Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Sebuah mobil Jeep hitam berhenti mendadak setelah menabrak sesuatu, seorang pengemudi berkaca mata hitam melirik kearah kaca spionnya melihat kebelakang, memastikan yang ditabraknya adalah target yang benar.


"Hem, sesuai sasaran. Bagus! Setidaknya ini bisa membuat perasaanku menjadi lebih baik" ujar pengemudi mobil Jeep itu.


Seorang wanita muda, berwajah licik dengan senyuman sinisnya melajukan mobilnya dengan kencang. Dia tak peduli dengan keadaan sekitar yang memperhatikan perbuatannya.


"REVA!" teriak Nico.


Dia menyeberangi jalanan tak peduli dengan beberapa mobil yang melaju kencang kearahnya, beberapa kali dia di klakson atau diteriaki oleh beberapa orang akibat tindakan cerobohnya itu.


"Reva, maafin Papa, Nak. Bangun sayangg..." ujar pak Dewantoro menangis sambil memeluk tubuh putri sulungnya itu.


Nico syok melihat kondisi Reva, tubuhnya penuh dengan lumuran darah. Kepalanya terbentur dengan keras, terhempas dengan kencang dijalan itu.


Dia tak peduli dengan lainnya, dia langsung menarik tubuh Reva dari pelukan pak Dewantoro dan memasukkannya kedalam mobilnya. Beruntungnya dia berangkat dengan orang-orangnya, sehingga dia tak terlalu bingung dan panik.


"Bawa dia ke rumah sakit, sekarang!" perintah Nico.


Dia memeluk tubuh Reva yang penuh luka, dia tak peduli dengan tubuhnya yang ikut kena noda darah Reva. Sepanjang jalan dia merutuki dirinya yang meninggalkan Reva saat itu.


"Maafkan aku, aku mohon Revaa ..." ucapnya lirih, mencoba menahan air matanya.


Mobil melaju dengan kencangnya menuju rumah sakit, mobil pak Dewantoro menyusul dibelakangnya diikuti juga oleh beberapa orang-orangnya.


Sementara Rendy dikejutkan oleh berita yang disampaikan oleh anak buah ayahnya, dia langsung berlari menuju mobilnya menuju rumah sakit yang ditunjukkan tadi.


Andriana yang tak tahu apa yang terjadi, ikutan berlari mengejarnya masuk kedalam mobil. Dia tak berani bertanya karena melihat ekspresi Rendy yang begitu panik.


"Hati-hati, Pak. Jangan ngebut-ngebut, bahaya..." ujarnya mengingatkan Rendy yang membawa mobilnya begitu kencang.


Sesampainya di rumah sakit, matanya nanar mencari kakaknya yang ada di sana. Untung saja Andriana ikut, jadi sedikit banyaknya dia bisa membantu.


"Pak, Bu Reva sudah dibawa ke ruang ICU. Ayo kita kesana..." ujar Andriana tenang.


Mereka menuju ruang ICU itu dengan sedikit tergesa-gesa, di sana sudah ada ayahnya dan Nico. Ada juga beberapa orang-orang yang membantu mereka tadi.


"Kak Nico, apa yang terjadi?!" ujar Rendy langsung menghampiri Nico.


Dia tak peduli ada ayahnya yang ada di sana, meskipun ayahnya adalah atasannya juga dia hanya sedikit menaruh rasa hormatnya. Dia merasa dirinya hanya dimanfaatkan oleh ayahnya saja.


Meskipun itu juga keinginannya untuk menyelamatkan ayah dan perusahaannya dari tangan Elena dan anak-anaknya, tapi rasa sakit yang ayahnya ciptakan membuatnya dan saudari-saudarinya membencinya.


"Tenanglah, Rendy. Para dokter sedang merawat Reva, kita tunggu saja disini..." ucapnya pelan, berusaha tegar.


