
Hari itu Elena dan Pramudya menyusul mr. Robert dan lainnya menuju titik lokasi yang mereka kirimkan, menurut mereka di sanalah gadis itu berada, gadis yang diduga adalah Ericka.
"Aku tak percaya, sama sekali tak percaya jika gadis itu adalah Ericka" ujar Elena.
"Mau Ibu percaya atau tidak, mari kita lihat langsung kebenarannya" sahut Pramudya.
Kini mereka sudah sampai di lokasi itu, sebuah bangunan tua mirip seperti gudang yang terbengkalai. Berada jauh dari kota, mereka heran dan bertanya-tanya, apa yang dilakukan gadis itu disini?
"Jangan langsung masuk kedalam, aku memiliki firasat buruk" ujar Elena.
Dia menarik Pramudya masuk kesela-sela sisi gudang itu, tidak lewat pintu utamanya. Samar-samar mereka mendengar seperti perdebatan orang yang sangat sengit didalam, dia mengintip dari cela dinding gudang dan terkejut melihat gadis cantik tadi berdiri ditengah-tengah para lelaki beringas.
"Tidak mungkin dia Ericka, gadis itu nampak begitu tenang kalau Ericka dia sudah pasti ketakutan" gumam Elena.
Dia melihat gadis itu menghampiri mr. Robert dengan santai, dia diikuti beberapa lelaki tadi dan sepertinya mereka adalah pengawal gadis itu.
"Dengar, aku memang gadis yang kau cari tapi aku tak sama seperti yang kau kira. Aku adalah aku yang baru, aku takkan membiarkan siapapun menindasku lagi" bisik Ericka ditelinga mr. Robert.
"Hahaha! Gadis licik, kau pikir aku tak tahu apa-apa kalau selama ini kau telah menghancurkan bisnisku! Kau juga menjebakku dengan cara licikmu, hingga aku harus kehilangan pegawaiku.
Kau pikir apa?! Hah! Aku harus kehilangan jutaan dolar tiap bulannya, aku rugi besar! Kau harus mengganti rugi setiap kerusakan yang kau buat!
Jika kau tak bisa bayar dengan uang, maka cukup dengan tubuhmu saja. Haha!" ujar mr. Robert dengan pongahnya.
Ericka hanya tersenyum saja menanggapi setiap perkataannya, berbeda dengan Aaron maupun Stanley mereka rasanya ingin meramas mulut pria tua itu.
Saat ini Ericka ditemani Aaron, Stanley dan beberapa anak buah Aaron yang lainnya. Mereka harus tetap waspada, menjaga Ericka jika terjadi diluar dugaan.
Mr. Robert tak tahu jika saat ini Ericka sedang mengulur waktu, dia sengaja menahan mr. Robert dan orang-orangnya di sana sampai tibanya polisi datang.
Mereka juga sedang merekam kejadian saat ini, jika terjadi sesuatu mereka bisa menjadikan itu sebagai bukti penyerangan.
"Kau itu bodoh, badan saja besar tapi isi otak zonk! Kau tahu, semua bisnis ilegalmu sudah diketahui oleh orang banyak, semua investormu kabur dan tak ada pihak bank atau asuransi manapun mau meminjamkan uangmu, karena mereka tahu kau itu sekarang bangkrut!
Dan kalian semua disini, buat apa kalian melindungi tua bangka ini?! Sudah tak ada gunanya, dia sudah tak ada uang untuk membayar kalian, apa kalian tak merasa jika kalian telah dibodohi olehnya?!" ujar Ericka berusaha memprovokasi para pengawal itu.
Mendengar itu para pengawal dan orang-orang mr. Robert mulai sedikit goyah dan ragu kepadanya, begitu juga dengan Elena dan Pramudya yang mengintip mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Dasar, bajingan tua! Ternyata dia juga mau menipuku! Dia sengaja menahanku agar bisa membantunya selama dia bangkrut!" geram Elena kesal.
"Diam kau! Jangan kalian dengarkan wanita licik ini! Dia sengaja memecah belah kita!" teriak mr. Robert kesal, ada perasaan khawatir juga didirinya jika semua anak buahnya pergi.
"Terserahlah, mau kalian percaya atau tidak! Tapi aku akan memberitahu sebuah fakta kepada kalian, sebentar lagi polisi akan datang menangkap bosmu ini juga termasuk kalian semuanya.
So, kalian takkan punya pilihan apa-apa kecuali meniggalkan dirinya sendirian disini, dan berkata sejujurnya apa saja yang dia buat selama ini itu benar adanya. Dan katakan apa yang dia lakukan selama ini?" ujar Ericka lagi.
"Haha! kalian dengar, lihat! Akhirnya dia menunjukkan sifatnya yang sebenarnya, ujung-ujungnya dia meminta kalian mengkhianatiku!" ucap mr. Robert.
Setelah itu mereka mendengar suara sirine mobil polisi datang mendekat kearah tempat itu, semuanya nampak panik mereka berusaha kabur dari tempat itu.
Tapi sayangnya semua pintu gudang itu sudah tertutup dan terkunci, mereka tak menyadari jika ada beberapa anak buah Aaron diam-diam telah mengunci pintu itu hingga membuat mereka semua terkurung tak bisa keluar.
