
Ericka tak peduli dengan kakinya yang semakin sakit rasanya ketika dipaksa untuk berjalan itu, terseok-seok dia berjalan menggeret kakinya, sedangkan dibelakangnya suara anjing menggonggong semakin dekat kearahnya.
"Aku harus bagaimana? Sembunyi kemana?!" ujarnya panik.
Ditengah hutan dan tak tahu tempat lokasinya dimana, dia berjuang sendirian menghindari bahkan mungkin dia harus melawan orang-orang yang ingin mencelakainya itu. Ericka melihat ada tiga pohon besar didepannya, dia bersembunyi dibelakang salah satunya.
Dan tepat ketika dia bersembunyi, suara anjing tadi sudah dibelakangnya bersama beberapa orang tadi, mereka mulai menyusuri berbagai tempat dibalik semak-semak dan pepohonan di area itu.
"Dimana gadis itu bersembunyi? Cepat juga langkahnya! Tak kusangka gadis kecil lemah itu ternyata memiliki kekuatan besar juga" ucap salah satu lelaki itu.
"Aku melihat dia tadi setengah berlari dengan kaki pincang, aku yakin dia tidak akan jauh bersembunyinya.." jawab temannya.
Mereka melihat ada tiga pohon besar didepan, temannya memberikan isyarat untuk mendekati salah satu pohon itu, apalagi anjingnya tadi tidak bisa diam sambil mengarah ke salah satu pohon itu.
Dengan perasaan was-was mereka mendekati pohon besar sebelah kiri mereka, dan.. Tidak ada siapapun di sana, mereka terlihat kecewa dan beralih ke pohon yang lainnya.
Dan kali ini mereka yakin Ericka bersembunyi di sana, apalagi anjingnya terlihat begitu agresif ingin mendekati pohon itu, dan sekali lagi tak ada apapun di belakang pohon itu.
Ericka yang bersembunyi dibelakang pohon satunya sangat khawatir, saat mendengar suara langkah kaki mereka yang semakin dekat itu.
"Aku harus segera pergi dari sini sebelum ketangkap oleh mereka" gumamnya.
Dia kembali mengendap-endap berjalan menjauhi pohon itu dan menghilang dari balik semak-semak rimbun didepannya.
Terdengar olehnya suara orang-orang itu terlihat gusar sekali karena tak menemukan dirinya, dia sedikit lega saat suara langkah kaki mereka terdengar menjauhkan darinya. Tiba-tiba..
"Hei, Doggy! Kenapa berhenti?! Apa kau melihat sesuatu?" tanya lelaki yang sedari tadi memegangi tali kekang anjing itu tadi.
Seketika anjing itu berlari kearah semak-semak tempat Ericka bersembunyi, gadis itu gemetaran ketakutan. Bukan hanya ketakutan oleh mereka itu saja, tapi oleh ular kecil berwarna hijau merayap ke tubuhnya.
Dia tak bisa bergerak ataupun bersuara sedikit pun jika tak ingin ketahuan, tapi disisi lain dia juga sangat takut dengan ular yang merayap semakin naik menyusuri tubuhnya.
Dari arah belakangnya, Ericka dapat mendengar suara geraman anjing itu dan suara hembusan nafas dari moncong anjing itu tepat dibelakangnya, sedangkan ular kecil itu juga sudah sampai merayap ke arah kepalanya.
"Aku harus bagaimana? Apa aku akan mati disini? Oleh manusia-manusia jahat itu, atau oleh makhluk kecil ini?!" ujarnya dalam hati.
Dia memejamkan matanya ketika ular kecil itu merayap keatas kepalanya, dan ekor kecilnya menyentuh wajahnya, dan..
Kaing! Kaing! Kaing!
"Hei, Doggy mau kemana?! Kenapa dengan anjing itu?!" ucap salah satu lelaki itu.
"Astaga, ular!" teriak temannya itu ikutan lari mengejar anjingnya tadi.
