana, sebelumnya dia meminta sahabat sekaligus sopirnya itu membelikan cincin emas putih 24k dengan butiran berlian berbentuk mawar indah ditengahnya.


Sedangkan cincin kawinnya sudah disiapkan oleh Rendy, pakaian pengantin, perias pengantin diurus oleh Andriana, sedangkan memanggil penghulu dan mengurus berkas-berkasnya diurus oleh Susy dan Mona, tentu saja di kawal oleh bodyguard-bodyguard kepercayaannya.


"Kau mengurusnya dengan baik, aku bangga padamu" ucap Nico bangga dan salut dengan Rendy.


"Tentu saja, dan maaf semuanya serba dadakan dan hasilnya kurang memuaskan" ucap Rendy pelan.


"Tidak apa, yang penting akad nikah aja dulu. Sah secara agama maupun hukum, agar tak bisa mengganggu kami lagi, soal resepsi nanti kita bicarakan" ujar Nico berusaha membesarkan hati Rendy.


"Iya, Kak. Resepsi kalau bisa menunggu Kak Reva sadar dari komanya saja" ucap Rendy tersenyum sendu.


Melihat itu Nico kembali merangkul bahu Rendy, dia tahu bahwa saat ini Rendy sedang merangkul beban tanggung jawab untuk dirinya dan kakaknya, dan dia datang untuk mengurangi beban itu.

__ADS_1


"Maaf saya terlambat, saya sedang mencari cincin yang pas dan cocok buat Nona Reva" ujar sopir Nico tadi.


"Tidak apa, kami datang tepat waktu. Silakan, Nak Nico dan Nak Rendy, kalian juga bersiap-siap yah" pinta pak penghulu.


Acara akad nikah yang begitu sederhana tapi penuh hikmat itu berjalan lancar tanpa ada halangan sedikit pun, dengan sekali tarikan nafas Rendy menyerahkan kakaknya kepada Nico, begitupun sebaliknya Nico dengan tegas dan penuh wibawa mengambil Reva sebagai istrinya.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu.


"Saahhh!" jawab para saksi yang ada di sana kompak.


Rendy sedikit terguncang setelah menyadari kini kakaknya telah milik orang lain, dia menitikkan air matanya harus sambil menatap kakaknya penuh kasih sayang.


"Maafkan aku, Kak... Aku sebagai adik lelakimu tak bisa menjagamu dengan baik, aku telah berusaha menjadi adik dan kakak yang baik selama ini, meskipun begitu banyak kekurangannya.


Kak, kini kau sudah menjadi seorang istri, semoga kau bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Kak Nico sejauh ini adalah pilihan terbaik buatmu, dia akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak-anakmu kelak.


Jangan berpikir semua lelaki itu sama seperti ayah kita, Kak Nico sejauh ini telah membuktikan banyak hal dan aku juga akan membuktikan jika aku juga berbeda dengan ayah.


Kak, cepatlah bangun. Lihatlah kau sekarang telah menjadi seorang pengantin tercantik yang pernah aku lihat saat ini, Kak ... Aku rindu" ucapnya sambil tersedu sambil memeluk bahu kakaknya itu.


Reva yang sedang tertidur koma terlihat begitu cantik dan anggun dengan kebaya yang dia pakai, dengan riasan tipis diwajahnya, menampakan kecantikan alaminya dengan sempurna.


Semua orang yang ada di sana menangis terharu mendengar ucapan Rendy dan kedekatannya dengan kakaknya itu, Andriana jadi begitu yakin dengan pilihan hatinya.


Nico merangkul Rendy untuk menenangkannya, tapi mereka sedikit terkejut dan terharu melihat pemandangan ada saat ini. Melihat Reva sedikit menitikkan air matanya di wajah cantiknya itu.


"Masya Allah, Bu.." ujar Susy tak kuat terharu melihatnya.


"Kak Reva ..." lirih Andriana.


"Benar kata dokter, pasien koma itu bisa mendengar itu semua, dia bisa mendengar dan juga merasakannya juga, hanya saja dia tak bisa melihat dengan membuka matanya.


Jadi percayalah, keajaiban itu ada. Berdoa saja minta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa, agar dia cepat kembali pulih" ucap pak penghulu yang masih ada di sana.


"Aminn..." ucap mereka semuanya.


Setelah itu mereka dikejutkan oleh pintu dibuka lebar dan masuk beberapa orang kedalam, mereka sepertinya sedang membawa sesuatu didalam kardus besar.


"Permisi, Pak. Kami dari Catering Bunga Indah ingin memberikan besek paket nasi box, ada sekitar 200 box nasi ada disini lengkap dengan buah, air mineral dan juga beberapa snack" ucap orang yang mengantarkan paket nasi box itu.


Semua orang keheranan, siapa yang memesan itu? Karena semuanya merasa tak memesannya, tapi berbeda dengan Nico. Dia menatap sopirnya yang dari tadi cengar-cengir.


"Maaf, Pak. Saya tak kuat menahan berita gembira ini, jadi saya menelepon ayah soal pernikahan ini. Aku rasa beliau yang memesankan semua ini" ucap sopirnya itu.


"Ya udah, sudah terlanjur ini.. Yuk sikat aja!" ujar pak penghulu berusaha mencairkan suasana.


Semua orang kembali tersenyum, semuanya kebagian paket itu termasuk para dokter, perawat, staf dan security yang berjaga di rumah sakit itu.


Semuanya nampak bahagia dan memberikan ucapan selamat kepada Nico dan lainnya.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2