"Dasar, rubah licik! Kau sengaja menjebakku kesini hah! Kau pikir semua polisi itu akan menahanku, berapa lama mereka sanggup menahanku?! Takkan ada yang bisa menahanku!" teriak mr. Robert kalap.
"Kau pikir mereka semua bodoh, tidak! Satu-satunya yang bodoh itu hanya kau, mereka semua pergi meninggalkanmu sendirian disini.
Para polisi korup itu sudah ditangkap, ditugaskan diluar pulau bahkan sudah dipecat, mereka takkan ada yang bisa menolongmu lagi" kali ini Aaron yang berbicara.
Haha! Sudah kuduga, semua ini pasti ada tangan ikut campur dalam bisnisku ini. Satu-satunya konglomerat yang bisa melawanku hanya kau! Seharusnya aku sudah menduganya, kalau tidak mungkin tikus kecil ini sampai berani kepadaku" ujar mr. Robert geram kepadanya.
"Apa yang kau bicarakan itu ada benarnya juga, kecuali kalau aku diusir dan tidak diterima oleh keluargaku. Itu berita bohong, fitnah!
Dan kau tahu, aku yang datang kepadanya. Karena dia itu istimewa, dia spesial bagiku" ucap Aaron tersenyum sinis kepada mr. Robert.
"Dasar kalian pasangan rubah licik! Awas kau!" teriaknya.
Baru saja dia ingin menyerang mereka berdua, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka paksa.
"Berhenti, jangan bergerak. Kalian semua yang ada di sini ayo ikut kami!" teriak salah satu komandan polisi.
Mr. Robert yang terkejut dan menoleh kearah Aaron dan Ericka kaget saat melihat keduanya telah menghilang dari sana, bahkan semua anak buah Aaron pun sudah pergi.
"Sial, mereka benar-benar telah menjebakku! Lihat saja nanti, aku akan membalas mereka satu persatu" ucap mr. Robert sebelum dibawa pergi oleh polisi.
Sementara itu, Elena dan Pramudya yang ketakutan bersembunyi dibalik dinding gudang itu. Mereka berharap keduanya tak ditemukan oleh para polisi ataupun mr. Robert.
__ADS_1
"Untung saja kita tak langsung ikut dengannya, jika tidak kita sudah pasti ikut tertangkap oleh polisi" gumam Elena.
"Ibu, apakah gadis itu benar-benar Ericka?!" tanya Pramudya lagi.
"Bukan, dia bukan Ericka. Dia hanya gadis yang mirip saja, satu hal yang pasti bahwa gadis itu bersama pasangannya merupakan musuh bisnisnya mr. Robert" ucap Elena.
Sepertinya dia hanya mendengar sekilas saja isi percakapan mereka, karena jarak yang lumayan jauh jadi dia tak bisa mendengar dengan jelas isi percakapan mereka tadi.
"Terus bagaimana dengan kita?!" tanya Pramudya lagi, dia masih ketakutan.
"Syut, diam! Tenanglah, jika semua polisi sudah pergi, baru kita keluar dari sini dan langsung pergi!" jawab Elena.
"Pergi kemana lagi, Bu?!" tanya anak itu lagi.
"Kau ini benar-benar bodoh! Kelamaan disini membuat otakmu tak bekerja! Tentu saja kita pergi ke bandara, pulang ke Indonesia! Rumah kita" geram Elena, gemas dengan putranya sendiri.
Dan benar saja, ketika semuanya telah pergi dan suasana telah sepi mereka berdua keluar dari persembunyian dan langsung pergi dari tempat itu.
Sementara itu, disuatu tempat, Ericka dan lainnya berhasil keluar sebelum polisi menyadari kehadiran mereka semuanya, saat ini mereka sedang mengawasi kamera Cctv yang ada digudang itu.
"Kenapa kau tak ingin menangkap mereka juga? Bukankah mereka awal permasalahan yang terjadi? Merekalah penyebab semuanya" tanya Aaron.
Mereka kini sedang memperhatikan dua orang ibu dan anak itu kabur dari tempat tadi sambil menyetop taksi yang lewat.
"Biarkan saja, rasanya tak seru jika mereka langsung dieksekusi. Aku ingin mereka semuanya merasakan rasa sakitku selama ini, aku ingin mereka semua merasakan sakitnya kehilangan seperti yang dialami olehku dan kakak-kakakku" ujar Ericka menatap tajam kearah layar Cctv itu.
Semuanya didalam pikirannya saat ini tertuju kepada keluarganya yang ada di Indonesia, dia ingin menemui kakak-kakaknya, betapa dia sangat merindukan mereka.
Tapi saat ini, ada seorang lelaki yang diam-diam memperhatikannya, Stanley hanya menatapi gadis yang dia sukai itu dari jauh. Perasaan yang dipendam sendirian itu rasanya sangat menyakitkan.
Tapi apalah daya, dia tak sebanding jika harus bersaing dengan bosnya mendapatkan hati gadis pujaannya itu. Satu hal yang tak diketahui oleh Stanley ataupun Aaron, bahwa Ericka hanya menganggap mereka teman saja, tak lebih ataupun kurang.
Saat ini Ericka tengah fokus dengan misi balas dendamnya, dan ingin menyatukan kembali keluarganya seperti dulu.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1