Melihat itu orang satunya lagi juga ikutan lari menjauhi semak-semak itu, tempat Ericka bersembunyi. Hanya karena takut dengan ular kecil yang hanya numpang lewat saja.
Ericka bengong dengan apa yang terjadi, dia tak menyangka anjing yang sedikit lagi menemukan dirinya itu malah lari ketakutan saat melihat ular yang merayap diatas kepalanya itu.
"Huft, leganya! Terima kasih teman kecil" ucapnya kepada ular entah sudah pergi kemana.
Dia sekarang kebingungan mau pergi kemana, ditengah hutan begini dan matahari mulai sedikit turun dan menandakan sudah mau sore hari.
"Aku harus cepat keluar dari hutan ini, sebelum aku dimakan binatang buas lainnya. Tadi bertemu ular kecil, tidak kemungkinan aku akan bertemu dengan yang lebih besar lagi, dan kali ini akan jadi makan malamnya.
Hiii.. Aku tak mau mati sia-sia disini, apalagi aku sangat penasaran dengan orang yang menculikku itu, dan para orang pengecut tadi aku yakin hanya orang suruhan saja" gumamnya berjalan terseok-seok meninggalkan semak-semak itu.
Feeling-nya mengatakan untuk menjauhi hutan itu dan balik lagi kearah dia pertama masuk tadi, dia berjalan hati-hati takut bertemu lagi dengan orang-orang tadi.
Setelah dikiranya berjalan cukup jauh, dia akhirnya menemukan jalan setapak dan berharap itu jalan keluar. Ketika dia hampir mencapai ujung jalan itu, dia melihat ada bangunan didepannya dan nampak tak asing dengan tempat itu.
__ADS_1
"Sialan, aku balik lagi ke pondok itu! Berarti kearah sebaliknya" ucapnya kesal.
Ketika dia hendak berbalik, dia mendengar suara mobil berjalan kearahnya dari belakangnya. Dia langsung bersembunyi dibalik semak-semak dipinggir jalan itu.
Dia melihat ada satu mobil Jeep berjalan menuju pondok itu, dia tak tahu siapa didalam mobil itu karena kaca mobil itu berwarna gelap dan tak terlihat apapun yang ada didalam sana.
"Lebih baik aku lihat siapa yang ada didalam mobil itu!" gumamnya.
Dia berjalan mengendap-endap dibalik semak-semak dan pepohonan didepan pondok itu, dia melihat ada tiga orang yang turun salah satunya adalah wanita. Dia tak mengenali mereka semua, siapa sebenarnya mereka?!
"Bagaimana, apa gadis itu sudah bangun?!" tanya salah satu dari mereka.
"Anu Tuan Zacky..." para penjaga tadi nampak gugup dan tak tahu harus bicara apa.
"Anu apanya?! Bicara yang benar, cepetan!" lelaki bernama Zacky itu terlihat tak sabaran.
"Dia, dia.. Ka-kabur, Tuan.." jawab temannya penjaga tadi gugup.
"Apa kabur?! Bagaimana bisa?!" teriak lelaki di samping Zacky.
"Sabar Arlon, kita dengarkan apa kata mereka dulu.." sahut wanita yang bersama kedua lelaki itu.
"Saat pertama kali kami datang, dia masih terbaring dan belum sadar dari obat biusnya. Dan kami meninggalkan dirinya didalam dan menjaganya diluar pondok ini.
Tapi kami kunci kok, tapi bagaimana caranya dia bisa naik keatas jendela yang lumayan tinggi itu, dan keluar dari sana kami tak tahu. Padahal jendelanya kecil dan terkunci dari luar" jawab pengawal tadi menjelaskan.
Dia juga menceritakan semuanya perjalanan mereka saat mengejarnya didalam hutan, dan bertemu dengan ular pun mereka ceritakan juga.
