
"Jadi, apa yang pernah dia katakan itu benar adanya. Ah, aku terlalu banyak berhayal dan terlampau jauh memikirkan semua ini. Haha! Aku benar-benar memalukan.." gumam Azka seraya pergi meninggalkan tempat itu, tepat saat para pengawal datang setelah beristirahat waktu disuruh Aaron tadi.
Meskipun dia terlihat baik-baik saja, tapi jauh di lubuk hati dia merasakan kekecewaan dan kesedihan saat mengetahui wanita yang dia taksir ternyata memiliki kekasih.
"Sudah pernah aku katakan padamu, berhentilah berharap sesuatu yang mustahil, bro! Takutnya kamu mengetahui sebuah kenyataan, dan itu pasti sangat menyakitkan. And,, terbuktikan?" ucap salah satu sahabatnya, Ray.
"Kamu ini, aku kan cuma butuh didengarkan saat lagi galau begini! Bukannya diomelin seperti itu.." sahut Azka kesal, dia mematikan saluran telponnya.
Dia nampak kesal sekali, tapi apa mau dikatakan fakta mengatakan lain. Dia berusaha untuk menetralisir perasaannya dan mencoba melupakan semuanya.
Saat dia berjalan menuju luar rumah sakit hendak pulang, dia tak sengaja menabrak seseorang, pikirannya tak fokus karena sibuk menata hatinya yang habis retak patah hati.
"Ups, sorry! Gak sengaja.." ujarnya merasa tak enak hati.
"Gak apa, aku juga tadi gak merhatiin jalan juga kok..," sahut seorang gadis cantik didepannya.
Sejenak Azka lupa dengan patah hatinya, ketika dia melihat seorang gadis muda dan cantiknya, mendadak move on dan mulai menata hatinya lagi.
"Hai, namaku Azka.." ujarnya sok cool menjulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Enzy, namaku Enzy.." sahut gadis itu ramah sambil menyambut uluran tangan Azka.
Seolah dirinya disambut dengan baik, Azka langsung berusaha mengakrabkan diri sedangkan Enzy senang bertemu dengan seseorang yang begitu lucu dan sangat friendly, sejenak dia bisa menenangkan diri dengan mengobrol dengan orang baru, setidaknya dia tak harus pusing dengan drama dalam keluarganya itu.
"Apa yang dilakukan oleh anak itu? Dan, bukankah bocah itu adalah anaknya Richard, keluarga Pohan?! Dasar! Kenapa keluarga ini tak bisa hidup tenang tanpa harus bersinggungan dengan keluarga itu lagi.
Dan anak itu juga terlihat baik-baik saja, padahal aku sudah meminta orang untuk mencelakainya agar si Richard tidak main-main lagi denganku!" gumam opa Harja sambil mengamati Azka dan Enzy, cucu dari kakaknya itu.
.
.
Sementara disebuah cafe yang masih berada dikawasan rumah sakit itu, Nico duduk dengan gelisah dihadapan sang istri, sementara William dan Erick duduk bergabung dengan Rendy dan Andriana di meja seberangnya.
Mereka duduk diam sambil mengamati sepasang suami istri itu, menunggu drama apa lagi yang akan menimpa mereka, dalam hati mereka, menertawakan Nico yang tiba-tiba mode kalem dan tak berkutik.
"Aku ingin sekali mengambil foto ataupun video, tapi takut ketahuan. Kan lumayan bisa jadi dokumentasi buat anaknya nanti, biar keponakanku tau kalau bapaknya yang sangar bisa jinak juga, wkwk.." ujar Rendy.
"Jangankan kamu, aku juga begitu. Tapi dia tau aja jika aku mulai bersiap dengan kamera ataupun ponsel, seolah dia punya mata empat aja!" bisik William juga.
"Masa sih?" tanya Erick tak percaya.
"Gak percaya, coba aja!" ujar Rendy dan William kompak, mereka juga ingin melihat Erick mendapatkan tatapan maut dari Nico juga.
__ADS_1
Dan benar saja, saat Erick bersiap mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya, tiba-tiba sepasang mata Nico menatapnya tajam, mendadak suasana menjadi horor di sekeliling Erick, dia urungkan mengambil ponselnya.