Melihat itu pak Dewantoro merasa kecewa dan sedih, anak-anaknya lebih percaya kepada orang lain dibandingkan dirinya. Melihat kedekatan anak-anaknya kepada Nico, membuat dia berpikir jika orang itu memberikan pengaruh jahat kepada mereka.

__ADS_1


"Nico, bisa bicara kepadaku" ucap pak Dewantoro dingin.


Dia mengajak Nico berbicara cukup jauh dari orang-orang yang ada disana, mereka berbicara diujung lorong rumah sakit itu.


"Nico, katakan kepadaku. Apa rencanamu sebenarnya? Aku lihat semenjak mengenalmu, anak-anakku semakin menjauh dariku" ucap pak Dewantoro berbicara dengan nada dingin sambil menatapnya tajam.


"Bukankah, sebelum mengenalku mereka semua juga sudah menjauh darimu? Jika mereka membencimu itu bukan karena aku, tapi karena ulahmu sendiri" balas Nico dingin.


Dia meninggalkan lelaki tua itu, tapi lengannya ditarik oleh pak Dewantoro. Dia tak terima diperlakukan seperti itu, dia merasa semua orang meremehkannya.


"Mau kemana kau?! Aku belum selesai!" bentak pak Dewantoro.


"Apa lagi, Pak? Bukankah semuanya sudah jelas, semua orang tahu apa yang menimpa keluargamu. Kehancuran keluargamu itu akibat ulahmu sendiri, jangan mencoba melarikan diri dan melimpah kesalahan dirimu kepada orang lain" ucap Nico dingin.


Mendengar itu, cengkeraman tangan pak Dewantoro semakin kencang di kerah baju Nico. Di saat itu Rendy datang menemui mereka, dan melihat hal itu.


"Hentikan ayah! Apa yang kau lakukan? Ingin membunuhnya?!" teriak Rendy marah.


Melihat kedatangan Rendy yang tiba-tiba membuat keduanya terkejut, pak Dewantoro langsung melepaskan cengkeramannya.


"Apa yang terjadi ini?! Kalian berdua belum menjelaskan apapun terkait kecelakaan kak Reva, tapi kalian sudah pergi dan bertengkar disini!


Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku? Apa semua ini, jelaskan semuanya!" teriak Rendy.


"Aku tahu soal itu, aku akan mencoba menerimanya... Masalahnya, kenapa setiap kali selesai bertemu dengan kalian dia selalu mengalami hal-hal aneh, entah dengan Ayah, atau Kak Nico.


Ada apa ini? Aku ingin tahu semuanya, tolong katakan dengan jujur" ucap Rendy, dia sudah lelah dengan semua kejadian ini.


"Rendy, kakakmu pergi dari pertemuan kami... Karena dia menolak lamaran lelaki ini, tapi lelaki ini sedikit memaksa dan malah meninggalkannya.


Kau tahu kakakmu itu sudah terpengaruh olehnya, dia mengejar lelaki itu! Akhirnya kecelakaan itu terjadi" ucap pak Dewantoro menjelaskannya.


Tentu saja dia memalsukan keterangannya, dia ingin anak-anaknya menjauhi Nico dan akan semakin mendekat dengannya. Dia berusaha mendekati anak-anaknya lagi, tapi dengan cara yang salah.


"Apa itu semua benar, Kak?!" tanya Rendy dengan sorot mata yang memerah kearah Nico.


Mendengar pernyataan dari pak Dewantoro membuat Nico gelagapan, dia tak mengira lelaki tua itu bisa mengkhianatinya. Bahkan dia terang-terangan menyalahkan semuanya kepada dirinya.


"Ah, memang betul aku melamarnya-" ucapannya terpotong oleh Rendy.


"Dan dia menolakmu?!" tanya Rendy cepat.


"Iya, tapi aku tak-" ucapannya kembali dipotong.


"Dan kau langsung meninggalkannya?!" tanya Rendy dengan geram.