"Ckck, bagaimana bisa dua lelaki berbadan besar bisa dikibuli oleh anak kecil, dan takut dengan ular kecil! Aku membayar kalian bukan untuk itu, dan sekarang kita harus mengatakan apa kepada paman jika anak itu kabur!" sahut lelaki bernama Zacky tadi.
'Yang aku takutkan jika dia berhasil keluar dari sini dan mengatakan tentang semuanya yang ada disini" ucap gadis tadi terlihat khawatir.
"Tidak usah khawatir Nona, dia tadi kami lihat masuk ketengah hutan, sedangkan hutan ini termasuk hutan yang berbahaya. Aku yakin dia pasti jatuh terperosok masuk kedalam jurang, atau tewas dimakan binatang buas" ucap pengawal tadi.
"Sudah, kita harus cepat pergi dari tempat ini, sebelum malam tiba kita harus membersihkan tempat ini jangan sampai ada jejak wanita itu menempel ditempat ini" sahut Arlon lagi.
Mereka mulai membersihkan pondok itu, bahkan membakar beberapa barang yang tak sengaja di sentuh oleh Ericka. Setelah selesai, mereka pergi meninggalkan tempat itu tepat saat matahari terbenam.
Ericka berjalan cepat menuju barang-barang yang masih terbakar tadi, dia berusaha mencari sesuatu yang kira-kira bisa diselamatkan. Dia melihat amplop putih yang baru terbakar ujungnya itu, dan langsung membersihkankanya.
Sebenarnya dia ingin melihat langsung isi dari amplop itu, tapi dia takut berada di pondok ditengah hutan pada malam hari sendirian di sana.
Mumpung belum terlalu malam, dia menyusuri jalan setapak itu bermodalkan cahaya bulan. Dia memaksakan kakinya untuk berjalan, dan samar-samar dia mendengar ada suara kendaraan berlalu lalang didepannya.
Semakin cepat dia berjalan, semakin dekat juga dia dengan arah suara itu. Dan ternyata benar, ada jalan raya didepannya. Dia melihat ada bus yang lewat dan langsung menyetopnya.
"Pak, ini bus angkutan jurusan mana ya Pak?" tanyanya kepada sopir bus itu.
"Bus kearah Jogja, mbak!" jawab sopir itu.
"Hah, Jogja?! Te-terus sekarang ini kita ada dimana?!" tanyanya bingung.
Malah yang ditanya juga bingung dengan pertanyaannya itu, sopir itu memperhatikan penampilan Ericka yang berantakan itu, apa gadis cantik ini waras atau tidak.
"Emang situ darimana? Kok gak tau darimana sih? Dan tiba-tiba nongol dipinggir jalan tengah hutan ini, aku kira tadi setan loh jika tak liat kakinya napak apa gak tadi.." bapak sopir itu tak langsung menjawab Ericka, malah dia mengungkapkan kebingungan atas dirinya.
"Sa-saya tak tahu, Pak! Saya tersesat!" jawab Ericka, dia tak tahu harus menjawab apa.
"Loh kok bisaa?!" bapak itu malah bingung.
__ADS_1
"Ya udah, nanti mbak saya turunkan ke perempatan sana, dari perempatan gak jauh dari kantor polisi, nanti minta tolong pak polisi aja yah baliknya.
Maaf, saya tak bisa nganterin situ pulang karena saya juga harus pulang ke rumah juga" jawab sopir bus itu.
"Tak apa, Pak. Terima kasih, dan maaf.. Saya juga gak bawa apa-apa buat bayar ongkosnya.." kata Ericka merasa tidak enak hati dengan sopir itu.
"Gak apa, Mbak! Namanya juga lagi musibah, saya percaya kok sama situ. Mudah-mudahan Mbak nya langsung bisa pulang dan bertemu dengan keluarganya" ucap sopir itu tulus.
Ericka hanya tersenyum mendengar ucapan sopir itu, dia hanya menunduk saja menyembunyikan air matanya.