"Bagaimana, apakah tatapannya dahsyat?! Wkwkwk.." ledek William diiringi tawa gelak Rendy dan Andriana.
"Dasar!" Erick tersenyum kecut.
Sementara diseberang meja mereka, Nico masih menunggu harap-harap cemas apa yang akan dikatakan oleh sang istri, Reva memutuskan untuk mengisi perutnya dulu sebelum mengomeli suaminya itu.
"Alhamdulillah, sudah kenyang. Tapi masih pengen ngemil lagi, makan makanan disini sangat enak pantesan ada yang betah tak mau pulang sampai berani berbohong segala.." ucap Reva sarkas menyindir suaminya itu.
Sebenarnya Nico tadi sudah bersiap akan pulang setelah ditelpon oleh Reva, tapi dia urungkan niatnya saat mendapatkan laporan dari anak buahnya mengenai apa yang dialami oleh oma Mariani.
Maka dengan bantuan William dan Erick, dia bekerja sama dengan dokter dan beberapa perawat untuk merencanakan semua sandiwara soal keadaan oma Mariani, dan kebetulan oma sudah sadar dan dengan sukarela ikut semua rencana mereka, dan sekarang tante Sonia pun ikut juga dengan rencana mereka itu.
"Makan orang kayaknya enak, sekali makan langsung kenyang!" ujar Reva sambil menatap tajam Nico.
"Sa-sayang.. Gak enak makan orang, anyep! Kasihan anak kita, bisa jadi kanibal beneran ntar gedenya. O ya, mau makan apa lagi? Aku pesankan lagi yah, sekalian kalau mau dibungkus juga boleh buat di rumah, hehe.." ujar nico mendadak bucin dan lembut kepada sang istri, dia tak perduli jika diantara mereka ada orang-orang sedang menertawakan sikapnya itu.
"Gak usah, aku sekarang butuh penjelasan darimu sekarang ini! Katakan saja semuanya, gak usah ditutupi segala. Kamu pikir siapa yang kamu bohongi itu? Hei, saudara Nico Abraham, aku ini Revalina Wijaya mana ada orang yang berani menipuku!" ujar Reva dengan mode galaknya.
"Iya yah.. Revalina Wijaya istriku tercinta, sayangnya Nico Abraham, wanita hebat, wanita kuat yang tiada tandingannya. Keren, anak kita pasti akan bangga punya mama superior!" ucap Nico antusias menanggapi sang istri setelah memujinya dia juga bertepuk tangan menunjukkan betapa kerennya Reva.
Krik.. Krik.. Krik
"Apaan sih, norak tau!" ucap Reva ketus, tapi wajahnya bersemu merah.
Antara ucapan dan hati berlawanan arah, dia nampak senang dipuji oleh suaminya itu, membuat para adiknya yang ada di sana merasa mual melihat kebucinan keduanya.
"Ternyata begitu cara kak Nico menaklukkan hati kak Reva kalau lagi marah atau ngambek! Keren juga caranya meskipun agak lebay.." ujar Andriana.
"Ini mah bukan lebay lagi, tapi malu-maluin! Entar kalau ada pesaing bisnisnya atau ada anak buahnya yang liat, apa gak tengsin tuh!" sahut Rendy juga.
"Yaa, gak apa. Orang sama istrinya ini kok, setidaknya kak Nico juga manusia punya kelemahan juga, punya rasa takut dan itu normal. Yang ditakutkan itu jika ada manusia sudah tak memiliki rasa takut ataupun malu.." sahut William bijak.
"Weee, tumben pinter!" sahut Rendy ngeledek.
"Baru sadar kau, aku ini memang pintar dari sononya!" ucap William dengan pedenya.
"Iya, pintar ngegombal cewek sana-sini!" sahut Erick juga.
"Itu dulu, sekarang tidak lagi. Sang Casanova sudah tobat saudara-saudara.." ujarnya sambil tersenyum.
"Jadi, kamu dengan Geraldine.. Serius? Sudah sampai mana tahap hubungan kalian?" tanya Adriana penasaran.