__ADS_1


"Betul, tapi aku-" dan lagi-lagi ucapannya dipotong oleh Rendy.


"Berarti itu semua benar! Kau bisa-bisanya lakukan semua ini kepada kak Reva, bukankah kau tahu kak Reva juga mencintaimu, dan dia hanya belum siap dengan sebuah ikatan!" teriak Rendy.


"Aku tahu! Aku tahu itu semuanya, makanya aku tak memaksanya..." ucap Nico tak tahu harus menjelaskan semuanya.


"Kau memang tidak memaksanya didepan Reva, tapi kau selalu mendesakku untuk segera menikahkan kalian" ucap pak Dewantoro memacu emosi Rendy kembali.


"Apa, memaksa?!" tanya Rendy tidak percaya.


"Iya, kau tahu Ayah memiliki sejumlah hutang dengannya. Dia ingin Ayah menikahkan Reva dengannya, jika tidak maka hutangnya akan bertambah besar.


Kau tahu hutang Ayah cukup besar dengannya, dan memiliki bunga yang besar juga. Bagaimana bisa Ayah membayar itu semuanya, bukannya sebagai calon Ayah mertua dia harus meringankan beban hutang itu?" ujar pak Dewantoro memanfaatkan situasi itu, untuk mencari keuntungannya sendiri.


Mendengar itu semua membuat Rendy terpana sehingga tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya meneteskan air mata kecewanya. Bagaimana bisa satu-satunya orang yang dia percaya bisa mengkhianatinya juga.


"Rendy, dengarkan aku. Itu semuanya tidak benar! Memang aku memintanya untuk menikahkan Reva denganku, aku melakukan hal itu agar Reva terlepas dari genggaman Ayahmu!" ucap Nico berusaha menjelaskan semuanya.


"Kau dengar, secara tak langsung dia ingin memisahkan Ayah dengan Reva, dan suatu saat nanti itu juga terjadi padamu" pak Dewantoro kembali memprovokasi Rendy.


"Diam, Diam kalian berdua! Aku tak tahu harus percaya dengan siapa dan harus berbuat apa dengan kalian. Yang jelas, aku harus tahu tak ada kasih sayang yang tulus di dunia ini!" teriaknya sambil berlalu pergi.


"Ren, Rendy! Tunggu!" teriak pak Dewantoro mencegah kepergian Rendy.


"Tunggu!" bentak Nico kepada pak Dewantoro.


"Anda telah menabuh genderang perang kepada saya, anda yang memulai permusuhan ini. Jangan salahkan jika sesuatu terjadi nanti" ucap Nico menatap tajam kearah pak Dewantoro.


"Aku tak peduli, aku sudah terbiasa menghadapi orang-orang seperti dirimu ini. Dan mulai sekarang anak-anakku adalah urusanku, kau tak perlu ikut campur dalam hal ini" tegas pak Dewantoro.


"Silakan berbuat sesuka hatimu, kita lihat saja nanti apakah mereka akan kembali bersamamu atau tidak" ucap Nico setelah itu dia berlalu pergi.


Dia kembali menuju ruang ICU, dia melihat Rendy bersama sekretarisnya dan beberapa orang-orangnya.


"Apa yang kau lakukan disini? Kehadiranmu tak dibutuhkan disini!" ujar pak Dewantoro sambil melewatinya dengan senyuman liciknya.


Nico hanya menatapnya dingin, dengan wajah datar tanpa ekspresi dia pergi meninggalkan tempat itu.


"Maafkan aku, Reva. Aku pergi dari sini bukan berarti aku meninggalkanmu. Aku akan menunggumu dari tempat lain, disuatu tempat yang dekat denganmu" ucap Nico pelan.


Sejuta perasaan dihatinya, rasa takut, benci, kecewa, marah dan lainnya. Melihat begitu jahatnya pikiran pak Dewantoro membuat Nico semakin ingin melindungi Reva.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2