Setelah sampai di perempatan itu, Ericka masih ragu apa dia harus melapor kepada polisi dan menceritakan semuanya, atau memilih menyelidikinya sendiri siapa dalang dari penculikannya itu.
Meskipun penampilannya terlihat menarik dan berkelas, tapi dengan pakaian kotor, rambut acak-acakan, dan tidak memakai sepatu dan sandal, maka dia akan dianggap orang gila.
Jadi tak heran jika orang-orang menghindarinya dan tak mau meminjamkannya ponsel ketika dia bilang ingin menghubungi temannya.
"Dek, bisa minta tolong ga? Hp saya ketinggalan di kantor, saya mau menelpon seseorang untuk menjemput saya disini" ucapnya kepada salah satu pemuda yang lagi nongkrong di alun-alun dekat perempatan itu.
Pemuda itu memperhatikannya dari atas sampai bawah, dan sempat diam sejenak. Dia memanggil teman-temannya mendekati mereka, membuat Ericka jadi was-was dibuatnya.
"Mbak, Mbak artis yah? Mau nge prank kan?!" tanya pemuda itu bersama teman-temannya.
"Iya nih, cantik gitu mana bajunya masih bagus juga. Masa iya jadi gelandangan!" ucap mereka.
"Saya bukan artis, bukan juga gelandangan! Ya sudah kalau gak mau menjamin Hpnya" ucap Ericka kesal seraya meninggalkan mereka.
"Jangan ngambek gitu dong!" ucap pemuda tadi seraya menyentuh bahunya.
Secara refleks naluriah berkata dia dalam bahaya, dan tiba-tiba dengan tangannya dia menarik dan memelintir tangan anak itu.
"Aduh, aduh Mbak! Maaf, maaf!" ucapnya kesakitan.
"Jangan usil dan jahil kepada orang, ingat! Pulang sana!" bentak Ericka kepada anak itu.
Pemuda tadi bersama teman-temannya jadi takut melihatnya, yang awalnya ngira dia artis yang lagi nge prank, sekarang beralih menjadi intel yang lagi nyamar jadi gelandangan, ya salaam..
Ericka pergi dengan perasaan dongkol dengan kejadian barusan, dia mencoba menyetop angkot didepannya, tapi semua angkot, ojek ataupun orang-orang yang lewat menghindarinya. Tiba-tiba..
"Mbak, mau saya bantu?" terdengar suara anak kecil dibelakangnya.
Ericka melihat ada anak kecil berpenampilan lusuh, dengan karung dipundaknya. Sepertinya anak ini adalah pemulung.
"Saya mau pinjam Hp mau nelpon saudara saya minta di jemput, tapi semuanya menghindari saya dengan pandangan buruk, padahal saya gak berniat mau bawa kabur Hpnya" ucap Ericka, malah curhat.
"Aku punya kak, tapi Hp butut jaman dulu. Gak kayak yang punya orang lain" ucap anak itu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Gak apa, kakak mau pinjam mau nelpon sebentar" ucap Ericka.
"Gak ada pulsanya.." ujar bocah itu nyengir pas Ericka mau nelpon pakai Hpnya.
"Lah terus?" sahut Ericka bingung.
"Kalau mau SMS mungkin bisa.." kata anak itu lagi.
Ericka mencoba mengirim pesan ke Hpnya, meskipun tak yakin ada yang menjawabnya setidaknya dia sudah berusaha, dan payahnya dia tak mengingat satupun nomor ponsel orang-orangnya.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1
Maaf tulisannya mungkin ada typo nya, plus ada kata-kata rada sedeng sedikit, masih kebawa gesrek Ericka di CS Terjebak Di Lift Berhantu, tapi itu cerita dan karakter yang berbeda yah, namanya aja mirip.
Terima kasih atas dukungannya selama ini, selamat tahun baru semuanya 💖✨🎉🎊🎇🎆