__ADS_1
"Bukan gitu tanyanya, sayang.. Seharusnya gini, jadi sudah berhasil membuat Geraldine tertarik dengan 'batang' atau masih doyan sama 'tempe'? gitu" ujar Rendy menyahuti Andriana sambil tersenyum penuh arti.
"Batang, tempe.. Apaan sih?" tanya Andriana pura-pura beg*.
"Maksudnya gini, kalau Geraldine itu--" Erick ingin menjelaskan semua tentang Geraldine, dia pikir Andriana benar-benar gak tau apa-apa.
"Sudah hentikan, aku tau apa yang harus aku lakukan jika dia masih menutup diri begitu.. Aku akan menculik dan memperk*sanya saja kalo begitu" jawab William seenaknya saja.
"Hei, mana bisa begitu! Aku gak setuju, kamu itu pengacara juga CEO perusahaan besar di kota ini, mau dipenjara dan dicap sebagai lelaki mesum?!" tanya Erick tak setuju dengan ide gila kakaknya itu.
"Sebenarnya ada apa dengannya, Rendy? Sebagai temannya, aku yakin sedikit banyaknya kamu pasti tau tentang masa lalu Geraldine.." tanya William.
"Aku gak punya wewenang untuk mengatakan itu semuanya, Kak. Jika Kakak benar-benar serius dan sayang kepadanya, tunjukkan dan buktikan segera kepadanya dan juga keluarganya.
Dan berusahalah lebih kuat lagi untuk mendekatinya, dan kakak juga harus bersabar menghadapinya, apalagi Kakak juga tau salah satu rahasianya, pelan-pelan dan hati-hati tanyakan langsung kepadanya semua hal yang kira-kira yang membuatmu penasaran.." ucap Rendy serius.
"Kau benar, mungkin selama ini aku kurang berusaha lagi kepadanya. Makanya dia belum terlalu terbuka kepadaku, tapi.. Kenapa selama ini dia mau menerimaku jika kuajak keluar atau menelponnya setiap hari, dia tak pernah marah ataupun keberatan?" tanya William bingung.
"Itu sudah bagus, setidaknya dia mulai menerimamu.." sahut Andriana senang.
"Belum tentu, mungkin dia hanya merasa nyaman dan menganggapnya hanya teman saja, ingat dia itu wanita unik berbeda dengan wanita normal lainnya. Jika yang lainnya mungkin udah memiliki rasa meskipun sedikit, nah ini Geraldine.. Dia tidak seperti itu, orientasi seksualitasnya agak unik.." sahut Erick dengan gamblangnya.
"Pernyataanmu sungguh menyakitkan, tapi faktanya memang begitu nyatanya, thanks bro udah ngingetin!" ujar William terlihat sedih.
"Jadi, mau nyerah nih?!" tanya Rendy.
"Tidak, malah aku merasa tertantang untuk menaklukkan hatinya, dan berusaha mengingatkan dirinya hakekatnya pasangan manusia itu berlawanan jenis, dan berhubungan s*x dengan lawan jenis itu nikmatnya luar biasa, hehehe!" ujar William, otak mes*mnya keluar.
"Hei, disini ada bocah dan calon bini gw!" ujar Rendy gusar.
"Aku bukan bocah lagi, aku sudah mengerti hal begituan!" ucap Erick tak terima dianggap bocah lagi.
"Tenang, my little brother! Entar aku ajarkan cara berc*nta yang benar itu seperti apa.." ujar William sambil menatap Erick dengan senyum smirk.
"Uhuk.. uhukk!" Andriana merasa canggung dengan situasi sekarang ini, dia sampai terbatuk-batuk mendengar obrolan absurd mereka.
"Sepertinya aku salah masuk dalam pergaulan.." gumamnya sambil memijit-mijit kepalanya.
Sedangkan Rendy berusaha melindunginya dari obrolan absurd William dan Erick dengan menutup telinga Andriana, dan sebenarnya gak guna juga.
Sedangkan Nico memilih pulang bersama istrinya setelah puas diberi wejangan oleh Reva, dan tentu saja harus bungkus makanan untuk menenangkan sang istri, agar amarahnya cepat reda.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung